Katalog Cerita Rakyat
Ditemukan 39 cerita rakyat terarsip di sistem.
KISAH SISSINGOA (KISAH ORANG YANG SERAKAH)
Namaccuritai tau mesa carita diolo". Iyya carita e biasa micuritangan mai tomauwwen diolo", disanga Sissingoaq. Sissingoaq polei di ra"dua kata, yaitu sissi anna ngoa. Sissi battuanna sissilan sannal atau makikkir sannal, sedangkan ngoa battuanna mangoa atau rakus sannal. Jari, sissingoaq iyamo tau yang sangat pelit sekaligus sangat rakus dalam kehidupanna. Wattunna tuwo, tau sissingoaq e marakke sannal mua kurang barang-barangna. Bahkan mua anu nanaande, sering toi lao di boyanna tau laen untuk maande, karna takut makananna kurang. Iyyamo tanda sissilanna anna mangoanna. Konon, menurut carita tau diolo", setelah matena sissingoaq, ia dikutuk menjadi monye" (monyet). Wattu minjari monye", ia lamba lao di boyanna pakkappung, mambulengganni rumandeanna pakkappung anna maandei makallissi ande na tau. Jari diolo ri"o, pakkappung biasa maopo rapa-rapa ande na mua bongi. Rumah-rumah ditutup rapat anna balenganna atau katoangna diletakkan di atas panci supaya ndan mala dipiesui sissingoaq. Dengan cara itu diharap sissingoaq ndan mala mambulengganni ande na tau di dapur. Sissingoaq e juga biasa mangganggui ana"-ana". Iyamo tu"u sebabna tau diolo" mua mangari mi, pakkappung segera maopo ba"bana banua. Apa wattu ri"o ndappai dian lampu listrik seperti di masa sekarang. Yang ada hanyami pelita anna lampu gas. Lampu itu dialli superstus, diissi di koppa lalu dipompa supaya mala tue. Mua cappu superstusna, mate bomi lampuna anna kappung mi mejadi mapattan. Iyamo tu"u sebabna ana"-ana" diolo sangat takut mua mangari mi anna langi" mulai gelap. Biasanna mua mangari mi, ana"-ana" langsung malari lao di boyanna. Rumah-rumah ditutup rapat karna takut didatangi sissingoaq. Sissingoaq e sangat meresahkan warga karna biasa membawa penyakit yang dikenal dengan siruppa" atau siruppangan. Tanda-tandana biasanya tau tiba-tiba panas tinggi, badan keras, sakit perut, bibir atau kulitna menjadi biru atau hitam. Penyakit itu konon datang jika tau bertemu sissingoaq, walaupun sissingoaq ndan diita (ghaib). Biasanna mua ndan tepat obatna, bisa-bisa tau mate di keesokan harinna. Iyamo tu"u sebabna tau di pambusuang ri"o biasa mua mangari mi segera mangaji di boyanna. Mereka membaca Al-Qur"an supaya sissingoaq ndan mala datang anna ndan mala masuk di boyanna. Pi"guruan yang mala diala pole di carita sissingoaq e iyamo: daa tau sissilan bega, daa toi tau mangoa bega. Mua dian poaare-arean, daa tau mangoai hakna tau laen. Lebih baik tau massukkurri atas apa yang telah dipunnai. Dengan bersyukur anna memakai yang ada, insyaallah tau mala salama di lino anna di akherat. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Sebuah kisah dari masa dahulu yang sering diceritakan oleh orang-orang tua, yaitu kisah tentang Sissingoaq. Kata sissingoaq berasal dari dua kata, yaitu sissi dan ngoa. Sissi berarti sangat pelit atau kikir, sedangkan ngoa berarti sangat rakus atau tamak. Jadi, yang dimaksud dengan sissingoaq adalah seseorang yang sangat pelit sekaligus sangat rakus dalam kehidupannya. Pada masa hidupnya, sissingoaq sangat takut jika barang-barangnya berkurang. Bahkan ketika ia hendak makan, ia sering pergi ke rumah tetangganya untuk makan di sana karena takut makanan yang dimilikinya berkurang. Hal tersebut menunjukkan sifatnya yang sangat pelit dan tamak. Menurut cerita masyarakat dahulu, setelah sissingoaq meninggal dunia, ia dikutuk menjadi seekor monyet. Setelah berubah menjadi monyet. Iia sering pergi ke rumah-rumah warga dan membuat kerusakan. Ia mengambil serta menghabiskan persediaan makanan milik warga. Oleh karena itu, pada masa dahulu masyarakat selalu menutup makanan mereka dengan rapat ketika malam hari. Rumah-rumah juga ditutup dengan baik, dan mereka meletakkan baskom tanah liat di atas panci agar makanan tidak mudah dibuka oleh sissingoaq di dapur. Sissingoaq juga sering mengganggu anak-anak. Itulah sebabnya pada masa dahulu, ketika waktu maghrib tiba, masyarakat segera menutup pintu rumah mereka. Pada masa itu belum ada lampu listrik seperti sekarang. Penerangan yang digunakan hanyalah pelita dan lampu gas yang menggunakan bahan bakar khusus. Jika bahan bakarnya habis, maka lampu akan padam dan suasana kampung menjadi gelap. Karena keadaan tersebut, anak-anak pada masa itu sangat takut keluar rumah ketika waktu maghrib tiba. Jika hari mulai gelap, mereka akan segera berlari pulang ke rumah masing-masing, sementara pintu rumah ditutup rapat agar sissingoaq tidak dapat masuk. Sissingoaq juga dipercaya membawa berbagai penyakit yang dikenal dengan istilah siruppa" atau siruppangan. Gejalanya biasanya berupa demam tinggi secara tiba-tiba, tubuh menjadi kaku, sakit perut, serta bibir atau tubuh berubah menjadi kebiruan atau kehitaman. Penyakit ini dipercaya muncul ketika seseorang bertemu dengan sissingoaq yang tidak terlihat oleh manusia. Jika penyakit tersebut tidak segera diobati dengan tepat, penderitanya bahkan bisa meninggal dunia keesokan harinya. Karena itu, masyarakat di daerah Pambusuang biasanya segera membaca Al-Qur"an atau mengaji ketika waktu maghrib tiba agar terhindar dari gangguan sissingoaq. Pelajaran yang dapat diambil dari kisah sissingoaq adalah agar manusia tidak menjadi terlalu pelit atau terlalu rakus. Jangan mengambil hak orang lain, dan hendaknya selalu bersyukur atas apa yang telah dimiliki. Dengan bersyukur dan hidup secukupnya, manusia dapat menjalani kehidupan yang baik serta memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Sudiati/Husnul Khalifah
MATE KARANA SIRI' (MATI KARENA MALU)
Diang mesa carita to diolo" napau-pauang, tentang tau mate karna siri". Diolo"na, diang mesa towaine na diang tommuane pacarna. Iya duai biasa massolo-solo siola massipaccing di wai (sungai). Towaine e biasanna ma"ala wai di sungai, mandoe, anna massissir di situ. Mesa wattu, towaine e naung ma"ala wai. Biasanna tommuane pacarna naung massulu-sulu di boko"na. Towaine e naung massipa"bo"bo" wai, tappa nalamba di wai. Wattu naung lamba di wai, tiba-tiba ia tipui" (buang angin) tanpa sengaja. Towaine e kaget, tappa nairrangngi di boko"na. Ternyata tommuane pacarna diang dio" pondo"na, ndang jauh dari situ, anna pasti nairrangngi suara tipui"na. Walaupun begitu, duai e massikap biasa-biasa saja. Towaine e lanjut mandoe, massissir, anna ma"ala wai. Tommuane e menunggu di pondo"na sampai sore. Setelah itu, duai e malai massipolo-polo lao di boyanna masing-masing. Wattu towaine e lambi di boyanna, naita kindo"na sedang manette (menenun). Towaine e mamanya: "Indo", apa saja sanga tau mala masiri" di lino""? Kindo"na menjawab, "Banyak, nak. Mesa di antaranna, mua diang tommuane naita towaine dalam keadaan telanjang, iya e siri" tu"u. Biasanna tau diolo" mauangi, mua diang kejadian iya, maka duai e harus dinikahkan karna iya sanga aib keluarga." Towaine e mamanya pole: "Apa pole indo""? Kindo"na menjawab: "Siri" toi mua tau massipau-pau buruk tentang kita, misalnya suka mallaku-laku malam, atau massikap seperti tommuane." Towaine e mamanya pole: "Apa pole indo""? Kindo"na menjawab: "Mua ummande anna ting"ere (bersendawa) di depan tau, iya toi siri". Makanya tau Mandar biasa berhenti makan mua pura ting"ere. Beda siola tau Bugis, mua ting"ere malah lanjut ummande." Towaine e mamanya pole: "Apa pole indo""? Kindo"na menjawab: "Siri" toi mua towaine tipui" anna diirrangngi tommuane." Towaine e kaget mendengar itu, karna ia ingat kejadian di sungai tadi. Ia berkata, "Apa"na siri" toi indo"? Ndang bau toa." Kindo"na menjawab, "Walaupun ndang bau, iya tetap siri"." Setelah mendengar itu, towaine e masuk di dapur. Ia ma"ala sebilah piso, lalu masuk di kamarna. Sebelum itu, ia berkata kepada kindo"na: "Indo", malai diolo"." Kindo"na bertanya, "Malai lao di mana"? Ia menjawab dari dalam kamar, "Pokokna malai jauh. Daa masussa indo"." Ndang lama setelah itu, terdengar suara tangisan anna kesakitan. Ternyata towaine e napake piso e untuk membunuh dirinya. Kindo"na segera berlari ke kamar, sangat terkejut melihat anaknya sudah terbaring penuh darah. Ndang lama, masyarakat di sekitar datang membantu. Di antara mereka ada tommuane pacar towaine e. Ia sangat kaget mengetahui bahwa towaine e bunuh diri hanya karena ia pernah mendengar suara tipui"na di sungai. Akhirna, mayat towaine e dibungkus anna dikubur oleh masyarakat. Carita e menjadi pelajaran tentang betapa kuatna rasa siri" bagi sebagian tau diolo". "Tamma"" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada sebuah cerita lama yang sering diceritakan tentang seseorang yang meninggal karena rasa malu (siri"). Dahulu kala, ada seorang perempuan yang memiliki seorang kekasih laki-laki. Mereka berdua sering berjalan bersama dan mandi di sungai. Perempuan itu biasanya mengambil air, mandi, dan menyikat gigi di sungai tersebut. Suatu hari, perempuan itu pergi mengambil air. Seperti biasanya, kekasih laki-lakinya mengikuti dari belakang. Saat perempuan itu sedang mengambil air dan turun ke sungai, tiba-tiba ia buang angin tanpa sengaja. Perempuan itu terkejut lalu menoleh ke belakang. Ternyata kekasihnya berada tidak jauh dari tempat itu dan pasti mendengar suara buang anginnya. Walaupun demikian, mereka berdua bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Perempuan itu tetap melanjutkan mandi, menyikat gigi, dan mengambil air, sementara laki-laki itu menunggu di tepi sungai hingga sore hari. Setelah itu, mereka pulang bersama lalu berpisah menuju rumah masing-masing. Ketika perempuan itu tiba di rumah, ia melihat ibunya sedang menenun. Perempuan itu lalu bertanya: "Ibu, hal-hal apa saja yang membuat seseorang merasa malu di dunia ini"? Ibunya menjawab, "Banyak, Nak. Salah satunya, jika seorang laki-laki melihat perempuan dalam keadaan telanjang. Orang-orang dahulu mengatakan bahwa jika hal itu terjadi, maka mereka harus dinikahkan karena dianggap sebagai aib keluarga." Perempuan itu kembali bertanya, "Apa lagi, Bu"? Ibunya menjawab, "Malu juga jika orang-orang membicarakan keburukan kita, misalnya suka keluar malam atau bersikap seperti laki-laki." Perempuan itu kembali bertanya, "Apa lagi, Bu"? Ibunya menjawab lagi, "Kalau sedang makan lalu bersendawa di depan orang lain, itu juga dianggap memalukan. Karena itu orang Mandar biasanya berhenti makan setelah bersendawa. Berbeda dengan orang Bugis yang justru tetap melanjutkan makan." Perempuan itu bertanya lagi, "Apa lagi, Bu"? Ibunya menjawab, "Malu juga jika seorang perempuan buang angin lalu didengar oleh laki-laki." Perempuan itu sangat terkejut mendengar jawaban itu karena ia teringat kejadian di sungai tadi. Ia berkata, "Mengapa itu juga memalukan, Bu? Toh tidak berbau." Ibunya menjawab, "Walaupun tidak berbau, itu tetap dianggap memalukan." Setelah mendengar perkataan ibunya, perempuan itu masuk ke dapur. Ia mengambil sebilah pisau lalu masuk ke kamarnya. Sebelum masuk, ia sempat berkata kepada ibunya: "Ibu, saya pergi dulu." Ibunya bertanya, "Mau pergi ke mana"? Ia menjawab dari dalam kamar, "Pokoknya pergi jauh. Jangan sedih, Bu." Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan dan rintihan kesakitan. Ternyata perempuan itu menggunakan pisau tersebut untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ibunya segera berlari ke kamar dan sangat terkejut melihat anaknya sudah terbaring penuh darah. Tidak lama kemudian, masyarakat sekitar datang membantu. Di antara mereka terdapat kekasih laki-laki perempuan itu. Ia sangat terkejut mengetahui bahwa perempuan tersebut bunuh diri hanya karena ia pernah mendengar suara buang anginnya di sungai. Akhirnya, jenazah perempuan itu dibungkus dan dimakamkan oleh masyarakat setempat. Kisah ini menjadi pelajaran tentang betapa kuatnya rasa siri" atau rasa malu bagi sebagian masyarakat pada zaman dahulu. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Fatima Azzahrah
BALENGA BULAWANG (BELANGA EMAS)
Diolo" mai diang mesa carita dongeng yang mala diala hikmahna. Diang mesa pasangan tomawuweng yang sanna kaya. Iya di"e tomawuweng diang tallu ana"na, dan semuanya sudah berkeluarga. Karena sangat menyayangi anak-anaknya, seluruh harta yang mereka miliki bare-bareang nasang lao di ana"na hingga akhirnya habis semuanya. Suatu hari bainena berkata kepada muanena, "Apa yang akan kita lakukan sekarang, karena semua harta kita sudah habis kita berikan kepada anak-anak"? Muanena menjawab dengan harapan bahwa mudah-mudahan anak-anak mereka masih akan memperhatikan orang tuanya karena semua harta telah diberikan kepada mereka. Namun lama-kelamaan anak-anak itu menjadi sibuk dengan keluarga dan pekerjaan masing-masing. Kedua orang tua itu akhirnya tinggal berdua saja di rumah dan tidak lagi mendapat perhatian dari anak-anaknya. Melihat keadaan itu, sang suami mempunyai sebuah rencana. Ia menyuruh istrinya pergi ke pasar untuk membeli balenga lita" (belanga tanah liat). Ketika istrinya bertanya untuk apa belanga itu, sang suami hanya berkata agar ia membelinya saja tanpa banyak bertanya. Setelah belanga itu dibawa pulang, sang suami menggantungnya di atas tapang (plafon) rumah. Ia kemudian berkata kepada istrinya bahwa jika mereka ingin buang air besar, mereka harus naik ke atas plafon dan membuangnya ke dalam belanga tersebut. Beberapa waktu kemudian, sang ayah mulai mengunjungi anak-anaknya satu per satu. Kepada anak pertama ia berkata bahwa di rumahnya ada sambalenga bulawang (satu belanga emas). Emas itu akan menjadi milik anak tersebut jika kedua orang tuanya telah meninggal. Mendengar hal itu, anak pertama sangat senang dan mulai melayani orang tuanya dengan baik, bahkan menyajikan makanan enak seperti sokkol, ketupat, dan berbagai hidangan lainnya. Hal yang sama juga dilakukan kepada anak kedua dan anak ketiga. Akibatnya ketiga anak itu berebut memperhatikan orang tuanya karena masing-masing ingin mendapatkan emas tersebut. Singkat cerita, kedua orang tua itu akhirnya meninggal dunia. Setelah pemakaman selesai, ketiga anak itu berkumpul untuk mengambil belanga yang mereka kira berisi emas. Namun mereka mulai bertengkar karena masing-masing merasa berhak atas harta itu. Akhirnya mereka sepakat memanggil imam untuk membagi harta tersebut. Pada masa itu belum ada kepala desa; yang ada hanyalah imam, khatib, dan bilal. Imam kemudian datang dan menyuruh khatib naik ke atas plafon untuk mengambil belanga itu. Ketika khatib melihat isi belanga tersebut, ia berkata, "Tai!" (kotoran). Namun imam yang berada di bawah salah mengerti dan menyuruh khatib menumpahkannya ke bawah. Khatib kembali berkata bahwa itu kotoran, tetapi imam tetap memerintahkannya untuk menuangkan isi belanga tersebut. Akhirnya isi belanga itu ditumpahkan dan ternyata benar-benar kotoran manusia. Melihat hal itu imam menjadi marah dan berkata bahwa mereka telah berebut sesuatu yang tidak ada nilainya. Dari peristiwa itu mereka akhirnya sadar bahwa orang tua mereka hanya ingin memberikan pelajaran agar anak-anak tidak melupakan orang tuanya setelah memiliki keluarga sendiri. Carita ini mengandung hikmah bahwa seorang anak tidak boleh melupakan orang tuanya, dan orang tua juga sebaiknya tidak menghabiskan seluruh hartanya tanpa memikirkan masa tua mereka. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu terdapat sebuah cerita yang sering dianggap sebagai dongeng, tetapi sebenarnya memiliki banyak hikmah yang dapat dipetik. Dahulu ada sepasang orang tua yang sangat kaya. Mereka memiliki tiga orang anak yang semuanya sudah berkeluarga. Karena sangat menyayangi anak-anaknya, seluruh harta yang mereka miliki sedikit demi sedikit diberikan kepada ketiga anak tersebut hingga akhirnya tidak tersisa lagi. Suatu hari sang istri berkata kepada suaminya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Semua harta kita sudah habis diberikan kepada anak-anak." Sang suami kemudian menjawab dengan penuh harap, "Mudah-mudahan anak-anak kita tetap memperhatikan kita, karena tidak mungkin mereka melupakan kita setelah semua harta kita berikan kepada mereka." Namun seiring berjalannya waktu, ketiga anak mereka menjadi sibuk dengan keluarga dan pekerjaan masing-masing. Mereka jarang lagi memperhatikan kedua orang tuanya yang kini hanya tinggal berdua di rumah. Melihat keadaan itu, sang suami kemudian mempunyai sebuah rencana. Ia berkata kepada istrinya agar pergi ke pasar untuk membeli sebuah belanga yang terbuat dari tanah liat. Ketika istrinya bertanya untuk apa belanga itu, sang suami hanya menjawab agar ia tidak banyak bertanya dan cukup membelinya saja. Setelah belanga itu dibeli dan dibawa pulang, sang suami menggantungnya di atas plafon rumah. Ia kemudian berkata kepada istrinya bahwa jika mereka ingin buang air besar, mereka harus naik ke atas plafon dan membuangnya ke dalam belanga tersebut. Hal itu mereka lakukan setiap kali ingin buang air besar. Beberapa waktu kemudian, sang ayah mulai mengunjungi anak-anaknya satu per satu. Kepada anak pertama ia berkata bahwa di rumahnya terdapat satu belanga berisi emas, dan emas itu akan menjadi miliknya jika kedua orang tuanya telah meninggal. Ia juga berpesan agar anak itu tidak perlu membaginya dengan saudara-saudaranya. Mendengar hal itu, anak pertama sangat gembira dan langsung melayani orang tuanya dengan sangat baik, bahkan menyajikan makanan yang lezat seperti sokkol, ketupat, dan berbagai hidangan lainnya. Hal yang sama juga dilakukan kepada anak kedua dan anak ketiga. Kepada masing-masing anak ia menyampaikan pesan yang sama tentang adanya belanga berisi emas di rumahnya. Akibatnya, ketiga anak itu mulai berlomba-lomba memperhatikan dan merawat orang tua mereka dengan sangat baik. Singkat cerita, kedua orang tua tersebut akhirnya meninggal dunia. Setelah pemakaman selesai, ketiga anak itu berkumpul dan ingin mengambil emas yang ada di dalam belanga tersebut. Namun mereka mulai berselisih karena masing-masing merasa berhak atas emas itu. Akhirnya mereka sepakat untuk meminta bantuan imam agar membagi harta tersebut dengan adil. Pada masa itu belum ada kepala desa seperti sekarang; yang ada hanya imam, khatib, dan bilal yang menjadi pemimpin masyarakat. Imam kemudian datang bersama khatib untuk mengambil belanga tersebut. Ia menyuruh khatib naik ke atas plafon rumah untuk mengambilnya. Ketika khatib sudah berada di atas plafon dan melihat isi belanga itu, ia berkata, "Tai!" (kotoran). Namun imam yang berada di bawah salah memahami kata itu. Ia mengira khatib sedang mengatakan sesuatu yang lain. Imam kemudian berkata, "Kalau begitu, tuangkan saja ke sini." Khatib kembali berkata, "Tai!" tetapi imam tetap menyuruhnya menuangkan isi belanga itu ke bawah. Akhirnya khatib menumpahkan isi belanga tersebut. Ternyata yang jatuh adalah kotoran manusia yang selama ini dikumpulkan oleh kedua orang tua mereka. Melihat kejadian itu, imam menjadi marah dan berkata bahwa mereka semua telah berebut sesuatu yang tidak ada nilainya. Dari situlah mereka sadar bahwa orang tua mereka sebenarnya ingin memberikan pelajaran berharga kepada mereka. Cerita ini mengandung hikmah bahwa seorang anak tidak boleh melupakan orang tuanya, terutama setelah menikah dan memiliki kehidupan sendiri. Di sisi lain, cerita ini juga mengingatkan bahwa orang tua sebaiknya tidak menghabiskan seluruh hartanya tanpa memikirkan masa tua mereka. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Burhan/Caca Andika
I PURA PARA???BUE???
Diolo" mai diang mesa carita tentang Kauseng, ana"na mesa pabicara kayyang (hakim besar) di tanah Mandar. Ayahna dikenal sebagai orang yang selalu mambottui sara (memutuskan perkara) di tengah masyarakat. Pada suatu waktu, Kauseng terlibat dalam perkelahian dengan seseorang hingga orang itu meninggal. Karena perbuatannya tersebut, Kauseng harus diadili sesuai dengan hukum yang berlaku pada masa itu. Kauseng sempat berkata bahwa ia tidak akan dihukum karena ayahnya adalah seorang hakim besar yang biasa memutuskan perkara. Namun setelah perkara itu disidangkan, keputusan yang diambil tetap sama seperti hukum yang berlaku bagi orang lain. Kauseng harus menerima hukuman mati karena ia telah membunuh seseorang. Ketika keputusan itu diumumkan, ibunya sangat sedih dan memohon agar anaknya tidak dihukum mati karena ia adalah satu-satunya anak yang mereka miliki. Ayahnya kemudian menjawab bahwa ia tidak dapat membela anaknya sendiri. Jika ia melakukan itu, maka ia akan merasa masiri" (malu) kepada masyarakat. Dalam adat Mandar, hukum tidak mengenal perbedaan antara keluarga, tetangga, atau orang lain. Siapa pun yang bersalah harus menerima hukuman yang setimpal. Pada masa itu ada dua jenis hukuman. Salah satunya adalah hukuman "pali", yaitu hukuman dengan cara mengikat orang yang bersalah, kemudian dibawa ke laut, ditenggelamkan, dan ditindih dengan batu. Jika hukuman itu dilakukan, maka keluarga tidak akan dapat melihat jenazahnya lagi. Karena itu, ibu Kauseng meminta agar anaknya dihukum mati di atas pangkuannya, sehingga ia dapat melihat anaknya untuk terakhir kalinya. Permintaan itu akhirnya dikabulkan. Ketika waktu pelaksanaan hukuman tiba, Kauseng dibaringkan dengan kepalanya di atas paha ibunya. Ia memandang wajah ibunya dan berkata bahwa waktunya telah tiba untuk meninggalkan dunia. Ibunya dengan penuh kesedihan berkata agar ia bersabar menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Kemudian hukuman dilaksanakan dengan menusuk tubuh Kauseng dari bawah hingga ke atas hingga akhirnya ia meninggal di atas pangkuan ibunya. Setelah itu jenazahnya dimakamkan dan banyak orang yang datang mengantar pemakamannya sambil menangis. Cerita ini menjadi pelajaran bagi masyarakat Mandar bahwa hukum harus ditegakkan dengan adil. Walaupun seseorang memiliki kedudukan tinggi atau memiliki keluarga yang berkuasa, jika ia bersalah maka ia tetap harus menerima hukuman. Itulah nilai keadilan dan siri" yang dijunjung tinggi dalam adat Mandar pada zaman dahulu. Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu terdapat sebuah cerita tentang seorang pemuda bernama Kauseng. Ia adalah anak dari seorang pembicara besar atau hakim yang sangat dihormati di masyarakat Mandar. Ayahnya dikenal sebagai orang yang selalu memutuskan berbagai perkara dan menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat. Pada suatu waktu terjadi sebuah peristiwa besar. Kauseng terlibat dalam perkelahian dengan seseorang hingga akhirnya orang tersebut meninggal. Karena perbuatannya itu, Kauseng harus diadili sesuai dengan hukum yang berlaku pada masa itu. Kauseng sempat berkata bahwa ia tidak akan dihukum karena ayahnya adalah seorang hakim yang memiliki kekuasaan besar dalam memutuskan perkara. Namun setelah perkara itu disidangkan, ternyata keputusan yang diambil tetap sama seperti hukum yang berlaku bagi orang lain. Kauseng tetap harus dihukum mati karena ia telah membunuh seseorang. Ketika keputusan itu diumumkan, ibunya merasa sangat sedih dan memohon kepada suaminya agar anak mereka tidak dihukum mati. Ia berkata bahwa Kauseng adalah anak satu-satunya yang mereka miliki. Ayahnya yang merupakan hakim kemudian menjawab bahwa ia tidak dapat membela anaknya sendiri. Jika ia melakukannya, maka ia akan merasa malu kepada masyarakat karena selama ini ia selalu menegakkan hukum dan keadilan. Dalam adat Mandar, hukum tidak mengenal perbedaan antara keluarga, tetangga, atau orang lain. Siapa pun yang bersalah harus menerima hukuman yang setimpal. Akhirnya keputusan hukuman mati terhadap Kauseng tetap dilaksanakan. Namun ibunya mengajukan satu permintaan terakhir. Ia berkata bahwa jika anaknya memang harus dihukum mati, maka biarlah hukuman itu dilakukan di atas pangkuannya, sehingga ia dapat melihat anaknya untuk terakhir kalinya. Ayahnya menjelaskan bahwa sebenarnya ada dua jenis hukuman pada masa itu. Salah satunya adalah hukuman "pali", yaitu hukuman dengan cara diikat kemudian dibawa ke laut, ditenggelamkan, lalu ditindih dengan batu. Jika hukuman itu dilakukan, maka ibunya tidak akan bisa melihat jasad anaknya lagi. Mendengar penjelasan itu, sang ibu tetap memilih agar anaknya dihukum mati di atas pangkuannya. Pada hari pelaksanaan hukuman, Kauseng dibaringkan di atas pangkuan ibunya. Ia memandang wajah ibunya dan berkata bahwa waktunya telah tiba untuk meninggalkan dunia. Ibunya dengan penuh kesedihan berkata bahwa semua itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri, sehingga ia harus menerima hukuman dengan sabar. Kauseng kemudian ditusuk dari bawah hingga ke atas tubuhnya hingga akhirnya ia meninggal dunia di atas pangkuan ibunya. Setelah itu, jenazahnya dimakamkan. Banyak orang yang datang mengantar pemakamannya dan menangis atas kejadian tersebut. Ibunya pun sangat berduka, tetapi ia menerima kenyataan itu karena hukum harus tetap ditegakkan. Cerita ini menjadi pelajaran bagi masyarakat Mandar bahwa hukum harus ditegakkan tanpa memandang siapa pun, bahkan jika orang yang bersalah adalah keluarga sendiri. Nilai siri" (rasa malu dan kehormatan) menjadi dasar utama dalam menegakkan keadilan pada masa itu. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdi/Agustina
TOMENJARI MINNA' (ORANG MENJADI MINYAK)
Diolo" mai diang mesa carita yang sering dipau-pauangi tomatua" lao di ana"-ana"na. Judulna "To Minjari Minnaq", yang berarti tau yang berubah menjadi minyak. Carita e menceritakan tentang mesa tommuane yang hendak merantau. Iya baru saja siala dengan bainena, bahkan pernikahanna baru berjalan sekitar tallu bongi. Karena baru menikah, iya dua andangi pa diang ana"na. Nanging karena kebutuhan hidup, tommuane e tetap memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Sebelum tommuane e berangkat merantau, iya siola bainena lamba lao ri pasar untuk membeli perlengkapan rumah tangga sebagai bekal. Iya maalli barras, golla, cawe-cawe, anna bahan makanan yang lain. Tappana pura siap semua bekal, tommuane e berangkat merantau dengan perkiraan waktu sekitar mesa taun. Sebelum lamba, iya mappasanna lao bainena, "Da le"ba raung-raung dai" ri boyang e." Bainena pun menjawab dengan patuh, "Iyo." Waktu terus berlalu. Bainena tinggal sendirian ri boyang sambil menunggu muanena kembali. Sedikit demi sedikit semua bekal makanan yang ditinggalkan suaminya habis. Barras, golla, anna bahan makanan lainnya cappu". Yang tersisa hanyalah mesa botol minnaq. Karena lapar yang sangat anna tetap mematuhi pesan suaminya supaya tidak meninggalkan rumah, bainena akhirnya meminum minyak yang tersisa di dalam botol tersebut. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba bainena battang (hamil). Perutna semakin hari semakin membesar. Tau-tau di sekitarna menjadi heran anna mulai mappau-pau tentang keadaan tersebut. Iya berkata, "Mangapa mala battang di"e towaine e, sementara muanena sedang merantau"? Akhirna bainena menjadi bahan pembicaraan di kampung. Kabar tersebut akhirnya sampai kepada muanena di perantauan. Tappana muanena kembali ri kampung anna melihat keadaan bainena yang sedang hamil, iya sangat marah anna berkata, "Mangapa mala battang ko seperti ini, sementara aku tidak pernah menggaulimu selama aku pergi? Atau ada tau laen yang telah menggaulimu"? Bainena menjawab dengan tenang bahwa ndangi diang tau yang menggaulina. Iya berkata bahwa kehamilanna terjadi karena iya pernah meminum mesa botol minnaq yang tersisa di rumah. Nanging muanena ndangi percaya dengan penjelasan tersebut. Bainena kemudian berkata, "Mua indai mupercayai yau, duduk di situ anna ita sendiri apa yang akan terjadi." Kemudian bainena menyanyikan mesa elong kepada anak yang ada di dalam kandunganna, "Ana"u minnaq o minjari, pinjari minnaq mo mendulu." Setelah elong tersebut diulang beberapa kali, perlahan-lahan anak yang ada di dalam kandunganna berubah kembali menjadi minyak di dalam satu botol. Melihat kejadian tersebut, muanena menangis anna berkata, "Berhenti! Aku percaya bahwa anak itu benar-benar berasal dari minyak." Namun semuanya sudah terlambat. Anak tersebut telah kembali ke asalnya menjadi minyak. Tau-tau di sekitar yang menyaksikan kejadian itu berkata, "Ita mi apa yang terjadi, iyamo tanda patuhna bainena lao di muanena." Sejak saat itulah carita tersebut dikenal dengan judul "To Minjari Minna"." "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu ada sebuah cerita yang sering diceritakan oleh para orang tua kepada anak cucu mereka. Cerita tersebut berjudul "To Minjari Minnaq" yang berarti orang yang berubah menjadi minyak. Kisah ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang hendak pergi merantau. Ia baru saja menikah dengan istrinya, bahkan pernikahan mereka baru berlangsung sekitar tiga hari, sehingga mereka belum memiliki anak. Namun karena kebutuhan hidup, sang suami tetap memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Sebelum sang suami berangkat merantau, mereka berdua pergi ke pasar untuk membeli berbagai keperluan rumah tangga sebagai bekal selama sang suami pergi. Mereka membeli beras, gula, cabai, dan berbagai bahan makanan lainnya. Setelah semua kebutuhan rumah tangga telah disiapkan, sang suami pun berangkat merantau ke Kalimantan dengan perkiraan waktu sekitar satu tahun. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada istrinya, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan rumah ini." Sang istri pun menjawab dengan patuh, "Iya." Waktu terus berlalu. Selama hampir satu tahun sang istri tinggal sendirian di rumah sambil menunggu suaminya pulang. Lambat laun semua persediaan makanan yang ditinggalkan suaminya habis. Beras, gula, dan bahan makanan lainnya telah habis dimakan. Yang tersisa hanyalah satu botol minyak di rumah tersebut. Karena rasa lapar yang sangat dan tetap ingin mematuhi pesan suaminya agar tidak meninggalkan rumah, sang istri akhirnya terpaksa meminum minyak yang tersisa di dalam botol tersebut. Beberapa waktu setelah meminum minyak itu, tiba-tiba sang istri mengalami kehamilan. Perutnya semakin hari semakin membesar. Para tetangga yang melihat keadaan itu menjadi heran dan mulai membicarakannya. Mereka berkata, "Bagaimana mungkin perempuan ini bisa hamil, sementara suaminya sedang merantau"? Akhirnya perempuan itu menjadi bahan pembicaraan dan gosip di kampung. Kabar tersebut kemudian sampai kepada sang suami di perantauan. Mendengar kabar bahwa istrinya sedang hamil, sang suami segera pulang ke kampung halamannya. Ketika tiba di rumah, ia sangat marah dan berkata kepada istrinya, "Bagaimana mungkin kamu bisa hamil seperti ini, sementara aku tidak pernah menggaulimu selama aku pergi? Apakah ada orang lain yang telah menggaulimu"? Sang istri dengan tenang menjawab bahwa tidak ada seorang pun yang menggaulinya. Ia berkata bahwa kehamilan itu terjadi karena ia pernah meminum satu botol minyak yang tersisa di rumah. Namun sang suami tidak percaya dengan penjelasan tersebut. Sang istri kemudian berkata kepada suaminya, "Jika kamu tidak percaya kepadaku, duduklah di situ dan lihatlah sendiri." Kemudian sang istri menyanyikan sebuah nyanyian kepada anak yang ada di dalam kandungannya. Ia berkata, "Wahai anakku, karena engkau berasal dari minyak, maka kembalilah engkau ke asalmu, menjadi minyak." Setelah nyanyian itu diulang beberapa kali, perlahan-lahan anak yang ada di dalam kandungannya berubah kembali menjadi minyak di dalam satu botol. Melihat kejadian itu, sang suami menangis dan berkata dengan penuh penyesalan, "Hentikan, aku percaya bahwa anak itu benar-benar berasal dari minyak." Namun semuanya sudah terlambat. Anak tersebut telah kembali menjadi minyak seperti semula. Para tetangga yang menyaksikan kejadian itu pun berkata, "Lihatlah apa yang telah terjadi." Sejak saat itulah kisah tersebut dikenal dengan nama "To Minjari Minnaq", sebuah cerita rakyat yang mengajarkan tentang kepercayaan, kesetiaan, dan akibat dari tidak mempercayai pasangan sendiri. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Subuki/Nasrun Fahmi
LINOR (GEMPA BUMI)
Diolo" mai, kira-kira taun 1968, tepat tangnga allo, diang bencana linor ri tana Mandar. Di wattu di"o, tau-tau yang sementara matindo le"ba langsung ra"musang messo" bangun karena marasa panik. Tau mappauang, "Mangapai jari tigoya-goyang tongan di"e tana"? Guncangan e sangat kuat sehingga mae"di boyang tau yang ropo". Ri daerah Tinambung mae"di tomate karena tertimpa runtuhan boyang. Masigi-masigi pole tomi ropo", nanging Masigi Sepang andiang ropo" anna coppo"na todiang tia bemme". Di wattu di"o diang tau ri lalang masigi yang sementara matindo. Iya langsung ra"musang messung apa material masigi mulai bemme" siappo"-siappo" anna hampir mi iya tertimpa runtuhan. Andiang masae, pole mi lembong kayyang (ombak besar). Saking kayyangna lembong e, diang tau yang ma"ita penampakan tomatua" yang sementara mambaca pa"do-pa"doang ri tangalalanna bencana e. Berkat doa tomatua" di"o anna atas izin Allah SWT, lembong kayyang e perlahan-lahan surut anna menjauh. Di wattu yang sama, uwai meluap anna lita" bakkadzi terbelah-belah. Bunging anna pasir pole ri lalang tana anna marbau kuat. Batang kalapa, kayu-kayu, anna apa-apa yang lain hanyut terbawa uwai. Tau-tau mappauang mua banjir kayyang le"mai ri daerah di"o. Nanging berkat pertolongan Allah SWT, uwai yang meluap e cepatmi surut. Tappana uwai mulai surut, tau-tau mappalomba lao maitai dampak bencana e. Diang tau mambawa kowi" (parang) sebagai persiapan mua uwai kembali meluap. Iya rencana mebattai batang loka untuk dijadikan pelampung supaya mala mberenang lao ri buttu atau tempat yang lebih tinggi. Nanging syukurlah uwai e andangi melambi" ri kampung. Andiang beberapa wattu pole, mae"di tau yang memutuskan manyikkir (mengungsi) apa marasa marakke" anna was-was mua diang linor susulan. Iya lamba manyikkir lao ri Kappung Jawa, yang sekarang nasanga Wonomulyo. Tau-tau lamba secara rame-rame menyeberangi jalan menuju tempat pengungsian. Nanging sebagian tau Sepang tetap tinggal anna ndani melo meninggalkan kampungna. Sementara itu tau ri kampung tetangga, yaitu Lebukang, pole lao ri Sepang dengan tujuan ikut manyikkir. Nanging iya berhenti apa naita masih diang tau Sepang yang tetap tinggal ri kampung. Di wattu di"o diang mesa tokoh masyarakat ri La"mase, sanganna Pua Muhammad, seorang pemuka agama yang sangat disegani tau. Iya mappauang lao tau-tau, "Mua ikau lamba manyikkir, maka iau polemi lao manyikkir ri kampung Sepang." Tappana tau mangngi"i pa"uanganna di"o, mae"di tau yang akhirnya ndani lamba manyikkir. Di tangnga suasana duka di"o, diang tomi tau yang massenda-senda supaya suasana sedikit ringan. Mesa tau mappauang, "Mua lita" Sepang maindong lao, maka iau tomi maindong." Untuk membuktikan pa"uanganna, iya mengambil sedikit lita" Sepang anna napattama ri kantongna, lalu lamba maindong sambil tertawa. Tau-tau yang tetap tinggal ri kampung biasanya langsung messung ri boyang mua marasa takut. Iya meapi di diong boyang apa khawatir mua diang linor yang membuat arriang boyang tigoya-goyang kuat. Kadang-kadang tomi terdengar suara gemuruh yang sangat keras sehingga membuat masyarakat semakin waspada. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, sekitar tahun 1968, tepat pada tengah hari, terjadi bencana gempa bumi besar (linor) di tanah Mandar. Saat kejadian itu, warga yang sedang tertidur pulas langsung terbangun dengan tergesa-gesa dan diliputi rasa panik. Mereka bertanya-tanya mengapa tanah terasa terguncang sangat dahsyat. Banyak rumah penduduk roboh akibat guncangan tersebut. Di daerah Tinambung, banyak korban meninggal dunia karena tertimpa runtuhan rumah. Masjid-masjid juga banyak yang roboh, tetapi masjid yang berada di Sepang tidak runtuh dan kubahnya pun tetap berdiri. Kebetulan saat itu ada orang di dalam masjid yang sedang beristirahat. Dengan panik ia segera berlari keluar karena material bangunan mulai berjatuhan satu per satu dan hampir saja menimpanya. Tidak lama kemudian datang ombak besar yang sangat dahsyat. Besarnya ombak itu membuat sebagian orang melihat seorang tua yang sedang berdoa di tengah bencana tersebut. Berkat doa orang tua itu dan atas izin Allah SWT, ombak besar tersebut perlahan-lahan surut dan menjauh. Sementara itu air meluap bersamaan dengan tanah yang retak dan terbelah. Pasir muncul dari dalam tanah dan mengeluarkan bau yang menyengat. Batang kelapa, kayu-kayu, dan berbagai benda lainnya hanyut terbawa banjir. Banyak penduduk mengatakan bahwa banjir besar telah melanda daerah mereka. Namun berkat pertolongan Allah SWT, air yang meluap itu dengan cepat kembali surut. Setelah air mulai surut, warga berbondong-bondong pergi melihat dampak bencana yang sangat besar tersebut. Sebagian orang membawa parang sebagai persiapan jika air kembali meluap. Mereka berencana menebang pohon pisang untuk dijadikan pelampung agar bisa berenang menuju daerah pegunungan atau