Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 113 cerita rakyat terarsip di sistem.

TO NALAMBA MAMBACA-BACA  ORANG YANG AKAN PERGI TASYAKKURAN
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

TO NALAMBA MAMBACA-BACA ORANG YANG AKAN PERGI TASYAKKURAN

Diang mesa carita tongan. Diang mesa panguma (petani) biasanna lao di umanna. Mua lao di umanna, biasanna iyapa na soro (pulang) mua lengas batu allo. Aparisanga lengas batu allo? Iyamo lohor. Iyapa na soro karana na massambayang lohor. Tapi diang mesa allo, mane pukkul ammesa (jam sebelas) na soro lao ri boyanna. Pole lao ri boyanna, na ala mi bajunna, na pake sokko"na (kopiah), mauwanni pa"balianna: " "Inna muola, kama"na"? (Istri bertanya: "Mau ke mana, Pak"?) Na walangngi: " "Moanna, apa sangana lamba tau mambaca." ("Saya mau pergi, ada acara barasanji.") Pa"balianna mappamanyai: " "Inna muoroi mambaca"? ("Di mana acaranya"?) Na walangngi: " "Di se"de boyang sambaling. Mamanya i sambaling ma"barasanji. Na liwan toi tau mappalepa barakka mua purai." ("Di samping rumah. Mereka mengadakan barasanji. Siapa tahu kita dapat berkah.") Pa"balianna berkata: " "Innai mappiroa"o? Diang tau mappiroa"o? Ndan diang tau pole mappiroa." ("Siapa yang mengundangmu? Tidak ada orang datang mengundang.") Na walangngi: " "Ceh, iya tomi disanga sa"puipuisan pare tau dio sambaling. Ita mua mambaca tau, naluppei kapang." ("Ah, masa tetangga begitu. Mungkin saja mereka lupa.") Akhirna, na alai bajunna, mirrawung naung dilita (turun dari rumah). Mauwanni lao pi illang asunna. Ternyata asunna di naung boyang mamanya ma ande buku manu (tulang ayam). Na alai batu kaimbang, na timbe lao ri asunna sambil mawalang: " "Apa muande ande kande-kandena tau? Iyya u tanna peroa sau! Iyo"? ("Kenapa kamu makan makanan orang? Saya saja tidak diundang, apalagi kamu!") Tau di boyang sambaling kaget. Napauangi: " "Apa riang tau ma"jallo? Innai"? Rupanna, tau sambaling sirannuang (saling menyangka). Tuan rumah napauangi: " "Upaunni mi kaco peroa"o sambaling kama"na." ("Saya sudah bilang ke keponakan untuk mengundang tetangga.") Kaco walangngi: " "Usanga na peroa"o ana"nure, apa diang dua tau lamba mappiroa." ("Saya kira sudah diundang, karena ada dua orang yang pergi mengundang.") Akhirna, di ala mesa sakkean liwang (satu baki) anna bawangan barakka lao ri boyanna panguma. Napole mi lao mappalepa maaf karana naluppei mappiroa. Panguma senangmi. Nawalangi pa"balianna: " "Indi mori buahna mua macai tau. Ande mo"o, massukkur mi lao di Puang Allah Ta"ala." Iyamo tu caritana. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada satu cerita yang benar-benar terjadi. Seorang pekebun biasanya pergi ke kebunnya pada pagi hari dan pulang ketika matahari telah condong ke barat, yaitu saat masuk waktu Zuhur, untuk melaksanakan salat Zuhur. Namun, pada suatu hari ia pulang lebih awal, sekitar pukul sebelas siang. Sesampainya di rumah, ia mengambil bajunya dan memakai kopiahnya. Istrinya pun bertanya, "Bapak mau ke mana"? Ia menjawab, "Saya mau pergi ke acara pembacaan barzanji." Istrinya kembali bertanya, "Di mana acaranya"? Ia menjawab, "Di samping rumah. Mereka mengadakan barzanji. Siapa tahu kita mendapat berkah." Istrinya heran dan berkata, "Siapa yang mengundang Bapak? Tidak ada orang datang mengundang." Ia menjawab, "Ah, masa tetangga seperti itu? Mungkin saja mereka lupa." Akhirnya, ia melepas kembali pakaiannya dan turun dari rumah untuk melihat anjingnya. Ternyata anjing itu sedang memakan tulang ayam di bawah kolong rumah. Ia pun mengambil batu kecil dan melemparkannya ke arah anjing sambil berkata, "Kenapa kamu makan makanan orang? Saya saja tidak diundang, apalagi kamu!" Orang-orang di rumah sebelah mendengar ucapan itu dan terkejut. Mereka saling bertanya, "Siapa yang tidak diundang"? Tuan rumah berkata bahwa ia sudah menyuruh keponakannya untuk mengundang tetangga tersebut. Namun, keponakannya menyangka bahwa tetangga itu sudah diundang oleh orang lain, karena ada dua orang yang pergi mengundang. Akhirnya, mereka menyadari bahwa tetangga tersebut benar-benar terlupa untuk diundang. Mereka pun segera mengangkat satu baki berisi hidangan dan membawanya ke rumah pekebun tersebut sambil meminta maaf. Pekebun itu pun merasa senang. Ia berkata kepada istrinya, "Inilah akibatnya kalau kita marah-marah. Mari kita makan dan bersyukur kepada Allah Swt." Mereka pun makan bersama dan bersyukur kepada Allah atas rezeki dan berkah yang diberikan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Nurmahdani

