Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

MATE KARANA SIRI' (MATI KARENA MALU)

23 June 2026 -3.502931, 119.021152
MATE KARANA SIRI' (MATI KARENA MALU)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Diang mesa carita to diolo" napau-pauang, tentang tau mate karna siri". Diolo"na, diang mesa towaine na diang tommuane pacarna. Iya duai biasa massolo-solo siola massipaccing di wai (sungai). Towaine e biasanna ma"ala wai di sungai, mandoe, anna massissir di situ.
Mesa wattu, towaine e naung ma"ala wai. Biasanna tommuane pacarna naung massulu-sulu di boko"na. Towaine e naung massipa"bo"bo" wai, tappa nalamba di wai. Wattu naung lamba di wai, tiba-tiba ia tipui" (buang angin) tanpa sengaja.
Towaine e kaget, tappa nairrangngi di boko"na. Ternyata tommuane pacarna diang dio" pondo"na, ndang jauh dari situ, anna pasti nairrangngi suara tipui"na. Walaupun begitu, duai e massikap biasa-biasa saja. Towaine e lanjut mandoe, massissir, anna ma"ala wai. Tommuane e menunggu di pondo"na sampai sore.
Setelah itu, duai e malai massipolo-polo lao di boyanna masing-masing. Wattu towaine e lambi di boyanna, naita kindo"na sedang manette (menenun). Towaine e mamanya:
"Indo", apa saja sanga tau mala masiri" di lino""?
Kindo"na menjawab, "Banyak, nak. Mesa di antaranna, mua diang tommuane naita towaine dalam keadaan telanjang, iya e siri" tu"u. Biasanna tau diolo" mauangi, mua diang kejadian iya, maka duai e harus dinikahkan karna iya sanga aib keluarga."
Towaine e mamanya pole: "Apa pole indo""?
Kindo"na menjawab: "Siri" toi mua tau massipau-pau buruk tentang kita, misalnya suka mallaku-laku malam, atau massikap seperti tommuane."
Towaine e mamanya pole: "Apa pole indo""?
Kindo"na menjawab: "Mua ummande anna ting"ere (bersendawa) di depan tau, iya toi siri". Makanya tau Mandar biasa berhenti makan mua pura ting"ere. Beda siola tau Bugis, mua ting"ere malah lanjut ummande."
Towaine e mamanya pole: "Apa pole indo""?
Kindo"na menjawab: "Siri" toi mua towaine tipui" anna diirrangngi tommuane."
Towaine e kaget mendengar itu, karna ia ingat kejadian di sungai tadi. Ia berkata, "Apa"na siri" toi indo"? Ndang bau toa."
Kindo"na menjawab, "Walaupun ndang bau, iya tetap siri"."
Setelah mendengar itu, towaine e masuk di dapur. Ia ma"ala sebilah piso, lalu masuk di kamarna. Sebelum itu, ia berkata kepada kindo"na:
"Indo", malai diolo"."
Kindo"na bertanya, "Malai lao di mana"?
Ia menjawab dari dalam kamar, "Pokokna malai jauh. Daa masussa indo"."
Ndang lama setelah itu, terdengar suara tangisan anna kesakitan. Ternyata towaine e napake piso e untuk membunuh dirinya.
Kindo"na segera berlari ke kamar, sangat terkejut melihat anaknya sudah terbaring penuh darah. Ndang lama, masyarakat di sekitar datang membantu. Di antara mereka ada tommuane pacar towaine e. Ia sangat kaget mengetahui bahwa towaine e bunuh diri hanya karena ia pernah mendengar suara tipui"na di sungai.
Akhirna, mayat towaine e dibungkus anna dikubur oleh masyarakat. Carita e menjadi pelajaran tentang betapa kuatna rasa siri" bagi sebagian tau diolo".
"Tamma""

