Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar
ASAL MULA HUKUM DI MANDAR
23 June 2026
-3.502915, 119.021164
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Diolo" dini ri Mandar, mua diang parakara, tau siola siola diola lao ri mesa buttu disanga Buttu Bala Batu. Diolo"na nisanga Bala Batu apa ururunna batu nasang. Ri di"o tau mambuttui parakara siola cara pasialla.
Mua tommuane siparakarang, diola tama dilalangna anna dipasigayyang makke"de badik. Innai mate ri pasigayyang, iyamo disanga menang. Mua"pi tongan salahna tapi ia tarrus mallabu ri pasigayyang, tetap disanga menang. Tapi biasanna, si duanna mate apa siri"na andiang mau massala" mundur.
Mua towaine siparakarang, limanna dipatama ri pamuttu disanga re"de, uwai malandep (mendidih) di lalangna. Si duanna masumpa" patama limanna. Innai mendolo mambeso limanna, iyamo disanga kalah. Tapi biasanna, apa siri", andiang mau mambeso limanna, lambi si duanna mate.
Mara"dia maung, "Andiang tori kararanna manjari mara"dia, apa tau nasang mate mua" cara di"e tarrus dipogau." Apa sabanna, siala-siala poko"na, siasal, nasang diola lao ri pasigayyang.
Jari Puang Sallo (pambicara Kaiyyang) maung, "Macoami mua adat di"e diwindo"i. Damo tarrus dipake", apa cappu tau mate." Masarakat napikir, anna mara"dia maung lao mappetule" ri banua tau laing, peita caranna mambuttui parakara.
Lao ri Makassar, ri Karajaan Gowa, anna di"o napelajari caranna mambuttui parakara siola sarana adatna. Tappana pole ri Mandar, napake"mi cara di"o. Diang appe" rupa ulu bicara ri Mandar, iyamo: Tutu Mesagala Wali-wali, Palolo Wali-wali, Sa"bi Wali-wali, anna Oro Wali-wali. Iyamo di"o appe" cara mambuttui sara", peita innai tongan anna innai salah.
Tappana di"o, andiangmo tori adat pasigayyang ri Buttu Bala Batu. Hukum ri karajaanmi dipake", anna Mandar maoroi ri sara" anna adat anu lebih adil.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dahulu kala di Mandar, apabila ada suatu perkara atau perselisihan, orang-orang akan membawanya ke sebuah gunung yang disebut Gunung Bala Batu. Dahulu gunung itu dinamakan Bala Batu karena seluruh sekelilingnya dipagari oleh batu. Di tempat itulah perkara diputuskan dengan cara berkelahi.
Apabila yang berselisih adalah laki-laki, mereka dimasukkan ke dalam tempat itu dan dipertarungkan menggunakan badik (keris). Siapa yang mati dalam perkelahian tersebut dianggap sebagai pihak yang kalah, dan yang tetap hidup dinyatakan sebagai pemenang, meskipun sebenarnya ia berada di pihak yang salah. Namun, sering kali keduanya sama-sama tewas karena rasa malu dan pantang menyerah.
Jika yang berselisih adalah perempuan, tangan mereka dimasukkan ke dalam wajan berisi air mendidih. Keduanya harus menahan tangan mereka di dalam air tersebut. Siapa yang lebih dahulu mengangkat tangannya dinyatakan kalah. Akan tetapi, karena rasa malu dan harga diri, sering kali keduanya tidak mau mengangkat tangan sehingga berakhir dengan kematian.
Melihat hal itu, raja berkata, "Tidak ada gunanya menjadi raja jika rakyat terus-menerus mati karena cara seperti ini." Sebab, setiap ada perselisihan, selalu diselesaikan dengan pertarungan yang berujung maut.
Puang Sallo, selaku pembicara besar kerajaan, mengusulkan agar adat tersebut dihentikan karena hanya akan menghabiskan rakyat. Raja pun memerintahkan agar pergi mempelajari cara penyelesaian perkara di negeri lain.
Utusan kemudian pergi ke Makassar, tepatnya ke Kerajaan Gowa, untuk mempelajari bagaimana cara mereka memutuskan perkara. Setelah kembali ke Mandar, diterapkanlah sistem penyelesaian perkara yang baru.
Di Mandar dikenal empat bentuk ulu bicara, yaitu: Tutu Mesagala Wali-wali, Palolo Wali-wali, Sa"bi Wali-wali, dan Oro Wali-wali. Keempat cara inilah yang digunakan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan hukum dan adat.