tempat yang lebih tinggi. Namun, syukurlah air ternyata tidak sampai masuk ke perkampungan. Beberapa waktu kemudian banyak warga memilih untuk mengungsi karena masih merasa takut dan was-was akan kemungkinan terjadinya gempa susulan. Mereka pergi mengungsi ke Kampung Jawa, yang sekarang dikenal dengan nama Wonomulyo. Dengan kompak mereka berjalan kaki secara beramai-ramai memenuhi jalan menuju tempat pengungsian. Akan tetapi sebagian warga Sepang tetap bertahan dan tidak ingin meninggalkan kampung halamannya. Sementara itu warga dari kampung tetangga, yaitu Lebukang, juga menyeberang ke kampung Sepang dengan tujuan untuk ikut mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun mereka kemudian berhenti dan singgah karena melihat masih ada warga Sepang yang tetap tinggal di kampung tersebut. Pada saat itu salah seorang tokoh masyarakat dari La"mase, yaitu Pua Muhammad, seorang pemuka agama yang sangat dihormati oleh masyarakat (yang juga dikenal sebagai kakek dari Rektor STAIN Majene), berkata kepada masyarakat: "Jika kalian pergi mengungsi, maka saya justru akan kembali dan mengungsi ke kampung Sepang." Mendengar perkataan beliau, banyak orang akhirnya mengurungkan niat untuk mengungsi. Di tengah suasana duka itu, ada pula beberapa warga yang mencoba mencairkan suasana dengan bercanda. Salah seorang di antaranya berkata, "Jika tanah Sepang ini sampai berlari pergi, maka saya juga akan ikut berlari." Untuk membuktikan ucapannya, ia bahkan mengambil segenggam tanah Sepang, memasukkannya ke dalam kantong, lalu berlari sambil tertawa. Warga yang tetap tinggal di kampung biasanya akan segera keluar rumah jika merasa takut. Mereka memasak di bawah rumah karena khawatir jika terjadi gempa lagi yang dapat membuat tiang-tiang rumah bergoyang keras. Kadang-kadang terdengar pula suara gemuruh yang sangat kuat, sehingga membuat masyarakat semakin waspada dan berhati-hati menghadapi kemungkinan gempa susulan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Haeria/Muhammad Qalbinnur Astrawan
TOPOLE SUMOMBAL (ORANG DARI PERANTAUAN)
Di pirang bongi, diang mesa tommuane sanganna Tulisangondo. Iya lambai sumombal maitai pangupan. Di tempat perantauan, sihuppa"i mesa towaine sanganna Dayang. Lamak-lamak, Tulisangondo massunggumi massiala siola Dayang, jari siala mi iya dua. Tappana pura siala, Tulisangondo mappauang lao bainena mua melo na bawai lao dikappunna supaya sitai tomatua"na. Dayang setuju, jari millamba mi iya dua. Tappana lambi ri bihing sasi, Tulisangondo mappauang bainena mittette ri teppi sasi apa iya lamba makkitai lopi yang mala napake lao dikappunna. Tappana i Tulisangondo lamba maitai lopi, polemi mesa towaine sanganna Ca"mehe. Iya cemburui i Dayang apa melo na ala muanena. Ca"mehe na rampas bajunna i Dayang anna napakei. Tappana pura, nabuangi i Dayang naung ri sasi anna iya mittoko ri teppi sasi menggantikan tempatna. Andiang masae, polemi i Tulisangondo mambawa lopi. Apa naita towaine ri teppi sasi napake bajunna bainena, jari langsung naparai tama ri lopi tanpa mappattantu mua iya bainena apa tania. Padahal i Dayang masih mittu"galang ri bihing lopi. Selama lopi millamba, i Dayang tarrus mittu"galang ri sisi lopi lambi lao makkareppu"i kappunna i Tulisangondo. Tappana lambi mi ri kappungna, iya to mappilo gendang sebagai tanda mua diang topole sumombal. Tradisi di kappung iya mua diang pole to sumombal, dipapilo"i gendang supaya pakkappung naissang. Tappana tomatua"na i Tulisangondo mangngi"i suara gendang, mauwang mi, "Ana"u pole sumombal, iyamo pasti iya pole e." Jari siap-siap mi tomatua"na mambuat hidangan anna lamba lao ri sasi mambutui ana"na. Tappana lambi ri sasi, pakkappung mi maharoa mambutui i Tulisangondo siola towaine yang disanga bainena. Apa i Tulisangondo keturunan tomaha"dia (bangsawan), jari disiapkan bewengan (kursi kehormatan) untuk dipindai"i lao di boyang. Bewengan pertama iyamo bewengan bulawang (kursi emas). Nanging Ca"mehe ndangi melo mindai apa naissang iya tania keturunan tomaha"dia. Penda"duanna, dibawai bewengan salaka (kursi perak), nanging tetap ndangi melo mindai. Tomatua"na i Tulisangondo mulai curiga apa toapai tia towaine e. Pettallunna, dibawai bewengan poppokan, kursi untuk to biasa. Baru mi Ca"mehe melo mindai apa setara na tomi tia na kita. Di"o mulai tomatua"na i Tulisangondo naissang mua iya tania towaine yang pantas jadi bainena ana"na. Sangga mesa allo, Tulisangondo siola Ca"mehe lamba mandiu. Tomatua"na i Tulisangondo masang sea" jonga (jebakan rusa) ri jalan apa melo na sea" di"e towaine. Andiang masae, Ca"mehe kena jebakan e. Tomatua"na i Tulisangondo mappauang lao pakkappung supaya daging jonga dipolong-polong anna dipatama ri tallang. Nanging sebenarnya iyamo dagingna i Ca"mehe. Tappana punno mi tallang, napapessi anna dikiring lao ri tomatua"na i Ca"mehe. Di"o i Ca"mehe matemi. I Tulisangondo ndangi naissang apa yang sebenarnya terjadi, jari nasanga bainena le"ba mate. Di"o mulai i Tulisangondo hidup sebagai duda". "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu hiduplah seorang laki-laki bernama Tulisangondo. Ia merantau untuk mencari kehidupan. Di perantauan ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Dayang. Lama-kelamaan mereka saling mencintai hingga akhirnya menikah. Setelah menikah, Tulisangondo mengajak istrinya pulang ke kampung halamannya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, dan Dayang pun menyetujuinya. Ketika mereka sampai di tepi pantai, Tulisangondo meminta Dayang menunggu di sana karena ia akan mencari perahu untuk pulang ke kampungnya. Saat Tulisangondo pergi mencari perahu, datanglah seorang perempuan bernama Ca"mehe. Ia merasa iri kepada Dayang karena ingin memiliki suami Dayang. Ca"mehe kemudian merampas pakaian Dayang dan memakainya. Setelah itu Dayang didorong ke laut, sementara Ca"mehe duduk di tepi pantai menggantikan posisi Dayang. Tidak lama kemudian Tulisangondo datang membawa perahu. Karena Ca"mehe mengenakan pakaian istrinya, Tulisangondo mengira bahwa perempuan itu adalah Dayang. Ia pun mengangkat Ca"mehe ke dalam perahu tanpa memastikan wajahnya. Sementara itu Dayang yang sebenarnya sempat memegang sisi perahu dan bertahan sepanjang perjalanan hingga mereka sampai di kampung. Ketika perahu mendekati kampung, Tulisangondo memukul gendang sebagai tanda bahwa ada perantau yang pulang. Hal itu memang menjadi tradisi masyarakat setempat. Mendengar suara gendang tersebut, orang-orang kampung mulai berdatangan, termasuk ibu Tulisangondo yang berkata, "Anakku yang pergi merantau pasti telah kembali." Ia pun menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut anaknya. Setelah Tulisangondo tiba di pantai, orang tuanya sangat bahagia karena melihat anaknya pulang bersama seorang perempuan yang mereka anggap sebagai istrinya. Karena Tulisangondo berasal dari keluarga bangsawan, maka disiapkan kursi kehormatan untuk dipikul menuju rumahnya. Kursi pertama yang dibawa adalah kursi emas, tetapi Ca"mehe menolak duduk di atasnya karena merasa dirinya tidak pantas. Kemudian dibawakan kursi perak, tetapi ia juga menolaknya. Akhirnya dibawakan kursi biasa yang diperuntukkan bagi orang dari kalangan rendah. Kali ini Ca"mehe bersedia duduk di atasnya. Dari situlah orang tua Tulisangondo mulai curiga bahwa perempuan itu bukanlah menantu yang sebenarnya. Suatu hari Tulisangondo dan Ca"mehe pergi mandi. Ibu Tulisangondo kemudian memasang jebakan rusa di jalan dengan harapan perempuan itu akan terkena jebakan tersebut. Tidak lama kemudian Ca"mehe benar-benar terperangkap dalam jebakan itu. Orang tua Tulisangondo kemudian memerintahkan orang-orang untuk memotong "daging rusa" dan memasukkannya ke dalam bambu. Padahal yang dimaksud sebenarnya adalah tubuh Ca"mehe. Setelah bambu itu penuh, bambu tersebut dimasak dan kemudian dikirim kepada orang tua Ca"mehe. Sementara itu Tulisangondo tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Ia mengira istrinya telah meninggal, sehingga sejak saat itu ia hidup sebagai seorang duda. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh
ANNANGGURU ANNA PUA' IMAM (GURU DAN IMAM)