Terjemahan Bahasa Indonesia
Ada sebuah cerita lama yang sering diceritakan tentang seseorang yang meninggal karena rasa malu (siri"). Dahulu kala, ada seorang perempuan yang memiliki seorang kekasih laki-laki. Mereka berdua sering berjalan bersama dan mandi di sungai. Perempuan itu biasanya mengambil air, mandi, dan menyikat gigi di sungai tersebut.
Suatu hari, perempuan itu pergi mengambil air. Seperti biasanya, kekasih laki-lakinya mengikuti dari belakang. Saat perempuan itu sedang mengambil air dan turun ke sungai, tiba-tiba ia buang angin tanpa sengaja.
Perempuan itu terkejut lalu menoleh ke belakang. Ternyata kekasihnya berada tidak jauh dari tempat itu dan pasti mendengar suara buang anginnya. Walaupun demikian, mereka berdua bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Perempuan itu tetap melanjutkan mandi, menyikat gigi, dan mengambil air, sementara laki-laki itu menunggu di tepi sungai hingga sore hari.
Setelah itu, mereka pulang bersama lalu berpisah menuju rumah masing-masing. Ketika perempuan itu tiba di rumah, ia melihat ibunya sedang menenun. Perempuan itu lalu bertanya:
"Ibu, hal-hal apa saja yang membuat seseorang merasa malu di dunia ini"?

Ibunya menjawab, "Banyak, Nak. Salah satunya, jika seorang laki-laki melihat perempuan dalam keadaan telanjang. Orang-orang dahulu mengatakan bahwa jika hal itu terjadi, maka mereka harus dinikahkan karena dianggap sebagai aib keluarga."
Perempuan itu kembali bertanya, "Apa lagi, Bu"?
Ibunya menjawab, "Malu juga jika orang-orang membicarakan keburukan kita, misalnya suka keluar malam atau bersikap seperti laki-laki."
Perempuan itu kembali bertanya, "Apa lagi, Bu"?
Ibunya menjawab lagi, "Kalau sedang makan lalu bersendawa di depan orang lain, itu juga dianggap memalukan. Karena itu orang Mandar biasanya berhenti makan setelah bersendawa. Berbeda dengan orang Bugis yang justru tetap melanjutkan makan."
Perempuan itu bertanya lagi, "Apa lagi, Bu"?
Ibunya menjawab, "Malu juga jika seorang perempuan buang angin lalu didengar oleh laki-laki."
Perempuan itu sangat terkejut mendengar jawaban itu karena ia teringat kejadian di sungai tadi. Ia berkata, "Mengapa itu juga memalukan, Bu? Toh tidak berbau."
Ibunya menjawab, "Walaupun tidak berbau, itu tetap dianggap memalukan."
Setelah mendengar perkataan ibunya, perempuan itu masuk ke dapur. Ia mengambil sebilah pisau lalu masuk ke kamarnya. Sebelum masuk, ia sempat berkata kepada ibunya:
"Ibu, saya pergi dulu."
Ibunya bertanya, "Mau pergi ke mana"?
Ia menjawab dari dalam kamar, "Pokoknya pergi jauh. Jangan sedih, Bu."
Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan dan rintihan kesakitan. Ternyata perempuan itu menggunakan pisau tersebut untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Ibunya segera berlari ke kamar dan sangat terkejut melihat anaknya sudah terbaring penuh darah. Tidak lama kemudian, masyarakat sekitar datang membantu. Di antara mereka terdapat kekasih laki-laki perempuan itu. Ia sangat terkejut mengetahui bahwa perempuan tersebut bunuh diri hanya karena ia pernah mendengar suara buang anginnya di sungai.
Akhirnya, jenazah perempuan itu dibungkus dan dimakamkan oleh masyarakat setempat. Kisah ini menjadi pelajaran tentang betapa kuatnya rasa siri" atau rasa malu bagi sebagian masyarakat pada zaman dahulu.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Fatima Azzahrah

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar