Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 39 cerita rakyat terarsip di sistem.

SITTI HA???DARA TOMALOLONA PALECE
Desa Bonde Utara, Kec. Pamboang, Kab. Majene

SITTI HA???DARA TOMALOLONA PALECE

Sitti Ha"dara iyamo mesa towaine malolo pole di Sulawesi Barat, tepatna dio di kappung Palece, Polewali Mandar. Malolona sampe-sampe nasiallai da"dua tommuane. Kedua tommuane iya sipatei, bahkan napatei toi i Sitti Ha"dara. Mesa wattu diang acara di sapona Pak Dusung. Indinimi lao sita anna siolo"i i Sitti Ha"dara anna i Tuang Guru (Daeng Matatta"). Dari pertemuan iya, mulai mi simata sipesitai. Tapi iyari"e i Sitti Ha"dara memangmi sikottaq siola i Cak Bulung. Walaupun begitu, i Sitti Ha"dara anna i Tuang Guru (Daeng Matatta") sering simata sipesitai andangi naissang i Cak Bulung. Lama-kelamaan tarrusmi sipesitai anna sikottaq i Sitti Ha"dara siola i Tuang Guru. Ruai ri"o, naitai i Cak Bulung i Tuang Guru anna i Sitti Ha"dara sedang sipesitai. Indinimi lao naissang mua" sikottaq i Sitti Ha"dara anna i Tuang Guru. Macai"i i Cak Bulung apa naloso-losongangi i Sitti Ha"dara, karna naolo"i toi tau laeng selaing alawena. Tappana, iyari"e i Cak Bulung nalao lao nanatumae i Sitti Ha"dara di boyanna. Tapi iyari"e i Sitti Ha"dara maindongi siola solana, andangi melo" napesitai i Cak Bulung apa naissangi mua" salai. Baru iyari"e i Cak Bulung macai"i apa maindongi i Sitti Ha"dara, lambami naitai i Sitti Ha"dara apa" nanapatei. Tappana tariq ri"o, naitami i Cak Bulung i Sitti Ha"dara dio riwiring sungai. Indinimi napatei i Sitti Ha"dara. Solana i Sitti Ha"dara lao napissangi" i Tuang Guru mua" napatei i Cak Bulung i Sitti Ha"dara. Macai torami tia i Tuang Guru lao di Cak Bulung, mane" napatei toi i Cak Bulung. Tappana bakkena i Sitti Ha"dara nawawami malai lao di woyanna. Mauammi amma"na lao bakkena i Sitti Ha"dara, "Nauangi, andang tia tau magassing mappamoge atena tau, apa bassami turi"e." Jari, iyari"o mua" melo" i tau menjari malolo, diang macoana diang toi karake"na. Anna daa ra"le"ba" magassing mappamoge ate"na tau. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Sitti Ha"dara adalah seorang gadis cantik yang berasal dari Sulawesi Barat, tepatnya di kampung Palece, Polewali Mandar. Kecantikannya sampai-sampai diperebutkan oleh dua orang laki-laki. Kedua laki-laki itu akhirnya saling membunuh, bahkan Sitti Ha"dara juga ikut terbunuh. Pada suatu waktu ada sebuah acara di rumah Pak Dusun. Di situlah Sitti Ha"dara bertemu dengan Tuang Guru yang bernama Daeng Matatta". Dari pertemuan itu mereka mulai saling menyukai. Namun sebenarnya Sitti Ha"dara sudah berpacaran dengan Cak Bulung. Walaupun begitu, Sitti Ha"dara dan Tuang Guru (Daeng Matatta") sering bertemu tanpa diketahui oleh Cak Bulung. Lama-kelamaan mereka semakin dekat hingga akhirnya menjalin hubungan. Pada suatu waktu, Cak Bulung melihat sendiri Tuang Guru dan Sitti Ha"dara sedang bertemu. Saat itulah Cak Bulung mengetahui bahwa Sitti Ha"dara berpacaran dengan Tuang Guru. Cak Bulung sangat marah karena merasa telah dibohongi oleh Sitti Ha"dara yang ternyata menyukai orang lain selain dirinya. Kemudian Cak Bulung pergi ke rumah Sitti Ha"dara dengan tujuan untuk melamarnya. Namun Sitti Ha"dara pergi bersama temannya dan tidak mau menemui Cak Bulung karena ia sadar bahwa dirinya bersalah. Hal itu membuat Cak Bulung semakin marah sehingga ia pergi mencari Sitti Ha"dara untuk membunuhnya. Tidak lama kemudian, Cak Bulung menemukan Sitti Ha"dara di pinggir sungai. Di tempat itulah ia membunuh Sitti Ha"dara. Teman Sitti Ha"dara kemudian pergi memberi tahu Tuang Guru bahwa Sitti Ha"dara telah dibunuh oleh Cak Bulung. Mendengar kabar tersebut, Tuang Guru pun marah dan pergi menemui Cak Bulung, lalu membunuhnya. Setelah itu, jenazah Sitti Ha"dara dibawa pulang ke rumahnya. Ibunya berkata kepada jenazah Sitti Ha"dara, "Sudah saya katakan bahwa kita tidak boleh selalu menyakiti hati orang lain, tetapi sekarang semuanya sudah terjadi." Jadi, jika seseorang ingin menjadi cantik, ada baiknya dan ada pula buruknya. Oleh karena itu, jangan sampai kita menyakiti hati orang lain. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Sitti Nurbaya/Filsa Amalia

admin Baca
ASSITALIANG TOPOSO SENDANA ANNA KANENE
Kel. Konja Selatan, Kec. Banggae. Kab. Majene

