Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 7 cerita rakyat terarsip di sistem.

MATE KARANA SIRI' (MATI KARENA MALU)
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

MATE KARANA SIRI' (MATI KARENA MALU)

Diang mesa carita to diolo" napau-pauang, tentang tau mate karna siri". Diolo"na, diang mesa towaine na diang tommuane pacarna. Iya duai biasa massolo-solo siola massipaccing di wai (sungai). Towaine e biasanna ma"ala wai di sungai, mandoe, anna massissir di situ. Mesa wattu, towaine e naung ma"ala wai. Biasanna tommuane pacarna naung massulu-sulu di boko"na. Towaine e naung massipa"bo"bo" wai, tappa nalamba di wai. Wattu naung lamba di wai, tiba-tiba ia tipui" (buang angin) tanpa sengaja. Towaine e kaget, tappa nairrangngi di boko"na. Ternyata tommuane pacarna diang dio" pondo"na, ndang jauh dari situ, anna pasti nairrangngi suara tipui"na. Walaupun begitu, duai e massikap biasa-biasa saja. Towaine e lanjut mandoe, massissir, anna ma"ala wai. Tommuane e menunggu di pondo"na sampai sore. Setelah itu, duai e malai massipolo-polo lao di boyanna masing-masing. Wattu towaine e lambi di boyanna, naita kindo"na sedang manette (menenun). Towaine e mamanya: "Indo", apa saja sanga tau mala masiri" di lino""? Kindo"na menjawab, "Banyak, nak. Mesa di antaranna, mua diang tommuane naita towaine dalam keadaan telanjang, iya e siri" tu"u. Biasanna tau diolo" mauangi, mua diang kejadian iya, maka duai e harus dinikahkan karna iya sanga aib keluarga." Towaine e mamanya pole: "Apa pole indo""? Kindo"na menjawab: "Siri" toi mua tau massipau-pau buruk tentang kita, misalnya suka mallaku-laku malam, atau massikap seperti tommuane." Towaine e mamanya pole: "Apa pole indo""? Kindo"na menjawab: "Mua ummande anna ting"ere (bersendawa) di depan tau, iya toi siri". Makanya tau Mandar biasa berhenti makan mua pura ting"ere. Beda siola tau Bugis, mua ting"ere malah lanjut ummande." Towaine e mamanya pole: "Apa pole indo""? Kindo"na menjawab: "Siri" toi mua towaine tipui" anna diirrangngi tommuane." Towaine e kaget mendengar itu, karna ia ingat kejadian di sungai tadi. Ia berkata, "Apa"na siri" toi indo"? Ndang bau toa." Kindo"na menjawab, "Walaupun ndang bau, iya tetap siri"." Setelah mendengar itu, towaine e masuk di dapur. Ia ma"ala sebilah piso, lalu masuk di kamarna. Sebelum itu, ia berkata kepada kindo"na: "Indo", malai diolo"." Kindo"na bertanya, "Malai lao di mana"? Ia menjawab dari dalam kamar, "Pokokna malai jauh. Daa masussa indo"." Ndang lama setelah itu, terdengar suara tangisan anna kesakitan. Ternyata towaine e napake piso e untuk membunuh dirinya. Kindo"na segera berlari ke kamar, sangat terkejut melihat anaknya sudah terbaring penuh darah. Ndang lama, masyarakat di sekitar datang membantu. Di antara mereka ada tommuane pacar towaine e. Ia sangat kaget mengetahui bahwa towaine e bunuh diri hanya karena ia pernah mendengar suara tipui"na di sungai. Akhirna, mayat towaine e dibungkus anna dikubur oleh masyarakat. Carita e menjadi pelajaran tentang betapa kuatna rasa siri" bagi sebagian tau diolo". "Tamma"" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada sebuah cerita lama yang sering diceritakan tentang seseorang yang meninggal karena rasa malu (siri"). Dahulu