Diang di"o mesa kisah, kisahna puang imam. Biasanna, puang imam laoi massambayang lao di masigi anna maimanni jamaah. Tappana melo mi massambayang, pole di"o mesa annangguru. Puang imam nasiomi annangguru di"e ma"imammi jamaah, nanging annangguru indai melo apa na melo mappeissanni bacaan Qur"anna. Singkat carita, iyya mi puang imam maimanni jamaah. Tappana selesai massambayang, annangguru ma"uang lao puang imam, "Aih, mai"di le"ba duapai salahta", Puang Imam." Puang imam ma"uang, "Iye, bassa di"e annangguru, sebaikna iyya"u na meannangguru lao di"o." Annangguru ma"uang, "Memang tu"u di"e. Iyya mi tujuan-ku." Jari cocokmi. Annangguru ma"uang pole, "Inggaimo rolo lao di boyang istirahat." Jari lamba mi lao di boyangna puang imam. Di boyangna, annangguru dipande, diparundu, anna dipatindo. Tappana nalambi" wattu massambayang, annangguru melo mandoe". Naung mi lao di lembang, apa diang diong passauang. Dipirang bongi, andi" pa riang po"angang mattare" wai. Annangguru mandoe", na laimi rekeng parrewana, na pattungang di batu. Tiba-tiba pole macang amba, na wokko" poko", na cappu", na sembur mai parrewanana. Annangguru meita anna ma"uang, "Aih, tappa me"illong! Apa nariang macang dini? Sigao, Puang Imam! Meande tu"u di"e macang!" Tappana pole puang imam, na beso talinganna macang di"e anna ma"uang, "Da"a namala mu anu di"e annangguru! Tu"u di"e annangguru." Singkat carita, pura mi mandoe" annangguru, napake pole bayunna, sokko"na, anna sola mi puang imam mule lao di boyang. Annangguru ma"uang, "Seharusna iyya"u na meannangguru mating lao di"o, apa andi" tania i"o, maande kapang di"o macang." Puang imam ma"uang, "Inna bassa di"e? Seharusna iyya"u na meannangguru lao di"o." Nanging annangguru ma"uang, "Indani, iyya"u na meannangguru mating." Jari, dalam kisah di"e, andi" tau mala sipandang enteng. Tappana meita tau, da"a tau ma"uang, "Apa toi tia na issang"? Apa sabban tau diang pangissangan anna kaunggulan masing-masing. Iya mi caritana. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada sebuah kisah tentang seorang imam. Seperti biasa, beliau pergi ke masjid untuk mengimami para jamaah. Ketika salat hendak dimulai, datanglah seorang guru. Imam tersebut kemudian meminta guru itu untuk mengimami jamaah, tetapi sang guru menolak karena ia ingin mendengarkan bacaan Al-Qur"an. Singkat cerita, imam itulah yang akhirnya mengimami salat berjamaah. Setelah salat selesai, guru tersebut berkata, "Aduh, masih ada beberapa kesalahan dalam bacaan Anda, Pak Imam." Imam pun menjawab dengan rendah hati, "Kalau begitu, sebaiknya saya belajar kepada Anda." Guru itu pun berkata, "Memang itu tujuan saya." Mereka pun sepakat. Guru kemudian diajak ke rumah imam untuk beristirahat. Di sana ia dijamu dengan makanan, minuman, dan diperlakukan dengan baik. Menjelang waktu salat berikutnya, guru tersebut ingin mandi. Ia pergi ke sungai karena di sana terdapat sumur. Pada zaman dahulu belum ada mesin untuk menarik air. Setelah sampai, ia melepas pakaiannya dan meletakkannya di atas sebuah batu. Tiba-tiba datang seekor macan yang menggigit dan menghamburkan pakaiannya. Guru itu pun terkejut dan berteriak, "Mengapa ada macan di sini? Cepat ke sini, Pak Imam! Nanti saya dimakan!" Imam segera datang, lalu menarik telinga macan itu sambil berkata, "Jangan sekali-kali kamu ganggu orang ini. Dia adalah seorang guru." Singkat cerita, guru tersebut selesai mandi, mengenakan kembali pakaiannya beserta kopiahnya, lalu mereka pulang bersama ke rumah imam. Di perjalanan, guru berkata, "Sepertinya justru saya yang harus belajar kepada Anda. Kalau bukan karena Anda, mungkin saya sudah dimakan macan." Namun imam menjawab, "Bagaimana mungkin? Seharusnya saya yang belajar kepada Anda." Guru pun tetap berkata bahwa dialah yang seharusnya belajar. Dari kisah ini kita belajar bahwa kita tidak boleh meremehkan siapa pun. Ketika melihat orang lain, jangan sekali-kali berkata, "Apa yang dia tahu"? Setiap orang memiliki kelebihan dan pengetahuan masing-masing. Demikianlah ceritanya. Terima kasih. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Sukur
TOMENJARI LUYUNG (ORANG MENJADI DUYUNG)
Iyarie carita tentang tau kindo Pader anna kama Pader na" diang da"dua ana": mesa keccu anna mesa kayyang. Di mesa allo, kindo"na manette, sedangkan kama"na lao ri umau (kebun). Sebelum lao, kama"na ma"pesan, "Mua lappo"o lao diumau anna ana"mu miarra melo naande bau, dangan mubengani." Kindo"na ma"uwani "Iyo." Tapi ana"na miarra sannal melo naande bau, sehingga kindo"na indani tahan, dipabenganni anna napande. Indani masae pole kama"na, maita bau indani diita. Ia ma"uwani, "Innai pa"da bau di tapane"? Kindo"na ma"jawab, "Upande tori ana"mu apa miarra sannali." Kama"na marah, naweso panette"na anna nawisa ulunna kindo"na. Alawena sassigi maendon sau ri tasi, anna sassigi maendon dai ri langi". Ana" kayyang miarra melo sumusu adinna, jari ia lao ri tasi, nabawa adinna, anna maelong ri biring bonde", "Kindo" to menjari luyung, pasusuana kandi"u, indau ulle nasangian bongi allo." Pittallun ia maelong, pole tongan kindo"na menjari luyung, mimbale-balelo anna napasusu ana"na. Pura napasusu, kindo"na ma"uwani, "Pittallunmu ana", apa mua ganna, indanmo mala mai, apa iyau menjari luyung tongan." Mua ganna pittallun, kindo"na indani pole mai. Sebelum pole ri tasi, kindo"na ma"pasang, "Mua adimmu miarra, susuri biring lemo, ala bukunna pambe, tuttumi lao batu, perasa tama nganganna kandi"mu." Ana" kayyang malao, mitai buku pambe, natuttu anna naparrawi tama nganganna adinna. Pittallun ia mapia adinna. Di lalan, ia maita boyang keccu, anna mangaku ri inene". Inene" iyamo tau paande ate. Allo-allo inene" ma"tanya, "Miapami atemu appo"? Ia ma"jawab, "Iyau mane ingga"na lemo-lemo, adikku mane ingga"na beau." Lambisan lao, atena naeke, jari inene" napasirri bumbu apa melo maande ate-ate ana"na. Inene" ma"pesan, "Jagai bumbu"ku, dangan manu maande." Ana" ma"jaga, anna ma"uwani ri manu supaya indani maande. Pittallun ia ma"uwani. Pole kalowaya anna ma"uwani, "Indani tu"u bumbu manu, tapi bumbu ate-mu." Ana" anna adinna marakke. Kalowaya ma"petunjuk, "Ala pitu tungau, mesa di ba"ba, mesa di kamar, mesa di dapur, mesa di lalan, jari mua inene" metta", tungau ma"jawab." Tongan, tungau ma"jawab tiap inene" ma"tanya. Sebelum lao, tungau ma"pasang, "Mua muannaek ri coppo boyang, ala passe, parrassan, anna soro." Mua inene" ma"naek, ana"na ma"annaek ri coppo boyang. Inene" ma"jollo"rai, tapi ana" natudang parrassan anna nateke ulunna inene", jari mate. Ana" ma"doa, "Puang, turunmai tangga ri langi"." Pole tangga, ia ma"naek ri langi" siola adinna. Ri langi", ia maita tau mattimpa ase. Ia ma"uwani, "Daeng, bengana ande adikku apa miarra." Tau iyamo ma"pissanni mara"dia. Mara"dia ma"bengani ande, anna ma"uwani supaya siola-ola ri boyangna. Mesa wattu, ana" maita tanda ri ulunna mara"dia rapang tanda ri ulunna kindo"na dolo. Ia miarra. Mara"dia ma"uwani, "Iyau tu"u kindo"mu." Jari siola-olami. Kama"na pole tongan ri langi" melo siola baine"na. Baine"na ma"ujian, "Ala wai ri karajin mua mala muannaek." Kama"na ma"doa, anna karajin indani bocor. Ujian kaduanna, mappile ande ri pitu pindang. Lali" ma"petunjuk pindang na" napile. Ujian katallunna, mappile kelambu ri bongi. Kucing ma"petunjuk kelambu na" masukke. Kama"na rapang pitu ujian, jari siola-olami siola ana"na, bahagia sappa-sappa. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang dikenal sebagai Ibu Pader dan Bapak Pader. Mereka memiliki dua orang anak, satu masih kecil dan satu sudah besar. Pada suatu hari, ketika sang ibu sedang menenun dan sang ayah hendak pergi ke kebun, ia berpesan agar jika anak mereka menangis meminta ikan, jangan diberikan. Ibu mengiyakan. Namun, anak mereka menangis sangat keras ingin makan ikan itu, sehingga ibu tidak tega dan akhirnya memberikannya. Tidak lama kemudian sang ayah pulang dan mendapati ikan tersebut sudah habis. Ketika mengetahui bahwa istrinya telah memberikannya kepada anak mereka, ia marah besar dan dalam kemarahannya ia menebas kepala istrinya. Sebagian tubuh sang ibu jatuh ke laut dan sebagian lagi ke langit. Anak yang besar kemudian membawa adiknya ke tepi laut karena adiknya menangis ingin menyusu. Ia bernyanyi memanggil ibunya yang telah menjadi duyung agar datang menyusui adiknya. Tiga kali ia bernyanyi, dan sang ibu pun muncul dari laut dan menyusui anaknya. Sebelum kembali ke laut, ibunya berpesan bahwa ia hanya bisa datang tiga kali saja karena ia telah menjadi duyung sepenuhnya. Jika adiknya menangis lagi, carilah sisa tebu di tepi sungai, tumbuk dan peraslah airnya ke mulut adiknya. Anak itu pun melaksanakan pesan tersebut. Dalam perjalanannya, ia menemukan sebuah rumah kecil milik seorang nenek yang ternyata pemakan hati manusia. Setiap hari nenek itu bertanya tentang keadaan hati mereka, hingga suatu saat ia merasa hati mereka sudah cukup besar untuk dimakan. Nenek itu pun menyiapkan bumbu masakan dan menyuruh cucunya menjaga agar ayam tidak memakannya. Seekor burung kalowaya datang dan memperingatkan bahwa bumbu itu bukan untuk ayam, melainkan untuk memasak hati mereka. Burung itu memberi petunjuk agar mereka menaruh tujuh tungau di berbagai tempat di rumah supaya