ASSITALIANG TOPOSO SENDANA ANNA KANENE

Diolo" mai, menurut carita tomatua-tua, diang mesa mara"dia (raja) yang mappunyai ana" towaine yang sanna malolo. Tapi diang keunikan mara"dia itu, iya ndai napipimmuane ana"na mua tania tommuane yang tomanarang malloso-losong. Kebohongan yang dimaksud bukan sekadar bohong biasa, tetapi kebohongan yang memiliki battuang (makna). Karena itu mara"dia mengadakan sayembara ke seluruh negeri untuk mencari orang yang paling pandai berbohong. Para pengawal kemudian menyampaikan pengumuman bahwa siapa saja yang ingin mempersunting putri raja yang cantik itu harus mampu menyampaikan kebohongan yang luar biasa. Tidak lama kemudian datang beberapa pemuda tampan untuk mendaftar. Konon ada pitu tommuane makappa yang datang ke istana mara"dia. Ketika waktu yang telah ditentukan tiba, mereka datang bertamu dan duduk berjejer dari bawah sampai ke bagian atas. Mara"dia lalu bertanya kepada pemuda tertua, "Apa tujuanmu datang kemari, anak muda"? Pemuda itu menjawab bahwa ia mendengar kabar bahwa putri raja akan dinikahkan dengan laki-laki yang pandai berbohong. Mara"dia pun memintanya menyampaikan kebohongannya. Pemuda tertua berkata bahwa ada ponna ayu kaiyang sanna, begitu besarnya sehingga membutuhkan pitu taung untuk mengelilinginya hingga kembali ke tempat awal. Daunnya sangat rindang hingga menutupi seluruh dunia. Kemudian mara"dia bertanya kepada pemuda kedua. Ia berkata bahwa ada pesa" (rotan) yang sangat panjang, pangkalnya berada di tempat terbitnya matahari dan ujungnya berada di tempat terbenamnya matahari. Pemuda ketiga berkata bahwa ada marepe" (bambu) yang sangat tinggi hingga mencapai langi pitu susun (langit ketujuh). Pemuda keempat berkata bahwa ada seorang manusia yang sangat besar, sehingga untuk menyentuh telinganya harus menggunakan pituppulo tangga bambu yang disusun. Pemuda berikutnya berkata bahwa ada terong (kerbau) yang sangat besar, sehingga jika ia bergerak maka seluruh dunia akan bergetar. Pemuda lainnya berkata bahwa ada sebuah boyang kaiyang (rumah besar) yang dapat menampung seluruh makhluk di dunia. Terakhir mara"dia bertanya kepada pemuda bungsu. Pemuda itu berkata bahwa sebenarnya semua kebohongan sudah disampaikan oleh kakak-kakaknya, tetapi karena diminta oleh mara"dia ia pun berkata: "Ada sebuah gimbal (beduk) yang sangat besar. Jika dipukul sekali saja, bunyinya dapat terdengar selama pitu taung dan dapat didengar oleh semua orang dari ujung ke ujung negeri." Mara"dia kemudian bertanya dari apa beduk itu dibuat. Pemuda bungsu menjawab bahwa kayunya berasal dari pohon besar yang disebutkan oleh kakaknya tadi, kulitnya dari kerbau besar, digantungkan pada bambu tinggi, ditempatkan di rumah besar, dan dibuat oleh manusia yang sangat besar. Akhirnya pemuda bungsu menjelaskan bahwa semua cerita tersebut sebenarnya menggambarkan azan, panggilan salat yang terus berkumandang di seluruh dunia tanpa pernah terputus. Mara"dia pun menyimpulkan bahwa pemuda bungsulah yang paling pandai karena ia mampu menyatukan semua kebohongan menjadi satu makna. Oleh karena itu, pemuda bungsu dinyatakan sebagai pemenang sayembara dan berhak menikahi putri mara"dia. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, sebagaimana yang diceritakan oleh para orang tua, terdapat seorang raja yang memiliki seorang putri yang sangat cantik. Namun sang raja memiliki syarat yang sangat unik. Ia tidak akan menikahkan putrinya dengan sembarang laki-laki. Putrinya hanya akan dinikahkan dengan seorang pemuda yang pandai berbohong. Akan tetapi kebohongan yang dimaksud bukanlah kebohongan biasa, melainkan kebohongan yang memiliki makna dan dapat membuat orang berpikir. Karena itu, sang raja mengadakan sebuah sayembara di seluruh negeri untuk mencari orang yang paling pandai berbohong. Pengumuman pun disampaikan oleh para pengawal kerajaan bahwa siapa saja yang ingin mempersunting putri raja yang cantik itu harus mampu menyampaikan kebohongan yang luar biasa. Tidak lama kemudian, beberapa pemuda tampan datang untuk mendaftar. Konon ada tujuh orang pemuda yang datang ke istana raja. Mereka semua mengaku pandai berbohong. Ketika waktu yang telah ditentukan tiba, mereka datang ke istana dan duduk berjejer dari bawah hingga ke bagian paling atas. Pemuda yang paling tua duduk di bagian paling atas. Raja kemudian bertanya kepada pemuda tertua, "Apa tujuanmu datang ke sini, anak muda"? Pemuda itu menjawab, "Saya mendengar kabar bahwa putri raja yang sangat cantik akan dinikahkan dengan seseorang yang pandai berbohong." Raja berkata, "Benar. Sekarang katakanlah kebohonganmu." Pemuda tertua pun berkata, "Ada sebuah pohon yang sangat besar. Begitu besarnya pohon itu hingga memerlukan waktu tujuh tahun untuk mengelilinginya sampai kembali ke titik awal. Daunnya sangat rindang hingga dapat menutupi seluruh dunia." Raja pun berkata bahwa cerita itu memang sangat mustahil. Kemudian raja bertanya kepada pemuda kedua. Pemuda itu berkata, "Ada sebatang rotan yang sangat panjang. Pangkalnya berada di tempat terbitnya matahari di timur, sedangkan ujungnya berada di tempat terbenamnya matahari di barat." Raja kembali bertanya kepada pemuda ketiga. Pemuda itu berkata, "Ada sebatang bambu yang sangat tinggi. Jika bambu itu berdiri, tingginya dapat mencapai langit ketujuh." Kemudian raja bertanya kepada pemuda keempat. Ia berkata, "Ada seorang manusia yang sangat besar. Untuk menyentuh telinganya saja harus menggunakan tujuh puluh tangga bambu yang disambung-sambung." Pemuda berikutnya berkata, "Ada seekor kerbau yang sangat besar. Jika kerbau itu bergerak sedikit saja, maka seluruh dunia akan bergetar." Pemuda lainnya berkata lagi, "Ada sebuah rumah yang sangat besar. Rumah itu dapat menampung semua makhluk di dunia, baik manusia maupun binatang." Akhirnya raja bertanya kepada pemuda terakhir, yaitu si bungsu. Pemuda itu berkata bahwa ia sebenarnya tidak perlu lagi berbicara karena semua kebohongan telah disampaikan oleh kakak-kakaknya. Namun raja tetap memintanya untuk berbicara. Pemuda bungsu itu pun berkata, "Ada sebuah beduk yang sangat besar. Jika dipukul sekali saja, bunyinya akan terdengar selama tujuh tahun dan dapat didengar oleh semua orang dari ujung ke ujung dunia." Raja kemudian bertanya lagi, "Beduk itu terbuat dari apa"? Pemuda bungsu menjawab, "Kayunya berasal dari pohon besar yang diceritakan oleh kakak pertama tadi." Raja bertanya lagi, "Kulitnya dari apa"? Ia menjawab, "Dari kulit kerbau besar yang jika bergerak saja dapat mengguncang dunia." Raja bertanya lagi, "Lalu digantungkan di mana"? Ia menjawab, "Pada bambu yang sangat tinggi hingga mencapai langit." Raja bertanya lagi, "Di mana beduk itu ditempatkan"? Ia menjawab, "Di rumah besar yang dapat menampung semua makhluk." Raja kembali bertanya, "Siapa yang membuatnya"? Pemuda bungsu menjawab, "Manusia besar yang untuk menyentuh telinganya saja membutuhkan tujuh puluh tangga." Dari jawaban itu, pemuda bungsu menjelaskan bahwa semua cerita tadi sebenarnya menggambarkan azan. Azan adalah panggilan untuk salat yang selalu terdengar di seluruh dunia tanpa pernah terputus, dari satu tempat ke tempat lain, dari waktu ke waktu. Akhirnya raja menyimpulkan bahwa pemuda bungsulah yang paling pandai, karena ia mampu menggabungkan semua kebohongan kakak-kakaknya menjadi sebuah makna. Oleh karena itu, pemuda bungsu dinyatakan sebagai pemenang sayembara dan berhak menikahi putri raja yang cantik. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh

admin Baca
MARA???DIA MAITAI ANAMITTU TOMANARANG LOSONG
Desa Sirindu, Kec. Pamboang, Kab. Majene

MARA???DIA MAITAI ANAMITTU TOMANARANG LOSONG

Diolo" mai, menurut carita tomatua-tua, diang mesa mara"dia (raja) yang mappunyai ana" towaine yang sanna malolo. Tapi diang keunikan mara"dia itu, iya ndai napipimmuane ana"na mua tania tommuane yang tomanarang malloso-losong. Kebohongan yang dimaksud bukan sekadar bohong biasa, tetapi kebohongan yang memiliki battuang (makna). Karena itu mara"dia mengadakan sayembara ke seluruh negeri untuk mencari orang yang paling pandai berbohong. Para pengawal kemudian menyampaikan pengumuman bahwa siapa saja yang ingin mempersunting putri raja yang cantik itu harus mampu menyampaikan kebohongan yang luar biasa. Tidak lama kemudian datang beberapa pemuda tampan untuk mendaftar. Konon ada pitu tommuane makappa yang datang ke istana mara"dia. Ketika waktu yang telah ditentukan tiba, mereka datang bertamu dan duduk berjejer dari bawah sampai ke bagian atas. Mara"dia lalu bertanya kepada pemuda tertua, "Apa tujuanmu datang kemari, anak muda"? Pemuda itu menjawab bahwa ia mendengar kabar bahwa putri raja akan dinikahkan dengan laki-laki yang pandai berbohong. Mara"dia pun memintanya menyampaikan kebohongannya. Pemuda tertua berkata bahwa ada ponna ayu kaiyang sanna, begitu besarnya sehingga membutuhkan pitu taung untuk mengelilinginya hingga kembali ke tempat awal. Daunnya sangat rindang hingga menutupi seluruh dunia. Kemudian mara"dia bertanya kepada pemuda kedua. Ia berkata bahwa ada pesa" (rotan) yang sangat panjang, pangkalnya berada di tempat terbitnya matahari dan ujungnya berada di tempat terbenamnya matahari. Pemuda ketiga berkata bahwa ada marepe" (bambu) yang sangat tinggi hingga mencapai langi pitu susun (langit ketujuh). Pemuda keempat berkata bahwa ada seorang manusia yang sangat besar, sehingga untuk menyentuh telinganya harus menggunakan pituppulo tangga bambu yang disusun. Pemuda berikutnya berkata bahwa ada terong (kerbau) yang sangat besar, sehingga jika ia bergerak maka seluruh dunia akan bergetar. Pemuda lainnya berkata bahwa ada sebuah boyang kaiyang (rumah besar) yang dapat menampung seluruh makhluk di dunia. Terakhir mara"dia bertanya kepada pemuda bungsu. Pemuda itu berkata bahwa sebenarnya semua kebohongan sudah disampaikan oleh kakak-kakaknya, tetapi karena diminta oleh mara"dia ia pun berkata: "Ada sebuah gimbal (beduk) yang sangat besar. Jika dipukul sekali saja, bunyinya dapat terdengar selama pitu taung dan dapat didengar oleh semua orang dari ujung ke ujung negeri." Mara"dia kemudian bertanya dari apa beduk itu dibuat. Pemuda bungsu menjawab bahwa kayunya berasal dari pohon besar yang disebutkan oleh kakaknya tadi, kulitnya dari kerbau besar, digantungkan pada bambu tinggi, ditempatkan di rumah besar, dan dibuat oleh manusia yang sangat besar. Akhirnya pemuda bungsu menjelaskan bahwa semua cerita tersebut sebenarnya menggambarkan azan, panggilan salat yang terus berkumandang di seluruh dunia tanpa pernah terputus. Mara"dia pun menyimpulkan bahwa pemuda bungsulah yang paling pandai karena ia mampu menyatukan semua kebohongan menjadi satu makna. Oleh karena itu, pemuda bungsu dinyatakan sebagai pemenang sayembara dan berhak menikahi putri mara"dia. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, sebagaimana yang diceritakan oleh para orang tua, terdapat seorang raja yang memiliki seorang putri yang sangat cantik. Namun sang raja memiliki syarat yang sangat unik. Ia tidak akan menikahkan putrinya dengan sembarang laki-laki. Putrinya hanya akan dinikahkan dengan seorang pemuda yang pandai berbohong. Akan tetapi kebohongan yang dimaksud bukanlah kebohongan biasa, melainkan kebohongan yang memiliki makna dan dapat membuat orang berpikir. Karena itu, sang raja mengadakan sebuah sayembara di seluruh negeri untuk mencari orang yang paling pandai berbohong. Pengumuman pun disampaikan oleh para pengawal kerajaan bahwa siapa saja yang ingin mempersunting putri raja yang cantik itu harus mampu menyampaikan kebohongan yang luar biasa. Tidak lama kemudian, beberapa pemuda tampan datang untuk mendaftar. Konon ada tujuh orang pemuda yang datang ke istana raja. Mereka semua mengaku pandai berbohong. Ketika waktu yang telah ditentukan tiba, mereka datang ke istana dan duduk berjejer dari bawah hingga ke bagian paling atas. Pemuda yang paling tua duduk di bagian paling atas. Raja kemudian bertanya kepada pemuda tertua, "Apa tujuanmu datang ke sini, anak muda"? Pemuda itu menjawab, "Saya mendengar kabar bahwa putri raja yang sangat cantik akan dinikahkan dengan seseorang yang pandai berbohong." Raja berkata, "Benar. Sekarang katakanlah kebohonganmu." Pemuda tertua pun berkata, "Ada sebuah pohon yang sangat besar. Begitu besarnya pohon itu hingga memerlukan waktu tujuh tahun untuk mengelilinginya sampai kembali ke titik awal. Daunnya sangat rindang hingga dapat menutupi seluruh dunia." Raja pun berkata bahwa cerita itu memang sangat mustahil. Kemudian raja bertanya kepada pemuda kedua. Pemuda itu berkata, "Ada sebatang rotan yang sangat panjang. Pangkalnya berada di tempat terbitnya matahari di timur, sedangkan ujungnya berada di tempat terbenamnya matahari di barat." Raja kembali bertanya kepada pemuda ketiga. Pemuda itu berkata, "Ada sebatang bambu yang sangat tinggi. Jika bambu itu berdiri, tingginya dapat mencapai langit ketujuh." Kemudian raja bertanya kepada pemuda keempat. Ia berkata, "Ada seorang manusia yang sangat besar. Untuk menyentuh telinganya saja harus menggunakan tujuh puluh tangga bambu yang disambung-sambung." Pemuda berikutnya berkata, "Ada seekor kerbau yang sangat besar. Jika kerbau itu bergerak sedikit saja, maka seluruh dunia akan bergetar." Pemuda lainnya berkata lagi, "Ada sebuah rumah yang sangat besar. Rumah itu dapat menampung semua makhluk di dunia, baik manusia maupun binatang." Akhirnya raja bertanya kepada pemuda terakhir, yaitu si bungsu. Pemuda itu berkata bahwa ia sebenarnya tidak perlu lagi berbicara karena semua kebohongan telah disampaikan oleh kakak-kakaknya. Namun raja tetap memintanya untuk berbicara. Pemuda bungsu itu pun berkata, "Ada sebuah beduk yang sangat besar. Jika dipukul sekali saja, bunyinya akan terdengar selama tujuh tahun dan dapat didengar oleh semua orang dari ujung ke ujung dunia." Raja kemudian bertanya lagi, "Beduk itu terbuat dari apa"? Pemuda bungsu menjawab, "Kayunya berasal dari pohon besar yang diceritakan oleh kakak pertama tadi." Raja bertanya lagi, "Kulitnya dari apa"? Ia menjawab, "Dari kulit kerbau besar yang jika bergerak saja dapat mengguncang dunia." Raja bertanya lagi, "Lalu digantungkan di mana"? Ia menjawab, "Pada bambu yang sangat tinggi hingga mencapai langit." Raja bertanya lagi, "Di mana beduk itu ditempatkan"? Ia menjawab, "Di rumah besar yang dapat menampung semua makhluk." Raja kembali bertanya, "Siapa yang membuatnya"? Pemuda bungsu menjawab, "Manusia besar yang untuk menyentuh telinganya saja membutuhkan tujuh puluh tangga." Dari jawaban itu, pemuda bungsu menjelaskan bahwa semua cerita tadi sebenarnya menggambarkan azan. Azan adalah panggilan untuk salat yang selalu terdengar di seluruh dunia tanpa pernah terputus, dari satu tempat ke tempat lain, dari waktu ke waktu. Akhirnya raja menyimpulkan bahwa pemuda bungsulah yang paling pandai, karena ia mampu menggabungkan semua kebohongan kakak-kakaknya menjadi sebuah makna. Oleh karena itu, pemuda bungsu dinyatakan sebagai pemenang sayembara dan berhak menikahi putri raja yang cantik. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Drs. Abd. Waris/Zahratussyita

