Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 39 cerita rakyat terarsip di sistem.

PERJUANGAN MANGONDANG MELAWAN BELANDA
Desa Battetangnga, Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar

PERJUANGAN MANGONDANG MELAWAN BELANDA

Jadi Mangondang itu harfiah na tae songgona ku paham kona bahasa Pattae Klasik, Mangondang dapat diartikan pemburu, na ondang I, na lolai. Jadi Mangondang itu putra asli Batetangnga, tepatnya di Kampung Rappoan. Mangondang itu adalah Kapala Matoa Kampung Rappoan. Iya te Mangondang lao I musuq (baca : musu") Balanda dao Bungin, dengan pos na Balanda dao Bungin pas pertigaan lao taman Rajang. Iya ke na saqding (baca : na sa"ding) I sanganna Mangondang, kirrangi bulu-bulunna Balanda, kona pimbuda mi lao musuq (Baca : musu") Balanda na tae na kulle sakai. Insiden terakhir na disakai Mangondang, ke tae na salah tahun 1927. Mangondang bersama laskarnya menyerang Pos Balanda di Bungin. Kona na pattuan I Kalena Mangondang, tae na paduli, hampir iya tu strategi tae mo na pake, kona den kelebihanna, tae I na kande peluru, kaqbangi (Baca: ka"bangi). jadi iya tu bala tangsina Balanda na tekai I, mane na goncing si mesa-mesa. Iya ke peluru biasa ra, tae I na bellu. Iya mora namasessa, pelurunna mora meriam kanna I, pas ato panggena nan a kanna. Remuk, tipa"reba I sekian ratus meter, tipaqreba I (Baca : tipa"reba I) lako Galung. Taera den kojong, tapi lannyaq I (baca : lannya" I) buku. Lalan siapi nyawana batang kalena. Akhirnya kona taemo na kulle minono, kumesok mi lao taman allana boqbo (baca : bo"bo). Wattuna iya tudio o, maririmi pare, e lalammi kasiq (baca : kasi") tangngana galung. Na sea-na sea, lalammi tu dio maqdareke (baca: ma"dareke) na paten paqdiq (baca : pa"di"). Sae mi puangnga galung, na saqdingmi (Baca: sa"dingmi) "apa na den tau maqdareke (baca : ma"dareke)" na se mi pare, na kita den tau lalan. Nakua mo Mangondang "yaku kapala Kappung Rappoan, dau ta tulana purana musuq (Baca : musu") Balanda". Jadi na alami kasiqna na paqbiring (Baca : kasi" na pa"biring) nabawa lako Biring Salu Bungin, na kabuaran mi banua-banua nasingi, na paccing mi kalena. Iya te lettek lanynya mi bukunna. Nakuammi te paqgalung dau ta tulaqna le (baca : pa"galung dau ta tula"na le), tapi pasanan na batiqku (baca : bati"ku) dokko kua tuo sia pa, indenaq (baca : indena") te e, na sae I malana". Lattuk I kareba domain kona den siapa laskarna pira salamaq (Baca : salama"). E laomi diala langngan Bungin, diala bongi di bawa domain, di palalan I Rappoan. Sae I lalan, kan Balanda buda mata-matanna na issenan I kua salamaq (Baca : salama") I Mangondang. Na kuamo balanda musti mu lolongan I, musti musaka i tuo troika mate" trika bawai mai. Jadi kona den te ngena kareba kua di peang I mangondang na peang balanda, di bawami mangondang di buni lao langngan buttu pusuk. Tapi yah namanya balanda, na runtu I, di saka mane di bawa langngan bungin. Kona putus asami balanda, jadi di seo I dio oto jeep, mane di pabesoi oto di saremben, mappamula inde jambatan bungin dibeso sae langngan daerah data". Dio mi tudio di beso, di pasule-sule. Dia meninggal itu bukan karena cidera, mate" I kona tae mo nakulle bawa I tudio pa"dina. Na iya batang kale iyya taera mangapa, tae den kojong nga. "Cappu!" Terjemahan Bahasa Indonesia Secara harfiah mangondang merupakan Bahasa Pattae klasik, yang dapat diartikan pemburu, menargetkan, dan mengejar. Mangondang merupakan putra asli Batetangnga, tepatnya di kampung Rappoan. Mangondang saat itu adalah seorang kepala Matoa Kampung Rappoan. Adapun kisah perjuangan Mangondang, pada saat itu Mangondang melakukan penyerangan ke markas/pos Belanda yang ada di Bungin, tepatnya di Pertigaan menuju Rajang. Nama Mangondang begitu disegani dan sangat ditakuti oleh Belanda, sebab Mangondang telah banyak melakukan penyerangan dan banyak menimbulkan kerugian di terhadap pihak belanda, dan tidak sekali pun mampu menangkap Mangondang. Sampai pada insiden yang akhirnya membuat Mangondang tertangkap pada tahun 1927, saat itu mangondang bersama laskarnya kembali menyerang pos Belanda yang ada di Bungin. Karena mangondang dikenal dengan wataknya yang keras dan pemberani, Mangondang tidak lagi memperdulikan yang namanya strategi perang, hal ini dikarenakan Mangondang juga memiliki kelebihan, kulitnya tidak dapat ditembus peluru dan senjata apapun, dia kebal terhadap senjata. Saat itu Mangondang memanjat pagar Belanda, kemudian menggunting-gunting kawat berduri guna membukakan jalan bagi pasukannya agar dapat masuk menyergap ke Markas Belanda. Melihat itu, tentara Belanda kemudian menghujani Mangondang dengan ratusan peluru, karena kekebalannya terhadap senjata, hal itu tentunya tidak berkesan terhadap Mangondang. Pada akhirnya belanda kemudian menembakkan meriam ke arah Mangondang yang tepat mengenai pangkal pahanya. Akibat dari peluru meriam itu, mangondang terpental hingga ratusan meter ke persawahan, tulang pahanya remuk. Tidak ada luka pada kulit, akan tetapi tulangnya remuk, dan beliau masih hidup. Karena sudah tidak sanggup berjalan, Mangondang merangkak ke tengah tanaman padi yang saat itu sudah mulai menguning dan masuk masa panen. Di tengah tanaman padi Mangondang bersembunyi, karena tidak tahan dengan sakitnya, Mangondang menjerit kesakitan yang akhirnya didengar oleh warga lokal yang hendak menuju sawahnya. Orang itu kemudian mencari asal suara dan menemukan Mangondang dalam keadaan terluka. Mangondang kemudian berkata pada orang itu "sayalah kepala Kampung Rappoan, tolong sembunyikan saya, malam tadi saya melakukan penyerangan ke Markas Belanda" Akhirnya Mangondang dipapah dan dibawa ke tepian Sungai Bungin, dibuatkanlah gubuk sebagai tempat persembunyiannya. Mangondang kemudian membersihkan badannya yang dipenuhi lumpur, dan memeriksa bekas tembakan meriam yang membuat tulang kakinya remuk. Berkatalah Mangondang kepada orang yang menolongnya "tolong rahasiakan keberadaan saya dari Belanda, saya juga minta tolong, sampaikan ke kerabat dan sanak saudara saya yang ada di Rappoan bahwa saya masih hidup dan sedang terluka, agar mereka datang dan menjemput saya di sini". Akhirnya disampaikanlah pesan Mangondang ke Rappoan yang dibawa oleh lascar pasukannya yang selamat setelah penyerangan ke Markas Belanda. Mendengar kabar itu Masyarakat Rappoan kemudian berangkat ke Bungin untuk menjemput Mangondang, perjalanan itu dilakukan pada malam hari, Mangondang berhasil diselamatkan dan dibawa ke kediamannya di Kampung Rappoan. Karena pada saat itu belanda memiliki banyak mata-mata, kabar selamatnya Mangondang sampai kepada pihak tentara Belanda. Petinggi tentara Belanda kemudian memerintahkan bahwa Mangondang harus ditangkap dan dibawa kehadapannya bagaimanapun caranya, dalam keadaan hidup-hidup maupun dalam keadaan mati. Mengetahui kabar itu masyarakat Rappoan kemudian membawa Mangondang ke gunung tertinggi di Batetangnga (Buttu Pusuk) untuk disembunyikan dan menghindari Pasukan Belanda. Akan tetapi karena kelicikannya tentara Belanda mengetahui persembunyian Mangondang, yang membuat Mangondang akhirnya tertangkap dan dibawa ke Markas Militer Belanda yang ada di Bungin. Mangondang disiksa sedemikian rupa, pihak belanda frustasi sebab tidak ada satupun senjata yang mampu melukai Mangondang, akhirnya Mangondang diikat ada mobil jeep dan di seret sepanjang jalan, mulai dari jembatan bungin sampai ke daerah data. Tubuh Mangondang di seret mondar-mandir secara terus menerus, setelah sekian lama mengalami penyiksaan itu Mangondang sudah tidak mampu yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya, dalam keadaan tubuh yang tidak terluka sedikit pun. Menurut cerita Mangondang dimakamkan di Pekuburan Massal pada waktu itu di Bungin. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Abd. Rahman Matta

admin Baca
AWAL MULA KERAJAAN BINUANG
Binuang, Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar

AWAL MULA KERAJAAN BINUANG

Kurang lebih satenga kilo dari kota kecamatan Binuang, ri sebelah barat, diang mesa kappung sanganna Ammassangan. Ri dio diang mesa komunitas napimpin mesa arung sanganna Sipajolangi. Ndang masae pura berdiri kappung e, masyarakat maita mesa aju kayyang sanganna aju anuang. Apa naita sanna marakke anna macoa dijadikan tempat massalindung, masyarakat massapakat memindahkan pemukimanna ri sakitar aju anuang e. Pura pindah ri dio, dibentukmi komunitas anna dipatettongmi Sipajolangi sabagai arung pertama. Pura terbentuk komunitas ri Binuang, polemi utusan dari kerajaan Bone. Wattu dio, iya pole merau tulung untuk mamussuq Arung Paniki ri Wajo. Sipajolangi tappa mappasadia pasukan pilihan sekitar walumpulu tau. Pasukan pilihan e diala melalui ujian ri mesa buttu sanganna Erang Batu. Ri dio pasukan e dipangajari ilmu perang, cara supaya ndang mempan senjata, anna ilmu laenna. Pura terbentuk walumpulu pasukan pilihan, Sipajolangi siola dua panglima perangna, Tapengo anna Takumba, lambami lao ri Bone. Tappana lambi ri Bone, Arung Bone makkecce ati maita pasukan Sipajolangi. Iya ma"pau, "Pasukanmu cuman walumpulu tau, sementara kami ribuan tau ndang mala menembus bentengna Arung Paniki. Apa gunana pasukanmu e"? Akhirna pasukan Binuang dipinggirkan anna cuman disuruh ma"ala wai anna mappasadia andeang. Pura mesa bulang ri Bone, masyarakat Pattae" makkecce ati apa merasa dikucilkan. Iya mamanya ri Sipajolangi, "Puang, ita pole ri te"e untuk perang, tapi mengapa ita cuman disuruh ma"ala wai anna mamasak"? Sipajolangi tappa lao massita Arung Bone anna ma"pau, "Puang, yau melo malai pole." Arung Bone mamanya, "Mengapa melo mulai"? Sipajolangi menjawab, "Puang panggil kami untuk perang, tapi kami cuman disuruh ma"ala wai anna mamasak." Arung Bone ma"pau, "Bagaimana kami mau ajakmu perang, pasukanmu cuman walumpulu tau." Sipajolangi menjawab, "Puang, bengai kami kesempatan untuk ikut perang." Akhirna Sipajolangi dibengang kesempatan ikut perang. Wattu perang berlangsung, Tapengo anna Takumba maita titik lema bentengna Arung Paniki. Benteng e susah dihancurkan dari luar, tapi gampang dihancurkan dari dalam. Tapengo anna Takumba lao massita Arung Paniki. Apa Arung Paniki ndang issang mua iya orang Bone. Iya ma"pau, "Puang, di luar diang kerbau liar. Kami mala membantu menangkap." Ri lontaraq dipau mua sekitar appampulu kerbau liar diikat ri bentengna Arung Paniki. Tappana subuh, kerbau e dipabali mengamuk, jari jebolmi benteng e dari dalam. Tappana benteng jebol, masukmi pasukan Bone. Tapengo anna Takumba langsung maccari Arung Paniki untuk dipatei. Ri lontaraq dipau mua Arung Paniki dipenggal kepalana. Pura perang dimenangkan, banyak kerajaan laen seperti Soppeng mengaku mua iya to mapatei Arung Paniki. Tapi Arung Bone ma"pau, "Yau melo maita buktinna." Ternyata Tapengo anna Takumba memegang buktinna mua iya to mapatei Arung Paniki. Arung Bone sanna gembira apa wilayahna Arung Paniki pura dikuasai. Pura perang selesai, Sipajolangi ma"pau ri Arung Bone, "Puang, yau melo malai pole apa tugasku pura selesai." Ri lontaraq dipau Arung Bone ma"pau, "Tunggu dolo, yau bengangko kuda untuk mupake mulai siola rakyatmu." Tapi Sipajolangi menolak. Iya ma"pau, "Daa bengang yau kuda. Mua ita sama-sama naik kuda, susah dibeda mana Arung Bone anna mana Arung Binuang." Arung Bone tappa menawarkan anakna untuk dinikahi Sipajolangi. Tapi Sipajolangi tetap menolak. Tappana Arung Bone ma"pau, "Mua begitu, jadikan yang lima menjadi enam, atau yang enam menjadi tujuh." Sipajolangi mamanya, "Apa battuanna"? Arung Bone menjawab, "Yang lima menjadi enam iyamo Massandre Pulu", anna yang enam menjadi tujuh iyamo Ba"bana Binanga." Sipajolangi menjawab, "Yang enam saja saya jadikan tujuh, apa dekat siola kappungku." Jadi ri wattuo, Binuang resmi masuk ri federasi Pitu Ba"bana Binanga. Binuang tappa ikut ri perjanjian Allamungan Batu ri Luyo. Ri dio Sipajolangi hadir sabagai raja pertama Binuang. Termasuk toi Diku"bur anna I Manyambung To Mepayung. Pura itu, wilayah Binuang bertambah luas. Kerajaan Bone membantu menaklukkan Pokko, Papandanan, anna Kunyi. Dari situmi asal-usul sanganna Anreapi, apa wilayah e pura dibakar ri perang wattuo. Wilayah kekuasaan kerajaan Binuang mulai dari Paku sampai ri Matakali. Ri lontaraq dipau mua batas wilayahna iyamo Wai Madatte. Ri bawah Wai Madatte iyamo wilayah Balanipa. Jadi mua diang kerbau melewati Wai Madatte, orang Balanipa ndang mala ma"ala. Begitupun sebaliknya, mua pura melewati batas wilayah, orang Binuang toi ndang mala ma"ala. Ri lontaraq Pattae" Doloan dipau mua Binuang iyamo anak bungsunna Pitu Ba"bana Binanga, apa Binuang kerajaan terakhir masuk ri federasi e. Tappana terbentuk Temmajarra Dua napelopori To Mepayung. Pura Binuang dideklarasikan, To Mepayung mengutus mesa tau lao ri Binuang untuk mengundang Sipajolangi hadir ri pertemuan Allamungan Batu, pertemuan anu menghasilkan perjanjian Sipamandaq. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kurang lebih setengah kilometer dari kota Kecamatan Binuang, di sebelah barat, terdapat sebuah kampung bernama Ammassangan. Di kampung tersebut terdapat sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang arung bernama Sipajolangi. Tidak lama setelah kampung itu berdiri, masyarakat melihat sebuah pohon besar yang disebut pohon anuang. Karena pohon tersebut sangat rindang dan cocok dijadikan tempat berlindung, masyarakat kemudian sepakat memindahkan permukiman mereka ke dekat pohon anuang itu. Setelah berpindah, mereka membentuk komunitas baru dan menetapkan Sipajolangi sebagai arung pertama. Setelah komunitas di Binuang terbentuk, datanglah utusan dari Kerajaan Bone. Pada waktu itu, mereka meminta bantuan untuk memerangi Arung Paniki di Wajo. Menanggapi hal tersebut, Sipajolangi menyiapkan sekitar delapan puluh prajurit pilihan. Para prajurit ini dipilih melalui ujian di sebuah gunung bernama Erang Batu. Di tempat itu mereka dilatih berbagai ilmu perang, termasuk kemampuan agar tubuh mereka tidak mempan senjata. Setelah delapan puluh prajurit pilihan terbentuk, Sipajolangi bersama dua panglima perangnya, yaitu Tapengo dan Takumba, berangkat menuju Bone. Sesampainya di Bone, Arung Bone merasa kecil hati melihat jumlah pasukan yang dibawa Sipajolangi. Ia berkata bahwa pasukan Bone yang berjumlah ribuan saja belum mampu menembus benteng Arung Paniki, sedangkan pasukan Binuang hanya berjumlah delapan puluh orang. Akibatnya, pasukan Binuang dipinggirkan dan hanya diberi tugas mengambil air serta menyiapkan makanan. Setelah sebulan berada di Bone, masyarakat Pattae" merasa kecewa karena diperlakukan tidak layak. Mereka kemudian menyampaikan kepada Sipajolangi bahwa mereka datang untuk berperang, bukan untuk mengambil air dan memasak. Sipajolangi lalu menghadap Arung Bone dan menyampaikan keinginannya untuk pulang. Namun Arung Bone bertanya mengapa ia ingin kembali. Sipajolangi menjawab bahwa mereka dipanggil untuk berperang, tetapi justru diperlakukan seperti pelayan. Arung Bone menjelaskan bahwa ia ragu melibatkan pasukan yang hanya berjumlah delapan puluh orang. Sipajolangi pun meminta kesempatan untuk ikut bertempur. Akhirnya Sipajolangi diberi kesempatan untuk ikut berperang. Dalam peperangan itu, Tapengo dan Takumba menemukan titik lemah benteng Arung Paniki. Benteng tersebut sulit dihancurkan dari luar, tetapi mudah dirusak dari dalam. Mereka kemudian menemui Arung Paniki dengan menyamar sebagai orang biasa, karena Arung Paniki tidak mengetahui bahwa mereka adalah orang Bone. Mereka menawarkan bantuan untuk menangkap kerbau liar yang berada di sekitar benteng. Menurut lontaraq, sekitar empat puluh ekor kerbau liar diikat di bagian dalam benteng Arung Paniki. Ketika subuh tiba, kerbau-kerbau itu dibuat mengamuk sehingga benteng menjadi hancur dari dalam. Setelah benteng runtuh, pasukan Bone langsung menyerbu masuk. Tapengo dan Takumba segera mencari Arung Paniki untuk dibunuh. Dalam lontaraq disebutkan bahwa Arung Paniki dipenggal kepalanya. Setelah peperangan dimenangkan, banyak kerajaan lain, termasuk Soppeng, mengaku sebagai pihak yang membunuh Arung Paniki. Namun Arung Bone meminta bukti. Ternyata Tapengo dan Takumba memiliki bukti bahwa merekalah yang berhasil membunuh Arung Paniki. Arung Bone pun merasa sangat gembira karena berhasil menguasai wilayah Arung Paniki. Setelah peperangan selesai, Sipajolangi meminta izin kepada Arung Bone untuk kembali ke Binuang karena tugasnya telah selesai. Arung Bone menawarkan seekor kuda untuk digunakan Sipajolangi dan rakyatnya saat pulang. Namun Sipajolangi menolak dengan alasan jika mereka sama-sama menunggang kuda, maka akan sulit membedakan mana Arung Bone dan mana Arung Binuang. Arung Bone kemudian menawarkan putrinya untuk dinikahi Sipajolangi, tetapi tawaran itu juga ditolak. Setelah itu, Arung Bone berkata, "Kalau begitu, jadikan yang lima menjadi enam, atau yang enam menjadi tujuh." Sipajolangi bertanya maksud perkataan tersebut. Arung Bone menjelaskan bahwa "yang lima menjadi enam" berarti Massandre Pulu", sedangkan "yang enam menjadi tujuh" berarti Ba"bana Binanga. Sipajolangi memilih menjadikan yang enam menjadi tujuh karena lebih dekat dengan wilayahnya. Sejak saat itulah Binuang resmi masuk ke dalam federasi Pitu Ba"bana Binanga. Binuang kemudian ikut dalam Perjanjian Allamungan Batu di Luyo. Dalam pertemuan itu, Sipajolangi hadir sebagai raja pertama Kerajaan Binuang bersama tokoh-tokoh lain seperti Diku"bur dan I Manyambung To Mepayung. Setelah Binuang masuk ke dalam federasi tersebut, wilayahnya diperluas. Kerajaan Bone membantu menaklukkan Pokko, Papandanan, dan Kunyi. Dari peristiwa itulah muncul nama Anreapi, karena wilayah tersebut pernah dibakar dalam peperangan sebelum diserahkan kepada Kerajaan Binuang. Wilayah kekuasaan Kerajaan Binuang membentang dari Paku hingga Matakali. Dalam lontaraq disebutkan bahwa batas wilayah Binuang adalah Sungai Madatte, sedangkan wilayah Balanipa berada di sebelah bawah sungai tersebut. Oleh karena itu, jika ada kerbau melewati Sungai Madatte, masyarakat Balanipa tidak boleh mengambilnya, begitu pula sebaliknya. Dalam Lontaraq Pattae" Doloan disebutkan bahwa Binuang adalah anak bungsu dari federasi Pitu Ba"bana Binanga karena menjadi kerajaan terakhir yang bergabung di dalamnya. Setelah itu terbentuk Temmajarra Dua yang diprakarsai oleh To Mepayung. Sesudah Binuang dideklarasikan masuk dalam federasi, To Mepayung mengutus seseorang ke Binuang untuk mengundang Sipajolangi menghadiri pertemuan Allamungan Batu yang kemudian menghasilkan perjanjian Sipamandaq. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Andi Ilham

admin Baca
PEANG BULAWANG
Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar

PEANG BULAWANG

Diolo"na, diang mesa carita sanganna Peang Bulawang. Iyae peang bulawang e menjari mesa tradisi anna carita to diolo" ri Mandar, utamana ri daerah Bau Tuing-Tuing. Diang mesa maraqdia ri Paria. Anakna maraqdia e biasanna lambai lao di sasi, tapi ndang rua mala bau. Mesa allo, diang tau ma"pau lao ri anakna maraqdia, "Diang tu"u peang bulawang, mua dipirau anna diala barakkana, mala mambawa dalle"." Tappana nairrangngi itu, anakna maraqdia maelo tongan mambali peang bulawang. Hari pertama peang bulawang e dipirau, tapi ndang dipindang. Hari kadua toi ndang mala. Sampai allo pitu, andang ndang mala tongan dibengang. Tappana maraqdia e makarras sanna atena, iya nawai peang bulawang e, "Mua pa"da-pa"dai dale"ba", dale"ba"mi." Jadi peang bulawang e lambami maneang ri sasi. Wattu maneang, peang bulawang e millor di wai. Tappana iya sempat miala mesa pisang. Tapi tiba-tiba diita rambu tulu"na anakna maraqdia. Tappana rambu tulu" e nattunu tama lindona, anakna maraqdia kaget sanna. Iya ma"pikir, "Apa upogau? Ndang mala di"e." Tapi iya tetap mappikir tanggung jawabna ri puangna. Tappana iya sitami maraqdiana ri songi, iya ma"pau, "Puang, pa"da-pa"da tongan peang bulawang e." Maraqdia e ma"pau, "Mating mua pa"dai." Tappana peang bulawang e dipapiangani atupe supaya lambai. Nabengang toi tawa-tawa, iyamo alat musik to diolo", supaya mala mambali luluarena. Lambai peang bulawang e lao di Palippis. Ri dio, iya mambali tawa-tawa anna mallangngang ri Wai Tawar. Tappana iya luluare pole ri Wai Tawar, masyarakat marondong sanna. Tau sisara-sara lao mambali luluarena. Tawa-tawa e dipilloa, anna peang bulawang e dipaissang sabagai to macoa sanna. Ri tangnga carita e, diang mesa tomanarang ri Mandar. Iya ma"pau mua peang bulawang e ndang biasa. Tappana peang bulawang e diala, iya dibawa lao di maraqdia Ura" Liung. Ri dio, peang bulawang e dipasangang ri pitu lapis paleko supaya ndang diita tau. Tappana pitu allo pitu bongi, peang bulawang e dipiara tongan. Tappana di allo katallu, anakna maraqdia mulai mappau pole. Maraqdia e massukur sanna karna anakna mulai macoa. Tappana maraqdia e ma"pau, "Mua pura mu pauli"i anakku, assal tania nyawa, mala mu alai apa saja." Di ruangan boyang, diang manu-manuk cantik sanna. Iyamo tu"u tuing-tuing. Maraqdia e ma"pau mua manu-manuk e nasayangngi sanna anakna. Tapi karna anakna pura macoa, iya ma"pau mua manu-manuk e mala diala barakkana. Tappana manu-manuk e mulai mattallo, tallona e dipaissang sabagai peang bulawang. Iyamo sababu"na sampai di te"e, tau Mandar maissang mua peang bulawang e dihubungang siola maraqdia anna manu-manuk to macoa. Carita e menjari cara tau Mandar menjelaskan secara mitologi asal-usul ikan terbang. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, terdapat sebuah cerita tentang Peang Bulawang. Kisah ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat Mandar, khususnya di daerah Bau Tuing-Tuing. Diceritakan ada seorang raja di Paria yang memiliki seorang anak. Anak raja tersebut sering pergi ke laut, tetapi tidak pernah mendapatkan ikan. Pada suatu hari, ada seseorang yang berkata kepada sang putra raja bahwa terdapat seekor ikan terbang bernama Peang Bulawang yang dipercaya memiliki berkah dan dapat membawa keberuntungan apabila berhasil ditangkap. Hari pertama ikan itu dicari, tetapi tidak berhasil ditangkap. Hari kedua pun demikian. Hingga hari ketujuh, ikan tersebut tetap tidak dapat diperoleh. Sang raja kemudian merasa sangat gelisah dan berkata kepada Peang Bulawang bahwa jika benar membawa rezeki, maka hendaknya memberikan tanda keberuntungan. Setelah itu, Peang Bulawang kembali pergi ke laut. Ketika berada di laut, Peang Bulawang muncul di permukaan air. Ia sempat mengambil sebuah pisang. Namun tiba-tiba, rambut anak raja terlihat olehnya. Ketika rambut itu jatuh mengenai wajah sang putra raja, ia merasa sangat terkejut dan bingung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun demikian, ia tetap mengingat tanggung jawabnya kepada ayahnya. Ketika sang putra raja bertemu kembali dengan ayahnya pada malam hari, ia berkata bahwa Peang Bulawang benar-benar memiliki tanda keberkahan. Raja kemudian memerintahkan agar disiapkan obor dan alat musik tradisional berupa tawa-tawa agar Peang Bulawang dapat dipanggil kembali. Peang Bulawang kemudian menuju daerah Palippis. Di sana, ia mendengar bunyi tawa-tawa dan muncul kembali di daerah Wai Tawar. Saat masyarakat melihat kemunculannya, mereka merasa kagum dan berbondong-bondong menyaksikannya. Sejak saat itu, Peang Bulawang dikenal sebagai makhluk yang luar biasa. Dalam kisah tersebut juga disebutkan adanya seorang tokoh sakti di Mandar yang mengatakan bahwa Peang Bulawang bukanlah ikan biasa. Setelah berhasil ditangkap, ikan tersebut dibawa ke istana Ura" Liung dan disimpan di balik tujuh lapis tirai agar tidak terlihat oleh masyarakat umum. Selama tujuh hari tujuh malam, Peang Bulawang dipelihara dengan baik. Pada hari ketiga, kondisi anak raja mulai membaik dan ia kembali dapat berbicara. Sang raja pun merasa sangat bersyukur karena anaknya mulai sembuh. Raja berkata bahwa siapa pun yang telah menyembuhkan anaknya boleh meminta apa saja selain nyawa. Di dalam istana terdapat seekor burung yang sangat indah, yaitu burung tuing-tuing. Sang raja mengatakan bahwa burung tersebut sangat menyayangi anaknya. Namun karena anaknya telah sembuh, burung itu dipercaya memiliki berkah yang besar. Ketika burung tersebut mulai bertelur, telurnya dipercaya sebagai asal-usul Peang Bulawang. Oleh sebab itu, hingga sekarang masyarakat Mandar percaya bahwa Peang Bulawang memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan dan burung sakral tersebut. Kisah ini menjadi salah satu bentuk penjelasan mitologis masyarakat Mandar mengenai asal-usul ikan terbang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Dahri Dahlan

admin Baca
INDO MANU' DI PADANG PASIR (INDUK AYAM BERSARANG DI PADANG PASIR)
Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

INDO MANU' DI PADANG PASIR (INDUK AYAM BERSARANG DI PADANG PASIR)