kala, ada seorang perempuan yang memiliki seorang kekasih laki-laki. Mereka berdua sering berjalan bersama dan mandi di sungai. Perempuan itu biasanya mengambil air, mandi, dan menyikat gigi di sungai tersebut. Suatu hari, perempuan itu pergi mengambil air. Seperti biasanya, kekasih laki-lakinya mengikuti dari belakang. Saat perempuan itu sedang mengambil air dan turun ke sungai, tiba-tiba ia buang angin tanpa sengaja. Perempuan itu terkejut lalu menoleh ke belakang. Ternyata kekasihnya berada tidak jauh dari tempat itu dan pasti mendengar suara buang anginnya. Walaupun demikian, mereka berdua bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Perempuan itu tetap melanjutkan mandi, menyikat gigi, dan mengambil air, sementara laki-laki itu menunggu di tepi sungai hingga sore hari. Setelah itu, mereka pulang bersama lalu berpisah menuju rumah masing-masing. Ketika perempuan itu tiba di rumah, ia melihat ibunya sedang menenun. Perempuan itu lalu bertanya: "Ibu, hal-hal apa saja yang membuat seseorang merasa malu di dunia ini"? Ibunya menjawab, "Banyak, Nak. Salah satunya, jika seorang laki-laki melihat perempuan dalam keadaan telanjang. Orang-orang dahulu mengatakan bahwa jika hal itu terjadi, maka mereka harus dinikahkan karena dianggap sebagai aib keluarga." Perempuan itu kembali bertanya, "Apa lagi, Bu"? Ibunya menjawab, "Malu juga jika orang-orang membicarakan keburukan kita, misalnya suka keluar malam atau bersikap seperti laki-laki." Perempuan itu kembali bertanya, "Apa lagi, Bu"? Ibunya menjawab lagi, "Kalau sedang makan lalu bersendawa di depan orang lain, itu juga dianggap memalukan. Karena itu orang Mandar biasanya berhenti makan setelah bersendawa. Berbeda dengan orang Bugis yang justru tetap melanjutkan makan." Perempuan itu bertanya lagi, "Apa lagi, Bu"? Ibunya menjawab, "Malu juga jika seorang perempuan buang angin lalu didengar oleh laki-laki." Perempuan itu sangat terkejut mendengar jawaban itu karena ia teringat kejadian di sungai tadi. Ia berkata, "Mengapa itu juga memalukan, Bu? Toh tidak berbau." Ibunya menjawab, "Walaupun tidak berbau, itu tetap dianggap memalukan." Setelah mendengar perkataan ibunya, perempuan itu masuk ke dapur. Ia mengambil sebilah pisau lalu masuk ke kamarnya. Sebelum masuk, ia sempat berkata kepada ibunya: "Ibu, saya pergi dulu." Ibunya bertanya, "Mau pergi ke mana"? Ia menjawab dari dalam kamar, "Pokoknya pergi jauh. Jangan sedih, Bu." Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan dan rintihan kesakitan. Ternyata perempuan itu menggunakan pisau tersebut untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ibunya segera berlari ke kamar dan sangat terkejut melihat anaknya sudah terbaring penuh darah. Tidak lama kemudian, masyarakat sekitar datang membantu. Di antara mereka terdapat kekasih laki-laki perempuan itu. Ia sangat terkejut mengetahui bahwa perempuan tersebut bunuh diri hanya karena ia pernah mendengar suara buang anginnya di sungai. Akhirnya, jenazah perempuan itu dibungkus dan dimakamkan oleh masyarakat setempat. Kisah ini menjadi pelajaran tentang betapa kuatnya rasa siri" atau rasa malu bagi sebagian masyarakat pada zaman dahulu. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Fatima Azzahrah