Sejak saat itu, adat perkelahian di Gunung Bala Batu tidak lagi digunakan, dan masyarakat Mandar mulai memakai sistem hukum kerajaan yang lebih adil dan teratur.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Musayana
Mua tommuane siparakarang, diola tama dilalangna anna dipasigayyang makke"de badik. Innai mate ri pasigayyang, iyamo disanga menang. Mua"pi tongan salahna tapi ia tarrus mallabu ri pasigayyang, tetap disanga menang. Tapi biasanna, si duanna mate apa siri"na andiang mau massala" mundur.
Mua towaine siparakarang, limanna dipatama ri pamuttu disanga re"de, uwai malandep (mendidih) di lalangna. Si duanna masumpa" patama limanna. Innai mendolo mambeso limanna, iyamo disanga kalah. Tapi biasanna, apa siri", andiang mau mambeso limanna, lambi si duanna mate.
Mara"dia maung, "Andiang tori kararanna manjari mara"dia, apa tau nasang mate mua" cara di"e tarrus dipogau." Apa sabanna, siala-siala poko"na, siasal, nasang diola lao ri pasigayyang.
Jari Puang Sallo (pambicara Kaiyyang) maung, "Macoami mua adat di"e diwindo"i. Damo tarrus dipake", apa cappu tau mate." Masarakat napikir, anna mara"dia maung lao mappetule" ri banua tau laing, peita caranna mambuttui parakara.
Lao ri Makassar, ri Karajaan Gowa, anna di"o napelajari caranna mambuttui parakara siola sarana adatna. Tappana pole ri Mandar, napake"mi cara di"o. Diang appe" rupa ulu bicara ri Mandar, iyamo: Tutu Mesagala Wali-wali, Palolo Wali-wali, Sa"bi Wali-wali, anna Oro Wali-wali. Iyamo di"o appe" cara mambuttui sara", peita innai tongan anna innai salah.
Tappana di"o, andiangmo tori adat pasigayyang ri Buttu Bala Batu. Hukum ri karajaanmi dipake", anna Mandar maoroi ri sara" anna adat anu lebih adil.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dahulu kala di Mandar, apabila ada suatu perkara atau perselisihan, orang-orang akan membawanya ke sebuah gunung yang disebut Gunung Bala Batu. Dahulu gunung itu dinamakan Bala Batu karena seluruh sekelilingnya dipagari oleh batu. Di tempat itulah perkara diputuskan dengan cara berkelahi.
Apabila yang berselisih adalah laki-laki, mereka dimasukkan ke dalam tempat itu dan dipertarungkan menggunakan badik (keris). Siapa yang mati dalam perkelahian tersebut dianggap sebagai pihak yang kalah, dan yang tetap hidup dinyatakan sebagai pemenang, meskipun sebenarnya ia berada di pihak yang salah. Namun, sering kali keduanya sama-sama tewas karena rasa malu dan pantang menyerah.
Jika yang berselisih adalah perempuan, tangan mereka dimasukkan ke dalam wajan berisi air mendidih. Keduanya harus menahan tangan mereka di dalam air tersebut. Siapa yang lebih dahulu mengangkat tangannya dinyatakan kalah. Akan tetapi, karena rasa malu dan harga diri, sering kali keduanya tidak mau mengangkat tangan sehingga berakhir dengan kematian.
Melihat hal itu, raja berkata, "Tidak ada gunanya menjadi raja jika rakyat terus-menerus mati karena cara seperti ini." Sebab, setiap ada perselisihan, selalu diselesaikan dengan pertarungan yang berujung maut.
Puang Sallo, selaku pembicara besar kerajaan, mengusulkan agar adat tersebut dihentikan karena hanya akan menghabiskan rakyat. Raja pun memerintahkan agar pergi mempelajari cara penyelesaian perkara di negeri lain.
Utusan kemudian pergi ke Makassar, tepatnya ke Kerajaan Gowa, untuk mempelajari bagaimana cara mereka memutuskan perkara. Setelah kembali ke Mandar, diterapkanlah sistem penyelesaian perkara yang baru.
Di Mandar dikenal empat bentuk ulu bicara, yaitu: Tutu Mesagala Wali-wali, Palolo Wali-wali, Sa"bi Wali-wali, dan Oro Wali-wali. Keempat cara inilah yang digunakan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan hukum dan adat.
Sejak saat itu, adat perkelahian di Gunung Bala Batu tidak lagi digunakan, dan masyarakat Mandar mulai memakai sistem hukum kerajaan yang lebih adil dan teratur.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Musayana
Lokasi Geografis Cerita
Cerita Terkait di Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar
MATE KARANA SIRI' (MATI KARENA MALU)
Baca Kisah
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar
I PURA PARA???BUE???
Baca Kisah
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar
TO NALAMBA MAMBACA-BACA ORANG YANG AKAN PERGI TASYAKKURAN
Baca Kisah