Diolo"na, diang mesa carita mapia anna ma"andung pepatuduang. Caritae tentang mesa indo manu ri tangnga padang pasir. Indo manu e massarang ri mesa ponna ayu to marakke keringna. Di situ iya mappatello appaq. Pura mappatello, iya mulai mengerami tellona sampe berminggu-minggu. Akhirna, appaq tellona menetas menjari appaq ana" manu kacili". Ana"-ana"na e mulai tuo anna tiap allo indo manu e mallayang lao maccari ande-ande. Apa iya tuo ri tangnga padang pasir to tandus anna nde" diang ande-ande gampang dipole. Minggu pertama anna minggu kedua, indo manu e terus mallayang kiri kanan maccari ande-ande. Tapi nde"na pole apa-apa. Di lalang ate"na, iya terus mappikki", "Meapa ande la upaandeang lao di ana"-anakku? Ita tuo ri tampat to tandus anna kering." Ri minggu katallunna, indo manu e pole dari maccari ande sambil nawawa mesa belalang kacili" to le"ba mate anna kering. Iyamo tu"u ande mesa-mesanna to mala naala. Belalang e napaandeang lao di ana"-ana"na. Ana"-ana"na ummande, tapi cuma mala bertahan mesa allo. Pura itte, indo manu e mallayang pole maccari ande. Apa iyamo sifatna mesa indo", selalu massayang anna mappikki" kehidupan ana"-ana"na. Sampe ri minggu kaappa"na, indo manu e mulai putus asa. Appaq minggu iya terus maccari ande tapi nde"na pole apa-apa selain lapar anna kesusahan. Akhirna, indo manu e ma"ala keputusan to marakke matindona. Keputusan e nde" biasa dipikki" manusia. Iya mulai mencabut buluna sandiri anna menikam badanna sandiri sampe darahna mallili". Darah e napake ana"-ana"na sabagai wai minum. Dagingna napake sabagai ande supaya ana"-ana"na tetap tuo anna malai hidup. Iyamo carita to marakke matindona. Apa indo manu e rela mate demi kehidupan generasinna. Iya rela mappasorong nyawanna sandiri supaya ana"-ana"na tetap hidup. Pepatuduanna caritae, mua" di lino" e diang tongang indo" to rela mappakasiri", mappalappa" kesenanganna, anna bahkan rela mate demi masa depan ana"-ana"na. Carita indo manu e mappapoleang lao diita mua kasih sayang indo" nde" diang batasna. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah kisah yang sangat menarik dan penuh makna. Kisah ini bercerita tentang seekor induk burung yang hidup di tengah padang pasir. Burung itu membuat sarang di sebuah pohon yang kering dan gersang. Di sanalah ia bertelur sebanyak empat butir. Setelah bertelur, induk burung itu mengerami telur-telurnya selama berminggu-minggu. Akhirnya, keempat telur itu menetas menjadi empat ekor anak burung kecil. Anak-anak burung tersebut mulai tumbuh, dan setiap hari induknya terbang ke mana-mana untuk mencari makanan. Akan tetapi, mereka hidup di tengah padang pasir yang tandus sehingga sangat sulit menemukan makanan. Pada minggu pertama hingga minggu kedua, induk burung itu terus terbang ke berbagai arah untuk mencari makanan, tetapi tidak menemukan apa pun. Di dalam hatinya, ia terus berpikir, "Makanan apa yang bisa kuberikan kepada anak-anakku? Kita hidup di tempat yang sangat tandus dan kering." Pada minggu ketiga, induk burung itu akhirnya menemukan seekor belalang kecil yang sudah kering dan mati. Hanya itu makanan yang berhasil ia dapatkan. Belalang tersebut dibawa pulang dan diberikan kepada anak-anaknya. Mereka memakannya, tetapi makanan itu hanya cukup untuk bertahan satu hari saja. Setelah itu, sang induk kembali terbang mencari makanan. Sebab, begitulah sifat seorang ibu, selalu memikirkan kehidupan anak-anaknya. Hingga memasuki minggu keempat, induk burung itu mulai putus asa. Selama empat minggu ia terus mencari makanan, tetapi hampir tidak menemukan apa-apa selain penderitaan dan kelaparan. Akhirnya, induk burung itu mengambil keputusan yang sangat luar biasa, bahkan sulit diterima oleh akal manusia. Ia mulai mencabut bulunya sendiri dan melukai tubuhnya hingga darahnya mengalir. Darah itu dijadikan minuman oleh anak-anaknya, sedangkan daging dari tubuhnya dijadikan makanan agar anak-anaknya tetap hidup dan tumbuh. Inilah kisah yang sangat menyentuh hati. Seekor induk burung rela mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup generasinya. Ia rela mati demi anak-anaknya. Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa di dalam kehidupan ada sosok ibu yang rela berkorban apa saja demi masa depan anak-anaknya. Kasih sayang seorang ibu tidak memiliki batas. Kisah burung ini mengajarkan kepada manusia tentang arti pengorbanan, kasih sayang, dan perjuangan demi generasi yang akan datang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Tammalele

admin Baca
POSA PURA PUAJI ANNA BAU SIOLA TIKKOR
Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

POSA PURA PUAJI ANNA BAU SIOLA TIKKOR

Diolo"na sejak zaman to diolo", kucing anna bau (tikus) nde" biasa massitai mapia. Begitu toi siola tikkor (kodok). Mua bau naitai kucing, iya langsung mappalappa". Begitu toi tikkor, apa marakke sanna me"dinna ri kucing. Jari, tallu rupa binatang e biasa saling menghindar. Mesa wattu, kucing e melo lao massiara anna naik haji. Bassa binatang laeng napalako lao massiara, tapi bau anna tikkor nde" lao. Tappana, diang binatang laeng mamanya, "Meapa bau anna tikkor nde" lao massiara lao di kucing"? Tappana di jawab, "Aihh" nde" namiande boi! Mua lao di kucing, pasti ita diterkam." Walaupun begitu, diang toi binatang laeng napauang, "Ahh, nde"mi iya begitu. Kucing pura haji. Pasti pura berubah perangaina." Akhirna, kucing pura pole dari tanah suci anna tersebar berita mua iya pura haji. Tappana, bassa binatang lao massiara lao di boyanna kucing. Angganna mappasalama anna berjabat tangan sambil mappau, "Alhamdulillah, pura haji mi kucing." Tappana, diang mamanya, "Di mana bau anna tikkor? Ndang diita lao massiara." Bau anna tikkor mendengar berita mua kucing pura haji. Tappana, bau masih me"dinna. Iya napauang lao di tikkor, "Aihh" jangan-jangan andangmi tia perangaina." Tapi tikkor napauang, "Ahh, pura haji mi. Pasti pura berubah." Akhirna, duai e sepakat lao massiara lao di boyanna kucing. Wattu lambi, bau mappau, "Assalamualaikum." Kucing menjawab, "Waalaikumsalam. Eh, baru boi mai kalian"? Tappana, bau masih mapattan. Iya napauang lao di tikkor, "Pissorono mai diolo." Battuanna, iya menyuruh tikkor maju diolo apa iya masih me"di. Wattu tikkor mendekat ri sisi kucing, tiba-tiba kucing langsung menerkam bau! Bau langsung ditangkap anna mau dimakan. Tikkor langsung melompat kaget sambil napauang, "Tuh kan! Kebiasaanna nde" mala berubah." Iyamo pepatuduanna caritae, mua sifat buruk mua nde" tongang-tongang dipappaccingi ri ate", iya mala dipogau pole. Apa di Mandar biasa dipauang, "Ala biasa karna biasa." "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu kala, sejak masa lampau, kucing dan tikus memang tidak pernah bisa hidup rukun. Begitu pula dengan kodok. Jika tikus melihat kucing, ia pasti langsung menghindar karena takut diterkam. Kodok pun demikian. Ketiga binatang ini selalu saling menghindari satu sama lain. Suatu hari, si kucing pergi menunaikan ibadah haji. Banyak binatang lain datang mengantar dan berziarah kepadanya sebelum keberangkatan. Namun, tikus dan kodok tidak ikut datang. Ketika binatang lain bertanya mengapa mereka tidak datang berziarah, tikus menjawab, "Kami takut dimakan oleh kucing." Akan tetapi, ada binatang lain yang berkata, "Ah, sekarang kucing sudah berubah. Dia sudah pergi haji, jadi perilakunya pasti lebih baik." Akhirnya, setelah beberapa waktu, kucing pun pulang dari tanah suci dan kabar kepulangannya tersebar ke mana-mana. Semua binatang datang berziarah ke rumah kucing untuk mengucapkan selamat. Mereka berjabat tangan sambil berkata, "Alhamdulillah, sekarang kucing sudah menjadi haji." Lalu mereka bertanya, "Mengapa tikus dan kodok belum datang"? Ketika mendengar bahwa kucing telah pulang haji, tikus masih merasa takut. Ia berkata kepada kodok, "Jangan-jangan sifatnya masih tetap sama." Namun, kodok menjawab, "Ah, dia sudah haji. Pasti dia sudah berubah." Akhirnya, tikus dan kodok memutuskan untuk datang berziarah ke rumah kucing. Ketika tiba, tikus mengucapkan salam, "Assalamualaikum." Kucing pun menjawab, "Waalaikumsalam. Baru sekarang kalian datang"? Namun, tikus masih merasa takut sehingga ia menyuruh kodok maju lebih dahulu mendekati kucing. Saat kodok mulai mendekat, tiba-tiba kucing langsung menerkam tikus yang berada di dekatnya. Kodok pun terkejut dan langsung melompat sambil berkata, "Benar kan! Kebiasaannya memang tidak berubah." Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa sifat buruk seseorang tidak mudah berubah jika tidak benar-benar diperbaiki dari dalam hati. Dalam masyarakat Mandar dikenal pepatah, "Ala biasa karena biasa," yang berarti kebiasaan buruk akan terus dilakukan jika tidak sungguh-sungguh ditinggalkan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Tammalele

admin Baca
BARE LESANG (PEMBAGI MONYET)
Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

BARE LESANG (PEMBAGI MONYET)