admin Baca
I PURA PARA???BUE???
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

I PURA PARA???BUE???

Diolo" mai diang mesa carita tentang Kauseng, ana"na mesa pabicara kayyang (hakim besar) di tanah Mandar. Ayahna dikenal sebagai orang yang selalu mambottui sara (memutuskan perkara) di tengah masyarakat. Pada suatu waktu, Kauseng terlibat dalam perkelahian dengan seseorang hingga orang itu meninggal. Karena perbuatannya tersebut, Kauseng harus diadili sesuai dengan hukum yang berlaku pada masa itu. Kauseng sempat berkata bahwa ia tidak akan dihukum karena ayahnya adalah seorang hakim besar yang biasa memutuskan perkara. Namun setelah perkara itu disidangkan, keputusan yang diambil tetap sama seperti hukum yang berlaku bagi orang lain. Kauseng harus menerima hukuman mati karena ia telah membunuh seseorang. Ketika keputusan itu diumumkan, ibunya sangat sedih dan memohon agar anaknya tidak dihukum mati karena ia adalah satu-satunya anak yang mereka miliki. Ayahnya kemudian menjawab bahwa ia tidak dapat membela anaknya sendiri. Jika ia melakukan itu, maka ia akan merasa masiri" (malu) kepada masyarakat. Dalam adat Mandar, hukum tidak mengenal perbedaan antara keluarga, tetangga, atau orang lain. Siapa pun yang bersalah harus menerima hukuman yang setimpal. Pada masa itu ada dua jenis hukuman. Salah satunya adalah hukuman "pali", yaitu hukuman dengan cara mengikat orang yang bersalah, kemudian dibawa ke laut, ditenggelamkan, dan ditindih dengan batu. Jika hukuman itu dilakukan, maka keluarga tidak akan dapat melihat jenazahnya lagi. Karena itu, ibu Kauseng meminta agar anaknya dihukum mati di atas pangkuannya, sehingga ia dapat melihat anaknya untuk terakhir kalinya. Permintaan itu akhirnya dikabulkan. Ketika waktu pelaksanaan hukuman tiba, Kauseng dibaringkan dengan kepalanya di atas paha ibunya. Ia memandang wajah ibunya dan berkata bahwa waktunya telah tiba untuk meninggalkan dunia. Ibunya dengan penuh kesedihan berkata agar ia bersabar menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Kemudian hukuman dilaksanakan dengan menusuk tubuh Kauseng dari bawah hingga ke atas hingga akhirnya ia meninggal di atas pangkuan ibunya. Setelah itu jenazahnya dimakamkan dan banyak orang yang datang mengantar pemakamannya sambil menangis. Cerita ini menjadi pelajaran bagi masyarakat Mandar bahwa hukum harus ditegakkan dengan adil. Walaupun seseorang memiliki kedudukan tinggi atau memiliki keluarga yang berkuasa, jika ia bersalah maka ia tetap harus menerima hukuman. Itulah nilai keadilan dan siri" yang dijunjung tinggi dalam adat Mandar pada zaman dahulu. Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu terdapat sebuah cerita tentang seorang pemuda bernama Kauseng. Ia adalah anak dari seorang pembicara besar atau hakim yang sangat dihormati di masyarakat Mandar. Ayahnya dikenal sebagai orang yang selalu memutuskan berbagai perkara dan menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat. Pada suatu waktu terjadi sebuah peristiwa besar. Kauseng terlibat dalam perkelahian dengan seseorang hingga akhirnya orang tersebut meninggal. Karena perbuatannya itu, Kauseng harus diadili sesuai dengan hukum yang berlaku pada masa itu. Kauseng sempat berkata bahwa ia tidak akan dihukum karena ayahnya adalah seorang hakim yang memiliki kekuasaan besar dalam memutuskan perkara. Namun setelah perkara itu disidangkan, ternyata keputusan yang diambil tetap sama seperti hukum yang berlaku bagi orang lain. Kauseng tetap harus dihukum mati karena ia telah membunuh seseorang. Ketika keputusan itu diumumkan, ibunya merasa sangat sedih dan memohon kepada suaminya agar anak mereka tidak dihukum mati. Ia berkata bahwa Kauseng adalah anak satu-satunya yang mereka miliki. Ayahnya yang merupakan hakim kemudian menjawab bahwa ia tidak dapat membela anaknya sendiri. Jika ia melakukannya, maka ia akan merasa malu kepada masyarakat karena selama ini ia selalu menegakkan hukum dan keadilan. Dalam adat Mandar, hukum tidak mengenal perbedaan antara keluarga, tetangga, atau orang lain. Siapa pun yang bersalah harus menerima hukuman yang setimpal. Akhirnya keputusan hukuman mati terhadap Kauseng tetap dilaksanakan. Namun ibunya mengajukan satu permintaan terakhir. Ia berkata bahwa jika anaknya memang harus dihukum mati, maka biarlah hukuman itu dilakukan di atas pangkuannya, sehingga ia dapat melihat anaknya untuk terakhir kalinya. Ayahnya menjelaskan bahwa sebenarnya ada dua jenis hukuman pada masa itu. Salah satunya adalah hukuman "pali", yaitu hukuman dengan cara diikat kemudian dibawa ke laut, ditenggelamkan, lalu ditindih dengan batu. Jika hukuman itu dilakukan, maka ibunya tidak akan bisa melihat jasad anaknya lagi. Mendengar penjelasan itu, sang ibu tetap memilih agar anaknya dihukum mati di atas pangkuannya. Pada hari pelaksanaan hukuman, Kauseng dibaringkan di atas pangkuan ibunya. Ia memandang wajah ibunya dan berkata bahwa waktunya telah tiba untuk meninggalkan dunia. Ibunya dengan penuh kesedihan berkata bahwa semua itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri, sehingga ia harus menerima hukuman dengan sabar. Kauseng kemudian ditusuk dari bawah hingga ke atas tubuhnya hingga akhirnya ia meninggal dunia di atas pangkuan ibunya. Setelah itu, jenazahnya dimakamkan. Banyak orang yang datang mengantar pemakamannya dan menangis atas kejadian tersebut. Ibunya pun sangat berduka, tetapi ia menerima kenyataan itu karena hukum harus tetap ditegakkan. Cerita ini menjadi pelajaran bagi masyarakat Mandar bahwa hukum harus ditegakkan tanpa memandang siapa pun, bahkan jika orang yang bersalah adalah keluarga sendiri. Nilai siri" (rasa malu dan kehormatan) menjadi dasar utama dalam menegakkan keadilan pada masa itu. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdi/Agustina

admin Baca
TO NALAMBA MAMBACA-BACA  ORANG YANG AKAN PERGI TASYAKKURAN
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