admin Baca
ALI ANNA SITTI NURRAIA
Kel. Totolo, Kec. Banggae, Kab. Majene

ALI ANNA SITTI NURRAIA

Diolo" mai diang mesa kisah yang sering diceritakan tomatua-tua tentang pasangan suami istri yang sudah lama menikah tetapi ndangi pa diang ana"na. Karena sangat menginginkan anak, keduanya selalu berdoa kepada Puang Allah Ta"ala supaya diberi keturunan. Sang ayah bahkan bernazar bahwa jika mereka diberi anak, maka anak itu akan diberi nama Ali. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sang istri hamil hingga sembilan bulan dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ali. Ali kemudian tumbuh besar hingga bisa berbicara dan berjalan. Suatu hari ia berkata kepada ibunya agar dipeliharkan seekor anak ayam. Ibunya lalu mengambilkan seekor ayam kecil jantan milik neneknya. Ayam itu dipelihara dengan baik oleh Ali. Setiap pagi dan sore ia memandikan ayamnya. Lama-kelamaan Ali tumbuh menjadi pemuda yang sudah pandai memakai songko", baju, dan sarung. Suatu hari Ali berjalan-jalan sambil menggendong ayamnya karena ingin pergi menyabung ayam. Ia memakai songko" yang terlalu besar dan sarung yang panjang. Ketika ia berjalan melewati sebuah rumah, ia melihat seorang perempuan cantik bernama Sitti Nurraia yang sedang berdiri di jendela dengan rambut terurai dan memakai pakaian rumah. Ketika pandangan mereka saling bertemu, Ali menjadi gugup lalu jatuh di depan rumah itu. Ayamnya terlepas, songko"nya jatuh, dan bajunya menjadi kotor. Melihat kejadian itu, Sitti Nurraia berkata kepada ibunya, "Amma, inai anak tommuane yang jatuh di bawah rumah itu? Anak siapa dia"? Ibunya datang melihat ke bawah dan berkata agar anaknya tidak terlalu memperhatikan Ali karena ia adalah anak satu-satunya yang diperoleh orang tuanya setelah sekian lama memohon kepada Allah. Tidak lama kemudian Sitti Nurraia masuk kembali ke dalam kamarnya. Sementara itu Ali bangun dan membersihkan bajunya yang kotor lalu memasang kembali songko"nya. Dalam hatinya ia berkata bahwa seorang perempuanlah yang membuatnya jatuh dan merasa malu di depan orang kampung. Karena penasaran, Ali mengelilingi rumah itu. Di dekat kamar Sitti Nurraia ia melihat sebuah ponna rambunje yang tinggi. Ia pun mencoba memanjat pohon itu. Namun ketika baru setengah memanjat ia jatuh dan dadanya terluka serta bajunya robek. Ia mencoba lagi memanjat, tetapi kembali jatuh. Setelah tiga kali mencoba dengan susah payah, akhirnya ia berhasil naik hingga ke ranting pohon rambunje dan duduk di sana. Dari atas pohon itu Ali memanggil Sitti Nurraia dan berkata, "Adikku, lihatlah ke sini. Biar semua tawamu kugenggam dan kubawa pulang ke rumah ibuku." Namun Sitti Nurraia tidak menjawab. Ali kembali berkata bahwa perempuan itu pantas berbaring di kasur tujuh lapis dengan penuh keanggunan. Mendengar itu, Sitti Nurraia menjawab, "Kakak, saya tidak pernah mengatakan demikian. Kakak sendirilah yang mengatakan bahwa saya pantas berbaring di kasur tujuh lapis." Setelah itu Ali turun dari pohon rambunje dan pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, ia langsung naik ke tempat tidurnya, menutup kepala dan tubuhnya dengan selimut, dan berbaring tanpa bergerak. Ia sangat terpikat dan jatuh cinta kepada Sitti Nurraia hingga hatinya dipenuhi perasaan rindu yang mendalam. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala terdapat sebuah kisah yang sering diceritakan oleh orang-orang tua tentang seorang pasangan suami istri yang telah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai anak. Karena sangat menginginkan keturunan, mereka terus memohon kepada Allah SWT agar diberikan seorang anak. Dalam doa mereka, sang ayah bahkan telah bernazar bahwa jika Allah mengabulkan permintaan mereka, anak itu akan diberi nama Ali. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sang istri pun hamil. Kehamilan itu berlangsung hingga sembilan bulan, dan lahirlah seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ali. Ali tumbuh dengan baik hingga menjadi anak yang besar dan mulai bisa berbicara serta berjalan. Suatu hari ia meminta kepada ibunya agar dipeliharkan seekor anak ayam. Ibunya kemudian mengambilkan seekor ayam kecil jantan milik neneknya untuk dipelihara oleh Ali. Ayam itu dirawat dengan penuh kasih oleh Ali. Ia bahkan memandikan ayamnya setiap pagi dan sore hari. Seiring berjalannya waktu, Ali tumbuh menjadi seorang pemuda yang sudah pandai memakai topi, baju, dan sarung. Suatu hari Ali membawa ayamnya berjalan-jalan sambil menggendongnya. Ia berniat pergi untuk menyabung ayam. Ia mengenakan topi yang terlalu besar serta sarung yang panjang hingga hampir menutupi lengannya. Saat berjalan melewati sebuah rumah, ia melihat seorang perempuan cantik bernama Sitti Nurraia yang sedang berdiri di jendela dengan rambut terurai dan mengenakan pakaian rumah. Ketika Ali menoleh ke arah atas, pandangan mereka pun saling bertemu. Karena gugup dan terpesona melihat kecantikan Sitti Nurraia, Ali tiba-tiba terjatuh tepat di depan rumah perempuan itu. Ayamnya terlepas dari gendongannya, topinya jatuh, dan bajunya menjadi kotor. Melihat kejadian itu, Sitti Nurraia yang dikenal sebagai gadis cantik di kampung tersebut memanggil ibunya dan berkata, "Ibu, siapa anak laki-laki yang jatuh di bawah rumah itu? Anak siapa dia"? Ibunya kemudian datang dan melihat Ali yang tergeletak di depan rumah. Sang ibu berkata kepada anaknya agar tidak terlalu memperhatikan Ali karena ia adalah anak yang sangat dimanja oleh orang tuanya, bahkan anak satu-satunya yang diperoleh setelah sekian lama memohon kepada Allah. Tidak lama kemudian Sitti Nurraia masuk kembali ke dalam kamarnya. Sementara itu Ali yang sudah sadar dari jatuhnya segera berdiri. Ia membersihkan bajunya yang kotor dan memakai kembali topinya. Dalam hatinya ia berkata bahwa seorang perempuanlah yang membuatnya jatuh dan merasa malu di hadapan orang kampung. Karena penasaran, Ali kemudian berkeliling di sekitar rumah tersebut. Di dekat kamar Sitti Nurraia ia melihat sebuah pohon rambunje yang tinggi. Ali pun mencoba memanjat pohon itu. Namun ketika baru setengah memanjat, ia terjatuh dan dadanya terluka serta bajunya robek. Ia mencoba memanjat lagi, tetapi kembali jatuh. Setelah tiga kali mencoba dengan susah payah, akhirnya ia berhasil naik hingga ke ranting pohon rambunje dan duduk di sana. Dari atas pohon itu Ali memanggil Sitti Nurraia dan berkata, "Adik, lihatlah ke sini. Biar semua tawamu kugenggam dan kubawa pulang ke rumah ibuku." Namun Sitti Nurraia tidak menanggapi perkataannya. Ali kembali berkata bahwa perempuan itu pantas berbaring di kasur tujuh lapis dengan tubuh setengah tenggelam, berbicara dengan lembut dan penuh keanggunan. Mendengar perkataan itu, Sitti Nurraia akhirnya menjawab, "Kakak, saya tidak pernah mengatakan seperti itu. Kakak sendirilah yang berkata bahwa saya pantas berbaring di kasur tujuh lapis." Setelah itu Ali pun turun dari pohon rambunje dan pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, ia langsung melompat ke tempat tidurnya. Ia menutup kepalanya dengan selimut dan berbaring tanpa bergerak sedikit pun. Hatinya dipenuhi rasa cinta yang begitu besar kepada Sitti Nurraia hingga ia menjadi seperti orang yang sedang dilanda cinta yang mendalam. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Toraya/Satziarda