Diolo"na, diang dua rupa binatang sanganna kucing anna anjing. Duai e sangat mapia persahabatanna anna le"ba masae massiolang. Mesa allo, duai e mallamba-lamba lao maita lino anna keadaan ri luar kampung. Lambami duai e massulle ri alas, ri bela-bela, anna ri sawah-sawah. Sampe di tangnga lalang, duai e marakke sanna kaloloanna apa le"ba lapar. Iya mappikki" meapa carana mala ummande. Lambami pole duai e sampe naita mesa boyang ri tangnga sawah. Boyang e mesa-mesanna di situ. Tappana, duai e mendekat karna mappikki" mua mungkin diang sisa ande-ande ri boyang e, mungkin ikan kering atau ande laeng. Wattu duai e le"ba dekat, anjing langsung ma"cium bau ikan kering. Apa penciumanna marakke sanna tajam. Iya napauang lao di kucing, "Eh kucing, di baona boyang e diang ikan kering!" Tapi apa anjing nde" mala meakke lao di boyang, iya kucingmo napasuru meakke lao maita. Tappana, kucing meakke lao ri bate-bate anna naita tongang diang mesa ikan kering. Kucing napauang lao di anjing, "Tongang tu"u, anjing, marakke sanna penciumammu. Diang tongang ikan kering ri atas boyang!" Tappana, kucing tu"ung pole. Anjing napauang, "Apa cuma mesa ikan kering, ita harus mappabuat kesepakatan." Kucing setuju. Jari, duai e mappabuat aturan. Mua" kucing melompat anna ikan e tiba lao di tana", maka bagian anjing. Tapi mua" kucing berhasil ma"ala ikan e ri atas boyang, maka bagian kucing. Apa duai e lapar sanna, kucing langsung melompat. Tapi ikan kering e tiba tongang lao di tana". Tappana, anjing langsung melo ma"ande. Iya napauang, "Maaf, kucing. Pura ita massakke mua" mua" tiba di tana", bagian yau." Tapi kucing menolak. Iya napauang, "Damo diolo! Kesepakatan mala berubah karna ita sama-sama lapar." Tapi anjing nde" mau. Iya tetap pegang kesepakatan diolo. Akhirna, duai e massibantah anna mappasisala. Wattu duai e masih mappasisala, lewat mesa monyet sambil nawawa dacing timbangan. Apa jama-jamanganna monyet e pedagang. Kucing napauang, "Eh monyet, lao di mana"? Monyet menjawab, "Yau lao di pasar mappatimbang hasil bumi." Monyet mamanya, "Meapa iya nasibantahang"? Tappana, kucing anna anjing mappajelas masalah ikan kering e. Monyet napauang, "Gampang itu. Pakai dacingku saja supaya adil." Akhirna, duai e setuju ulang. Monyet mulai mappatimbang ikan kering e. Sebelah kiri bagian kucing, sebelah kanan bagian anjing. Tapi wattu ditimbang, lebih berat sebelah anjing. Kucing langsung marakke, "Eh monyet, rusak dacingmu!" Monyet napauang, "Gampang itu." Tappana, monyet menggigit sedikit ikan di bagian anjing supaya seimbang. Tapi setelah ditimbang ulang, malah berat sebelah kucing. Anjing toi marakke, "Rusak tongang dacingmu itu!" Monyet kembali menggigit sedikit bagian kucing. Begitu terus sampe ikan kering e tinggal sedikit sanna. Tappana, monyet napauang sambil tertawa, "Nah, baru seimbang!" Padahal, hampir semua ikan kering e pura naande monyet. Tinggal sedikit baru iya napauang seimbang. Iyamo asal mula istilah "barelesang", iyamo tau mappabare-bare lao di anu tau laeng supaya iya sendiri mala untung. Iyamo pepatuduanna caritae, mua" ita nde" boleh terlalu loba anna terlalu gampang dipalappa" ri tau laeng. Dalam kehidupan, ita harus bijaksana anna hati-hati ri mappabuat kesepakatan. "Cappu" Carita!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu kala, terdapat dua ekor binatang yang sangat bersahabat, yaitu kucing dan anjing. Persahabatan mereka sangat erat dan telah berlangsung lama. Suatu hari, keduanya pergi berjalan-jalan untuk melihat keadaan di luar kampung. Mereka melewati hutan, kebun, dan hamparan sawah yang luas. Di tengah perjalanan, mereka merasa sangat lapar karena telah berjalan sangat jauh. Mereka pun terus melanjutkan perjalanan sambil mencari makanan. Akhirnya, mereka menemukan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah sawah. Mereka mendekati rumah itu dengan harapan menemukan sisa makanan, seperti ikan kering atau makanan lainnya. Ketika sudah dekat, anjing langsung mencium bau ikan kering karena penciumannya sangat tajam. Ia berkata kepada kucing, "Kucing, di atas rumah itu ada ikan kering!" Namun, karena anjing tidak bisa memanjat rumah, ia menyuruh kucing naik untuk memastikan. Kucing pun naik ke atas rumah dan benar saja, di atas bate-bate rumah terdapat seekor ikan kering. Kucing berkata, "Benar sekali, anjing. Penciumanmu memang hebat. Ada ikan kering di sini!" Setelah turun, anjing berkata bahwa mereka harus membuat kesepakatan karena ikan itu hanya satu ekor. Kucing pun setuju. Mereka membuat aturan bahwa jika saat kucing melompat ikan itu jatuh ke tanah, maka ikan tersebut menjadi bagian anjing. Namun, jika kucing berhasil mengambil ikan itu di atas rumah, maka ikan itu menjadi bagian kucing. Karena sangat lapar, kucing langsung melompat. Akan tetapi, ikan kering itu justru jatuh ke tanah. Anjing pun segera ingin memakannya sambil berkata, "Maaf, kucing. Kita sudah sepakat bahwa jika ikan jatuh ke tanah, maka itu menjadi bagianku." Namun, kucing tidak setuju dan berkata, "Tunggu dulu! Kesepakatan bisa berubah karena kita sama-sama lapar." Akan tetapi, anjing tetap bersikeras mempertahankan aturan yang telah mereka buat sebelumnya. Akhirnya, keduanya bertengkar. Saat mereka bertengkar, lewatlah seekor monyet yang membawa timbangan dacin. Monyet itu bekerja sebagai pedagang di pasar. Kucing bertanya, "Monyet, mau ke mana"? Monyet menjawab, "Saya mau ke pasar untuk menimbang hasil bumi." Monyet lalu bertanya mengapa mereka bertengkar. Setelah mendengar cerita tentang ikan kering itu, monyet berkata, "Mudah saja, kita timbang saja agar adil." Akhirnya, mereka sepakat menggunakan timbangan monyet. Sebelah kiri untuk bagian kucing dan sebelah kanan untuk bagian anjing. Akan tetapi, ketika ditimbang, bagian anjing lebih berat. Kucing pun marah dan berkata bahwa timbangan monyet rusak. Monyet berkata, "Tenang saja." Ia lalu menggigit sedikit bagian ikan di sisi anjing agar seimbang. Namun, setelah ditimbang kembali, bagian kucing justru menjadi lebih berat. Kini giliran anjing yang marah dan mengatakan bahwa timbangan itu tidak benar. Monyet kembali menggigit sedikit bagian ikan di sisi kucing. Begitulah seterusnya hingga ikan kering itu hampir habis dimakan oleh monyet. Setelah tinggal sedikit, monyet baru berkata sambil tertawa, "Nah, sekarang sudah seimbang!" Padahal, hampir seluruh ikan kering itu telah dimakan oleh monyet. Tinggal sedikit saja yang tersisa. Dari kisah ini muncullah istilah "barelesang", yaitu seseorang yang berpura-pura menjadi penengah, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Pesan moral dari kisah ini adalah jangan mudah bertengkar hanya karena hal kecil. Selain itu, kita juga harus berhati-hati terhadap orang yang berpura-pura ingin mendamaikan, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan dari masalah orang lain. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Tammalele

admin Baca
LISSI ANA'NA MARA'DIA (LISSI ANAK RAJA)
Kel. Matakali, Kec. Matakali, Kab. Polewali Mandar

LISSI ANA'NA MARA'DIA (LISSI ANAK RAJA)

Diolo"na, diang mesa towaine sanganna Lissi. Iyae ana"na maraqdia anna tuo di mesa kerajaan. Mesa allo, Lissi mallamba-lamba ri luar kerajaan. Wattu dio, diang mesa ana" maraqdia tommuane naitai Lissi anna massayyang liu ri iya karna malolona. Tappana, napauanni to matua ri boyangna mua diang mesa towaine malolo sanna ri kerajaan sise" di tappana alas. Ana" maraqdia e melo sanna massitai Lissi. Akhirna iya lao manettei kama"na anna napauanni mua iya melo lao mappatumae lao di Lissi. Kama"na mappau, "Mua memang iyae towaine melo mu ola, lao mo anna tumae." Akhirna, ana" maraqdia e lao tumae lao di boyanna Lissi. Tapi, Lissi diang mesa sambainena sejak kacili". Sambainena iya dipiara siola Lissi ri boyang maraqdia. Iyae sambaine biasa siola Lissi, tapi diang sifatna mapia nde" macoa, iyamo pangimburuang. Wattu naissang mua Lissi la nikka" siola ana" maraqdia, iya marakke sanna pangimburunna. Iya mappikki", "Meapa carana mala yau massallei ri Lissi"? Akhirna, sambainena Lissi napauanni lao mallamba-lamba siola lao mallopi-lopi ri tasi". Lissi setuju anna duai e mallamba siola ana" maraqdia. Diang toi pengawal maola siola di lopi. Tapi, ana" maraqdia napauang lao di pengawalna, "Damo mo angganna ri"e, apa yau melo massolo-solo diolo siola calon baineku." Lambami duai e mallopi ri tangnga tasi". Bassa asik massipa"pau-pau, sambainena Lissi mulai mappangngae rencana jahatna. Iya napauang lao di Lissi mua di dasar tasi" diang toi lino laeng. Lissi percaya anna marakke rasa penasaranna. Tappana, sambainena e mappate" ri ate"na mua iyamo waktunna mappababa Lissi lao di wai. Wattu Lissi maindong ri sisi lopi, sambainena dorong iya sampe lappa" lao di tasi". Lissi tenggelam anna ndang naissang tau mua iya pura dibuang. Sambainena e mappau lao di ana" maraqdia mua mungkin Lissi napande binatang ri tasi" apa ndang mala dipolei. Tappana, allo pernikahan makin dekat, ana" maraqdia e ndang makannyang. Iya terus mappikki" mua diang anu nde" biasa ri kejadian e. Tapi, sambainena Lissi tetap dinikka" siola ana" maraqdia. Walaupun pura menikah, ana" maraqdia tetap maindong massusuri" kabenaranna. Mesa allo, sambainena e nawawa ana" maraqdia lao ri tampat wattu Lissi natallang. Wattu di dekat wai, tiba-tiba terdengar suara, "Losongi" losongi"" Ana" maraqdia kaget anna mamanya, "Meapa battuanna iting suara"? Sambainena marakke sanna me"dinna. Ternyata, iyae suara pole di Lissi. Lissi ndang mate, tapi natulung ri makhluk ri dasar tasi". Lissi mappau terus "Losongi" losongi"" sabagai tanda mua iya napalosongi sambainena. Akhirna, kabenaranna terbuka. Ana" maraqdia naissang mua sambainena Lissi to jahat anna pura mappababa Lissi ri tasi". Akhirna, sambainena e dipa"jauhi. Ana" maraqdia menikah ulang siola Lissi anna duai e tuo mapia anna bahagia. Iyamo pepatuduanna caritae, mua ita nde" boleh terlalu percaya buta ri tau laeng. Ita tetap harus mappikki" anna mappatimbang ri lino. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, hiduplah seorang gadis bernama Lissi. Ia adalah putri seorang raja dan tinggal di sebuah kerajaan. Suatu hari, Lissi berjalan-jalan di luar kerajaan. Saat itu, seorang putra raja melihat Lissi dan langsung jatuh hati karena kecantikannya. Kemudian, orang-orang di istana mengatakan bahwa ada seorang gadis yang sangat cantik tinggal di dekat kawasan hutan. Putra raja itu sangat ingin bertemu dengan Lissi. Akhirnya, ia meminta izin kepada ayahnya dan mengatakan bahwa ia ingin melamar Lissi. Ayahnya pun berkata, "Jika memang gadis itu yang kau inginkan, pergilah dan lamar dia." Akhirnya, putra raja itu pergi melamar Lissi ke rumahnya. Namun, Lissi memiliki seorang sahabat sejak kecil. Sahabatnya itu dibesarkan bersama Lissi di lingkungan istana. Ia selalu bersama Lissi, tetapi memiliki sifat yang buruk, yaitu sangat iri hati. Ketika mengetahui bahwa Lissi akan menikah dengan putra raja, ia menjadi sangat iri. Ia berpikir, "Bagaimana caranya agar aku bisa menggantikan posisi Lissi"? Akhirnya, sahabat Lissi mengajaknya berjalan-jalan dan berlayar di laut bersama putra raja. Lissi menyetujui ajakan itu, lalu mereka pergi bersama menggunakan perahu. Beberapa pengawal ikut bersama mereka. Namun, putra raja berkata kepada para pengawal, "Kalian tidak perlu terlalu dekat, karena aku ingin menikmati waktu bersama calon istriku." Mereka pun berlayar di tengah laut sambil berbincang-bincang dengan gembira. Saat suasana mulai tenang, sahabat Lissi mulai menjalankan rencana jahatnya. Ia mengatakan kepada Lissi bahwa di dasar laut terdapat kehidupan lain yang sangat indah. Lissi yang penasaran pun mempercayainya. Padahal, sahabatnya sudah berniat mencelakakannya. Ketika Lissi berdiri di tepi perahu, sahabatnya tiba-tiba mendorongnya hingga jatuh ke laut. Lissi tenggelam dan semua orang mengira ia telah meninggal dunia. Sahabat Lissi kemudian berkata kepada putra raja bahwa mungkin Lissi dimakan oleh binatang laut karena tidak ditemukan lagi. Menjelang hari pernikahan, putra raja merasa gelisah dan tidak tenang. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam kejadian tersebut. Namun, sahabat Lissi tetap dinikahkan dengan putra raja. Walaupun mereka telah menikah, putra raja masih terus mencari kebenaran. Suatu hari, sahabat Lissi membawa putra raja ke tempat Lissi tenggelam. Ketika mereka berada di dekat laut, tiba-tiba terdengar suara, "Losongi" losongi"" Putra raja terkejut dan bertanya, "Apa arti suara itu"? Sahabat Lissi pun mulai ketakutan. Ternyata suara itu berasal dari Lissi. Lissi sebenarnya tidak meninggal, melainkan diselamatkan oleh makhluk yang hidup di dasar laut. Ia terus mengatakan "Losongi" losongi"" sebagai tanda bahwa dirinya telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Akhirnya, kebenaran pun terungkap. Putra raja mengetahui bahwa sahabat Lissi adalah orang jahat yang telah mencoba membunuh Lissi. Pada akhirnya, sahabat Lissi dijauhi oleh semua orang. Putra raja kemudian menikah kembali dengan Lissi, dan mereka hidup bahagia. Pesan moral dari kisah ini adalah kita tidak boleh terlalu mudah mempercayai orang lain sepenuhnya. Dalam hidup, kita tetap harus berhati-hati dan bijaksana dalam menilai seseorang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Annisa Rundan

admin Baca
PUANGNA OHAI
Kel. Matakali, Kec. Matakali, Kab. Polewali Mandar

PUANGNA OHAI

Diang mesa carita diolo" sanganna Puangna Ohai. Carita e terjadi ri mesa kappung ri daerah Resso. Menurut kapercayaanna masyarakat di situ, diang mesa buaya pute anu mala berubah wujud menyerupai manusia. Iyamo tau e dipaissang sabagai Puangna Ohai. Tau-tau ri Resso percaya mua" setiap Puangna Ohai muncul, berarti diang tanda mua" akan terjadi musibah atawa petaka ri kappung to"o. Iyamo sababuna masyarakat sangat mapia ati mua" diang tanda-tanda kemunculanna. Mesa allo, wattunna ujan marakke turun, diang mesa to matoa matindo. Ri lalang mimpinna, iya naita mesa tau asing mellamba ri ba"ba boyangna. Tau to"o pute mapaccing, tinggi, anna gagah sanna rupanna. Tappa tau asing to"o maung: "Tulung, da" mu buang sampah ri sungai, apa" bisa terjadi sesuatu." Tappa pura maung begitu, tiba-tiba tau asing to"o langsung menghilang. Wattu to matoa e makke"de dari tindrona, iya langsung teringat anna mappikir: "Jangan-jangan anu muncul tadi iyamo Puangna Ohai." Akhirna, to matoa e mellamba-lamba lao ri wiring sungai anna lao ri jembatan. Tiba-tiba, diang mesa buaya pute muncul ri wai. Wattu naita buaya to"o, langsung terbersit ri pikiranna: "Jangan-jangan iyamo Puangna Ohai." Ternyata tonganmi. Akhirna to matoa e mappatama pole Puangna Ohai lao ri sungai. Tapi ri lalang pikiranna, iya merasa takut. Apa" menurut kapercayaanna masyarakat, mua" Puangna Ohai muncul, berarti diang musibah atawa petaka anu akan menimpa kappung to"o. Iyamo tu"u sebabna masyarakat Resso sampai di te"e ri"e masih percaya mua" kemunculan Puangna Ohai merupakan tanda mua" diang hal anu ndang disukai ri kappung to"o. Anna kemunculanna dipercaya sabagai pertanda akan datangna musibah atawa bencana. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala ada sebuah kisah yang dikenal dengan nama Puangna Ohai. Kisah ini berasal dari sebuah kampung di daerah Resso. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, terdapat seekor buaya putih yang dapat berubah wujud menyerupai manusia. Sosok tersebut dikenal dengan sebutan Puangna Ohai. Masyarakat di Resso percaya bahwa setiap kali Puangna Ohai muncul, hal itu menjadi pertanda akan datangnya musibah atau bencana di kampung tersebut. Karena itulah, kemunculan Puangna Ohai selalu dianggap sebagai tanda yang harus diperhatikan oleh masyarakat. Pada suatu hari, hujan turun dengan sangat deras. Saat itu ada seorang lelaki tua yang sedang tertidur. Dalam mimpinya, ia melihat seorang asing berjalan melewati depan rumahnya. Orang asing itu tampak sangat putih, tinggi, dan gagah. Orang tersebut berkata: "Tolong jangan membuang sampah di sungai, karena bisa terjadi sesuatu." Setelah mengatakan hal itu, orang asing tersebut tiba-tiba menghilang. Ketika orang tua itu terbangun dari tidurnya, ia langsung teringat pada mimpinya dan berpikir: "Jangan-jangan yang datang tadi adalah Puangna Ohai." Akhirnya, orang tua itu berjalan menuju pinggir sungai dan naik ke atas jembatan. Tiba-tiba ia melihat seekor buaya putih muncul dari dalam sungai. Saat melihat buaya itu, ia langsung yakin bahwa sosok tersebut memang Puangna Ohai. Orang tua itu kemudian mengantar kembali Puangna Ohai menuju sungai. Namun, di dalam pikirannya timbul rasa takut karena menurut kepercayaan masyarakat, kemunculan Puangna Ohai merupakan tanda bahwa akan ada musibah atau bencana yang menimpa kampung tersebut. Kepercayaan itu masih diyakini oleh sebagian masyarakat Resso hingga sekarang. Mereka percaya bahwa kemunculan Puangna Ohai adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak disukai oleh penjaga sungai tersebut dan menjadi tanda datangnya petaka bagi kampung mereka. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Annisa Rundan