TO NALAMBA MAMBACA-BACA ORANG YANG AKAN PERGI TASYAKKURAN

Diang mesa carita tongan. Diang mesa panguma (petani) biasanna lao di umanna. Mua lao di umanna, biasanna iyapa na soro (pulang) mua lengas batu allo. Aparisanga lengas batu allo? Iyamo lohor. Iyapa na soro karana na massambayang lohor. Tapi diang mesa allo, mane pukkul ammesa (jam sebelas) na soro lao ri boyanna. Pole lao ri boyanna, na ala mi bajunna, na pake sokko"na (kopiah), mauwanni pa"balianna: " "Inna muola, kama"na"? (Istri bertanya: "Mau ke mana, Pak"?) Na walangngi: " "Moanna, apa sangana lamba tau mambaca." ("Saya mau pergi, ada acara barasanji.") Pa"balianna mappamanyai: " "Inna muoroi mambaca"? ("Di mana acaranya"?) Na walangngi: " "Di se"de boyang sambaling. Mamanya i sambaling ma"barasanji. Na liwan toi tau mappalepa barakka mua purai." ("Di samping rumah. Mereka mengadakan barasanji. Siapa tahu kita dapat berkah.") Pa"balianna berkata: " "Innai mappiroa"o? Diang tau mappiroa"o? Ndan diang tau pole mappiroa." ("Siapa yang mengundangmu? Tidak ada orang datang mengundang.") Na walangngi: " "Ceh, iya tomi disanga sa"puipuisan pare tau dio sambaling. Ita mua mambaca tau, naluppei kapang." ("Ah, masa tetangga begitu. Mungkin saja mereka lupa.") Akhirna, na alai bajunna, mirrawung naung dilita (turun dari rumah). Mauwanni lao pi illang asunna. Ternyata asunna di naung boyang mamanya ma ande buku manu (tulang ayam). Na alai batu kaimbang, na timbe lao ri asunna sambil mawalang: " "Apa muande ande kande-kandena tau? Iyya u tanna peroa sau! Iyo"? ("Kenapa kamu makan makanan orang? Saya saja tidak diundang, apalagi kamu!") Tau di boyang sambaling kaget. Napauangi: " "Apa riang tau ma"jallo? Innai"? Rupanna, tau sambaling sirannuang (saling menyangka). Tuan rumah napauangi: " "Upaunni mi kaco peroa"o sambaling kama"na." ("Saya sudah bilang ke keponakan untuk mengundang tetangga.") Kaco walangngi: " "Usanga na peroa"o ana"nure, apa diang dua tau lamba mappiroa." ("Saya kira sudah diundang, karena ada dua orang yang pergi mengundang.") Akhirna, di ala mesa sakkean liwang (satu baki) anna bawangan barakka lao ri boyanna panguma. Napole mi lao mappalepa maaf karana naluppei mappiroa. Panguma senangmi. Nawalangi pa"balianna: " "Indi mori buahna mua macai tau. Ande mo"o, massukkur mi lao di Puang Allah Ta"ala." Iyamo tu caritana. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada satu cerita yang benar-benar terjadi. Seorang pekebun biasanya pergi ke kebunnya pada pagi hari dan pulang ketika matahari telah condong ke barat, yaitu saat masuk waktu Zuhur, untuk melaksanakan salat Zuhur. Namun, pada suatu hari ia pulang lebih awal, sekitar pukul sebelas siang. Sesampainya di rumah, ia mengambil bajunya dan memakai kopiahnya. Istrinya pun bertanya, "Bapak mau ke mana"? Ia menjawab, "Saya mau pergi ke acara pembacaan barzanji." Istrinya kembali bertanya, "Di mana acaranya"? Ia menjawab, "Di samping rumah. Mereka mengadakan barzanji. Siapa tahu kita mendapat berkah." Istrinya heran dan berkata, "Siapa yang mengundang Bapak? Tidak ada orang datang mengundang." Ia menjawab, "Ah, masa tetangga seperti itu? Mungkin saja mereka lupa." Akhirnya, ia melepas kembali pakaiannya dan turun dari rumah untuk melihat anjingnya. Ternyata anjing itu sedang memakan tulang ayam di bawah kolong rumah. Ia pun mengambil batu kecil dan melemparkannya ke arah anjing sambil berkata, "Kenapa kamu makan makanan orang? Saya saja tidak diundang, apalagi kamu!" Orang-orang di rumah sebelah mendengar ucapan itu dan terkejut. Mereka saling bertanya, "Siapa yang tidak diundang"? Tuan rumah berkata bahwa ia sudah menyuruh keponakannya untuk mengundang tetangga tersebut. Namun, keponakannya menyangka bahwa tetangga itu sudah diundang oleh orang lain, karena ada dua orang yang pergi mengundang. Akhirnya, mereka menyadari bahwa tetangga tersebut benar-benar terlupa untuk diundang. Mereka pun segera mengangkat satu baki berisi hidangan dan membawanya ke rumah pekebun tersebut sambil meminta maaf. Pekebun itu pun merasa senang. Ia berkata kepada istrinya, "Inilah akibatnya kalau kita marah-marah. Mari kita makan dan bersyukur kepada Allah Swt." Mereka pun makan bersama dan bersyukur kepada Allah atas rezeki dan berkah yang diberikan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Nurmahdani

admin Baca
PAMULANNA NISANGA SUKU MANDAR (ASAL MULA SUKU/ETNIS MANDAR)
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

PAMULANNA NISANGA SUKU MANDAR (ASAL MULA SUKU/ETNIS MANDAR)

