Katalog Cerita Rakyat
Ditemukan 113 cerita rakyat terarsip di sistem.
KU'BUR PITUS SUSUN DI TANDE (KUBURAN TUJUH LAPIS DI TANDE)
Diang mittule tau mangapa na pitu susung rie ku"bur di Tande anu disanga Ku"bur Lombeng Susu. Menuru" tomawuweng diolo", ku"bur di"o pitu susung nasaba" carita diolo" ri Mandar. Diolo" kala, banua"-banua" kaiyang mappalewa daerahna. Wattu di"o, Banua" Bone mellamba melo makkuasai Mandar. Tappana lambi ri Mandar, andiang le"ba mala maattai ponggawana Bone apa macanga sannai anna mapia taktikna. Tapi diang mesa to mudi" Mandar mancaga. Ia melo massappa" sanggana"na siola mappagau" taktik. Narumungmi dolo to mudi"-mudi" Mandar anna napaissanni carana: mua ia silambi tau Bone, tau Mandar pura-pura mallele anna massangga" marakke". Jari pura-pura rio napategang. Ponggawana Bone naissangi diang to mudi" mesa mancaga, jari melo napajar pengawalna. Jari to mudi" Mandar di"o diangkatmi manjari pengawal ponggawana Bone. Tappana rio, naissangimi to mudi"e mua ponggawana Bone diang jima"na (benda pusaka). Jari ia tarrus nadekkangi lao apa melo naala jima"na. Mesa allo, wattu ponggawana mellamba mando (mandi), malai naala jima"na. Pura napiala jima"na, malai napatei ponggawana Bone. Anggannana pasukan Bone betai, maindongmi malai. Iya mi tu"u diang disanga paku, tanda perbatasan anu dipatto mate ri tondo liwanna Pajalele, pokokna ri perbatasan Mandar anna Bugis. Menuru" carita diolo", ku"bur di Tande disanga pitu susung apa pappasalama pitu banua" kaiyang ri biring Bone. Diang tau nasanga lombeng susuna, padahal andiang tongan; maksudna ia penyelamat pitu banua". Iya mi tu"u mangapa ku"bur di"o pitu susung. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Banyak orang bertanya mengapa makam di Tande itu memiliki tujuh tingkat. Makam tersebut dikenal dengan nama Kubur Lombeng Susu. Menurut cerita orang-orang tua dahulu, makam itu bertingkat tujuh karena berkaitan dengan sebuah peristiwa besar pada masa lampau di Mandar. Pada zaman dahulu, kerajaan-kerajaan besar saling memperluas wilayah kekuasaannya. Saat itu, Kerajaan Bone datang untuk menguasai wilayah Mandar. Ketika pasukan Bone tiba, tidak ada yang mampu mengalahkan mereka karena kepemimpinan panglima perangnya sangat tangguh dan memiliki strategi yang hebat. Namun, ada seorang pemuda Mandar yang cerdas dan berani. Ia ingin melawan dengan menggunakan siasat. Ia mengumpulkan para pemuda Mandar dan menyampaikan rencananya: apabila ia maju menghadapi pasukan Bone, maka orang-orang Mandar harus berpura-pura mundur dan takut. Rencana itu pun dijalankan. Panglima Bone melihat keberanian dan kecerdikan pemuda tersebut. Ia tertarik dan kemudian mengangkatnya menjadi pengawal pribadinya. Setelah menjadi pengawal, pemuda itu mengetahui bahwa panglima Bone memiliki sebuah jimat atau benda pusaka yang memberinya kekuatan. Pemuda Mandar itu kemudian mencari kesempatan untuk mengambil jimat tersebut. Pada suatu hari, ketika panglima pergi mandi, ia berhasil mengambil jimat itu. Setelah jimat tersebut dikuasainya, panglima Bone akhirnya dapat dikalahkan dan dibunuh. Pasukan Bone pun melarikan diri kembali ke daerahnya. Sejak saat itu, di wilayah perbatasan Mandar dan Bugis dikenal istilah "paku", yaitu tanda batas wilayah yang dipatok kuat sebagai pertahanan. Menurut cerita turun-temurun, makam di Tande dibuat tujuh tingkat sebagai simbol bahwa tokoh tersebut telah menyelamatkan tujuh kerajaan besar di wilayah sekitar Bone. Ada pula yang menafsirkan nama "Lombeng Susu" secara harfiah, tetapi makna sebenarnya bukan demikian. Makam bertingkat tujuh itu melambangkan jasa besar sang pahlawan yang menyelamatkan tujuh kerajaan. Itulah sebabnya makam tersebut dikenal sebagai Kubur Pitu Susung. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Sahlul/Nur Faiqul Islam
AWAL MULA MASUKNYA BELANDA DI GALUNG ADOLANG
Diang mesa carita diwattunna balanda napettamai ri Galung Adolang. Wattu di"o, balanda mellamba mau mendai ri Galung Adolang. Apa ri di"o diam Ammana Wewang, pahlawan Mandar, na ri di"o towae strategis tongan dipake" benteng perlawanan. Ammana Wewang ma"pasirumung masarakat ri Galung Adolang. Naua, "Kumpulkang batu nasang, tapariai benteng." Jari makumpulmi batu mapulo-pulo bongi. Batu-batu di"o napariai benteng pertahanan. Mua balanda mellamba mendai, batu-batu di"o naloli"i naung. Apa jalananna mendaki tongan, jari balanda andangi mala le"ba, mapiai mate ri lalanna. Si pittallung balanda maccoba mendai, tapi andangi mala tembus. Mapiai mate apa naloli"i batu. Dara na matea maidi, jari kampung di"o nisanga "Uwotto" (bau busuk) apa bau matea balanda. Jari balanda maccari cara anna mala mendai ri Galung Adolang. Diang mesa polisi kampung sau menghadap ri balanda, maungmi mua diang tangngalalang manyamang ri tappa Galung, bisa diola pole ri Timbogaring. Balanda andappai napercaya, jari mappapia batu ri lalanna anna andangi diissangi masarakat. Balanda menyamar sebagai masarakat biasa. Mellamba pole ri Pamboang, Lattigi, Kaida, Ratte Lambe, lambi ri Timbogaring, anna akhirna lambi ri Galung Adolang. Naita tongan tangngalalang di"o, jari sau mendai. Tappana lambi ri Galung Adolang, terjadimi perlawanan. Ammana Wewang sola Puang Kali Adolang siola masarakat siallami balanda. Andangi masarakat mappogau apa balanda mala lambi ri di"o. Iyamo tu"u anna Galung Adolang nisanga tappa galung le"ba benteng, apa ri di"o dipe"bengngang benteng pertahanan. Iyamo tu"u caritana perlawanan ri Galung Adolang. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada sebuah cerita tentang masuknya Belanda ke Galung Adolang. Pada waktu itu, Belanda datang dan ingin naik ke Galung Adolang. Di tempat itulah Ammana Wewang, seorang pahlawan Mandar, berada. Tempat tersebut sangat strategis untuk dijadikan benteng pertahanan melawan penjajah. Ammana Wewang mengumpulkan masyarakat Galung Adolang. Ia memerintahkan agar semua orang mengumpulkan batu untuk membuat benteng pertahanan. Selama berhari-hari masyarakat mengumpulkan batu. Batu-batu itu disusun sebagai benteng. Setiap kali Belanda mencoba naik, batu-batu tersebut dijatuhkan ke bawah. Karena jalannya sangat menanjak, Belanda tidak mampu menembus pertahanan dan banyak yang tewas di perjalanan. Berkali-kali Belanda mencoba naik, tetapi tetap tidak berhasil. Banyaknya korban yang berguguran menyebabkan tempat itu berbau busuk, sehingga kampung tersebut disebut "Uwotto" yang berarti bau busuk karena banyaknya mayat penjajah. Belanda kemudian mencari cara lain agar bisa naik ke Galung Adolang. Seorang polisi kampung menghadap Belanda dan mengatakan bahwa ada jalan lain yang lebih mudah dilalui, yaitu melalui Timbogaring. Belanda pun mempercayainya dan diam-diam menyusun rencana. Belanda menyamar sebagai masyarakat biasa. Mereka berjalan melalui Pamboang, Lattigi, Kaida, Ratte Lambe, hingga Timbogaring, dan akhirnya sampai di Galung Adolang. Setelah menemukan jalan tersebut, mereka pun naik dan terjadilah pertempuran. Ammana Wewang bersama Puang Kali Adolang dan seluruh masyarakat melakukan perlawanan terhadap Belanda. Masyarakat merasa heran karena penjajah akhirnya mengetahui jalan menuju tempat itu. Pertempuran pun terjadi sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan Galung Adolang. Demikianlah kisah perlawanan di Galung Adolang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh
MESSAWE TOTAMMA' (PENUNGGANG KUDA YANG KHATAM)
Diang mesa carita diolo sanganna Messawe Totamma". Messawe Totamma" iyamo sitti" to malolo anna to makkasiri". Iya mallamba-lamba ri lembangna, ma"itai dalle" anna ma"pissang pangngajari" ri tau to lamba siolanna. Messawe Totamma" nasanga to matappa", apa"na iya de"na mallari ri kasala. Mua" diang tau ma"bali" kasala ri lembang, iya malolo mi mappatongang. Iya massimombalang siola tau-tau ri lembang, anna ma"jaga siri" anna ade". Di Banggae, ri Majene, caritana Messawe Totamma" masih dipa"bicarang ri to matoa. Iya dipa"biasaang sabagai to mapaccing atinna anna to massayang ri lembangna. Iyamo sababu"na caritana tetap diissang anna dipappole ri ana" cucu. Iyamo tamatna carita Messawe Totamma". "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada sebuah cerita dahulu yang bernama Messawe Totamma". Messawe Totamma" adalah seorang perempuan yang cantik dan memiliki rasa malu (siri") yang tinggi. Ia sering berjalan-jalan mengelilingi kampungnya, melihat keadaan sekitar, serta menyampaikan nasihat kepada orang-orang yang ditemuinya. Messawe Totamma" dikenal sebagai orang yang tegas karena ia tidak pernah lari dari kesalahan. Jika ada orang yang berbuat salah di kampung itu, ia dengan bijak meluruskannya. Ia selalu bermusyawarah bersama masyarakat kampung serta menjaga harga diri dan adat istiadat. Di Banggae, Majene, kisah Messawe Totamma" masih sering diceritakan oleh para orang tua. Ia dijadikan teladan sebagai sosok yang berhati bersih dan sangat mencintai kampung halamannya. Itulah sebabnya kisahnya tetap dikenal dan diwariskan kepada anak cucu. Demikianlah akhir cerita Messawe Totamma". "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Mohammad Fahmy/Mawar
LAKASIASI (SI MISKIN)
Diang mesa carita diolo tentang to kasiasi sanganna Aco. Iya siola indona mellamba-mellamba ma"itai dalle". Di antara lalananna, siruppa koko" pa"ande tau to dzalai ri sasi". Tappana digena", Aco masalama" anna naua, "Da dzolo" e." Koko" e naua, "Mua" pissana mu illonni mua narua" pepa", ditimma" ri pe"oloammu." Jari Aco siola indona melamba pole. Mellamba pitu buttu na wulewang, Aco siola indona siruppa sumarrang kaiyang. Sumarrang e mapissang, "Inna namuola"? Aco maung, "Ma"itai dalle"." Sumarrang e naua, "Mua" di timma" ri pe"oloammu, pissana mu, iyau malambi" ri olona." Jari iya pole melamba. Tappana pole melamba, siruppa i Nenek Pakande, tau pa"ande tau toi. Iya meande Aco siola indona. Aco lekka" pissang sumarrangna, naua, "O sumarrang, tulunga tori"." Sumarrang malambi", anna meande i Nenek Pakande. Sisa"na wase anna bukuna. Apa"na mate mi Nenek Pakande. Di boyanna Nenek Pakande, diang lamari pattampungan tau. Diang dua rupa: tommuane anna towaine. Nasang tau to nasaka" sirumung. Di antaranna diang sanganna Hasan Husen Mannang anna Ana"ijo Sapareng. Hasan Husen Mannang maung, "Aco, bawa" tori" lao ri banua"u." Aco maung, "Iyyo, insya Allah." Tappana lambi" ri banua"na, tau ri kampung e sangga"i musuh malambi". Limambongi limangallo pelloa tembakan. Aco pissang sumarrang anna koko", naua, "Tulunga tori", narua" pepa"." Sumarrang anna koko" massisombalang mabbasmi musuh. Aman mi lalananna. Aco pole lao ri boyanna Nenek Pakande, apa"na iya mi menjari kapala ri lingkunganna. Tappana Ana"ijo Sapareng maung dibawa toi lao ri banua"na, Aco pole mambawa. Di lalananna di tembaki bomi, tapi sumarrang anna koko" tulungi pole. Lambi" aman, Aco menjari raja ri di"o. Apa"na mate mi Nenek Pakande, Aco mamulai mappapia pemerintahan: kecamatan, desa, lingkungan, RT, anna RW. Iyamo tamat caritana. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, ada sebuah cerita tentang seorang miskin bernama Aco. Ia berjalan bersama ibunya untuk mencari nafkah. Di perjalanan, mereka bertemu dengan seekor burung pemakan manusia dari laut. Ketika hendak dimakan, Aco memberi salam dan berkata, "Tunggu dulu." Burung itu berkata, "Jika suatu saat kamu ditimpa masalah, panggillah namaku, maka aku akan datang di hadapanmu." Setelah itu, Aco dan ibunya melanjutkan perjalanan. Setelah melewati tujuh gunung dan lembah, Aco dan ibunya bertemu dengan seekor semut besar. Semut itu bertanya, "Kalian hendak ke mana"? Aco menjawab, "Kami ingin mencari nafkah." Semut itu berkata, "Jika kalian ditimpa masalah, panggillah namaku, maka aku akan datang menolong." Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Di perjalanan selanjutnya, mereka bertemu dengan Nenek Pakande, seorang pemakan manusia. Ia hendak memakan Aco dan ibunya. Aco segera memanggil semut besar itu dan berkata, "Wahai semut, tolonglah kami." Semut pun datang dan memakan Nenek Pakande hingga yang tersisa hanya tulang dan giginya. Nenek Pakande pun mati. Di rumah Nenek Pakande terdapat lemari yang menjadi tempat penampungan orang-orang yang ditangkap. Ada dua bagian, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Semua orang yang tertangkap berkumpul. Di antaranya ada Hasan Husen Mannang dan Ana"ijo Sapareng. Hasan Husen Mannang berkata, "Aco, tolong antar aku ke kampungku." Aco menjawab, "Baik, insya Allah." Ketika hampir tiba di kampungnya, penduduk mengira mereka musuh dan menembaki selama lima hari lima malam. Aco pun memanggil semut dan burung pemakan manusia untuk meminta pertolongan. Keduanya bekerja sama membasmi para penyerang. Akhirnya keadaan menjadi aman. Aco kembali ke rumah Nenek Pakande dan menjadi pemimpin di tempat itu. Ketika Ana"ijo Sapareng meminta diantar ke kampungnya, Aco pun mengantarnya. Di perjalanan mereka kembali ditembaki, tetapi semut dan burung itu menolong hingga keadaan aman. Setelah semuanya selamat, Aco menjadi pemimpin di wilayah tersebut. Karena Nenek Pakande telah tiada, Aco mulai membentuk pemerintahan seperti kecamatan, desa, lingkungan, RT, dan RW. Demikianlah akhir cerita ini. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Rasada/M. Idham