admin Baca
ASAL-USUL KAPPUNG PURALLE
Kel. Pangali-ali, Kec. Banggae, Kab. Majene

ASAL-USUL KAPPUNG PURALLE

Di pirang bongi, sebelum disanga Puralle, polei disanga i Macang tallu siola i Abu anna i Nawas. Tia milluluare si sambarena, rapang sio-sioanna i Macang. Di"o wattu kira-kira abad ke-6, i Macang di Mataram napasiala siola boyang pissanna i Rakkai. Nanging i Macang ndangi setuju apa ndangi sikotta. Indang melo na ikuta pappasiala di indang naissangi atanna. Apa ndangi sepaham siola indona i Nangga, jari i Macang mappapia raki" siola Abu anna Nawas, lamba maitai kappung. Raki"na naterdampar ri Dato. Di"o tempat e ndappa diang disanga kappung. Iya tallu massorongi manguang barana" anna dapang, massambali mabbali lita"na. Maita mi i Macang, "Anggai"i dai." Jari iya mi tampatna mappakasiang. Abu anna Nawas mambayai lita" anna massorong diaya. Sangga mesa allo, mauwangmi i Abu siola Nawas, "Tiapa mua lamba mita mai tai kappung e"? Jari millamba mi maitai buttu malinggato, na sesser mi lao ri ulusa"dan. Di"o maita mi lembang, diang dio telaga anna bidadari mandoe. I Macang mappauang lao Abu anna Nawas, "Da pia" co"dong i"o." Iya dua naturu"i. I Macang mimbuni ri tarring, anna naala salendang warna ungu. Iya salendangna i Wulandari sangana. Tappana i Wulandari naissang salendanna le"ba, naullao matto"do ri teppi telaga. Polemi i Macang anna mauwang, salendang di tingngana. Mauwang i Macang, "Ndang mala malai mua ndang upake iting salendang. Mua melo sumai lao dikappung u anna jadi baineku, upasuleang." Apa ndangi mala muli lao kayangan tanpa salendangna, jari turu"i i Wulandari siola i Macang, Abu anna Nawas. Singkat carita, siala mi i Macang anna i Wulandari. Lamak-lamak, i Wulandari mangandung anna malahir mesa ana" muane disanga i Pallis, apa cappu" nabayai lita"na jari mapaccing anna mapallis. Sangga mesa allo, i Macang lamba maitai bulu babi. I Abu anna Nawas mottongi ri boyang. Nariang pa"elong di dalam boyang, pa"elongani i Pallis. Ndangi tia naissang mua i Wulandari bidadari. Tappana polemi i Macang, dipatule"i apa nariang pa"elong. I Macang mauwang, "Ah, apa na diang." Nanging lamba-lambai, i Wulandari mappirau salendanna. Mauwang i Wulandari, "Mua manini sumangi ana"mu, ala rai di tapang." Di pirang bongi, boyang panggung diang tapang di attapanna. I Macang nappa"bangi tumba" layar anna liwang di attapang supaya mua sumangi i Pallis, mala polemi i Wulandari ri arawiang. Lamak-lamak, i Wulandari muli lao kayangan. I Pallis tumbu dewasa, anna lamba ri Mamasa. Di"o naita towaine disanga i Rianna. Rianna ndangi turu"i adatna to di kappungna, jari nabawami lo"mai i Pallis anna napasiala. Iya dua ma"bali suami-istri anna diang ana"na pitu: i Pis, i Urra", i Riri, i Asso, i Ligo", i Nawasang, anna i Esse (Ecce"). Lamak-lamak, ana"na millamba maitai jodohna masing-masing. Di"o mula-mulana disanga kappung diaya Puralle. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, sebelum diberi nama Puralle, hiduplah tiga orang sahabat bernama Macang, Abu, dan Nawas. Mereka sangat akrab dan hampir tidak pernah berpisah. Sekitar abad ke-6, ketika Macang masih berada di Mataram, ibunya yang bernama Nangga ingin menjodohkannya dengan sepupunya yang bernama Rakkai. Namun, Macang menolak karena tidak saling mengenal dan tidak saling mencintai. Karena tidak sepaham dengan keinginan keluarganya, Macang bersama Abu dan Nawas membuat rakit untuk berlayar mencari tempat tinggal baru. Rakit mereka terdampar di suatu tempat bernama Dato. Saat itu tempat tersebut belum menjadi kampung. Mereka bertiga kemudian membersihkan hutan dan menebang pepohonan untuk dijadikan tempat bermukim. Suatu hari, mereka berjalan menyusuri bukit dan lembah hingga menemukan sebuah telaga yang sunyi. Di sana mereka melihat para bidadari sedang mandi. Macang berbisik kepada Abu dan Nawas agar tidak bergerak. Ia bersembunyi di balik pepohonan dan diam-diam mengambil selendang berwarna ungu milik salah satu bidadari bernama Wulandari. Ketika menyadari selendangnya hilang, Wulandari duduk termenung di tepi telaga. Macang kemudian keluar dan mengatakan bahwa selendang itu ada padanya. Ia berkata bahwa selendang tersebut akan dikembalikan jika Wulandari bersedia ikut ke kampung dan menjadi istrinya. Karena tidak dapat kembali ke kayangan tanpa selendangnya, Wulandari akhirnya mengikuti Macang. Mereka pun menikah dan hidup bersama. Beberapa waktu kemudian, Wulandari melahirkan seorang anak laki-laki bernama Pallis. Pada suatu hari Macang pergi mencari bulu babi ke laut. Saat itu Abu dan Nawas mendengar suara nyanyian merdu dari dalam rumah, yaitu Wulandari yang sedang menidurkan Pallis. Mereka tidak mengetahui bahwa Wulandari adalah seorang bidadari. Seiring waktu, Wulandari meminta selendangnya dikembalikan. Ia berpesan kepada Macang bahwa jika anak mereka menangis, bawalah ke loteng rumah. Pada masa itu rumah panggung memiliki loteng atau ruang di bawah atap. Macang pun membuat celah di bagian atas rumah agar Wulandari dapat turun saat senja untuk menemui anaknya. Namun akhirnya Wulandari kembali ke kayangan. Pallis kemudian tumbuh dewasa dan merantau ke Mamasa. Di sana ia bertemu seorang gadis bernama Rianna. Rianna tidak mengikuti kebiasaan buruk di kampungnya, sehingga Pallis membawanya keluar dan menikahinya. Mereka dikaruniai tujuh orang anak bernama Pis, Urra, Riri, Asso, Ligo, Nawasang, serta Esse atau Ecce". Setelah dewasa, anak-anak mereka merantau dan mencari pasangan masing-masing. Dari keturunan merekalah kampung tersebut kemudian dikenal dengan nama Puralle. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Masdar/Ismul

admin Baca
SAMBAYANG BUKKU??? (27 RAMADAN)
Kel. Pangali-ali, Kec. Banggae, Kab. Majene

SAMBAYANG BUKKU??? (27 RAMADAN)