Diang andi maissang inai mappariang suku Mandar. Tapi, diang marruppa kata Mandar wattu kejadian Allaluang Watu di Luwu, apa perjanjian di lalang Assingawuttuang di Luwu. Di lalang perjanjian iyamo napauangi sipa Mandar. Arti Mandar iyamo magassing (kuat). Iyanna diang sungai di Mandar sangana Sungai Mandar di Balanipa. Iyamo disanga Sungai Mandar. Kata Mandar berasal dari kata mandarra. Diang to napauangi asal katana dari bahasa Arab """" (nadzar). To Makassar napauangi To Menndre, to Kaili napauangi Tomene. Iya ri"o beda loga, tapi pokokna tetap Mandar. Mengenai batasna Mandar, di zaman di"e, tau maelo napasamai Mandar anna Provinsi Sulawesi Barat. Batasna Sulawesi Barat di Paku lambi Suremana. Di seblah barat diang Desa Pasoka anna Pulau Salissingang sikareppe Kalimantan. Tapi setonganna, sebelum diang Provinsi Sulawesi Barat, batas adat Mandar iyamo: a. Di selatan lambi Makalaraeng (Binanga Karaeng); dan b. Di utara lambi Lalombi. Jadi tania Paku lambi Suremana batas Mandar, tapi Binanga Karaeng lambi Lalombi. Diibandingang batas Sulbar di"e, ita to Mandar pa"dai kira-kira 15 km di selatan anna 30 km di utara dari wilayah adat Mandar. Inai disanga to Mandar? Diang paunna: a. To Mandar iyamo tau mottong di Mandar; b. To Mandar iyamo tau dippeanangi di Mandar, kindo anna ammana to Mandar; dan c. Diang pole paunna, innai mandundu uwai Mandar, Mandar mi tu. Iyamo artina, tau pole anna pura mottong di Mandar, mala mi disanga to Mandar. Iyamo tu asal katana Mandar. "Purami Dolo"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Asal mula disebut Suku Mandar tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menciptakan atau menyebut nama tersebut. Namun, kata Mandar ditemukan dalam peristiwa yang dikenal dengan istilah Allaluang Batu di Luwu, yaitu sebuah perjanjian dalam persekutuan yang disebut Assingawuttuang di Luwu. Dalam perjanjian itu disebutkan tentang sifat mandar. Arti kata mandar adalah kuat. Oleh karena itu, terdapat sebuah sungai di wilayah Mandar yang dinamakan Sungai Mandar, yang berada di Kampung Balanipa. Nama sungai tersebut menunjukkan bahwa sejak dahulu kata Mandar memang sudah dikenal. Secara etimologis, kata Mandar disebut berasal dari kata mandarra. Ada pula yang mengaitkannya dengan kata dalam bahasa Arab """" (nadzar). Dalam penyebutan di berbagai daerah, orang Makassar menyebutnya To Menndre, dan orang Kaili menyebutnya Tomene. Perbedaan itu hanyalah dialek, tetapi semuanya merujuk pada Mandar. Mengenai batas wilayah Mandar, masyarakat sekarang sering menyamakan Mandar dengan Provinsi Sulawesi Barat. Batas wilayah Provinsi Sulawesi Barat saat ini dari Paku hingga Suremana. Di bagian barat terdapat Desa Pasoka dan Pulau Salissingan yang dekat dengan Kalimantan. Namun, sebelum terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat, batas wilayah Mandar secara tradisional adalah: a. Di bagian selatan sampai Makalaraeng (atau Binanga Karaeng); b. Di bagian utara sampai Lalombi. Jadi, secara historis, batas Mandar bukan dari Paku sampai Suremana, melainkan dari Binanga Karaeng sampai Lalombi. Jika dibandingkan dengan batas Provinsi Sulawesi Barat sekarang, masyarakat Mandar dianggap kehilangan sekitar 15 km di bagian selatan dan sekitar 30 km di bagian utara dari wilayah adat Mandar. Lalu, siapa yang disebut orang Mandar? Ada beberapa pandangan: a. Orang Mandar adalah mereka yang tinggal di wilayah Mandar; b. Orang Mandar adalah mereka yang lahir di Mandar dari ayah dan ibu orang Mandar; dan c. Ada pula ungkapan yang mengatakan bahwa siapa saja yang minum air Mandar dapat disebut orang Mandar. Artinya, siapa pun pendatang yang telah menetap dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar dapat pula disebut sebagai orang Mandar. Demikianlah asal mula penyebutan Mandar. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Nurmahdani

admin Baca
ASAL MULA HUKUM DI MANDAR
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