PUCCECANG ANNA PULLADO
Diang mesa carita Puccecang anna Pualado. Mesa allo, Pualado solai Puccecang naik lao di wuttu. Di wuttu, Puccecang maita ponna loka tumbang. Mauangmi, "Ingga"e, kita tura pole di"e loka!" Pualado ma"uang, "Iyo." Jari lambami mellamba-lamba lao ma"ala kowi (parang), anna ponna loka di"o napolomi. Tappana napolo ponna loka, Puccecang ma"uang, "Inna namu"ala, lolo na apa bui"na"? Pualado ma"uang, "Mua iko"? Puccecang ma"uang, "Lolo"na yau, apa masigai tia tumbuh. Bui"na iko." Pualado massetuju. Jari natunami lolo"na anna bui"na, duanna natannammi di wuttu. Seminggu purami natannam, duanna sipessitai pole di wuttu. Pualado ma"uang, "Meapami anummu, Puccecang"? Puccecang ma"uang, "Malassu mi punyaku." "Iko, Pualado"? Pualado ma"uang, "Mindaung tu"u mo." Dua minggu purami, naik pole di wuttu. Pualado ma"uang, "Meapami anummu"? Puccecang ma"uang, "Makin malassu, pai namate." Pualado ma"uang, "Punyaku mindaungmi anna ma"puso (mulai berbuah)." Tiga minggu pole, naik pole. Pualado ma"uang, "Punyaku membuahmi anna masekemi ressu." Puccecang ma"uang, "Punyaku namatemi apa maraemi daunna." Tiga minggu pole, naik pole pole. Pualado ma"uang, "Ressumi lokaku. Ayo kiteke!" Pualado nateke rai, tapi Puccecang ikut naik anna na"andei lokana Pualado. Pualado ma"uang, "Pianai ro mai!" Tapi Puccecang terus na"ande. Tappana di atas, Puccecang natittai tai di wawo, anna kenna Pualado. Pualado massiri, minnaong lao di lembang ma"ala buang (kepiting). Nataro buang di ponna loka. Tappana buang pole di wawo, nasikki bui"na Puccecang. Puccecang ma"irri-irri, anna bemme naung di lita. Tilatu ulunna, matei di lita. Iyamo cappu caritana. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada sebuah cerita tentang Puccecang dan Pualado. Pada suatu hari, keduanya naik ke gunung. Di sana, Puccecang melihat pohon pisang yang tumbang. Ia berkata, "Mari kita tanam kembali pisang ini." Pualado pun menyetujui. Mereka pergi mencari parang untuk menebang dan membagi batang pisang tersebut. Setelah ditebang, Puccecang berkata, "Bagian mana yang kamu ambil, pucuk atau bagian bawah"? Ia memilih pucuknya karena menurutnya lebih cepat tumbuh, sedangkan Pualado mengambil bagian bawahnya. Kemudian mereka menanam bagian masing-masing di gunung. Seminggu kemudian, mereka kembali melihat tanaman itu. Pualado bertanya, "Bagaimana punyamu, Puccecang"? Puccecang menjawab, "Punyaku sudah layu." Ketika ditanya balik, Pualado menjawab, "Punyaku sudah mulai berdaun." Dua minggu kemudian, mereka naik lagi ke gunung. Puccecang berkata tanamannya semakin layu dan hampir mati. Sementara itu, tanaman Pualado semakin subur dan mulai berbuah. Tiga minggu kemudian, mereka kembali lagi. Pualado berkata bahwa pisangnya sudah berbuah dan hampir masak. Adapun tanaman Puccecang sudah benar-benar mati karena kering. Beberapa minggu kemudian, mereka naik lagi dan melihat pisang Pualado telah masak. Pualado menyuruh Puccecang memanjat untuk mengambilnya. Namun, setelah sampai di atas, Puccecang justru memakan pisang itu sendirian tanpa berbagi. Tidak hanya itu, Puccecang bahkan buang air besar dari atas pohon hingga mengenai Pualado. Karena marah, Pualado pergi ke sungai menangkap kepiting. Ia meletakkan kepiting itu di batang pohon pisang. Ketika kepiting tersebut menjepit bagian belakang Puccecang, ia berteriak kesakitan dan terjatuh dari pohon. Kepalanya terbentur tanah dan ia pun meninggal dunia. Demikianlah akhir cerita Puccecang dan Pualado. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Umar/Firdaus
SIKEMBAR GAIB
Di pirang bongi, di waktu teppo Walanda, diang di"o ana" disanga I Rindu. Tau Bugis di"o. Di ada"na tau Bugis, mua napianang bassa, tuaininna biasana nalamusang lao di lembang. Jari di"o amma"na I Rindu, nappaccinni ana"na, tuaininna nabungkus lipa", nabawa lao di lembang anna namanusang. Tappana nabuka tuaininna di lembang, ternyata tania tuaininna, tapi tau. Jari ma"uangmi sandonae, "Andang bandi salah ma"ala sananaeke"? Apa uwala tau, tania tuaininna"? Jari nabawa pole lao diboyanna. Ternyata tuaininna di"o menjadi tau. Akhirna kembar mi. Berbulan-bulan sampe bertahun-tahun, kayyang mi di"o ana"e. Diang mesa mate di antara duanna, tapi andangi diissang mua innai mate"e"apa sananaeke" aslinna atau kembarna. Iya to masae disanga I Rindu. Menjelang umur dua sampe empat tahun, lewai passiallanna. Mua missung di boyanna, sialla tau, nagasangan solana, napicera solana. Amma"na masiri, jari nakurungmi I Rindu di kamar nakocci, rappo-rappo. Mesa bongi, papa"na lao di uma, massumpe durian. Tappana massumpe, diang tau ma"uang di bawana, "Papa, pagannai da"dua!" Ternyata I Rindu. Papa"na masiri, minnaong, nalellerri lao diboyanna. Tappana narua"i bainena, ma"uang, "Mangapa mupasungani ana"mu"? Bainena ma"uang, "Andiang kupasung. Andang dikurung di kamar." Jari naparessa"i kamarae"rappo-rappo andiang tebua, tapi ana"e andiang illalang. Menjelang dewasami, I Rindu jadi kayyang, lewai macanganna, kebal, barani. Di waktu teppo Walanda, mua siwali walada, iya tia tannang alawena, andang nasa"ding peluru. Iya to disanga Si Kembar Gaib. Bassami di"o kejadiannao. Andangi diissang pole kelanjutanna. Ingga"mi di"o usiwissang caritanna. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman Belanda dahulu, lahirlah seorang anak yang diberi nama Rindu. Ia berasal dari keluarga Bugis. Dalam adat Bugis, ari-ari bayi biasanya dihanyutkan atau ditenggelamkan ke laut atau danau. Setelah bayi itu dimandikan, ari-arinya dibungkus dengan kain, lalu dibawa ke laut untuk ditenggelamkan. Ketika ari-ari itu hendak dibuka sebelum ditenggelamkan, ternyata isinya bukan ari-ari, melainkan seorang bayi. Orang tuanya terkejut dan berkata, "Jangan-jangan saya salah mengambil tadi? Mengapa yang saya bawa ini bayi, bukan ari-ari"? Ari-ari tersebut kemudian dibawa kembali ke rumah. Ternyata, ari-ari itu berubah wujud menjadi manusia. Sejak saat itu, anak tersebut menjadi kembar. Berbulan-bulan hingga bertahun-tahun berlalu, kedua anak itu tumbuh besar. Namun, salah satunya meninggal dunia. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti siapa yang meninggal"apakah anak yang asli atau yang berasal dari ari-ari. Anak yang hidup itulah yang kemudian dikenal dengan nama Rindu. Menjelang usia dua hingga empat tahun, Rindu sangat suka berkelahi. Setiap keluar rumah, ia selalu bertengkar dengan teman-temannya hingga melukai mereka. Ayahnya merasa malu atas kelakuannya, sehingga Rindu dikurung di dalam kamar yang terkunci dan digembok rapat. Suatu hari, ayahnya pergi ke gunung untuk memetik durian. Ketika sedang memetik buah, terdengar suara dari bawah berkata, "Ayah, tambahkan jadi dua!" Ternyata yang berbicara adalah Rindu. Ayahnya terkejut dan segera turun dari pohon, lalu pulang ke rumah sambil menyeret anaknya. Ia memarahi istrinya, "Mengapa kamu mengeluarkan anak ini"? Istrinya menjawab bahwa ia tidak pernah membukakan pintu kamar. Ketika diperiksa, benar saja gembok kamar masih terkunci, tetapi Rindu tidak ada di dalamnya. Ketika beranjak dewasa, Rindu tumbuh menjadi seorang yang kuat, kebal, berani, dan tangguh. Pada masa peperangan melawan Belanda, ia dikenal sebagai pejuang yang tidak pernah gentar. Tubuhnya seakan tidak mempan oleh peluru. Demikianlah kisah Si Kembar Gaib. Kelanjutan ceritanya tidak banyak diketahui orang. Sampai di sinilah cerita yang dapat disampaikan. Diceritakan kembali oleh Mahayuddin/Ahmad Zulham
PAMMARONDO MAPPANAUNG PARE (MENANAM PADI)
nipattunganang bomi baulu. Nirumbui undung, anna nittamai doa. Tuppana mariri pare, nirumbui pole undung sawa" apa nanipemmalai mai. Jari diangmo ande baru. Massalasalama mi tau, lambi taung bomo mattura pole. Mua diang jarinna, nisalasalamai pole. Diangmo rie mesa sapo-sapo diwao taunna, issinna pitu tau. Landurmi mesa towaine mambawa watta-wattal. Apa issinna atupe nabi pitu. Jari mendai mi ri sapo"e. Tau diwao e indangi naissang ma"uang pessorongo mai immaie, sawa" ma cangngo-cangngoi ma gengge-gengge toi. Jari nebengammi atupe"e lao nande sisammesana. Diangmo mesa tau menjolo pa"ingarang. Naro"yongmi annang-anna"nae anna ma"uang: "I"o pattirio tanah, i"o pattirio le"bo, i"o pattirio buttu, i"o pattirio bulan, mesa namattiri"i sambayang, mesa namattiri"i ande, mesa namattiri"i mesa rupa tau." Jari nabuami ba"banao. Diammo naita nanapelleteio, anna lambimi jalan-jalan. Maitami sau ayu sappong pitu taena, pitu daunna, mesa buana. Jari ma"uangmi: "Inggai sirambangan di"e makkawe dai daunna ayu!" Pitui siola, pitui daunna ayu. Indiomi tu"u mamulami mikke"de lima wattu. Diang tomo ande. Gannami issinna linoe. "Purami!" Terjemahan Bahasa Indonesia Sejarah menanam padi dahulu dimulai dengan menyertakan daun sirih. Setelah benih ditanam, daun sirih kembali diberikan sebagai bagian dari tradisi. Kemudian dilakukan pengasapan menggunakan dupa sambil memanjatkan doa. Ketika padi mulai menguning dan akan dipanen, proses pengasapan dengan dupa dilakukan kembali sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan. Setelah panen, diperoleh beras baru, lalu masyarakat mengadakan syukuran. Setiap tahun, ketika panen berhasil, syukuran kembali dilaksanakan sebagai ungkapan rasa terima kasih. Pada suatu waktu, terdapat sebuah rumah yang dihuni oleh tujuh orang. Suatu hari, lewatlah seorang perempuan yang membawa perbekalan terbungkus kain. Di dalamnya terdapat tujuh ketupat nabi. Perempuan itu naik ke rumah tersebut. Namun, orang-orang yang berada di atas rumah tidak menyapanya dan menyuruhnya mendekat, karena mereka dianggap memiliki keterbelakangan mental atau gangguan kejiwaan. Perempuan itu kemudian memberikan ketupat tersebut untuk mereka makan bersama. Tiba-tiba, salah seorang di antara mereka lebih dahulu tersadar. Ia segera membangunkan keenam temannya dan berkata: "I"o pattirio tanah, i"o pattirio le"bo, i"o pattirio buttu, i"o pattirio bulan, satu mendirikan salat, satu mendirikan makan, satu mendirikan rupa manusia." Setelah itu, mereka membuka pintu rumah. Mereka melihat sebuah titian yang dapat mereka lalui, lalu berjalan menyusurinya. Di perjalanan, mereka menemukan sebatang pohon kayu yang memiliki tujuh dahan, tujuh helai daun, dan satu buah. Mereka berkata, "Mari kita bersama-sama mengambil daun pohon ini!" Jumlah mereka tujuh orang, dan daun pohon itu pun berjumlah tujuh. Dari situlah awal mula didirikannya salat lima waktu. Makanan pun telah tersedia. Dengan demikian, sempurnalah isi dunia ini. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Muna dan Ade Ismi
LOMBENG SUSU
Die caritae daduai versi. Iya dio mesao nasangami tau "Lombeng Susu." Mangapai nasanga Lombeng Susu? Sawa" die towaine malombengi susunna atau malakkai susunna. Nasanga seiya mua meloi napasusu ana"na walaupun di pondonai die ana"nae, iya die ammanae nasappeang tappami dai di pali-palinna lambi"mi lao pondo"na anna malami napasusu ana"na. Iyamo nasangami towaine malombeng susunna (versi pertama). Versi keduana, nisangami "Lombeng Susu" sawa" macoai taunna. Andiani melo maita tau masussa, tambai, atau mamarang. Innai-innai naita masussa tatami natulung I Lombeng Susu. Innai-innaimo pa"banua tama di Tande anna nasa"ding tambai atau mamarani pasti nebengani ande I Lombeng Susu. Andani tia naissang immatino innaio die, tau biasa, luuare atau tania, tattai tau nabengang ande anna" uwai. Iyamo die nagallartau Lombeng Susue sawa lewai macoanna. Tatta"i tia mattulung tau masussa, terutama mua to natambai. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Cerita ini memiliki dua versi. Versi pertama menjelaskan bahwa tokoh tersebut disebut "Lombeng Susu" karena memiliki payudara yang sangat panjang. Dalam kisah ini, ia digambarkan sebagai seorang ibu dengan keunikan fisik yang luar biasa. Ketika hendak menyusui anaknya, meskipun sang anak berada di belakang tubuhnya, ia tidak perlu berbalik badan. Ia cukup mengayunkan payudaranya ke belakang hingga mencapai anaknya, lalu menyusuinya dengan mudah. Karena keistimewaan tersebut, masyarakat kemudian mengenalnya dengan sebutan Lombeng Susu, yang berarti perempuan dengan payudara panjang. Versi kedua menjelaskan bahwa penamaan Lombeng Susu bukan didasarkan pada ciri fisiknya, melainkan pada sifat dan kepribadiannya yang sangat baik. Dalam versi ini, ia digambarkan sebagai perempuan yang berhati mulia dan tidak tega melihat orang lain hidup dalam kesusahan, kelaparan, atau kehausan. Siapa pun yang ditemuinya dalam keadaan menderita pasti akan ia tolong. Setiap orang yang datang ke wilayah Tande dan mengalami kelaparan atau kehausan akan ia sambut dengan penuh kepedulian. Ia menyediakan makanan dan minuman tanpa membedakan asal-usul, status sosial, ataupun hubungan kekerabatan. Karena kemurahan hati dan kepeduliannya terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kelaparan dan kehausan, masyarakat pun mengenalnya dengan sebutan Lombeng Susu. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Rustam