Tabe", diang mesa carita apanna maroa tau pole lo"mai massambayang di Masigi Raudhatul Muraqabah ri Bukku", anna inna wassanna mula-mulana di"e. Caritana to mabuweng, di pirang bongi pole mesa annangguru ri Pambusuang nisanga Annangguru Saleh. Iya pole ri Madinah mappeguru, anna tappana muli ri Mandar, nasebar agama Islam siola ajaran Tarekat Kadiriah. Diang beberapa muridna napparenta lao masebar ri wilayah-wilayah Mandar. Mesa di antaranna iyamo Pua" Risa (almarhum) napatettong ri Bukku" anna maurus jamaah di"e. Napili Bukku" apa nasanga macowa ri ibadah: aman anna mala khusyuk, apa di pirang bongi lokasinna mairi ri roppong anna masau ri pemukiman. Di dalam rangkaian ibadahna diang sambayang tasbih, taubat, hajat, anna qada". Di sambayang qada" di"e nalengkapi isya, subuh, lohor, asar, magrib, anna taraweh. Biasanna ri malam 27 Ramadan, massambayangna masaena lambi tangnga bongi apa witirna la"bi 20 rakaat. Di awal-awalna, jamaahna kira-kira 50 tau apa lokasinna buni-buniang ri roppong. Lamak-lamak marowa jamaahna, jari nalenggu ri mushalla ri passauang Bukku" apa kareppe mi wai. Apa mushallana keccui, nalenggu pole ri Makkayang (tengga"na Bukku"), anna akhirna ri Masigi Raudhatul Muraqabah, iya mi masigi to dioroi massambayang jumat anna kegiatan 27 Ramadan. Marowana jamaah apa diundang pemimpin siola masyarakat, rapang gubernur, bupati, anna tau pole ri luar Sulawesi. Biasanna tau pole sebelum magrib ri allo 26 Ramadan anna mapparesso buka bersama ri masigi sambi" naepa adzan magrib. Di taun mappalele" (taun lalu), jamaahna lambi kira-kira 3.000 tau; masigi panno, lapangan anna jalan-jalan ri sekitanna panno lambi ri gerbang kawasan 27 Ramadan. Wassao pandemi Covid-19 ri taun 2019"2020, tappana masigi laeng diposarai massambayang berjamaah, kegiatan ri Masigi Raudhatul Muraqabah tetap diadakang anna alhamdulillah jamaahna tetap marowa. Mushalla mendolo"na keccui, jari Ustaz Husain Hasan mausaha mappirauang sumbangan, naropoi mushalla mendolo", anna mabbangun masigi to layak dipake siola-ola. Di"e mi kondisi masigi ri te"e, marowa jamaahna anna kompakmi to mudana maurus kegiatan. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kisah ini menceritakan tentang asal-usul dan perkembangan salat malam 27 Ramadan di Bukku", yang kini dipusatkan di Masjid Raudhatul Muraqabah. Menurut cerita orang tua dahulu, ajaran ini dibawa oleh seorang ulama dari Pambusuang bernama Annangguru Saleh. Beliau pernah belajar di Madinah, kemudian kembali ke Mandar untuk menyebarkan agama Islam melalui ajaran Tarekat Kadiriah. Beberapa muridnya ditugaskan menyebarkan ajaran tersebut ke berbagai daerah, dan salah satunya adalah Pua" Risa (almarhum) yang ditempatkan di Bukku" untuk membina dan mengurus jamaah. Bukku" dipilih karena dianggap sebagai tempat yang aman dan baik untuk beribadah dengan khusyuk, sebab dahulu lokasinya masih sunyi dan jauh dari keramaian. Dalam rangkaian ibadahnya terdapat salat tasbih, salat taubat, salat hajat, dan salat qada". Salat qada" meliputi qada" Isya, Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, serta ditambah salat Tarawih. Pada malam 27 Ramadan, pelaksanaannya berlangsung lama hingga tengah malam karena jumlah witir yang diambil lebih dari 20 rakaat. Pada awalnya jumlah jamaah hanya sekitar 50 orang karena lokasi pelaksanaannya berada di tengah hutan agar lebih khusyuk. Seiring waktu, jumlah jamaah semakin bertambah sehingga tempatnya dipindahkan ke sebuah mushalla dekat sumur Bukku". Karena mushalla tersebut tidak lagi mampu menampung jamaah, lokasi dipindahkan ke daerah Makkayang (yang kini termasuk wilayah Bukku"), dan akhirnya menetap di Masjid Raudhatul Muraqabah yang sekarang juga digunakan untuk salat Jumat dan kegiatan keagamaan lainnya. Kegiatan ini semakin ramai karena turut dihadiri tokoh masyarakat, bahkan pejabat seperti gubernur dan bupati, serta jamaah dari luar Sulawesi. Biasanya para jamaah datang sebelum Magrib pada tanggal 26 Ramadan untuk berbuka puasa bersama di masjid sambil menunggu azan. Pada tahun terakhir, jumlah jamaah mencapai sekitar 3.000 orang, hingga memenuhi masjid, rumah warga di sekitarnya, jalanan, lapangan, bahkan sampai ke gerbang kawasan 27 Ramadan. Saat pandemi Covid-19 pada tahun 2019"2020, ketika banyak masjid ditutup dan salat berjamaah dibatasi, kegiatan di Masjid Raudhatul Muraqabah tetap dilaksanakan dan tetap dihadiri banyak jamaah. Mushalla pertama yang digunakan dahulu berukuran kecil, kemudian atas inisiatif Ustaz Husain Hasan dilakukan penggalangan dana untuk merobohkan bangunan lama dan membangun masjid yang lebih besar dan layak digunakan. Kini masjid tersebut telah memiliki fasilitas yang memadai dan mampu menampung jamaah dalam jumlah besar, dengan dukungan pengurus serta para pemuda yang kompak dalam melayani jamaah. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Muhdar/Muh. Fatir Ismail

admin Baca
SYEKH ABDUL MANNAN DI PMBOBORANG
Desa Pamboborang, Kec. Banggae, Kab. Majene

SYEKH ABDUL MANNAN DI PMBOBORANG

Menurut carita tomatua-tua diolo", kisah tentang Pamboborang berkaitan dengan awal masukna agama Islam ri wilayah tersebut yang berada di Kabupaten Majene. Konon, tau yang pertama kali membawa dan mengajarkan agama Islam di daerah tersebut adalah Syekh Abdul Mannan. Tappana pertama kali pole, iya maita mesa buttu kayyang anna malingga, yaitu Buttu Pamboborang. Di tempat itulah Syekh Abdul Mannan mulai mappaguru asallangan (mengajarkan ajaran kebenaran) kepada masyarakat sekitar. Syekh Abdul Mannan mengajarkan agama Islam di Buttu Pamboborang selama kurang lebih sapulo taun. Selama waktu tersebut iya berdakwah anna membimbing masyarakat supaya mengenal ajaran Islam. Tappana pura sepuluh tahun di Pamboborang, iya kemudian mindai lao ri Buttu Salabose. Menurut carita tomatua-tua, tappana lambi ri Salabose, Syekh Abdul Mannan kembali mengajarkan agama Islam kepada masyarakat di tempat tersebut. Iya mappaguru agama Islam selama kurang lebih pitu taun. Setelah tujuh tahun berada di Salabose, iya kemudian mimbalik lao ri Pamboborang. Namun sampai sekarang masyarakat ndangi nissang dengan pasti bagaimana sebenarnya kisah tentang pakkuburanna. Menurut carita yang diwariskan tomatua-tua, Syekh Abdul Mannan wafat ri Pamboborang. Tetapi masyarakat juga mengetahui bahwa di Salabose juga terdapat makam beliau. Karena itulah muncul pertanyaan mengapa makam beliau ada di dua tempat tersebut. Begitulah kisah yang dituturkan oleh para orang tua dahulu tentang Syekh Abdul Mannan dan awal penyebaran agama Islam di Pamboborang. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Menurut cerita para orang tua dahulu, kisah tentang Pamboborang berkaitan dengan awal masuknya agama Islam di wilayah tersebut yang berada di Kabupaten Majene. Konon, orang yang pertama kali membawa dan mengajarkan ajaran Islam di daerah itu adalah Syekh Abdul Mannan. Ketika pertama kali datang ke wilayah tersebut, beliau melihat sebuah gunung yang sangat besar dan tinggi, yaitu Gunung Pamboborang. Di gunung itulah Syekh Abdul Mannan mulai mengajarkan ajaran kebenaran dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Syekh Abdul Mannan mengajarkan agama Islam di Gunung Pamboborang selama kurang lebih sepuluh tahun. Selama masa itu beliau berdakwah dan membimbing masyarakat untuk mengenal ajaran Islam. Setelah sepuluh tahun berada di Pamboborang, beliau kemudian berpindah dan naik ke Gunung Salabose. Menurut cerita para orang tua dahulu, setelah tiba di Salabose, Syekh Abdul Mannan kembali mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Beliau berdakwah di tempat tersebut selama sekitar tujuh tahun. Setelah tujuh tahun berada di Salabose, beliau kemudian kembali lagi ke Pamboborang. Namun hingga sekarang masyarakat tidak mengetahui secara pasti bagaimana kisah sebenarnya mengenai tempat pemakaman beliau. Menurut cerita yang diwariskan oleh para orang tua, Syekh Abdul Mannan wafat di Pamboborang. Akan tetapi, masyarakat juga mengetahui adanya makam beliau di Salabose. Karena itulah muncul pertanyaan mengapa makam beliau terdapat di dua tempat tersebut. Begitulah cerita yang disampaikan oleh para orang tua dahulu mengenai Syekh Abdul Mannan dan sejarah awal penyebaran Islam di Pamboborang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Sahabudding/Salwa

admin Baca
I ACO TOTOLI ANNA I LAMBE ALU
Desa Pamboborang, Kec. Banggae, Kab. Majene