ASAL MULA HUKUM DI MANDAR

Diolo" dini ri Mandar, mua diang parakara, tau siola siola diola lao ri mesa buttu disanga Buttu Bala Batu. Diolo"na nisanga Bala Batu apa ururunna batu nasang. Ri di"o tau mambuttui parakara siola cara pasialla. Mua tommuane siparakarang, diola tama dilalangna anna dipasigayyang makke"de badik. Innai mate ri pasigayyang, iyamo disanga menang. Mua"pi tongan salahna tapi ia tarrus mallabu ri pasigayyang, tetap disanga menang. Tapi biasanna, si duanna mate apa siri"na andiang mau massala" mundur. Mua towaine siparakarang, limanna dipatama ri pamuttu disanga re"de, uwai malandep (mendidih) di lalangna. Si duanna masumpa" patama limanna. Innai mendolo mambeso limanna, iyamo disanga kalah. Tapi biasanna, apa siri", andiang mau mambeso limanna, lambi si duanna mate. Mara"dia maung, "Andiang tori kararanna manjari mara"dia, apa tau nasang mate mua" cara di"e tarrus dipogau." Apa sabanna, siala-siala poko"na, siasal, nasang diola lao ri pasigayyang. Jari Puang Sallo (pambicara Kaiyyang) maung, "Macoami mua adat di"e diwindo"i. Damo tarrus dipake", apa cappu tau mate." Masarakat napikir, anna mara"dia maung lao mappetule" ri banua tau laing, peita caranna mambuttui parakara. Lao ri Makassar, ri Karajaan Gowa, anna di"o napelajari caranna mambuttui parakara siola sarana adatna. Tappana pole ri Mandar, napake"mi cara di"o. Diang appe" rupa ulu bicara ri Mandar, iyamo: Tutu Mesagala Wali-wali, Palolo Wali-wali, Sa"bi Wali-wali, anna Oro Wali-wali. Iyamo di"o appe" cara mambuttui sara", peita innai tongan anna innai salah. Tappana di"o, andiangmo tori adat pasigayyang ri Buttu Bala Batu. Hukum ri karajaanmi dipake", anna Mandar maoroi ri sara" anna adat anu lebih adil. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala di Mandar, apabila ada suatu perkara atau perselisihan, orang-orang akan membawanya ke sebuah gunung yang disebut Gunung Bala Batu. Dahulu gunung itu dinamakan Bala Batu karena seluruh sekelilingnya dipagari oleh batu. Di tempat itulah perkara diputuskan dengan cara berkelahi. Apabila yang berselisih adalah laki-laki, mereka dimasukkan ke dalam tempat itu dan dipertarungkan menggunakan badik (keris). Siapa yang mati dalam perkelahian tersebut dianggap sebagai pihak yang kalah, dan yang tetap hidup dinyatakan sebagai pemenang, meskipun sebenarnya ia berada di pihak yang salah. Namun, sering kali keduanya sama-sama tewas karena rasa malu dan pantang menyerah. Jika yang berselisih adalah perempuan, tangan mereka dimasukkan ke dalam wajan berisi air mendidih. Keduanya harus menahan tangan mereka di dalam air tersebut. Siapa yang lebih dahulu mengangkat tangannya dinyatakan kalah. Akan tetapi, karena rasa malu dan harga diri, sering kali keduanya tidak mau mengangkat tangan sehingga berakhir dengan kematian. Melihat hal itu, raja berkata, "Tidak ada gunanya menjadi raja jika rakyat terus-menerus mati karena cara seperti ini." Sebab, setiap ada perselisihan, selalu diselesaikan dengan pertarungan yang berujung maut. Puang Sallo, selaku pembicara besar kerajaan, mengusulkan agar adat tersebut dihentikan karena hanya akan menghabiskan rakyat. Raja pun memerintahkan agar pergi mempelajari cara penyelesaian perkara di negeri lain. Utusan kemudian pergi ke Makassar, tepatnya ke Kerajaan Gowa, untuk mempelajari bagaimana cara mereka memutuskan perkara. Setelah kembali ke Mandar, diterapkanlah sistem penyelesaian perkara yang baru. Di Mandar dikenal empat bentuk ulu bicara, yaitu: Tutu Mesagala Wali-wali, Palolo Wali-wali, Sa"bi Wali-wali, dan Oro Wali-wali. Keempat cara inilah yang digunakan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan hukum dan adat. Sejak saat itu, adat perkelahian di Gunung Bala Batu tidak lagi digunakan, dan masyarakat Mandar mulai memakai sistem hukum kerajaan yang lebih adil dan teratur. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Musayana

admin Baca
CALU??? AMMANA WEWANG
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

CALU??? AMMANA WEWANG

Umulai carita tentang Calu ammana Wewang. Iya to sanganna Calu ammana Wewang, Mara"dia Matoa di Balanipa, anna Mara"dia malolo di Alu. Ammana Wewang dipaungani sebagai pejuang revolusi, apa"na sebelum proklamasi kemerdekaan, iya memang sudah berjuang. Ammana Wewang narakkei Belanda. Iya to ka"bali, indani nande kowi anna peluru. Iya naung masserang di Banggae, narampasi senjata Belanda sebayang 87 pucuk ingganna peluruna, anna dibawa pulang. Belanda sering rugi karena perbuatanna Mara"dia. Belanda narencanai nasaka anna napatei Mara"dia, apa"na indani mala dipatei apa ka"bali. Belanda maita carana anna mala disaka, jari napesangi tau to maissang kelemahanna Ammana Wewang. Dianmo mapissanni mua melo musaka Ammana Wewang, patengangi die carana. Belanda maita tau to kareppu"na Mara"dia jadi mata-mata. Napesangi mua mala musaka Mara"dia, iya naubeng doi. Tau to"o maung, "Iyyo, meloa." Tappana matindo Mara"dia, iya napissang Belanda. Belanda lao nasaka Ammana Wewang, nasipi tarring alawena (bambu) sebagai tanda kelemahanna to ka"bali. Iyamo kelemahanna. Jari tisaka mi Mara"dia, dibawa naung di Banggae anna ditahan. Belanda maung indani mala ditahan di Banggae. Lebih baik dibawa dai Makassar. Dolo dibawa dai Tomadio, apa"na mua disini, temanna mala ma"jalloe (memberontak). Jari napalaianmi dai Makassar. Tappana di Makassar, nabawa bomi liwang Jakarta untuk diadili. Iya diasingkan di Pulau Belitung salama 36 tahun saena. Wattunna lassu, malaimi mai ma"lopi anna tandda" di Ba"babulo. Pole di"o, malaimi le"mai di Balanipa anna mamboyang di Limboro. Indan lama pole proklamasi kemerdekaan, matemi Mara"dia. Dilamung mi di samping masigi Limboro. Apa"na marakkei seiyya mua kuburna namanusangi wai, jari napalenggu"mi dai di Buttu Tandu"dur. Sampai di"o kuburna masi di Buttu Tandu"dur. Pole battunna Ammana Wewang dari Belitung, di paelonganmi lagu pole Puang Bassi, judulna "Nasaua Dialangan". "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kisah ini bercerita tentang Calu Ammana Wewang. Ia dikenal sebagai Mara"dia Matoa (raja tua) di Balanipa dan seorang Mara"dia yang gagah di Alu. Calu Ammana Wewang disebut sebagai pejuang revolusi karena sebelum proklamasi kemerdekaan, beliau sudah terlebih dahulu berjuang. Calu Ammana Wewang sangat ditakuti oleh Belanda. Beliau sangat berani dan kebal terhadap parang maupun peluru. Ia turun ke Banggae dan merampas 87 pucuk senjata milik Belanda beserta seluruh pelurunya, lalu membawanya pulang. Belanda sering mengalami kerugian akibat tindakan sang Mara"dia. Belanda kemudian merencanakan untuk menangkap dan membunuh Mara"dia. Namun, ia tidak dapat dibunuh karena kebal. Belanda pun mencari cara agar dapat menangkapnya dengan mencari orang yang mengetahui kelemahan Calu Ammana Wewang. Seseorang memberitahukan bahwa jika ingin menangkap Calu Ammana Wewang, "Ada caranya." Belanda kemudian memilih orang terdekat Mara"dia untuk dijadikan mata-mata. Ia dijanjikan hadiah uang jika berhasil menangkapnya. Orang tersebut menyanggupi. Saat Mara"dia sedang tidur, orang itu memberi tahu Belanda. Belanda datang untuk menangkap Calu Ammana Wewang. Ia dijepit dengan bambu sebagai tanda kelemahannya (kelemahan orang kebal). Akhirnya Mara"dia berhasil ditangkap dan dibawa ke Banggae untuk ditahan. Belanda mengatakan bahwa ia tidak dapat ditahan di Banggae. Lebih baik dibawa ke Makassar. Ia sempat dibawa ke Tomadio terlebih dahulu. Belanda khawatir jika tetap di sana, teman-temannya akan memberontak. Kemudian ia dipindahkan ke Makassar. Setelah sampai di Makassar, ia kembali dibawa ke Jakarta untuk diadili. Ia dijatuhi hukuman pengasingan ke Pulau Belitung selama 36 tahun. Setelah bebas, ia pulang menggunakan perahu dan mendarat di Ba"babulo. Dari sana, ia kembali ke Balanipa dan membangun rumah di Limboro. Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan, Mara"dia wafat. Ia dimakamkan di samping Masjid Limboro. Namun, karena warga khawatir makamnya terbawa air sungai yang meluap, makam tersebut dipindahkan ke Gunung Tandu"dur. Hingga kini, makamnya masih berada di Gunung Tandu"dur. Sepulangnya Calu Ammana Wewang dari Belitung, diciptakanlah sebuah lagu oleh Puang Bassi berjudul "Nasaua Dialangan". "Selesai!" H. Ahmad Asdy/Intan Nur Hidayah

admin Baca
I KARAKE??? LETTE??? (SI KAKI PINCANG)
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

I KARAKE??? LETTE??? (SI KAKI PINCANG)

