Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

TO NALAMBA MAMBACA-BACA ORANG YANG AKAN PERGI TASYAKKURAN

23 June 2026 -3.502914, 119.021136
TO NALAMBA MAMBACA-BACA  ORANG YANG AKAN PERGI TASYAKKURAN

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Diang mesa carita tongan. Diang mesa panguma (petani) biasanna lao di umanna. Mua lao di umanna, biasanna iyapa na soro (pulang) mua lengas batu allo. Aparisanga lengas batu allo? Iyamo lohor. Iyapa na soro karana na massambayang lohor.
Tapi diang mesa allo, mane pukkul ammesa (jam sebelas) na soro lao ri boyanna. Pole lao ri boyanna, na ala mi bajunna, na pake sokko"na (kopiah), mauwanni pa"balianna:
" "Inna muola, kama"na"?
(Istri bertanya: "Mau ke mana, Pak"?)
Na walangngi:
" "Moanna, apa sangana lamba tau mambaca."
("Saya mau pergi, ada acara barasanji.")
Pa"balianna mappamanyai:
" "Inna muoroi mambaca"?
("Di mana acaranya"?)
Na walangngi:
" "Di se"de boyang sambaling. Mamanya i sambaling ma"barasanji. Na liwan toi tau mappalepa barakka mua purai."
("Di samping rumah. Mereka mengadakan barasanji. Siapa tahu kita dapat berkah.")
Pa"balianna berkata:
" "Innai mappiroa"o? Diang tau mappiroa"o? Ndan diang tau pole mappiroa."
("Siapa yang mengundangmu? Tidak ada orang datang mengundang.")
Na walangngi:
" "Ceh, iya tomi disanga sa"puipuisan pare tau dio sambaling. Ita mua mambaca tau, naluppei kapang."
("Ah, masa tetangga begitu. Mungkin saja mereka lupa.")
Akhirna, na alai bajunna, mirrawung naung dilita (turun dari rumah). Mauwanni lao pi illang asunna. Ternyata asunna di naung boyang mamanya ma ande buku manu (tulang ayam).
Na alai batu kaimbang, na timbe lao ri asunna sambil mawalang:
" "Apa muande ande kande-kandena tau? Iyya u tanna peroa sau! Iyo"?
("Kenapa kamu makan makanan orang? Saya saja tidak diundang, apalagi kamu!")
Tau di boyang sambaling kaget. Napauangi:
" "Apa riang tau ma"jallo? Innai"?
Rupanna, tau sambaling sirannuang (saling menyangka). Tuan rumah napauangi:
" "Upaunni mi kaco peroa"o sambaling kama"na."
("Saya sudah bilang ke keponakan untuk mengundang tetangga.")
Kaco walangngi:
" "Usanga na peroa"o ana"nure, apa diang dua tau lamba mappiroa."
("Saya kira sudah diundang, karena ada dua orang yang pergi mengundang.")
Akhirna, di ala mesa sakkean liwang (satu baki) anna bawangan barakka lao ri boyanna panguma. Napole mi lao mappalepa maaf karana naluppei mappiroa.
Panguma senangmi. Nawalangi pa"balianna:
" "Indi mori buahna mua macai tau. Ande mo"o, massukkur mi lao di Puang Allah Ta"ala."
Iyamo tu caritana.
"Pura!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Ada satu cerita yang benar-benar terjadi. Seorang pekebun biasanya pergi ke kebunnya pada pagi hari dan pulang ketika matahari telah condong ke barat, yaitu saat masuk waktu Zuhur, untuk melaksanakan salat Zuhur.
Namun, pada suatu hari ia pulang lebih awal, sekitar pukul sebelas siang. Sesampainya di rumah, ia mengambil bajunya dan memakai kopiahnya. Istrinya pun bertanya,
"Bapak mau ke mana"?
Ia menjawab,
"Saya mau pergi ke acara pembacaan barzanji."
Istrinya kembali bertanya,
"Di mana acaranya"?
Ia menjawab,
"Di samping rumah. Mereka mengadakan barzanji. Siapa tahu kita mendapat berkah."
Istrinya heran dan berkata,
"Siapa yang mengundang Bapak? Tidak ada orang datang mengundang."
Ia menjawab,
"Ah, masa tetangga seperti itu? Mungkin saja mereka lupa."
Akhirnya, ia melepas kembali pakaiannya dan turun dari rumah untuk melihat anjingnya. Ternyata anjing itu sedang memakan tulang ayam di bawah kolong rumah. Ia pun mengambil batu kecil dan melemparkannya ke arah anjing sambil berkata,
"Kenapa kamu makan makanan orang? Saya saja tidak diundang, apalagi kamu!"
Orang-orang di rumah sebelah mendengar ucapan itu dan terkejut. Mereka saling bertanya,
"Siapa yang tidak diundang"?
Tuan rumah berkata bahwa ia sudah menyuruh keponakannya untuk mengundang tetangga tersebut. Namun, keponakannya menyangka bahwa tetangga itu sudah diundang oleh orang lain, karena ada dua orang yang pergi mengundang.
Akhirnya, mereka menyadari bahwa tetangga tersebut benar-benar terlupa untuk diundang. Mereka pun segera mengangkat satu baki berisi hidangan dan membawanya ke rumah pekebun tersebut sambil meminta maaf.
Pekebun itu pun merasa senang. Ia berkata kepada istrinya,
"Inilah akibatnya kalau kita marah-marah. Mari kita makan dan bersyukur kepada Allah Swt."
Mereka pun makan bersama dan bersyukur kepada Allah atas rezeki dan berkah yang diberikan.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Nurmahdani

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar