Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Lingk. Lipu, Kel. Labuang Utara, Kec. Banggae Timur, Kab. Majene

BAU ANNA' MANU SISAMMUANE (IKAN DAN AYAM BERSAHABAT)

11 June 2026 -3.541842, 118.969861
BAU ANNA' MANU SISAMMUANE (IKAN DAN AYAM BERSAHABAT)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Awal mula carita iyare" naissangngi asal-usul napa"kedianna bulu manu" jadi umpan nelayan Mandar. Menurut carita to diolo", bau (ikan) anna manu" (ayam) naola" sipakarajai, sanna" sipamula" siparondoi. Manu" biasa ma"gading di biring tasi", si pau-pau anna si bau, sipakkutana, sipakarajai di pinggir laut.
Sebagai tanda persahabatanna, bau" napajari manu" cara ma"renang di tasi", sehingga manu" bisa malolong di wai. Sebalikna, manu" napajari bau" cara ma"ola" di darat, supaya inda" gancang naluppei bahaya. Iya diang carita iyare" ma"gambari sipakainga" anna sipakarajai antara manu" anna bau".
Na" diang mesa waktu, bau" mendai" pole di darat ma"temmui sahabatanna, manu". Pada waktu iyare", kondisi tasi" sanna" jahat: ombak bolong, petir mapaccereng. Manu" naissang firasat, napada bau" supaya inda" pole dulu ke tasi", saba" nalolong bahaya. Manu" mapada: "Mottommo bau, bermalamlah iko di sini." Manu" matindo di attasang kayu, anna bau" matindo di bawanna. Manu" napa"janji ma"banguni bau" waktu subu", sangnging manu" ma"kokok.
Akan tetapi, karena cuaca sanna" dinging (maringing sanna"), manu" anna bau" sama-sama matindo sanna". Naluppei bangun. Pada waktu mata allo" mulai ma"paccera, diang tau-tau lewat, nalolo"ngi bau" ma"gerombol di bawang kayu. Tau-tau iyare" nangallei semua bau", besar kecil, inda" diang sisa. Bau" iyare" naallei anna najual di pasar.
Namun, diang mesa bau" nalolos, pole ke tasi". Bau" iyare" napolei laporang ke mara"diya-na, mapada bahwa bau" naallei tau-tau, dipetengi lek manu", ande-andemmi tundanna, sehingga cappu iluluare"ta. Mendengar laporang iyare", macai mara"diya bau". Ia pole ma"temmui mara"diya manu" di darat.
Pertemuan mara"diya bau" anna mara"diya manu" mapettu" perselisihan bolong. Sejak waktu iyare", persahabatan manu" anna bau" naissang siwaro sanna". Dari situmi nairrangngi ba"banua assiwaroange manu" anna bau". Tau-tau naola" pikiran bahwa mua diang bau" mendai" di pottana, inda" naola" siwaro lagi. Bulunna manu" napara"bue" jadi alat, immay nelayan diolo" napake bulu manu" jadi umpan. Mua" dicelup bulu manu" di ruanna posasi, bau" masirumunni, napake napokkoi, sehingga tertangkaplah ikan.
"Tamma"!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Cerita ini menjelaskan asal-usul penggunaan bulu ayam sebagai umpan oleh nelayan Mandar. Menurut kisah yang diwariskan secara turun-temurun, pada masa lampau ikan (bau) dan ayam (manu) hidup dalam hubungan persahabatan yang sangat erat. Ayam sering bermain dan bercengkerama di tepi pantai bersama ikan. Mereka saling berbincang, saling menemani, dan menjalin kebersamaan di pinggir laut.
Sebagai bukti persahabatan tersebut, ikan mengajarkan ayam cara berenang di laut hingga ayam mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan perairan. Sebaliknya, ayam mengajarkan ikan bagaimana cara bertahan hidup di darat agar tidak mudah mengalami bahaya. Pertukaran pengetahuan ini menjadi simbol saling menjaga dan saling menolong antara ikan dan ayam.
Pada suatu waktu, ikan kembali naik ke darat untuk menemui sahabatnya, ayam. Saat itu kondisi laut sedang sangat buruk. Ombak besar dan petir yang menggelegar membuat ayam merasa khawatir. Berdasarkan firasatnya, ayam melarang ikan kembali ke laut karena takut ikan tidak mampu menghadapi kondisi alam yang ekstrem. Ayam berkata, "Ikan, bermalamlah di sini." Ayam pun tidur di atas pohon, sementara ikan tidur di bawah naungan pohon tersebut. Ayam berjanji akan membangunkan ikan saat subuh, ketika ayam berkokok.
Namun, karena cuaca yang sangat dingin, baik ayam maupun ikan tertidur sangat lelap hingga terlambat bangun. Ketika pagi menjelang, beberapa orang melintas dan melihat banyak ikan berkumpul di bawah pohon. Orang-orang itu kemudian menangkap seluruh ikan, baik yang besar maupun yang kecil, tanpa menyisakan seekor pun. Ikan-ikan tersebut dibawa dan dijual ke pasar.
Akan tetapi, satu ekor ikan berhasil lolos dan kembali ke laut. Ikan yang selamat tersebut kemudian melapor kepada rajanya (mara"diya), menyampaikan bahwa seluruh ikan telah ditangkap akibat peristiwa yang melibatkan ayam hingga habis tak bersisa. Mendengar laporan itu, mara"diya ikan menjadi sangat marah dan memutuskan untuk menemui mara"diya ayam di darat.
Pertemuan antara mara"diya ikan dan mara"diya ayam berujung pada perselisihan besar. Sejak saat itu, persahabatan antara ayam dan ikan berubah menjadi permusuhan. Dari peristiwa inilah muncul keyakinan masyarakat bahwa ikan tidak lagi boleh dibiarkan bebas ketika berada di darat bersama ayam. Dalam cerita ini diyakini bahwa bulu ayam kemudian dimanfaatkan sebagai alat untuk menangkap ikan. Nelayan zaman dahulu mulai menggunakan bulu ayam sebagai umpan. Ketika bulu ayam dicelupkan ke laut, ikan akan mendekat, sehingga mudah ditangkap.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Rustam

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Lingk. Lipu, Kel. Labuang Utara, Kec. Banggae Timur, Kab. Majene