Di"o di sanga I Karake Lette". Sebenarna, jolo diangmo sangana, iya to disanga karna lettena urudiang (pincang). Di Mandar, diang 41 tomakaka, anna mesa diantaranna disanga Tomakaka di Loppo. Karna monge" lettena, mua millamba sanna" mapparisi, jari tau magallari iya Karake Lette" (karake = rusak, lette" = kaki). Diang pole tau to Takalar, tau barani, meloi na"ala Balanipa. Andiang tau ma"ewa"i. Mara"dia ma"uang, "Innai di"e ma"ulle ma"ewai"? Tau ma"uang, "Diang I Karake Lette"." Jari napasiallama I Karake Lette". Millambami I Karake Lette" pole di Loppo lao Balanipa. Tiga bongi tiga allo iya millamba karna monge" lettena. Tappana sita mi siola to barani, tau to Takalar ma"uang, "Mara"dia andang sala, apa ma"pasiallama tau cacat ma"ewai yau? Tau sehat to"e kuallangi, apalagi di"e." I Karake Lette" ma"uang, "Iyamo, tapi si"kasa-kasa"mo. Yau mambawa tallu lemo. Mua utimbeo anna mu"alami, yau malai. Tapi mua iko timbe mai anna yau malai na"alami, iko malai." Tau to Takalar massetuju. Tappana I Karake Lette" natoro lemo, bisa na"alami anna napoleang pole. Mua tau to Takalar natimbe, I Karake Lette" towoi na"alami pole. Jari tau to Takalar malai, apa napattuppui janjinna. Mara"dia ma"uang, "Me"apa muinginkan"? I Karake Lette" ma"uang, "Indang"a diang. Yau mara"dia di Loppo." Mara"dia ma"uang pole, "Harus diang bengangku." Jari I Karake Lette" ma"uang, "Benganami kebun." Subuh-subuh iya lao di buttu anna ma"illong, "Bangunmo tau! Lao mambue", lao ma"jama!" Tappana allo massimbara, iya maita" sangga"na suara"na. Tau Beu"asa nairrangi, tau Batu-Batu nairrangi. Iyamo jadi wilayahna. Jari Batu-Batu tama di wilayah Balanipa. Masanna, diang pole carita. I Karake Lette" mappasalanganna anna mesti dihukum. Tapi iya ma"uang, "Indang"a mu hukum yau. Yau malai pole." Tappana iya malai, di kampung di"o diang rengge (perselisihan). Jari digallari kampung di"o Renggeang di Tinambung. Iyamo caritana I Karake Lette". "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dialah yang dikenal dengan nama Si Karake Lette". Pada awalnya, nama itu belum ada. Ia disebut demikian karena kakinya pincang. Di Mandar dahulu terdapat 41 tomakaka (pemimpin adat), dan salah satunya disebut Tomakaka di Loppo. Karena jalannya pincang dan tampak tidak sempurna, masyarakat menjulukinya Karake Lette", yang berarti kaki rusak atau pincang. Suatu ketika datang seorang pemberani dari Takalar yang ingin merebut wilayah Balanipa. Tidak ada seorang pun yang berani melawannya. Mara"dia (raja) kemudian bertanya, "Siapa yang mampu menghadapi orang ini"? Masyarakat menjawab bahwa ada satu orang, yaitu Si Karake Lette". Maka ia pun dipanggil untuk menghadapi sang pemberani. Si Karake Lette" berjalan dari Loppo menuju Balanipa. Karena kakinya pincang, ia menempuh perjalanan selama tiga hari tiga malam. Ketika bertemu, orang dari Takalar itu berkata, "Raja ini sungguh keliru, mengapa memberiku lawan orang yang cacat? Orang sehat saja bisa kukalahkan, apalagi dia." Si Karake Lette" kemudian berkata, "Baiklah, kita tidak perlu berkelahi. Kita adu kepandaian saja. Saya membawa tiga buah jeruk. Jika saya lempar dan kamu dapat menangkapnya, saya akan pergi. Tetapi jika kamu yang melempar dan saya bisa menangkapnya, maka kamu yang harus pergi." Tantangan itu diterima. Ketika Si Karake Lette" melempar jeruk, lawannya tidak mampu menangkapnya dengan baik. Sebaliknya, saat jeruk dilempar kepadanya, Si Karake Lette" dapat menangkapnya dengan mudah. Akhirnya, orang dari Takalar itu kalah dan menepati janjinya untuk pergi. Mara"dia kemudian bertanya, "Apa yang kamu inginkan sebagai balasan"? Si Karake Lette" menjawab bahwa ia tidak menginginkan jabatan karena ia sendiri sudah menjadi mara"dia di Loppo. Namun, raja tetap ingin memberinya sesuatu. Maka Si Karake Lette" meminta wilayah kebun. Pada waktu subuh, ia pergi ke gunung dan berteriak lantang, "Wahai masyarakat, bangunlah! Pergilah bekerja dan mencari nafkah!" Ketika matahari terbit, ia menelusuri sejauh mana suaranya terdengar. Ternyata orang-orang di Beuasa dan Batu-Batu mendengarnya. Wilayah yang mendengar suaranya itulah yang menjadi daerah kekuasaannya. Batu-Batu pun kemudian masuk dalam wilayah Balanipa. Beberapa waktu kemudian, masih ada kisah lanjutan. Si Karake Lette" melakukan suatu kesalahan dan hendak dihukum. Namun, ia memilih meninggalkan jabatannya dan pergi dari wilayah itu. Setelah kepergiannya, terjadi perselisihan di kampung tersebut. Dalam bahasa Mandar, perselisihan disebut rengge. Karena itulah kampung tersebut kemudian dinamakan Renggeang, yang terletak di Tinambung. Demikianlah kisah Si Karake Lette". "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Fitrayani

admin Baca