admin Baca
TOSALAMA MACCING
Desa Samasundu, Kec. Limboro, Kab. Polewali Mandar

TOSALAMA MACCING

Curicuritana, iya diangga dini to salama ri banuatta, apa" maedi tu"u to salama dini ri Kapputtae. Adappa ro nairrangngi tau tentang kubur mahkota, kuburna Toadia Zumba Biluana, anna kuburna Tomillete di Baona Wai. Iyare tau-tau e biasa digallari "to macci". Di antara beberapa tempat anu upauang, sebenarnya masih banyak to salama ri wilayah Appe Banua Kayyang. Mesa di antara caritana berhubungan siola peradaban ri wattu diolo". Ndang naissang pasti abad berapa, tapi diolo" ri Mandar biasa diang sibalu-baluang. Tau dibaluang, anna di alli pole para penguasa. Mua" di alli, tentu diang guna anna kaparalluanna. Tania sangga ri Mandar, tapi diang toi suku laeng pole maalli tau ri Mandar. Caritana, diang mesa to Bugis mallopi pole maalli tau. Wattu ri"o, peristiwa sibalu-baluang berlangsung terus-menerus. Diang tau kurang senang melihat sesama manusia dipate-pate anna dibaluang. Jari diang mesa tau anu memang diang kelebihanna. Sejak kacili" lambi naimuane, iya macanga anna mapaccing pikiranna. Mesa wattu, iya maung lao di solana: "Mua" diang pole Bugis maalli tau lao dibaluang, yaupa nalli, so"na mo lao yau." Tappa tongan-tongan pole mesa to Bugis maalli tau. Iyamo tau e nalli anna napalaiang ri lopi. Tappa ri tangngalalang sasi, apa napogau i maccin e? Iya ummondoi naung ri sasi mane millamba malai. Iyamo kelebihanna, sangga lettena base sicco, iya mala millamba lao di baona wai. Karena iyamo kelebihanna, digallari toi "Tomillete di Baona Wai". Akhirna, diang pole toi to Bugis anu manini maalli tau. Tappa wattu silambi-lambi para palli tau, tau-tau mulai maung: "Bahaya di Mandar, apa" diang tau anu mala millamba ri tangngalalang sasi." Iyamo sababuna para palli tau mulai massipa" ati-ati. Ndang sangga iyamo kelebihanna. Diang toi kelebihan kadua, iyaitu ndang naande pa"buno. Mua" dibattai kowi, ndang mabassi. Mua" dirattui manini, tetap ndang mate. Iyamo sababuna digallari "to macci", apa" dibattai manini, dirattui, anna dipillippa tetap ndang mate. Ri te"e ri"e, ana" appona ndammo diang mirau dappang tentang caritana. Tappa ri wilayah Lambe-Lambe diang pakkuburanna mesa ri batunna. Kubur to"o biasa naziarai tau. Iyamo dipauang sabagai kuburna "Tomillete di Baona Wai". "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Konon, dahulu terdapat banyak orang sakti di kampung kami, khususnya di daerah Kapputtae. Masyarakat sering mendengar kisah tentang kubur mahkota, kuburan Toadia Zumba Biluana, dan kuburan Tomillete di Baona Wai. Orang-orang seperti mereka biasa disebut sebagai "orang berilmu" atau orang sakti. Di wilayah Appe Banua Kayyang sendiri sebenarnya masih banyak kisah tentang orang-orang sakti yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kisah tersebut berkaitan dengan peradaban pada masa lampau. Tidak diketahui secara pasti pada abad berapa peristiwa itu terjadi, tetapi pada masa dahulu di Mandar masih sering terjadi praktik perbudakan atau jual beli manusia. Orang-orang dijual dan dibeli oleh para penguasa. Hal itu tidak hanya terjadi di Mandar, tetapi juga melibatkan suku-suku lain yang datang membeli orang Mandar. Dikisahkan ada seorang Bugis yang datang menggunakan perahu untuk membeli budak. Pada masa itu praktik jual beli manusia berlangsung terus-menerus. Banyak masyarakat yang merasa tidak senang melihat sesama manusia diperlakukan seperti barang dagangan. Di tengah keadaan tersebut, ada seorang laki-laki yang memiliki kelebihan luar biasa. Sejak kecil hingga dewasa, ia dikenal sebagai orang yang cerdas dan memiliki ilmu yang tinggi. Suatu hari ia berkata kepada temannya: "Kalau ada orang Bugis datang membeli manusia untuk dijadikan budak, biarlah saya saja yang dibeli." Tidak lama kemudian benar-benar datang seorang Bugis yang membeli manusia. Orang sakti itu akhirnya dibeli dan dibawa menggunakan perahu. Namun di tengah lautan, orang sakti tersebut memperlihatkan kesaktiannya. Ia turun ke laut lalu berjalan di atas air. Inilah sebabnya ia dijuluki "Tomillete di Baona Wai", yang berarti orang yang berjalan di atas permukaan air. Konon, telapak kakinya hanya sedikit menyentuh air sehingga ia mampu berjalan di atas laut. Sejak kejadian itu, para pembeli budak dari Bugis mulai merasa takut datang ke Mandar. Mereka mengatakan bahwa di Mandar terdapat orang-orang sakti yang dapat berjalan di atas laut. Karena itulah para pembeli budak menjadi lebih berhati-hati. Bukan hanya itu kesaktiannya. Ia juga dipercaya kebal terhadap senjata. Konon, jika ditebas dengan parang atau ditikam menggunakan senjata tajam, tubuhnya tidak terluka dan ia tidak mati. Karena itulah ia disebut sebagai "to macci", yaitu orang yang memiliki ilmu kesaktian tinggi. Sekarang ini keturunan dan cucunya sudah jarang menceritakan kisah tersebut. Akan tetapi, di wilayah Lambe-Lambe masih terdapat sebuah makam di atas batu yang dipercaya sebagai makam Tomillete di Baona Wai. Hingga sekarang makam itu masih sering diziarahi oleh masyarakat sekitar. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ambas

admin Baca
PAMOLITANG
Desa Samasundu, Kec. Limboro, Kab. Polewali Mandar

PAMOLITANG

Diang toi sicco curita diolo" anu biasa dipake ri wattu mappammulitan lao di ana"-ana" anna appo"-appo". Curita e biasa dipau-pauang ri tau melo millo-milloi, tapi di lalangna diang hikmah anna pepaturu anu mala diala. Andang to tia curita biasa, apa" di lalangna diang naseha anna pangngajariang ri tau anu mambaca anna maccarita. Caritana tentang manu-manua, iyaitu bukkur, uteang, kalloaya, ule pute, pilis, bulewong, anna mallakka lelona bulewong. Mesa wattu, kalloaya e tertari lao di bulewong, apa" bulewong e tommuane makappa sanna. Iya toi uteang e naiwene malolo ana"na maraqdia. Tappa rua si ita, i bulewong anna i puteang, tertari"i. Mua di te"e, biasa tau maung "ada hati", battuanna timbul rasa ingin memiliki. Iyamo toi anu nadiang ri lalang atena i bulewong. Apa" mua maita tau anu macoa, biasa timbul hasrat melo maala anna mappunnai. Iyamo tu"u sababu"na i bulewong mappikir, "Meapa tia mua iyari"e misolangan siola i puteang"? Akhirna, i bulewong mautus mesa akkattana lao di boyanna maraqdia melo mittumae. Tappa di tangngalalang, sita i kalloaya. I bulewong maung melo mirau tulung lao di kalloaya. Kalloaya e ditumae lao mabbawa akkattana i bulewong lao di puteang, ana"na maraqdia. Wattu lambi ri boyangna i puteang, iya mamanya: "Apa" akkattana i bulewong"? Kalloaya menjawab: "I bulewong melo malotong siola idi"." Tappa i puteang ndang langsung percaya. Apa" i kalloaya dikenal suka malotong pai tia. Bahkan tau biasa maung: "Malotong pai tia i kalloaya, de"na kalloaya to lewa." Tappa maraqdia maung: "Dota banding re mua" akkattana i bulewong benar." Apa" sebenarnya i kalloaya memang melo toi lao di ana"na maraqdia. Akhirna maraqdia mautus: "Damo i bulewong mubawa mai, dota lao ri"o." Iyamo tu"u akhirnya disepakati mua" i kalloaya dikaweng lao di puteang. Setelah itu, diadakan pesta maroa. Maraqdia ma"undang tau-tau anna dipasparaga pitung bongi pitung allo. Tappa allo ka pitu, polei i bulewong mattambeng-tambeng pondo", massalippeang handuk pute. Iyamo handuk pute e napake i bulewong sabagai tanda kasucian anna kesungguhan atena. Iya mattambeng-tambeng pondo" ri ba"ba kamarna i puteang sambil mabbawa bukkur anna pune". Wattu naita i puteang mua" i bulewong naung ri ba"ba boyang, iya massamba-samba lemai. Tappa nabemmei ragang, anna ragang e napake mappengguliling boyangna maraqdia sampai peppitu kali. Tappa terakhirna, iya massamba-samba dai lao di kamarna i puteang. Wattu mittama ri kamarna, millangmi i puteang. Ri situ, bukkur e mulai makkurru-kurru, anna i puteang mulai mi umbu. Tau diolo" maung mua" iyamo tandana mua" i bulewong sumangi i puteang. Iyamo tu"u caritana anu biasa dipau-pauang ri tau diolo". Di lalangna diang pangngajariang mua" rasa tertari", cinta, anna kahayang manusia biasa membawa perubahan ri atena tau. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada juga sebuah cerita lama yang biasa digunakan sebagai cerita pengantar tidur untuk anak-anak dan cucu-cucu. Cerita ini sering disampaikan oleh orang-orang tua kepada anak-anak mereka. Walaupun terdengar seperti dongeng biasa, sebenarnya terdapat hikmah, nasihat, dan pelajaran hidup yang dapat diambil dari cerita tersebut. Cerita ini berkisah tentang beberapa hewan seperti burung bukkur, uteang, kura-kura (kalloaya), ular putih, pilis, bulewong, dan kisah cinta seekor bulewong. Pada suatu waktu, kura-kura jatuh hati kepada seekor bulewong karena bulewong itu dikenal sebagai sosok yang sangat tampan. Sementara itu, burung uteang juga memiliki anak perempuan yang sangat cantik, yaitu putri seorang maraqdia (bangsawan). Baik bulewong maupun puteang sama-sama saling tertarik. Dalam kehidupan manusia, ketika seseorang melihat sesuatu yang indah, biasanya akan timbul rasa ingin memiliki. Demikian pula yang dirasakan oleh bulewong. Ia mulai berpikir mengapa dirinya tidak bisa bersatu dengan puteang yang sangat ia sukai. Akhirnya, bulewong mengutus seekor kura-kura untuk datang ke rumah maraqdia dan menyampaikan maksud hatinya. Di tengah perjalanan, kura-kura bertemu dengan pihak keluarga puteang. Kura-kura itu kemudian menjadi perantara untuk membawa pesan bulewong kepada putri maraqdia tersebut. Ketika sampai di rumah puteang, ia bertanya: "Apa sebenarnya pesan dari bulewong"? Kura-kura menjawab: "Bulewong ingin bersatu denganmu." Namun, puteang tidak langsung percaya karena kura-kura dikenal suka berbicara berlebihan. Bahkan masyarakat dahulu sering mengatakan bahwa kura-kura pandai berbicara manis. Meskipun demikian, maraqdia tetap mempertimbangkan pesan tersebut. Pada akhirnya, maraqdia berkata: "Kalau memang benar demikian, bawalah bulewong kemari." Akhirnya diputuskan bahwa kura-kura akan menjadi penghubung pernikahan antara bulewong dan puteang. Setelah itu diadakan pesta besar-besaran. Maraqdia mengundang banyak orang dan pesta berlangsung selama tujuh malam tujuh hari. Pada hari ketujuh, datanglah bulewong dengan mengenakan ikat kepala dan membawa handuk putih. Handuk putih tersebut melambangkan kesucian dan ketulusan hatinya. Bulewong berjalan perlahan menuju rumah puteang sambil membawa burung bukkur dan pune". Ketika puteang melihat bulewong telah berada di depan rumah, ia mulai tersenyum malu-malu. Bulewong kemudian mengelilingi rumah maraqdia sebanyak tujuh kali sambil memberikan penghormatan. Setelah itu, ia masuk ke kamar puteang. Saat berada di dalam kamar, suasana menjadi hening. Burung bukkur mulai berbunyi pelan, sementara puteang mulai tersipu malu. Orang-orang dahulu menganggap peristiwa itu sebagai tanda bahwa bulewong benar-benar mencintai puteang. Demikianlah kisah lama yang dahulu sering diceritakan oleh orang tua kepada anak-anak mereka. Di dalam cerita ini terdapat pelajaran bahwa rasa cinta, ketertarikan, dan keinginan manusia dapat membawa perubahan dalam hati seseorang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ambas

admin Baca
ASAL MULA PAKKAMMISANG
Desa Samasundu, Kec. Limboro, Kab. Polewali Mandar