menjawab saat nenek memanggil. Ketika nenek datang dan mencari mereka, tungau-tungau itu menjawab seolah-olah anak itu berada di berbagai tempat. Sementara itu, anak tersebut naik ke atas atap rumah. Ketika nenek memanjat hendak menangkap mereka, anak itu menjatuhkan alat-alat tajam hingga akhirnya mengenai kepala nenek dan ia pun meninggal. Anak itu lalu berdoa agar diturunkan tangga dari langit, dan tangga itu pun turun. Ia naik ke langit bersama adiknya. Di langit, ia bertemu dengan seorang penguasa yang kemudian memberi mereka makan dan tempat tinggal. Suatu hari, ketika membantu membersihkan rambut sang penguasa, anak itu melihat bekas luka yang sama dengan luka ibunya dahulu. Ia pun menangis dan akhirnya mengetahui bahwa penguasa itu adalah ibunya sendiri yang telah menjadi sosok mulia di langit. Mereka pun hidup bersama kembali. Tak lama kemudian, sang ayah juga sampai ke langit dan ingin kembali bersama istrinya. Sang istri memberinya beberapa ujian, seperti mengambil air dengan keranjang yang bocor, memilih makanan yang benar dari tujuh hidangan yang sama, dan memilih kelambu yang tepat di antara tujuh yang serupa. Dengan pertolongan tanda-tanda alam seperti lalat dan kucing, sang ayah berhasil melewati semua ujian tersebut. Akhirnya, keluarga itu pun bersatu kembali dan hidup bahagia bersama. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Kubia/Lutfia
APPE BANUA KAIYYANG (EMPAT BENUA BESAR)
Iyamo riya carita kronologis terbentukna Appe Banua Kaiyyang. Maneanna diang to pole mettule secara total mappau tentang histori anna kronologis terbentukna lembanga Appe Banua Kaiyyang. Alhamdulillah, Appe Banua Kaiyyang mettama di arayang Balanipa, rapangi appe provinsi, anna masing-masing ana" banua na tallu. Napo ana" banua na Lemosusu, Renggeang, anna Balanipa; Samasundu ana" banua na Mara"dia Lembang, Pappuangang Salarri, anna Pappuangang Jemarang; Mosso ana" banua na Mara"dia Pambusuang, Mara"dia Lombok, anna Mara"dia Batu; Todang ana" banua na Mara"dia Timbu, Mara"dia Batulaya, anna Mara"dia Pendulang. Jadi jumlahna sappulo da"dua ana" banua, apa si masing-masing tallu. Wilayah awalna Arayang Balanipa indani langsung terbentuk sekaligus. Awal mulana, Napo anna Samasundu dolo terbentuk. Ruai maroca di para tomakaka, diang to setuju anna diang to indani setuju. To setuju ma"uwani melo mua tau siola-ola anna siola mupakat, sedangkan to indani setuju ma"uwani takut mua iyyamo na kuat. To setuju diolo iyamo Pappuangang Mosso, Tomakaka Ponding, anna Tomakaka Tammengundur To Matindo di Parabaya. Akhirna terbentuk Appe Banua Kaiyyang, anna to setuju dolo iyamo Mosso anna Todang, iya tu"u na dipendoloi Napo, Samasundu, Mosso, anna Todang. Appe Banua Kaiyyang rapangi provinsi di Indonesia. Diolo, Arayang Balanipa iyamo kerajaan Islam, kepala negaranna raja. Fungsina Appe Banua Kaiyyang da"dua: me"oro ri alle wuang anna me"oro ri paretta. Me"oro ri alle wuang rapangi Dewan Perwakilan Rakyat, sedangkan me"oro ri paretta rapangi gubernur. Jumlah sokkoada na sappulo. Di Napo da"dua, iyamo Pappuangang Saleko anna Pappuangang Buyung. Di Samasundu da"dua, Pappuangang Pangale anna Pappuangang Camba (Hasan Basri). Di Mosso tallu, iyamo Pappuangang Bulewangang, Pappuangang Masaleppa, anna Pappuangang Lemo Tallu. Di Todang tallu, iyamo Pappuangang Todang Lulua, Pappuangang Jurangang Tangnga, anna Pappuangang Todang Tappalaus. Sokkoada diangkat oleh tomauweng (to dituakan) masing-masing wilayah. Punggawana Appe Banua Kaiyyang iyamo Puang Limboro, rapangi ketua DPR/MPR pusat diolo. Appe Banua Kaiyyang indani berarti banua keccu, apa indani diang pa"uangang banua keccu. Tugasna melaksanakan pemerintahan kebawah anna mengangkat Mara"dia (raja) sebatas nappesokkoi (pemahkotaan). Prosesi penobatan raja da"dua tahap: pemahkotaan anna pelantikan. Mua purai nappesokkoi ri Pappuangang Napo anna seterusna, Puang Limboro mallanti raja, rapangi sumpah presiden oleh ketua DPR/MPR. Batas tugasna di legislatif sebatas nappesokkoi sesuai adat anna rentetan na papia. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Inilah cerita kronologis terbentuknya Appe Banua Kaiyyang. Baru kali ini ada yang datang menanyakan secara menyeluruh mengenai sejarah dan proses terbentuknya lembaga Appe Banua Kaiyyang. Alhamdulillah, Appe Banua Kaiyyang termasuk dalam wilayah Kerajaan Balanipa, yang dapat dianalogikan seperti empat provinsi, dan masing-masing memiliki tiga anak banua (wilayah bawahan). Napo memiliki tiga anak banua, yaitu Lemosusu, Renggeang, dan Balanipa. Samasundu memiliki Mara"dia Lembang, Pappuangang Salarri, dan Pappuangang Jemarang. Mosso memiliki Mara"dia Pambusuang, Mara"dia Lombok, dan Mara"dia Batu. Todang memiliki Mara"dia Timbu, Mara"dia Batulaya, dan Mara"dia Pendulang. Dengan demikian, jumlah seluruhnya ada dua belas anak banua karena masing-masing wilayah memiliki tiga. Pada awalnya, wilayah Kerajaan Balanipa tidak langsung terbentuk sekaligus menjadi Appe Banua Kaiyyang. Awalnya hanya Napo dan Samasundu yang lebih dahulu terbentuk. Namun kemudian terjadi perbedaan pendapat di kalangan tomakaka (pemuka adat); ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Yang setuju berpendapat bahwa persatuan akan memperkuat kebersamaan, sedangkan yang tidak setuju khawatir bahwa persatuan itu akan menjadikan mereka terlalu kuat. Tokoh yang pertama menyetujui adalah Pappuangang Mosso, yaitu Tomakaka Ponding, serta Tomakaka Tammengundur To Matindo di Parabaya. Pada akhirnya, Mosso dan Todang turut menyetujui, sehingga disebutlah Napo, Samasundu, Mosso, dan Todang sebagai Appe Banua Kaiyyang. Kedudukan Appe Banua Kaiyyang dapat dianalogikan seperti provinsi di Indonesia. Pada masa itu, Kerajaan Balanipa adalah sebuah kerajaan Islam dengan raja sebagai kepala negara. Appe Banua Kaiyyang memiliki dua fungsi utama, yaitu me"oro ri alle wuang (fungsi permusyawaratan/perwakilan rakyat) dan me"oro ri paretta (fungsi pemerintahan). Fungsi pertama dapat disamakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat, sedangkan fungsi kedua serupa dengan gubernur. Jumlah sokkoada (pejabat wilayah) ada sepuluh. Di Napo ada dua, yaitu Pappuangang Saleko dan Pappuangang Buyung. Di Samasundu ada dua, yaitu Pappuangang Pangale dan Pappuangang Camba (sekarang dikenal sebagai Hasan Basri). Di Mosso ada tiga, yaitu Pappuangang Bulewangang, Pappuangang Masaleppa, dan Pappuangang Lemo Tallu. Di Todang juga ada tiga, yaitu Pappuangang Todang Lulua, Pappuangang Jurangang Tangga, dan Pappuangang Todang Tappalaus. Sokko" ada" diangkat oleh para tetua adat (orang yang dituakan) di masing-masing wilayah. Pemimpin Appe Banua Kaiyyang adalah Puang Limboro, yang kedudukannya dahulu dapat dianalogikan seperti Ketua DPR/MPR pusat. Appe Banua Kaiyyang bukanlah wilayah kecil, dan tidak ada istilah banua kecil di dalamnya. Tugasnya melaksanakan pemerintahan ke bawah serta mengangkat Mara"dia (raja) sebatas pada prosesi pemahkotaan (nappesokkoi). Dalam penobatan raja terdapat dua tahapan, yaitu pemahkotaan dan pelantikan. Setelah prosesi pemahkotaan dilakukan oleh Pappuangang Napo dan seterusnya sesuai adat, maka Puang Limboro melantik raja tersebut, sebagaimana pelantikan presiden yang disumpah oleh Ketua DPR/MPR. Adapun batas kewenangan Appe Banua Kaiyyang dalam bidang legislatif adalah sampai pada prosesi pemahkotaan sesuai dengan tata adat yang berlaku. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Muh. Amin Daud/Aprilya
SEPIKUL