BANDERA CAKKURIRI
Iya die caritae apponganna bandera Cakkuriri. Mangapau anna nisanga Cakkuriri? Sawa kaenna dio mariri, mane diang dio tulisanna kalimah "Lailaha Illallah Muhammadan Rasulullah." Ya battuanna sallammi pabanua wattu die. Andani mungkin mala menjari lambangna negara, bandera kaiyyang, titulis di lalang "Lailaha Illallah Muhammadan Rasulullah" mua andappai bertauhid. Intinna tia asallangang "Lailaha Illallah Muhammadan Rasulullah" anna iyamo menjari lambang akaiyyanganna Kerajaan Sendana anu nabawa Daeng Palulung, iparna Tomesaraung Bulawang. (Daeng Sirua, ia mellamba Utara pole Luwu, Daeng Palulung mellamba Selatan, sita di Sendana). Tappana, pole innami die bandera Cakkuririe? Die banderae naitami I Daeng Sirua, kandina Daeng Palulung, iparna Tomesaraung Bulawang di Pelabuhanna Kerajaan Baras, Kabupaten Pasangkayu dite"e. Ya memang di Mandar, iyamo kerajaan matoa, Baras iyamo nasanga tau kerajaan Baras. Wallahu a"lam, apakah dite"e masih kerajaan atau andiammi. Parallu duapai nipesinei macoa. Iyamo die bandera Cakkuriri naita diomi mane nabawa naung di Sendana anna mala menjari bandera kerajaan Sendana dan menjarimi simbol. Iya die banderae tialai macoa duapai lambi dite"e. Cakkuriri nipadzai sappissang di lalanna appe (4) taung, iyamo mua nalanti bomi mara"dia Sendana. Mara"dia tuu saena meoro menjadi mara"dia appe taunna anna mala bomo dipesokkoi bomo. Tatta"I tuu manggere" tedzong anu ballang atau tedzong Jamarang. Tedzong Jamarang die tedzong masuli" sannal iya uli"na balla-ballang. Iya die sisambuni caritanna alam di Mandar. Bassa dio mua linori. Diang lapisan lita kedua, diang nasanga to Mandar ma"jallo" doing di naung lita". Ya" menuru" to Mandar iyamo dio tedzong jamarang ma"jallo. Ya makanynyang tammakanynyangi seia apa andani mala diilmiahkan. Diammo tedzong Jamarang nagere", napadzaimi bandera Cakkuriri, iyamo mattandai napesokkoi bomi mara"dia Sendana. Mua doing di Sendana, diang dadua tanda, bandera Cakkuriri anna Dipongga. Dipoggamo tu"u keris pusaka sanga tonganna ilalanna lontar "I Carre"". Toputta"da mauami Hipogga. Pogga battuanna dio ropo" atau bemme". Mane iya die sossorane bemme"mi, andiammi sakka. Ya" mua accurmi dio sossorango ya napokanynyangi seiya mua" nadiang abala" iyamo salah satunna amongeang atau amarranganna allo masae. Ya die mara"diae harusi marrerei alawena. "Andiammi tau mappapole bararakka" lao di pakkappaung, ya harusi tau maissang nawang, Cakkuriri harusmi nipadzai bomo. Harusi tau membewas punna andappai tau lambi" appe" taunna me"oro." Ya mua" andani macoa lino bomo, ya andiammo barakka"na alam anna nabattuanni toi andiang tomo barakka""na punggawa. Mara"dia harusi messalle, andaiani parallu tia demo bassa dite"e die. Sangga meitami tau nawang, marrani allo, tamma dendangmi palungang, tatti mitiongi, tatti sabbo"ni lebbong, hasilna mosasi andaiammi diang karanana. Mara"dia harusi merrawung, mane napadzaimi bandera Cakkuriri. "Tamma"" Terjemahan Bahasa Indonesia Narasi ini diawali dengan pembahasan mengenai Bendera Cakkuriri, sebuah simbol kebesaran yang memiliki makna religius dan politik bagi masyarakat Sendana. Bendera ini disebut Cakkuriri karena berupa kain berwarna kuning yang di dalamnya terdapat tulisan kalimat syahadat, "L" il"ha illall"h Mu"ammadur Ras"lull"h." Keberadaan kalimat tauhid tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu masyarakat Sendana telah memeluk agama Islam. Oleh karena itu, bendera ini tidak mungkin dijadikan sebagai lambang kerajaan apabila masyarakatnya belum bertauhid, sebab inti ajaran Islam terletak pada pengakuan terhadap kalimat syahadat tersebut. Kalimat inilah yang kemudian menjadi lambang kebesaran Kerajaan Sendana yang dibawa oleh Daeng Palulung, ipar Tomesaraung Bulawang. Dalam tradisi lisan disebutkan bahwa Daeng Sirua menyusuri wilayah utara dari Luwu, sedangkan Daeng Palulung menyusuri wilayah selatan, dan keduanya bertemu di Sendana. Asal-usul Bendera Cakkuriri dikaitkan dengan Daeng Sirua, saudara Daeng Palulung dan ipar Tomesaraung Bulawang. Bendera tersebut diperoleh di Pelabuhan Kerajaan Baras yang kini berada di wilayah Kabupaten Pasangkayu. Dalam tradisi Mandar, Baras dikenal sebagai salah satu kerajaan tertua. Statusnya sebagai kerajaan hingga kini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Dari Baras inilah Bendera Cakkuriri dibawa ke Sendana dan kemudian dijadikan sebagai bendera resmi Kerajaan Sendana. Hingga saat ini, bendera tersebut diyakini masih tersimpan sebagai pusaka kerajaan. Bendera Cakkuriri dikibarkan setiap empat tahun sekali, bertepatan dengan pelantikan Raja Sendana. Masa jabatan raja berlangsung selama empat tahun dan dapat dipilih kembali. Prosesi pelantikan biasanya disertai dengan penyembelihan kerbau, khususnya kerbau belang yang dikenal sebagai Tedong Jamarang. Setelah penyembelihan tersebut, Bendera Cakkuriri dikibarkan sebagai tanda sahnya pelantikan raja secara adat. Tedong Jamarang merupakan kerbau yang sangat bernilai dan dianggap sakral karena memiliki corak belang. Dalam kepercayaan masyarakat Mandar, gempa bumi atau guncangan tanah dikaitkan dengan makhluk simbolik yang disebut Tedong Jamarang yang bergerak di lapisan bawah tanah. Meskipun bersifat mitologis dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah, kepercayaan ini tetap hidup dalam tradisi masyarakat. Oleh karena itu, penyembelihan Tedong Jamarang dan pengibaran Bendera Cakkuriri menjadi simbol pengesahan raja secara adat. Di Sendana dikenal dua simbol utama kekuasaan, yaitu Bendera Cakkuriri dan Dipogga atau Hipogga. Dipogga adalah keris pusaka kerajaan yang dalam naskah lontara disebut "I Carre"". Di wilayah Puttada pusaka ini dikenal sebagai Hipogga. Kata pogga berarti runtuh atau patah. Jika pusaka tersebut mengalami kerusakan, masyarakat meyakini hal itu sebagai pertanda akan datangnya musibah, seperti wabah penyakit atau kemarau panjang. Apabila tanda-tanda tersebut muncul, raja diwajibkan untuk melakukan introspeksi diri. Masyarakat Sendana meyakini bahwa apabila kondisi alam tidak lagi baik hasil laut menurun, keseimbangan lingkungan terganggu, atau tanda-tanda kesuburan menghilang maka hal itu merupakan pertanda berkurangnya keberkahan kepemimpinan raja. Pergantian pemimpin tidak perlu dilakukan melalui konflik terbuka. Cukup dengan memperhatikan tanda-tanda alam tersebut, raja diharapkan menyadari posisinya dan bersedia turun dari kekuasaan. Pengibaran kembali Bendera Cakkuriri menjadi simbol dimulainya kepemimpinan yang baru. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Darmansyah