ASAL MULA PAKKAMMISANG

Nanaeke mindiwoe naua sawa mengapa disanga mesa kappung, apa" andang diang kappung dini di kappungta anu andang diang sawana, anna diang sangana sanging makkesawa. Iyamo sababu"na upamaccaritangan lao diita nasang. Pertama, Dusung Lambe-Lambe merupakan mesa dusung ri lalang wilayah Banua Kayyang Napo anna Banua Kayyang Samasundu. Tau maung mengapa disanga "Lambe-Lambe" apa" iyamo di tappui lambe pissang. Diolo", tau maung Lambe-Lambe apa" di situ diang lambe"na Napo anna lambe"na Samasundu. Jadi, "lambe" di te"e tania ponna ayu seperti pemahaman tau di te"e, tapi iyamo kiasan lao di ponna ayu. Ponna lambe e mawuwang pettulung, marakka, anna macoa pappinadingna. Iyamo tu"u sebabna Lambe-Lambe dipaissang sabagai pettulungan dadua Banua Kayyang, iyaitu Napo anna Samasundu. Menurut carita to diolo", selama-lamana ri"e, Lambe-Lambe memang diissang sabagai lambena Napo anna lambena Samasundu. Iyamo membuktikan mua" Lambe-Lambe andiang kaitanna siola dadua wilayah to"o. Mesa wattu, Desa Napo anna Desa Samasundu dipapiang batas wilayahna. Wattu di mekkaromi Lambe-Lambe, para pemuka masyarakat massolo-solo menentukan batasna. Mua" Lambe-Lambe dimasukkan lao di wilayah Samasundu, maka batasna dimulai di puncak tanete lambi sau di Buttu Ra"bah. Tapi mua" Lambe-Lambe dimasukkan lao di wilayah Napo, maka batasna dimulai di tondomainna Tallasa lambi sau di Sumail anna Kamba Jawa. Iyamo tu"u menjari bukti mua" Lambe-Lambe memang lambena Napo anna lambena Samasundu. Ri lalangna Lambe-Lambe, diang arriang appe" Napo. Menurut pahaman to diolo", arriang appe" to"o andiang mala mikkede mesa Napo. Tapi di te"e ri"e, carita-carita to diolo" mulai makurang dipau-pauang, iyamo sababuna parallu dipappole lao di ana" cucu. Di te"e ri"e, tau le"ba naissang Pakkamisang daripada Lambe-Lambe. Padahal, anu resmi masuk ri sejarah anna resmi menjari sangana dusung iyamo Lambe-Lambe. Tapi mengapa tau lebih naissang "Pakkamisang"? Apa" kata dasarna pole di "Kammis". Diolo", diang pasar ri wilayah Lambe-Lambe. Pasar to"o dipau "Pasar Pakkammisang" apa" allo pasarna iyamo allo Kammis. Wattu gerombolan Maroa datang ri pasar to"o, pasar Pakkammisang lebih rame daripada Tinambung. Tau-tau ma"jua" biasa membayar biaya operasional pasar memakai ara" tumaru. Ara" tumaru diolo" dipake sabagai biaya operasional pasar, apa" andiang jama-jamangang seperti di te"e ri"e. Iyamo tu"u sebabna pasar to"o dipaissang "Pakkammisang", apa" pasarna berlangsung tiap allo Kammis. Lambat-laun, wilayah sekitar pasar menjari pakkapungan anna tau mulai maung "Pakkamisang". Iyamo caritana tentang asal-usul Lambe-Lambe anna Pakkamisang. Semoga carita diolo" di te"e mala dipahami anna dipappole lao di generasi mambali, supaya sejarah anna budaya to diolo" andiang mala ilang. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Banyak orang bertanya mengapa sebuah wilayah disebut sebagai kampung, padahal di daerah tersebut tidak terdapat persawahan ataupun masyarakat yang bekerja sebagai petani sawah. Oleh karena itu, kisah ini perlu diceritakan kepada masyarakat. Dusun Lambe-Lambe merupakan sebuah dusun yang berada di antara wilayah Banua Kayyang Napo dan Banua Kayyang Samasundu. Nama "Lambe-Lambe" berasal dari istilah lambe pissang. Dahulu, masyarakat menyebut daerah itu sebagai tempat pertemuan atau penghubung antara wilayah Napo dan Samasundu. Kata "lambe" di sini bukan berarti pohon secara harfiah, melainkan hanya sebuah perumpamaan. Pohon lambe diibaratkan sebagai tempat berteduh, tempat berlindung, dan tempat yang memberi kesejukan. Karena itulah Lambe-Lambe dianggap sebagai tempat penengah atau penghubung antara dua Banua Kayyang, yaitu Napo dan Samasundu. Menurut cerita orang terdahulu, sejak dahulu Lambe-Lambe memang dikenal sebagai wilayah penghubung antara kedua daerah tersebut. Hal itu menjadi bukti bahwa Lambe-Lambe memiliki hubungan erat dengan Napo dan Samasundu. Pada suatu masa, Desa Napo dan Desa Samasundu mulai menentukan batas wilayah masing-masing. Ketika Lambe-Lambe mulai berkembang, para tokoh masyarakat bermusyawarah untuk menentukan batas wilayahnya. Jika Lambe-Lambe dimasukkan ke wilayah Samasundu, maka batasnya dimulai dari puncak bukit hingga ke Buttu Ra"bah. Namun, jika Lambe-Lambe dimasukkan ke wilayah Napo, maka batasnya dimulai dari daerah Tallasa hingga Sumail dan Kamba Jawa. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Lambe-Lambe memang merupakan wilayah penghubung antara Napo dan Samasundu. Di wilayah Lambe-Lambe juga terdapat empat sumber mata air milik Napo. Menurut pemahaman masyarakat dahulu, keempat sumber air tersebut tidak dapat dipisahkan dari wilayah Napo. Akan tetapi, pada masa sekarang cerita-cerita lama mulai jarang disampaikan sehingga perlu diwariskan kembali kepada generasi muda. Saat ini masyarakat lebih mengenal nama "Pakkamisang" daripada "Lambe-Lambe". Padahal, nama resmi yang tercatat dalam sejarah dan menjadi nama dusun adalah Lambe-Lambe. Namun masyarakat lebih mengenal istilah "Pakkamisang" karena berasal dari kata "Kammis". Dahulu terdapat pasar di wilayah Lambe-Lambe yang dikenal dengan nama Pasar Pakkammisang karena hari pasarnya berlangsung setiap hari Kamis. Pada masa itu, Pasar Pakkammisang bahkan lebih ramai dibandingkan Pasar Tinambung. Para pedagang yang berjualan di pasar tersebut biasanya membayar biaya operasional menggunakan ara" tumaru. Ara" tumaru pada masa dahulu digunakan sebagai biaya operasional pasar karena belum ada sistem pekerjaan dan pengelolaan seperti sekarang. Oleh sebab itu, pasar tersebut dikenal dengan nama Pakkammisang karena berlangsung pada hari Kamis. Lama-kelamaan wilayah di sekitar pasar berkembang menjadi perkampungan sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Pakkamisang. Demikianlah kisah tentang asal-usul Lambe-Lambe dan Pakkamisang. Semoga cerita lama seperti ini dapat terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar sejarah dan budaya masyarakat terdahulu tidak hilang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ambas

admin Baca
MAROMARONA TOLEMO (KEBODOHAN ORANG LEMO)
Desa Kuajang, Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar

MAROMARONA TOLEMO (KEBODOHAN ORANG LEMO)

Cerita ke-1 Dua tu cutitanna maro-maro to Lemo, iya te mai dolo inde Lemo e, rea ra buda inde, taman tu dio tau maqdara o. wattunna sae timo, na kande I api te mai rea e. Lao mi sua bene na sola anaknga " teka ko langngan banua". Mane masa pisona, sua ngasan tumuane turun bawa piso, lao sijallo api. Akhirnya buda I mate na kande api. Iyamo tu na karapa cappu tau inde Lemo iya. Iyamo tu disanga maro-marona to Lemo. Kona laori masa pisona, na mane si jallo api. Cerita ke-2 Dengan to curitanna lao tarimang ato kaju, kona wattunna tudio den apa la dipakanjai dao binuang, e lao mi to Lemo pasipulunga tau lao mala kaju kasalle, iaya tudio kaju o kona tae I melo ke rappik dokko litak, tambai mi tau na sua lao tarimang kaju, iya tubeine to kiwa"tang sola na"na tae I di tangga lao, dikuanni subun ko ikona, akhirnya sokka tea to kaju kasalle, mate ngasan tau to dio tarimang I, mate ngasan na tappoi ato kaju. Iyamo tu na la cappu tau inde biasa. "Cappuni!" Terjemahan Bahasa Indonesia Cerita ke-1 (pertama) Jadi ada dua cerita kebodohan orang-orang Lemo tempo dulu yang terkenal sampai sekarang, dahulu wilayah Lemo ditumbuhi banyak tanaman alang-alang, hamparan alang-alang begitu luas, disekitar perkebunan maupun sekitaran rumah. Suatu Ketika musim kemarau melanda, akhirnya tanaman alang-alang yang kering mudah dibakar api, orang-orang Lemo yang melihat kobaran api memerintahkan istri dan anak-anaknya masuk ke rumah, sementara laki-laki dewasa diperintahkan untuk mempertajam parangnya, setelah itu mereka bersatu dengan maksud untuk melawan api, pada akhirnya mereka semua mati terbakar dimakan api. Peristiwa ini lah yang menjadi awal mula muncul istilah "Maro-maro to Lemo". Karena bukannya memadamkan api dengan air, tapi malah melawan api dengan parang. Cerita ke-2 Adapun Cerita yang lain, pada suatu waktu orang-orang Lemo mengumpulkan masyarakat dengan tujuan untuk menadah kayu besar yang akan ditebang dengan maksud kayu tersebut tidak boleh jatuh menyentuh tanah, karena kayu itu akan dipersembahkan ke kerajaan binuang. Singkat cerita dikumpulkanlah masyarakat, laki-laki dewasa, perempuan dikumpulkan, anak-anak dan wanita hamil dikeluarkan dari barisan. Akhirnya kayu besar itu jatuh menimpa seluruh orang-orang yang terdapat dalam barisan, tidak satu pun yang selamat. Akibat dari peristiwa itu sebagian besar ,masyarakat Lemo meninggal dunia, konon katanya waktu itu masyarakat Lemo hampir habis. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Sakuru

admin Baca

Menampilkan halaman 1 dari total 4 halaman

Sebelumnya
Hal. 1
Selanjutnya