I ACO TOTOLI ANNA I LAMBE ALU

Nene"ta ita di"e nicaritae, indai toi rua maccarita nene"na tau laeng. Nene"ta to ita di carita. Jari, di"o to Lambe Alu o. To Lambe Alu melluluare" anna to Totoli. Tappana di"e digena, apa to sicalla, diammo ana"na to Lambe Alu to ne"muane, anna diang to ne"waine, diang to"o ana"na to Totoli to ne"muane. Tappana di"e digena, diammo panginoan nisanga passepparangan, mua di te"e nisanga sepak takraw. To Lambe Alu ma"anna panginoan di"e. Sementara diang mangino, polemi ana"na to Totoli. Apa mittama mi mangino, mittami to"o ana"na to Lambe Alu. Ana"na to Totoli tipacce lo"diangna, jari na ala mi ana"na to Lambe Alu apa tipacce lao di olona. Tappa pura mangino, dipande mi tau panginoe. Nanging indai sittengantengan akkeanna. Diang na kappari, diang i"da. Tappa malai tau panginoe, sangga iyya pa mottong ana"na to Totoli. To Lambe Alu ma"pauanni ana"na, "Apanna mappatengano iting mappande, ndang mu pasittengantengan"? Naua ana"na, "Tania to biasa di"e, Puang." "Apanna mu issang mua tania to biasa"? Naua, "Pitao mai lo"diangna. Tania tongan to biasa." Tappana di"e digena, na patulemi. Ana"naure na towandi to tia, tapi indai na issang mua ana"na to Totoli. Na"u, "Pole innai"? Naua, "Pole di Mata Allu." Ia mo tu"u anna diang nisanga "to pole di Mata Allu". Na"u, "Apa akkatta ta dini"? Naua, "Meloa mebaine." Tappana di"e digena, na pakawengmi. Siala mi to ma boyang pissang, nanging indai na issang mua melluluare" tia. Tappana di"e digena, to Lambe Alu ma"lamba naitai ana"na to Totoli nisanga I Aco. Mangasa mi kowi, apa ma"pikir mamusu". Sementara di"o, I Aco merau izin lao di pasanan-na anna baine-na, naua, "Na sau a dolo di Mata Allu, apa ingga"na makarra nawang." Malai mi sau. Tappana diang maita sanaeke I Aco, lao mi ma lapor di totoli, ma"uang, "Pole I Aco." Na patulemi, "Innai mola selama mai e? Mane na lamba mi ni itai." Naua I Aco, "Na tama" dzi Lambe Alu." "Pura mo kaweng"? Naua, "Pura ma kaweng." Ma"uang to Totoli, "Na pakaweng laeng o, apa indai sah kawenganmu, indana hadir alu." Tappana di"e digena, na pakaweng laengmi ri para matua, to Lambe Alu anna to Totoli. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Nenek kita inilah yang diceritakan; kita tidak pernah menceritakan nenek orang lain. Jadi, nenek kita sendiri yang menjadi kisah ini. Ia berasal dari Lambe Alu. Orang Lambe Alu bersaudara dengan orang Totoli. Pada waktu itu terjadi pertentangan antarkelompok. Sudah ada seorang pemuda dari Lambe Alu, dan ada pula seorang gadis, serta seorang pemuda dari Totoli. Pada masa itu telah ada permainan yang disebut passepparangan, yang sekarang dikenal sebagai sepak takraw. Permainan itu diadakan oleh orang Lambe Alu. Ketika permainan sedang berlangsung, datanglah pemuda dari Totoli dan ikut bermain bersama pemuda Lambe Alu. Saat bermain, perhiasan yang dipakai pemuda Totoli terpental, lalu diambil oleh pemuda Lambe Alu karena jatuh di dekatnya. Setelah permainan selesai, para pemain dijamu makan. Namun, hidangan yang diberikan tidak sama; ada yang diberi nampan dan ada yang tidak. Setelah para pemain pulang, hanya pemuda Totoli yang masih tinggal. Orang Lambe Alu kemudian bertanya kepada anaknya, "Mengapa caramu memberi makan tidak sama rata"? Anaknya menjawab, "Dia bukan orang biasa, Puang." Orang tuanya bertanya lagi, "Dari mana kamu tahu dia bukan orang biasa"? Ia menjawab, "Lihat saja perhiasannya. Dia memang bukan orang biasa." Kemudian pemuda itu ditanyai asal-usulnya. Ternyata ia adalah keponakan mereka sendiri, tetapi hal itu belum diketahui. Ketika ditanya, "Kamu dari mana"? ia menjawab, "Saya dari Mata Allu." Dari situlah muncul sebutan "orang dari Mata Allu". Ketika ditanya apa tujuannya datang, ia menjawab ingin menikah. Akhirnya ia dinikahkan. Ternyata pernikahan itu adalah pernikahan antarsepupu, tetapi mereka belum mengetahui hubungan kekerabatan tersebut. Beberapa waktu kemudian, orang Lambe Alu hendak pergi mencari pemuda Totoli yang bernama Aco. Ia mengasah parang karena mengira akan terjadi perkelahian. Sementara itu, Aco meminta izin kepada mertuanya dan istrinya untuk pergi ke Mata Allu dengan alasan cuaca terlihat buruk. Ia pun pulang. Ketika keberadaan Aco diketahui, kabar itu disampaikan kepada orang tuanya di Totoli. Orang tuanya bertanya, "Di mana kamu selama ini? Kami hampir saja pergi mencarimu dan hendak berkelahi." Aco menjawab bahwa ia telah pergi ke Lambe Alu dan sudah menikah. Orang tuanya berkata bahwa ia harus dinikahkan ulang karena pernikahan sebelumnya dianggap belum sah, sebab pihak keluarga belum hadir. Akhirnya, ia dinikahkan kembali oleh para tetua dari Lambe Alu dan Totoli. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Sahabuddin/Magfira

admin Baca
ASAL-USUL PATTU???DU??? KUMBA
Desa Tubo Sendana, Kec. Tubo Sendana, Kab. Majene

ASAL-USUL PATTU???DU??? KUMBA

Pattuqduq Kumba, biasa tong di-alle Tarian Kumba, iyamo salah satu pattuqduqan tua peninggalan jaman lampa" di Lita" Mandar. Pattuqduq iyamo tumbuh anna berkembang sejak jaman arayang (kerajaan) anna menjadi bagian penting di kehidupan sosial, adat, budaya, anna kepercayaan to Mandar. Indani semata-mata hiburan, tapi pattuqduq iyamo mengandung makna simbolik, sakral, anna spiritual na" berhubungan langsung dengang sistem kekuasaan anna sistem kepercayaan masyarakat Mandar jaman dahulu. Menurut carita to matoa na" dipassalani secara lisan turun-temurun dari generasi ke generasi, Pattuqduq Kumba biasa dipattunjukang di waktu-waktu tertentu. Salah satu waktu paling penting iyamo di saat Mara"dia lao" massandara" anna menjelang matindo. Sebelum matindo, Mara"dia biasa massaksi pattuqduq na" dipabanni"ang oleh penari-penari muda-mudi. Penari-penari iyamo pada masa itu indani memakai busana lengkap sebagaimana pattuqduq biasa, melainkan hanya menutupi bagian vital tubuhna". Hal iyamo dipahami sebagai bagian dari nilai estetika, kesucian, anna simbol adat menurut pandangan masyarakat Mandar jaman dahulu. Di konteks iyamo, Pattuqduq Kumba berfungsi sebagai pattuqduq pangantar matindo Mara"dia. Gerakan na" lembut, teratur, anna penuh penghayatan diyakini mampu manciptakang suasana tenang anna khidmat, sehingga Mara"dia bisa massandara" dengang batin na" mapaccing anna damai. Jadi, pattuqduq iyamo bukan hanya hiburan, tetapi juga media ritual na" bermakna mendalam di lingkungan istana arayang. Selain dipattunjukang di lingkungan istana, Pattuqduq Kumba tong sering dipersembahkang saat kedatangan tamu-tamu penting, terutama tamu dari arayang lain. Di keadaan iyamo, pattuqduq menjadi suguhan pertama sebelum dimulai pembicaraan atau perundingan antar kerajaan. Hal iyamo menunjukkan bahwa Pattuqduq Kumba memiliki posisi strategis sebagai simbol penyambutan, penghormatan, anna kebesaran arayang di Lita" Mandar. Seiring berjalanna" waktu, terutama setelah masuk masa Ammara"diangan, ketika I Manyambungi menjadi Arayang ke-I di Kerajaan Balanipa, Pattuqduq Kumba mengalami perkembangan fungsi anna konteks pementasanna". Di masa iyamo, pattuqduq indani lagi dipattunjukang secara bebas, melainkan dikhususkan untuk acara-acara tertentu na" bersifat sakral anna resmi, seperti pelantikan, perayaan kelahiran ana"-ana" bangsawan tinggi, anna ana"-ana" anggota hadat. Selain iyamo, Pattuqduq Kumba tetap dipertahankan sebagai sarana persembahan spiritual untuk memuja anna menghormati arwah to matoa atau leluhur, na" dalam kepercayaan lama to Mandar sering di-alle Dewa. Di konteks iyamo, pattuqduq menjadi media penghubung antara manusia anna dunia leluhur serta kekuatan adikodrati na" dipercaya melindungi masyarakat Mandar jaman dahulu. Dengan demikian, Pattuqduq Kumba iyamo warisan budaya na" sangat berharga. Pattuqduq iyamo mencerminkan kompleksitas budaya to Mandar, di mana seni, adat, kekuasaan, anna kepercayaan saling berkaitan membentuk satu kesatuan. Sampai sekarang, Pattuqduq Kumba tetap menjadi simbol identitas budaya Mandar na" perlu dijaga, dilestarikang, anna dikaji secara lebih mendalam sebagai bagian dari kebudayaan Nusantara. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Tarian Kumba atau yang dikenal pula dengan sebutan Pattuqduq Kumba merupakan salah satu tarian tradisional peninggalan masa lampau yang tumbuh dan berkembang di wilayah Mandar, Sulawesi Barat. Tarian ini telah ada sejak masa kerajaan dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial, adat, budaya, serta sistem kepercayaan masyarakat Mandar. Keberadaannya tidak hanya dipahami sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai simbolik, sakral, dan spiritual yang berkaitan erat dengan struktur kekuasaan dan keyakinan masyarakat pada masa itu. Berdasarkan penuturan para leluhur Mandar yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, Pattuqduq Kumba biasanya dipentaskan pada waktu-waktu tertentu. Salah satu momen penting adalah ketika Mara"dia (raja) hendak beristirahat atau menjelang tidur. Sebelum tidur, sang raja terlebih dahulu menyaksikan pertunjukan tari yang dibawakan oleh para penari muda-mudi. Pada masa itu, para penari tidak mengenakan busana lengkap sebagaimana tarian pada umumnya, melainkan hanya menutupi bagian-bagian vital tubuh. Hal tersebut dipahami sebagai bagian dari nilai estetika, simbol kesucian, dan ekspresi budaya menurut pandangan masyarakat Mandar pada masa lampau. Dalam konteks tersebut, Pattuqduq Kumba berfungsi sebagai tarian pengantar tidur bagi Mara"dia. Gerakan tari yang lembut, teratur, dan penuh penghayatan diyakini mampu menciptakan suasana yang tenang dan khidmat, sehingga membantu sang raja mencapai ketenangan batin sebelum beristirahat. Dengan demikian, tarian ini bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media ritual yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan istana kerajaan. Selain dipentaskan di lingkungan istana untuk kepentingan internal, Pattuqduq Kumba juga sering dipersembahkan saat kedatangan tamu-tamu penting, terutama dari kerajaan lain. Dalam situasi tersebut, tarian ini menjadi suguhan awal sebelum dilangsungkannya pembicaraan atau perundingan antar kerajaan. Hal ini menunjukkan bahwa Pattuqduq Kumba memiliki posisi strategis sebagai simbol penyambutan, penghormatan, serta kebesaran kerajaan di Mandar. Seiring perkembangan zaman, khususnya setelah memasuki masa Ammara"diangan ketika I Manyambungi memerintah sebagai Arayang pertama Kerajaan Balanipa, Pattuqduq Kumba mengalami perubahan fungsi dan konteks pementasan. Pada masa itu, tarian ini tidak lagi dipentaskan secara bebas, melainkan dikhususkan untuk acara-acara resmi dan sakral, seperti pelantikan, perayaan kelahiran anak-anak bangsawan tinggi, serta anak-anak dari anggota hadat atau pemangku adat. Selain itu, Pattuqduq Kumba tetap dipertahankan sebagai sarana persembahan spiritual untuk memuja dan menghormati arwah leluhur yang dalam kepercayaan lama masyarakat Mandar sering disebut sebagai Dewa. Dalam konteks ini, tarian Kumba berfungsi sebagai media penghubung antara manusia dan dunia leluhur, serta kekuatan adikodrati yang diyakini melindungi masyarakat Mandar pada masa dahulu. Dengan demikian, Pattuqduq Kumba merupakan warisan budaya yang memiliki nilai historis, estetis, dan spiritual yang tinggi. Tarian ini mencerminkan kekayaan dan kompleksitas budaya Mandar, di mana seni, adat, kekuasaan, dan kepercayaan saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Hingga kini, Pattuqduq Kumba tetap menjadi simbol identitas budaya Mandar yang perlu dijaga, dilestarikan, dan dikaji secara lebih mendalam sebagai bagian dari khazanah kebudayaan Nusantara. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Muh. Irsyad/Jupita