KERAJAAN SENDANA II
Asal muasalna Kerajaang Sendana mammula pole di Tallu Banua Kayyang, iyamo Tallu Kesatuan Masyarakat Hukum Adat (Puttada, Limboro Rambu-Rambu, anna Tallangbalao). Tallu Banua iyare" dipersatukan oleh Puangta Podang. Mekke"demi Kerajaang Sendana dengan pusat pemerintahan di Podang. Di"o Podang ilalannami di wilayah Desa Sendana, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene. Sejarah mammulanna Kerajaang Sendana andani lappas pole di Daeng Pallulung. Di Lontar titulis, diang dadua versi asal-usulna. Lontara Pattappingang massebut Daeng Pallulung iya ana"na Datuk ri Luwu, sedangkan Lontara Balanipa nassebut iya pole Tabulahang. Meskipun beda versi, dua lontar iyare" sepakat bahwa Daeng Pallulung sialai sola Tomesaraung Bulawang pole di Bone. Tomesaraung Bulawang menetap di mesa kampung disanga Sa"arawang. Jari dio nisanga Sa"arawang parang alang-alang yang tuo di Buttunna Puttada, khususna di Buttu Suso. Dalam tradisi tutur, Tomesaraung Bulawang ma"bawa setangkai tongkat kayu cendana, dipancangkan di tanah, anna tumbuh subur. Setelah wafatna Tomesaraung Wulawang, kayu cendana iya ri"e terus tumbuh, sehingga kampung Sa"arawang berganti nama jadi Sendana. Itumi cikal bakalna Kerajaang Sendana. Kehadiran Daeng Pallulung anna Tomesaraung Bulawang mambawa perubahan besar di sistem kepemimpinan masyarakat Sa"arawang. Sebelumnya, kepemimpinan bersifat absolut di tangan para tomakaka. Sawa polena die dadua tolo"e, sistem pemerintahan berubah jadi sistem permusyawaratan disanga Pappuangan. Sistem Pappuangan iya ri"e berdasarkan assamalewuang. Model kepemimpinan Pappuangan iya ri"e menjarimmi dasar legitimasi bahwa Sendana termasuk kerajaan tua di Mandar. Di berbagai wilayah Mandar seperti Balanipa, Banggae, Pamboang, Tappalang, Mamuju, anna Binuang, Sendana sering diakui sebagai Kerajaang to matua. Pangakuanna iya ri"e tania sangga nasawai karana umurna, tapi sawa kematangan sistem politikna dipengaruhi Bone anna Luwu. Daeng Pallulung anna Tomesaraung Bulawang diang appe" ana"na. Ana" luluana I Taqda", iyamo menjari asal-usul nama Puttada. Ana" kadua digelar Puangta I Sa"arawang, kemudian mendirikan Kerajaang Sendana. Ana" ketiga disanga Petta Pacce", sedangkan ana" tappalausna kembali digelar Taqda" anna ditunjuk jadi ketua lembaga adat di Puttada. Puangta I Sa"arawang melomi nalenggu pusat pemerintahan dari puncak Buttu Suso ke Podang. Pemindahan iya ri"e sawa pertimbangan strategis, khususnya sikareppui pelabuhan laut Palipi. Pelabuhan Palipi menjarimi pusat perdagangan anna jalur ekonomi penting bagi perkembangan Kerajaang Sendana. Perkembangan Kerajaang Sendana mencapai puncakna di masa Tomatindo di Balitung. Pada masa iya ri"e, Sendana mamboe" assitaliang ekonomi anna politik dengan berbagai Kerajaan lain, termasuk di Belitung. Dalam catatan Senal Abidin Farid, Andi Saipul Sinrang, anna disertasi Bahrun Lopa, tirappemi tolo"na Mandar disanga Japake. Japake makkalulu Kesultanan Aceh di wattunna Iskandar Muda sibali Portugis, mempertahankan Pahang, sehingga naakkemi menjari panglimana anna siala tomi siola putri Sultan. Alhasil, sejarah Kerajaang Sendana tania sangga" mencerminkan dinamika lokal masyarakat Mandar, tapi iya tomo mappapannassa assitaliang ilalanna jaringan politik, ekonomi, anna militer di Nusantara. Sejarah iya ri"e mappatandangan posisi Sendana sebagai salah satu pusat peradaban penting di Mandar dengan sistem kepemimpinan yang matang anna meuwake pole di tradisi musyawarah. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Asal-usul Kerajaan Sendana berakar pada pembentukan tiga kesatuan masyarakat hukum adat yang dikenal sebagai tallu banua kayyang, yaitu Puttada, Limboro Rambu-Rambu, dan Tallangbalao. Ketiga kesatuan adat ini dipersatukan oleh Puangta Podang sehingga secara resmi berdirilah Kerajaan Sendana dengan pusat pemerintahan di Podang. Saat ini Podang termasuk dalam wilayah Desa Sendana, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene. Sejarah awal Kerajaan Sendana tidak dapat dilepaskan dari tokoh Daeng Pallulung. Dalam lontara terdapat dua versi mengenai asal-usulnya. Lontara Pattappingang menyebutkan bahwa ia adalah putra Datuk di Luwu, sedangkan Lontara Balanipa menyebut ia berasal dari Tabulahang. Meskipun berbeda versi, kedua lontara sepakat bahwa Daeng Pallulung menikah dengan Tomesaraung Wulawang dari Bone yang kemudian menetap di kampung Sa"arawang. Nama Sa"arawang berasal dari tumbuhan alang-alang yang banyak tumbuh di perbukitan Puttada, khususnya di Buttu Suso. Dalam tradisi lisan diceritakan bahwa Tomesaraung Wulawang membawa tongkat kayu cendana yang ditancapkan ke tanah dan kemudian tumbuh subur. Setelah wafatnya, kayu cendana tersebut terus berkembang sehingga nama kampung Sa"arawang berubah menjadi Sendana. Peristiwa ini dianggap sebagai cikal bakal Kerajaan Sendana. Kehadiran Daeng Pallulung dan Tomesaraung Wulawang membawa perubahan besar dalam sistem kepemimpinan masyarakat. Sebelumnya, kepemimpinan bersifat absolut di tangan para tomakaka. Setelah kedatangan mereka, sistem tersebut berubah menjadi sistem permusyawaratan yang dikenal sebagai Pappuangan, yaitu kepemimpinan yang dijalankan melalui musyawarah dan kesepakatan bersama. Model kepemimpinan Pappuangan menjadi dasar legitimasi bahwa Sendana termasuk kerajaan tertua di Mandar. Di berbagai wilayah seperti Balanipa, Banggae, Pamboang, Tappalang, Mamuju, dan Binuang, Sendana sering diakui sebagai kerajaan tertua. Pengakuan tersebut bukan semata-mata karena usia kerajaan, melainkan karena kematangan