Diang mesa kisa disanga Sepikul. Wattu nalahiranna, pa"andena masih sappidang piring. Namun allo demi allo, maingganna Kaiyyang, pa"andena pole maidi, lambi sanga sepikul. Tomatua-na maung: "Apa di"e to anak ue? Allo pale, pa"andena makin maidi." Akhirna, nasaba" makurang daya, tomatua-na nabawami lao pangale (hutan) anna napellei di"o. Sepikul ndan mala putus asa. Naita di"o taggalalan (jalan hidup). Nabuka uma, mattura" anna mananam rupa-rupa tura-tura yang disukai olo-olo ciptaan Pongata"ala. Wattu panen lambi, naillonganni: "Olo-olo Pongata"ala, mai mi pa"ande di pangale"u. Ande"mi anu mu suka." Lambi rombongan olo-olo: gajah, manu-manu, rusa, siola rupa-rupa binatang. Nasang ande" di uma Sepikul. Mesa wattu, latto anakna raja lao pangale. Naita Sepikul, anna mauan: "Ceh, anak siapai di"e? Malolo bega"." Anak raja pun mellaui lao kerajaanna anna maung ri ammana: "Ama", di pangale diang mesa tau malolo bega". Yau melo" ma ala"." Raja maung ri Sepikul: "Mua tongan mu melo" siolangan anakku, laksanakan pa"parenttaku." Raja pun mappau pa"parentta" berat-berat, supaya Sepikul ndan mala. Parentta" pertama, Sepikul disanga: "Turang bue"eh di pangale di lalanna mesa allo." Sepikul naillonganni manu-manu: "Tulung a", laksanakan pa"parentta" raja." Manu-manu maung beribu-ribu, natturang bue"eh di pangale dalam mesa allo. Parentta" kadua, raja maung: "Mua muissang pindanna anakku selama main, siap tongan mu sialangan." Sepikul maung: "Sanggup, Raja." Raja napopong ma atus-atus koyokan (kutu) ri anakna. Namun Sepikul naissang nasaba" ma bisik ri inna petoppana. Iyya mo naissang koyokanna. Parentta" katallu, raja maung: "Mua muissang kamar anakku di antara ma atus kamar, baru mu sialangan." Sepikul maung: "Sanggup, Raja." Sepikul naillonganni posa (kucing): "Tulung a", ciumi kamar anak raja." Posa nalampa-lampa, naciummi tiap kamar. Akhirna naissang kamarna anak raja, nasaba" bau manisna. Sepikul pun berhasil laksanakan sagala parentta" raja. Raja maung: "Tania to biasa di"e Sepikul. Patut siolangan anakku." Akhirna, Sepikul siolangan anak raja anna maruppa" bahagia. Iyamo ri"e kisa Sepikul. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada sebuah cerita tentang seorang anak bernama Sepikul. Sejak kecil, ia memiliki nafsu makan yang sangat besar. Saat lahir, ia makan satu piring, tetapi semakin hari porsinya semakin bertambah hingga mencapai satu pikul. Orang tuanya berkata: "Bagaimana ini? Setiap hari makannya semakin banyak." Karena merasa tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhannya, orang tuanya membawa Sepikul ke hutan dan meninggalkannya di sana. Namun Sepikul tidak menyerah. Ia membuka lahan, membuat kebun, dan menanam berbagai tanaman yang disukai hewan-hewan ciptaan Allah SWT. Ketika panen tiba, ia memanggil semua hewan: "Wahai hewan-hewan ciptaan Allah, datanglah ke kebunku. Makanlah apa yang kalian suka." Datanglah berbagai hewan, seperti gajah, burung, rusa, dan lainnya. Suatu hari, anak raja datang ke hutan dan melihat Sepikul. Ia berkata: "Anak siapa ini? Sangat tampan." Anak raja itu kembali ke istana dan berkata kepada ayahnya: "Ayah, di hutan ada seorang pemuda yang sangat tampan. Aku ingin bersamanya." Raja pun memanggil Sepikul dan berkata: "Jika engkau ingin menikah dengan anakku, laksanakan semua perintahku." Raja memberi beberapa tugas yang sangat berat. Tugas pertama, Sepikul diperintahkan memindahkan buah-buahan dari hutan dalam satu hari. Ia meminta bantuan burung-burung. Datanglah ribuan burung dan dalam satu hari semua buah berhasil dipindahkan. Tugas kedua, raja berkata: "Jika engkau tahu tanda pada tubuh anakku saat ia sedang bermain, barulah engkau pantas menikahinya." Raja telah menaburkan ratusan kutu di tubuh anaknya. Namun Sepikul berhasil mengetahuinya karena mendapat petunjuk secara diam-diam. Tugas ketiga, raja berkata: "Jika engkau dapat menemukan kamar anakku di antara ratusan kamar istana, maka engkau akan menikahinya." Sepikul meminta bantuan seekor kucing untuk mencium dan mencari kamar sang putri. Akhirnya kamar itu ditemukan. Karena berhasil menyelesaikan semua tugas, raja berkata: "Engkau bukan orang biasa. Engkau pantas menjadi menantuku." Akhirnya Sepikul menikah dengan anak raja dan hidup bahagia. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh M. Tahir/Sahrul
ASAL-USUL ANJORO (KELAPA)
Diolo mai, di mesa engean di birinna sasi yang sepi anna jauh dari karamaian, tuei masyarakat yang indang maidi maissang tentang tumbuh-tumbuhan seperti tau di zaman di"e. Alam iyamo oroatta yang panno tanda, sara", anna cerita yang diwariskang dari nganga ke nganga. Mesa cerita yang sering napauangi para tomauweng iyamo kisah tentang asal-usulna anjoro. Di masa diolo mai, masyarakat indang maissang isanga "anjoro" (kelapa). Iyya tia naissang bahwa di birinna sasi, di beberapa engean, muncul tura-tura aneh yang sebelumnya indang diang. Pittiponna, tau maita bayang-bayangan seolah-olah muncul dari ilalang ilita. Bayangan iyya ri"o perlahan-lahan tue dai. Allo demi allo semakin jelas, hingga akhirnya muncul tunas yang tue mealinggau (menjulang) ke atas. Sebagian tau naharai bahwa iyya ri"o peristiwa kebetulan dari alam. Namun, sebagian tau percayai bahwa iyya ri"o kejadiango diang maknana yang mendalam. Napercayai bahwa tumbuhan iyya ri"o asalna dari peristiwa Kaiyyang diolo mai. Konon, di engean iyya ri"o ruai dikubur tau yang sangat mulia. Diang kepercayaan bahwa ulunna tau iyya ri"o disimbolkan sebagai "ulunna Nabi" menjadi asalna ponna ayu iyya ri"o. Dari kata "ulu" (kepala) kemudian muncul isanga yang menyerupai kata "anjoro", meskipun pada masa iyya ri"o masyarakat indang maissang jelas sanganna. Seiring waktu, tumbuhan iyya ri"o semakin maidi di biring-biring sasi. Buana berserakan, nabawai arusna laut, anna tue dai pole di engean laing. Ponna ayu iyya ri"o makasau sannal, malai bertahan di kassi anna di wai masing (air asin). Namun masyarakat indang maissang sanganna anna apa guna na. Iyya ri"o naangga"i sebagai misteri alam yang diwariskang oleh tomauwwetta diolo mai. Hingga di mesa allo, pole mesa tau dari tana Jawa maake perahu. Na singgah di birinna sasi, na maita buana berserakan anna ponna ayu mealinggau yang indang diurus. Na mamanya: " "Apa sanganna di"e bassai? Mengapa dibiarkan begitu saja"? Masyarakat mambali mamanya: " "Apa sebenarnya benda di"e"? Tau Jawa iyya ri"o mesenyum anna nawalangi: " "Di tana kami, iyya ri"e disanga anjoro (kelapa)." Sejak iyya ri"o, masyarakat mulai maissang sanganna anjoro. Mulai toi napahami bahwa tumbuhan iyya ri"o maidi palakana guna na: wainna malai dirundu, issinna malai diande, anna batanna siola daunna malai dipake untuk kebutuhanta tue. Iyamo tu asal-usulna anjoro. Cerita iyya ri"o tetap tue, tania sangga kisah tentang tumbuhan, tetapi mala toi sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, anna kepercayaan para tomauwwetta. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada masa lampau, di sebuah wilayah pesisir yang sunyi dan jauh dari keramaian, hiduplah masyarakat yang belum banyak mengenal tumbuh-tumbuhan sebagaimana yang dikenal manusia pada masa kini. Alam menjadi ruang yang penuh tanda, isyarat, dan cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Salah satu kisah yang paling sering diceritakan oleh para tetua adalah tentang asal-usul kelapa. Pada masa itu, masyarakat belum mengenal kata "kelapa". Mereka hanya mengetahui bahwa di tepi laut, pada beberapa tempat tertentu, muncul tumbuhan aneh yang sebelumnya tidak pernah ada. Awalnya, mereka melihat bayang-bayang yang seolah-olah muncul dari dalam tanah. Bayangan itu tampak seperti sesuatu yang perlahan naik ke permukaan. Hari demi hari, bayangan tersebut semakin jelas, hingga akhirnya muncullah tunas yang tumbuh menjulang ke atas. Sebagian orang menganggap peristiwa itu sebagai kebetulan alam. Namun, sebagian lainnya percaya bahwa kejadian tersebut memiliki makna yang lebih dalam. Mereka meyakini bahwa tumbuhan itu berasal dari suatu peristiwa besar yang terjadi pada masa lalu. Konon, di tempat itu pernah dimakamkan seseorang yang sangat mulia. Ada pula kepercayaan bahwa kepala orang tersebut, yang disimbolkan sebagai "kepala Nabi", menjadi asal mula tumbuhnya pohon itu. Dari kata "kepala" inilah kemudian muncul penyebutan yang menyerupai kata "kelapa", meskipun pada masa itu masyarakat belum sepenuhnya memahami maknanya. Seiring berjalannya waktu, tumbuhan tersebut semakin banyak ditemukan di sepanjang pesisir. Buahnya berserakan, terbawa arus laut, lalu tumbuh kembali di tempat-tempat lain. Pohon itu tampak kuat, mampu bertahan hidup di pasir dan air asin. Namun, masyarakat setempat belum mengetahui nama maupun kegunaannya. Mereka hanya menganggapnya sebagai bagian dari misteri alam yang diwariskan oleh para leluhur. Hingga pada suatu hari, datanglah seorang pendatang dari tanah Jawa dengan menggunakan perahu. Ia singgah di pesisir tersebut dan melihat banyak buah berserakan serta pohon-pohon tinggi yang tampak tidak terurus. Dengan rasa heran, ia bertanya kepada penduduk setempat, "Mengapa buah-buah ini dibiarkan begitu saja"? Penduduk setempat pun balik bertanya, "Apakah sebenarnya benda ini"? Orang Jawa itu tersenyum dan menjawab dengan tenang, "Di tempat kami, ini disebut kelapa." Sejak saat itulah masyarakat mulai mengenal nama kelapa. Mereka juga mulai memahami bahwa tumbuhan tersebut memiliki banyak manfaat: airnya dapat diminum, dagingnya dapat dimakan, dan batang serta daunnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan hidup. Cerita tentang asal-usul kelapa pun tetap hidup hingga kini, bukan hanya sebagai kisah tentang tumbuhan, tetapi juga sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, dan kepercayaan para leluhur. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Hamma Saleh/Rahma
Menampilkan halaman 2 dari total 4 halaman