admin Baca
LOMBONA DI WATTUNNA PENJAJAHAN
Desa Tubo Sendana, Kec. Tubo Sendana, Kab. Majene

LOMBONA DI WATTUNNA PENJAJAHAN

Iyyaro wattuna Yunus massikola siola Muhammad Damin. Yunus maelo massikola lao di Baturoro lambi mai di Lombo"na. Pura di"o, yau lao pole di Tatakko. Di tatakko, iyyaro wattu masih wattu Balanda (tentara Belanda). Mesa allo, Balanda mitturung. Diang oto Balanda. Yunus siola Muhammad Damin naita oto iyyaro, jari mendaimi di oto Balanda. Namun pura di"o, Yunus anna Daamin maroppong lao di pangale (hutan). Balanda natinromi tama di roppong, tapi ndan mala nasaka Allo laengna, Balanda le"mai di Lombo"na, tarrus lao di maradia. Naung ri maradia, Balanda mauang: "Diang to rakyatta kurang ajar. Naikkemi di oto-ku, napiccoki." Maradia massanggi, jari Balanda pole lao Makassar di allo iyyaro. Yusuf tetap massikola. Allo laengna, maradia naillongia: "Apa mu pittule ri Balanda di ongin"? Maungmi: "Ndai" apa-apa. Yau cuma main-main bertanya." Tapi maradia marakke. Naillong: "Da"a mu paganna pinda" dua. Mua natarrukko, mala ko tappang." Sejak di"o, Yusuf marakke sannami. Ndai"mo yau melo" mappaseng di Balanda. Ndai"mo yau melo" maita-maita. Pura Balanda pole, datangmi Jepang. Jepang polemi, di Lombo"na di dermaga, diang kappal perang Jepang massangga. Mua kappal perang le"ba, tau nasang harus matabe" (hormat). Mua ndai" matabe", mala natangkap. Di"o wattu, diang toi mesa tau disanga Suru Balong. Sanga iyyaro nasaba" di"o wattu diang mesa ina melahirkan, jari anakna nasanga Suru Balong. Iyamo ri"e caritana. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada waktu itu Yusuf masih sekolah bersama Muhammad Damin. Mereka berjalan kaki ke Baturoro sampai ke Kampung Lombo"na. Setelah itu Yusuf pergi lagi ke Tatakko. Pada masa itu masih zaman tentara Belanda. Suatu hari tentara Belanda datang dengan mobil. Yusuf dan Muhammad Damin melihat mobil itu lalu ikut naik. Namun setelah itu mereka melarikan diri ke hutan. Tentara Belanda mengejar mereka, tetapi tidak berhasil menangkap kami. Keesokan harinya, tentara Belanda datang ke Lombo"na dan langsung melapor kepada maradia (pemimpin setempat). Mereka mengatakan bahwa ada rakyat yang kurang ajar karena naik mobil mereka dan mengejek. Maradia menegur mereka dan menyuruh agar hal itu tidak diulangi. Setelah itu tentara Belanda kembali ke Makassar. Yusuf tetap pergi ke sekolah seperti biasa. Suatu hari maradia memanggilnya dan bertanya: "Apa yang kamu tanyakan kepada tentara Belanda kemarin"? Yusuf menjawab bahwa dia hanya bertanya biasa dan tidak bermaksud apa-apa. Namun maradia marah dan memperingatkan: "Jangan sampai kamu mengulanginya. Kalau sampai tertangkap, kamu bisa dipenjara." Sejak saat itu Yusuf merasa sangat takut dan tidak berani lagi mendekati tentara Belanda. Tidak lama kemudian, Belanda pergi dan digantikan oleh tentara Jepang. Kapal-kapal perang Jepang berlabuh di dermaga Lombo"na. Jika kapal perang lewat, semua orang harus memberi hormat. Jika tidak, bisa ditangkap. Pada masa itu juga ada seseorang yang dijuluki Suru Balong. Nama itu muncul karena bertepatan dengan kelahiran seorang anak pada waktu tertentu. Kemudian banyak kapal Jepang datang, termasuk kapal selam yang muncul di sekitar pohon-pohon kelapa di pesisir. Kapal selam itu menembakkan bom, sehingga masyarakat sangat ketakutan pada masa itu. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Muhammad Yunus B/ Suci