sistem politiknya yang dipengaruhi oleh Bone dan Luwu. Daeng Pallulung dan Tomesaraung Wulawang memiliki empat orang anak. Anak sulung bernama I Taqda", yang kemudian menjadi asal-usul nama Puttada. Anak kedua bergelar Puangta I Sa"arawang yang kelak mendirikan Kerajaan Sendana. Anak ketiga bernama Pettapacce", dan anak keempat juga bergelar Taqda" yang ditunjuk menjadi ketua lembaga adat di Puttada. Puangta I Sa"arawang kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari puncak Buttu Suso ke Podang. Pemindahan ini dilakukan karena pertimbangan strategis, terutama kedekatan dengan pelabuhan laut Palipi. Pelabuhan tersebut menjadi pusat perdagangan dan jalur ekonomi penting bagi perkembangan Kerajaan Sendana. Perkembangan Kerajaan Sendana mencapai puncaknya pada masa Tomatindo di Balitung. Pada masa ini Sendana membangun hubungan ekonomi dan politik dengan berbagai kerajaan lain, termasuk di Belitung. Dalam catatan Senal Abidin Farid, Andi Saipul Sinrang, dan disertasi Bahrun Lopa disebutkan tokoh Mandar bernama Japake yang membantu Kesultanan Aceh pada masa Iskandar Muda melawan Portugis dan mempertahankan Pahang. Karena jasanya, ia diangkat menjadi panglima dan dipersuntingkan dengan putri Sultan. Dengan demikian, sejarah Kerajaan Sendana tidak hanya mencerminkan dinamika lokal masyarakat Mandar, tetapi juga menunjukkan keterkaitan luas dalam jaringan politik, ekonomi, dan militer di Nusantara. Sejarah ini menegaskan posisi Sendana sebagai salah satu pusat peradaban penting di Mandar dengan sistem kepemimpinan yang matang dan berakar pada tradisi musyawarah. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Darmansyah
PUA' SADDING
Die caritae pole di Kappung Parappe, Majene, Sulawesi Barat. Kappung biring sasi andai karao pole engeatta matteliti. Die Kappung Parappe e diomi di biring sasi" anna" pakkappunna rata-rata posasi". Die caritai nawariskanmi secara lisan (pau-pau) lao di pakkappung. Tolo" ilalanna die alitang e nisangami "Pua" Saddiang," posasi totuna kasi-asi. Dicaritanna, diang mesa allo Pua" Saddiang nalambami mosasi, tapi andandiang bosena. Ya, maindangmi bosena tosiapper boyangna. Iya die tosiapper boyannae ya napeindangngimi, mene malami lamba mosasi Pua" Saddiang maitai bau. Tappana, di wattunnamo dio di tangnga sasi", tiba-tiba reppo dio boseo, tibare dadua. Iyamo die passale menjari salengosang anna" balisami Pua" Saddiang, sawa nailalaimi andiang pallambianna namassalle bose iya pura reppo". Sawa" bassanami die, Pua" Saddiang membali lao di potta nabawami dio bose reppo" o. Napalambimi lao di tobose assitonganna. Tapi, die toibose e mokai mattarima bose reppo"na anna" napauanni lao harusi mupepembali die bose sittenganna mendiolo sebelum naindang. Die paunna tosiapper boyannae pale-pale mappamabei pikkiranna Pua" Saddiang, sawa maingarang lao atunganna lewa" parri"na andiammi namala massokong die bose reppo daduae. Di mabeinna pikkiranna Pua" Saddiang, nabawami die bose malai lao membali di sasi. Wattuna dio polemic kapa", matamba urang, mairi tomi, anna sitimbe dala" guttur. Iyamo die mappepelattoang sussana nyawana Pua" Saddiang cappu" rannu. Tappana lao meraumi lao di Puang Allah Ta"ala mala nabengang tangalalang. Nasanga seiya, Pua" Saddiang nasa"dimmi diang pappesangkana Puang Allah Ta"ala. Nasiomi mappasilambi" membali dio bose reppoe sambil nata"e sambil merau lao di Puang. Tappana lao nalappasangmi pattu"galanna, dio boseo tappa siande macoa membali. Die passale naangga"mi pallambianna Puang sawa" mapute atena Pua" Sadiang merau lao di Puang. Iya die passale massawai Pua" Saddiang merau sukkur lao di Puang. Membalimi lao di pottana mane napepembalimi dio bose lao di toianu. Tappana puramo naparessa, toibose napepennassami mua siandemi membali die bose e. Alhasil passal namappacappu rannu die Pua" Saddiang purami naselesaikan. Iya tomo die massawai ilalang alawena Pua" Sa"diang, mua perauang mattongang-tongang lao di Puang diang nabawa karomah untuk mappasiande membali anu reppo. Keyakinanna die andani sangga titappa lao di barang-barang, tapi mala toi napatitappa lao di batang alawena rupa tau mua" diang toreppo", bassa lima atau lette". Alhasil berkembang menjari passandoanganna toreppo". Alhasil, menari maidi tau pole massando di Kappuang Parappe merau tulung lao di Pua" Saddiang. Iya immae pakkappunge yakini mua pa"doanganna Pua" Saddiang malai napamassau ianggannana toreppo". Die alitane tentang Pua" Saddiang mappunnai karomah sekaligus menjari figure penting ilalanna passandoangang toreppo lambi lao di a"janganna. "Cappumi Carita!" Terjemahan Bahasa Indonesia Cerita rakyat berikut berasal dari Kampung Parappe, Majene, Sulawesi Barat. Sebuah perkampungan pesisir yang terletak tidak jauh dari lokasi penelitian, sekitar satu kilometer dari wilayah ini. Kampung Parappe secara geografis berada di kawasan pantai dan sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Cerita ini diwariskan secara lisan dan menjadi bagian dari tradisi tutur masyarakat setempat. Tokoh utama dalam cerita tersebut adalah Pua" Saddiang, seorang nelayan miskin yang dikenal hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dikisahkan bahwa pada suatu hari Pua" Saddiang hendak melaut, namun ia tidak memiliki dayung. Untuk memenuhi kebutuhannya, ia meminjam sebuah dayung milik tetangganya. Tetangga tersebut bersedia meminjamkan dayung itu, sehingga Pua" Saddiang dapat pergi ke laut untuk mencari ikan. Akan tetapi, ketika sedang berada di tengah laut, tanpa sebab yang jelas, dayung yang digunakannya tiba-tiba patah menjadi dua bagian. Peristiwa ini menimbulkan kepanikan dan kegelisahan pada diri Pua" Saddiang, karena ia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mengganti dayung yang rusak tersebut. Dalam kondisi batin yang kacau, Pua" Saddiang memutuskan untuk kembali ke darat sambil membawa dayung yang telah patah. Ia kemudian menyampaikan kejadian tersebut kepada pemilik dayung dengan penuh kejujuran. Namun, pemilik dayung menolak menerima dayung itu dalam kondisi rusak dan menegaskan bahwa dayung tersebut harus dikembalikan dalam keadaan utuh seperti pada saat dipinjam. Permintaan tersebut semakin memperberat beban pikiran Pua" Saddiang, mengingat keterbatasan hidup yang dialaminya membuatnya mustahil untuk mengganti dayung tersebut dengan yang baru. Dalam keadaan bingung dan tertekan, Pua" Saddiang membawa