admin Baca
BURAREA
Lingk. Rangas Timur, Kec. Banggae, Kab. Majene

BURAREA

Diang mesa kisa di tana Mandar, tepatna di Banua Palippis. Iyyaro wattu, andian pa disanga Campalagian; duapa Palippis sanganna engeanna. Di Palippis diang mesa tau disanga Buraera, tau posasi (nelayan) membonyan dio. Di"o wattu, di Palippis andan maande bau, jari kurang hasil tangkapan. Pole karewa mauan, "Di Polewali maandei bau, karena dilalan lagi musim ikan." "Ohh de"eh, macoai tia tau tamao di Polewali mosasi, apa dian tia palakan maande bau dilalan. Apa ripo gau dini di Palippis, andan toi maande bau bomo"? Jari dianmo nia"na marrencana Buraera lao mosasi di Polewali. Sipau-paumi bainena, mauan: "Yau lao mosasi di Polewali, apa dilalan lagi musim bau. Dini di Palippis makurang boi bau." Mauan bainena: "Iya, pada apa tonganmo dini mua andan maande." Akhirna setuju nasang. Mattandaimi allo keberangkatan. Na ajaki toi appona (cucuna), mauan: "Macoai tia kambe tama di Polewali mosasi." Mauan appona: "Iya, Kek, malolo tongan tama di Polewali, apa rian tia maande bau dilalan." Mattandaimi allo, mauan: "Malolo tama bongi Jumat, apa bongi ayuma anginna ndan banna bega". Mua allo simata, bannai angin." Namun pole mesa tomauweng (kerabat) mamanya: "Kek, betulkah mu lao mosasi bongi Jumat? Bongi ayuma memang malolo angin, tapi tallomo-lomo lao. Tau tu"u na cerita tomauweng, andan hal-hal aneh bongi ayuma." Mauan Buraera: "Iya, itu bandi carita tomauweng." Kerabatna mauan: "Terserahko, Kek. Yau sipauni mi." Singkat carita, lambi bongi ayuma. Buraera siola appona miakke. Pura massambayang magrib, lao miakke. Namun karena malino sannal laut, arusna sasi nabawa sau, ndan mala na tarai. Lambi ri tannga-tannga sasi. Mauan Buraera: "Apa ripo gau, kambe? Ndamo mala mappasi sau, arus ma alai kita." Masae ri"e, naita ri"e mesa ragi-ragi bassae. Lampunna maidi, bunyi gandrang, mappake adat Mandar, di atasna ragi-ragi. Rupa-rupa binatang anna tau menari di atasna. Bassae ragi-ragi, rapan buttu jalan di sasi. Simata siola appona ndan mala mappau, maringin perasaanna. Akhirna ragi-ragi le"ba. Angin mappusang, malaimi rolo pole ri Palippis. Setibana di banua, maringin dai, massaki dua-due. Sitallu ngallo dua ngallo baru mala mappau. Mauan Buraera: "Tongan, yau maita sendiri. Dian tongan hal-hal aneh di sasi." Namun Buraera tetap nia" lao mosasi pole di Polewali. Wattu simata enak perasaanna, lao miakke allo simata. Lambi di Polewali, pura massambayang, lao miakke. Di"o engeanna, diang tau Bugis yang lama mosasi dio. Nattiungmi sau di roppo-roppo. Mane mambuangi pancing, mauan tau Bugis: "Woi, palaimo tama. Andano namiala bau." Mauan Buraera: "Apa muananna? Yau yakin namiala bau bongi di"e pole Pongataala." Mauan tau Bugis: "Mua namiala ko bau bongi di"e, upasianu nyawau." Buraera mauan: "Ceh, apa muananna i"o? Ndai" di"e sipasammanang nyawa." Namun mosasi terus. Tau Bugis maidi bau. Buraera ndan topa namiala. Lambi jam satu bongi. Mauan appona: "Kek, palaimo tama." Mauan Buraera: "Sabar kambe. Namiala bandi mesa." Napasan appana, napasan sau. Umpanna diande ikan, tapi makurang boi. Nabeso mulai jam satu lambi jam enam subu. Akhirna namiala mesa bau keccu, rapan tellu jari. Mauan Buraera: "Alhamdulillah, walau keccu, namiala pole Pongataala." Tau Bugis kaget: "Tongan namiala ko." Nauri mi tau Bugis. Nalloi doi tabunganna, na pasanni: "Sampaikanni lao baineu di Bugis." Pole mi tau Bugis di boyanna. Mandoe, mappake lipa malolo, pura mapaccing, napicoui pillolina. Di"o akhir hayatna, matemi ri"o. Mauan Buraera: "Ceh, iya menyamakan nyawanna siola bau. Tapi iyamo takdir." Akhirna mate tau Bugis ri"o. Iyamo ri"e kisa Buraera di Palippis. "Cappu Carita!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada sebuah kisah di tanah Mandar, tepatnya di Kampung Palippis. Pada masa itu belum dikenal nama Campalagian; wilayah tersebut masih disebut Palippis. Di kampung itu ada seorang nelayan bernama Buraera. Pada waktu itu, di Palippis sedang tidak musim ikan sehingga hasil tangkapan berkurang. Lalu datang kabar bahwa di Polewali sedang musim ikan. "Lebih baik kita masuk ke Polewali untuk melaut," pikirnya, "karena di sana sedang musim ikan. Di sini di Palippis juga sedang tidak musim." Buraera pun merencanakan berangkat ke Polewali. Ia berbicara kepada istrinya: "Saya akan melaut ke Polewali karena di sana sedang musim ikan. Di sini hasilnya kurang." Istrinya menjawab: "Iya, memang benar. Di sini juga sedang tidak musim." Mereka pun sepakat. Ia mengajak cucunya dan menentukan hari keberangkatan, yaitu malam Jumat karena angin biasanya lebih tenang. Namun seorang kerabat mengingatkan: "Jangan berangkat malam Jumat. Banyak cerita orang tua dahulu tentang hal-hal aneh pada malam itu." Buraera menjawab: "Itu hanya cerita orang tua." Tibalah malam Jumat. Setelah salat Magrib, mereka berangkat. Namun laut sangat tenang dan arus membawa perahu mereka hingga ke tengah laut. Mereka tidak mampu lagi mendayung. Tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang besar di kejauhan, seperti pulau berjalan. Lampunya banyak, terdengar bunyi gendang, dan tampak orang-orang menari memakai adat Mandar di atasnya. Mereka terdiam ketakutan hingga benda besar itu berlalu. Akhirnya angin bertiup dan mereka kembali ke Palippis. Setibanya di kampung, mereka jatuh sakit karena ketakutan. Setelah beberapa hari, Buraera berkata bahwa ia benar-benar melihat kejadian aneh di laut. Meski demikian, ia tetap berniat melaut ke Polewali. Kali ini ia berangkat pada siang hari. Setibanya di Polewali, ia bertemu seorang nelayan Bugis yang sudah lama melaut di sana. Saat mereka mulai memancing, orang Bugis itu berkata: "Pulang saja kamu, malam ini kamu tidak akan mendapatkan ikan." Buraera menjawab: "Saya yakin akan mendapatkan ikan malam ini dari Tuhan." Orang Bugis itu berkata: "Jika kamu mendapatkan ikan malam ini, aku samakan dengan hidupku." Buraera menganggap ucapan itu berlebihan, tetapi ia tetap memancing. Orang Bugis itu terus mendapatkan ikan, sedangkan Buraera belum. Hingga pukul satu malam, ia terus berdoa. Akhirnya umpannya dimakan ikan. Ia menariknya dari pukul satu hingga pukul enam pagi. Ternyata yang didapat hanya ikan kecil sekitar tiga jari. "Alhamdulillah," katanya, "walaupun kecil, ini rezeki dari Tuhan." Orang Bugis itu terkejut dan mengakui ucapannya. Ia menyerahkan uang tabungannya dan berpesan agar disampaikan kepada istrinya. Setelah itu, ia pulang, mandi, berpakaian rapi, lalu meninggal dunia. Buraera berkata: "Ia menyamakan hidupnya dengan seekor ikan kecil. Tetapi begitulah keyakinannya, dan begitulah takdir." Demikianlah kisah Buraera dari Palippis. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ibrahim/Rahmadani

admin Baca
TOSUMOMBAL (PERANTAU)
Desa Paminggalan, Kec Sendana, Kab. Majene

TOSUMOMBAL (PERANTAU)

Diang mesa allo, diang mesa to perantau lambai lao meninggalkan kampungna mappasapa" rezeki. Lambi sanna" wattu ia merantau, tapi andiang naitai jaman (pekerjaan). Pura lamba-lamba, maitami mesa kowi ta"garang (parang berkarat) ri lalangna. Anehnya, kowi ta"garang di"o seta mappauwwi. Naua, "Mua diang tau melo memelihara iyau, sugimi ia." Nallambi naruru to perantau, nabawai kowi di"o anna membali lemai ri kampungna. Kowi di"o naparipatti tama peti anna dibawai ri kappal. Ri lalang kappal, kowi di"o tarrus mappau, lambi narangngi pakkappal anna tau-tau ri di"o. Naua pakkappal, "Apa isi peti mu? Marrangi mappau." Naua to perantau, "Kowi ta"garang. Naua mua dipelihara, sugimi tau, lewanna sugina pakkappal." Narangngi di"o pakkappal, jari melo nipasisapi kappalna siola kowi ta"garang di"o. Naua to perantau, "Bega mu" rugi." Tapi pakkappal tarrus melo, jari nipasisapi tonganmi: kappal di"o malai ri to perantau, anna kowi ta"garang malai ri pakkappal. Tappana lambi ri banua, pakkappal napeita baenena kowi di"o. Macaimi baenena apa kappalna nisapi siola kowi ta"garang. Naua, "Andiang moca iting atuangang!" Tapi muanena tarrus percaya. Allo salanju"na, muanena mappesang, "Damo muworoai" dio kowi." Tapi tappana muanena me"uya, baenena nasi"biangngi dio kowi anna nabbuwangngi ri litana. Pole me"uya muanena, napessangi dio kowi tapi andiang naita. Naua baenena mua ia nasi"biangngi. Siallami sialla". Jari muanena melo lao peita ingganna dibuwangngi dio kowi. Ri di"o, baenena napadami cara nasi"biangngi: natancapngi dio kowi ri litana. Tappana muanena melo naruppa, andiang mala natarrik. Jari na"karoi ri sekelilingna. Ternyata ri naungna di"o diang bulawang (emas) sanna"pai. Manambung bulawang, pokokna kaya keturunanna. Iya mi tu"u hasilna kowi ta"garang di"o. Pakkappal sugimi, to perantau sugimi to. Iyamo anna judulna "Perantau." "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada suatu hari, seorang perantau meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan. Namun, setelah lama merantau, ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Suatu ketika, saat berjalan-jalan, ia menemukan sebilah parang berkarat di jalan. Anehnya, parang berkarat itu dapat berbicara. Ia berkata, "Siapa pun yang mau memeliharaku akan menjadi orang kaya." Mendengar hal itu, si perantau membawa parang tersebut dan kembali ke kampung halamannya. Parang itu disimpan di dalam sebuah peti dan dibawa naik kapal. Selama di kapal, parang tersebut terus berbicara hingga terdengar oleh pemilik kapal dan para penumpang. Pemilik kapal pun bertanya tentang isi peti itu. Si perantau menjelaskan bahwa di dalamnya ada parang berkarat yang dapat membuat pemiliknya menjadi kaya, bahkan lebih kaya dari pemilik kapal. Mendengar hal tersebut, pemilik kapal tertarik dan menawarkan untuk menukar kapalnya dengan parang berkarat itu. Si perantau sempat menolak karena khawatir pemilik kapal akan rugi, tetapi karena ia bersikeras, akhirnya pertukaran pun terjadi. Setibanya di rumah, pemilik kapal menunjukkan parang tersebut kepada istrinya. Sang istri marah besar karena kapal yang menjadi sumber penghidupan mereka telah ditukar dengan parang berkarat. Namun, suaminya tetap yakin pada keputusannya. Keesokan harinya, sebelum pergi bekerja, sang suami berpesan agar istrinya tidak menyentuh parang tersebut. Akan tetapi, setelah suaminya pergi, sang istri justru membuang parang itu ke tanah. Ketika suaminya pulang dan mencari parang itu, ia tidak menemukannya. Istrinya mengakui telah membuangnya. Mereka pun pergi ke tempat parang itu dibuang. Sang istri memperagakan bagaimana ia menancapkan parang itu ke tanah. Saat suaminya mencoba mencabutnya, parang itu tidak bisa ditarik. Ia pun menggali tanah di sekitarnya. Betapa terkejutnya mereka ketika menemukan emas yang sangat banyak di dalam tanah tersebut. Sejak saat itu, mereka hidup kaya raya. Si perantau pun memperoleh kekayaan dari kapalnya. Itulah sebabnya cerita ini diberi judul "Perantau." "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Rusmin/Nurlina J

admin Baca

Menampilkan halaman 1 dari total 4 halaman

Sebelumnya
Hal. 1
Selanjutnya