kembali dayung yang patah ke laut. Pada saat itu, kondisi alam digambarkan tidak bersahabat, dengan hujan lebat, angin kencang, dan petir yang menyambar secara bertubi-tubi. Situasi ini mempertegas suasana batin tokoh yang penuh kesedihan dan keputusasaan. Di tengah kondisi tersebut, Pua" Saddiang memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberikan jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya. Menurut cerita, Pua" Saddiang kemudian merasakan adanya petunjuk batin. Ia diminta untuk menyatukan kembali dua bagian dayung yang patah dengan cara memegangnya erat-erat sambil terus berdoa. Setelah beberapa saat, ketika pegangan tersebut dilepaskan, dayung itu diyakini telah tersambung kembali seperti sedia kala. Peristiwa ini dipahami oleh masyarakat setempat sebagai bentuk campur tangan ilahi yang terjadi melalui ketulusan doa dan kepasrahan Pua" Saddiang. Kejadian tersebut, Pua" Saddiang mengungkapkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan. Ia kemudian kembali ke darat dan menyerahkan dayung yang telah tersambung itu kepada pemiliknya. Setelah dilakukan pemeriksaan, pemilik dayung memastikan bahwa dayung tersebut benar-benar telah kembali utuh. Dengan demikian, persoalan yang sebelumnya menimbulkan kecemasan bagi Pua" Saddiang dapat terselesaikan. Peristiwa ini kemudian menumbuhkan keyakinan dalam diri Pua" Saddiang bahwa doa yang dipanjatkannya memiliki kekuatan untuk menyambungkan sesuatu yang patah. Keyakinan tersebut tidak hanya berlaku pada benda mati, tetapi juga diyakini dapat diterapkan pada tubuh manusia, khususnya dalam menyembuhkan orang yang mengalami patah tulang pada bagian tubuh tertentu, seperti kaki atau tangan. Seiring waktu, keyakinan ini berkembang menjadi praktik pengobatan tradisional. Dalam perkembangannya, banyak orang dari berbagai daerah datang ke Kampung Parappe untuk meminta pertolongan kepada Pua" Saddiang. Masyarakat meyakini bahwa melalui doa dan mantra yang dimilikinya, Pua" Saddiang mampu menyembuhkan berbagai jenis patah tulang. Cerita ini menegaskan posisi Pua" Saddiang sebagai sosok yang memiliki kelebihan spiritual sekaligus menjadi figur penting dalam sistem pengobatan tradisional masyarakat setempat hingga akhir hidupnya. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Rustam
TOMANURUNG BAWAKARAENG
Jari yamo naissangngi Sumur Jodoh, sumur anu nasanga toi Sumur Obat, iya di e napadadi kepercayaan tau di kampung. Awal mula caritana, Papa Harun siola tatte"na lao maita mesa sumur anu diaya di passawwang kaluku, tana"na keluarga nene"na. Tattena maita lao di sumur e, maitami di dalamna diang mesa tandang kaluku, bunga-bunga, burewe pinang, anna burewe kaluku. Tatte"na nawwa, "Idai tia na mala niala uwaina, Papa Harun, apa diang diong pauli"? Apa naissangngi diang anu nasanga pauli di dalam sumur e. Papa Harun nawwa, "Ya mori anna nama alai tau, apa diang diong pauli. Indang na maala bahaya." Jari pole di situmo naola uwai di e sumur e. Pole di e, sumur e naissangngi tau anu mallabai lao di e sumur e mambawa pauli, anna diang to toi anu mallabai lao di e passawwang nge melo napa jari jodohna. Diang tau anu lao, diang anu jari napa jari, diang toi anu paulianna nabawa. Diang toi carita tau Jeneponto melo lao Makka napa jari, anna diang toi tau melo kaweng napa jari toi. Jari lambimi sumur e nasanga Sumur Jodoh, apa di situo tau mallabai mambawa hajatna masing-masing. Di awalna, sumur e nipassallengi toma tutua anu massigi, anu toi napogau mappauli tau. Pole toma tutua e mate, passallena naala ibu Mina, iya simata mambawa tau lao di sumur e, mambantu tau anu mallabai pauli. Meskipun di awalna diang tau marakke apa diang diong pauli di sumur e, Papa Harun nawwa indang perlu marakke. Apa pauli e indang maala bahaya, tapi malai mambawa barakka. Jari yamo Sumur Jodoh e nasanga sumur anu mambawa kasalamatan, kasembuhan, anna harapan hidup tau. "Tamma!" Terjemahan Bahasa Indonesia Sumur Jodoh, yang juga dikenal sebagai Sumur Obat, merupakan salah satu situs yang dipercaya memiliki nilai historis dan spiritual oleh masyarakat setempat. Penamaan sumur ini bermula dari sebuah peristiwa yang dialami oleh Bapak Harun bersama saudari perempuannya ketika mereka mendatangi sebuah sumur yang terletak di area kebun kelapa milik keluarga nenek mereka. Saat itu, saudari Bapak Harun melihat ke dalam sumur dan menemukan berbagai benda di dalamnya, seperti satu tandan kelapa, bunga-bunga, mayang pinang, dan mayang kelapa. Melihat kondisi tersebut, ia menyampaikan kekhawatirannya kepada Bapak Harun bahwa air sumur tersebut tidak dapat diambil karena diyakini mengandung "obat" atau unsur tertentu. Ia mempertanyakan apakah air sumur itu aman untuk digunakan. Menanggapi hal tersebut, Bapak Harun justru menyampaikan keyakinannya bahwa air sumur tersebut boleh diambil karena keberadaan "obat" di dalamnya tidak membawa bahaya, melainkan kebaikan. Seiring berjalannya waktu, sumur tersebut mulai dikenal luas oleh masyarakat. Banyak orang datang ke sumur itu dengan membawa hajat dan harapan tertentu. Ada yang datang dengan niat mendapatkan jodoh, ada pula yang berharap memperoleh kesembuhan atau keberkahan hidup. Beberapa kisah yang berkembang secara turun-temurun menyebutkan adanya seseorang dari Jeneponto yang datang dengan niat untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah dan akhirnya berhasil mewujudkan niat tersebut. Ada pula kisah tentang seseorang yang datang dengan harapan memperoleh jodoh dan mengaku bahwa harapannya terkabul. Pada awalnya, sumur ini dijaga oleh seorang tokoh tua yang juga berperan dalam mengobati masyarakat yang datang untuk berobat. Setelah tokoh tersebut meninggal dunia, peran penjagaan dan pelayanan di sumur ini dilanjutkan oleh Ibu Mina, yang hingga kini masih membantu masyarakat yang datang dengan berbagai keperluan. Meskipun pada awalnya terdapat rasa takut di kalangan masyarakat karena adanya benda-benda yang dianggap sebagai "obat" di dalam sumur, keyakinan Bapak Harun menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa khawatir. Sumur ini justru dipercaya sebagai sumber pengobatan, keberkahan, dan harapan hidup. Oleh karena itu, hingga kini Sumur Jodoh tetap dipandang sebagai simbol kepercayaan masyarakat terhadap rezeki, kesehatan, dan jodoh. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Tahir
Menampilkan halaman 5 dari total 10 halaman