admin Baca
PATTOLA BALA (PENOLAK BALA/BENCANA)
Kab. Polewali Mandar

PATTOLA BALA (PENOLAK BALA/BENCANA)

Di kesempatan di"e, melo ucaritangi tradisi di kampung kami, di Desa Lombong Timur, iyamo tradisi "Ma Tolaq Bala". Tolaq Bala artina meraurau lao di Puang Allah Ta"ala, moga-moga napakarambui kampung pole bala (marabahaya). Biasanna, Tolaq Bala dipogau mua diang karewa-karewa tammacoa, misalna diang kabar mua na pole gempa, apa kemarau panjang sanna sementara masyarakat parallu uwai untuk panen apa bertani. Mua diang tanda-tanda susah, to mauweng (tokoh masyarakat) di masigi si pau-pau, siembongi imang anna parewa masigi untuk maadakang Tolaq Bala. Biasanna dipilih bonginna ayuma, utamana bonginna Kammis (malam Jumat), sangana malam mulia. Mua sepakat mi, masyarakat maelo mi lao di masigi. Iya ri"e, nawa-wawa kande-kande, utamana onde-onde, sebagai simbol. Pelaksanaan Tolaq Bala biasanna dipogau selama tallung bongi ayuma (tiga malam Jumat berturut-turut). Onde-onde iyamo simbol. Misalna: a. Mua mala" uran, onde-onde lippa" artina uwai (air); b. Mua diang linor (gempa), onde-onde mala" jadi pallaga (penangkal) sangana ndangi goyang. Selain simbol, kande-kande nawa-wawa lao di masigi iyamo tanda massulakka (bersedekah) anna massipa rupa tau (berbagi kepada sesama). Tau ma uweng yakin mua massulakka tau, insya Allah napakarambui bala Puang Allah Ta"ala. Di bonginna ayuma, doa na dibaca iyamo Barasanji, dibaca di masigi secara bersama-sama. Iyamo tu carita tentang tradisi Ma Tolaq Bala di kampung kami. Moga-moga diang manfaatna anna mala toi tia dipogau di kampung-kampung laing. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kisah ini menceritakan salah satu tradisi masyarakat Mandar yang ada di sebuah Desa Lombong Timur, yaitu tradisi "Tolak Bala." Tolak Bala berarti memohon doa kepada Allah Swt. agar kampung dijauhkan dari segala marabahaya. Biasanya, tradisi ini dilaksanakan apabila masyarakat mendengar kabar-kabar yang kurang baik atau tanda-tanda akan datangnya musibah. Misalnya, adanya prediksi gempa bumi atau kemarau panjang yang dapat menyulitkan masyarakat, terutama yang membutuhkan air untuk bertani. Para tokoh masyarakat dan pengurus masjid akan bermusyawarah bersama imam untuk menentukan waktu pelaksanaan. Biasanya dipilih pada malam Jumat karena dianggap sebagai malam yang mulia. Apabila telah disepakati, masyarakat akan berkumpul di masjid. Mereka membawa makanan, khususnya onde-onde, sebagai simbol. Pelaksanaan Tolak Bala biasanya dilakukan selama tiga malam Jumat berturut-turut. Onde-onde yang dibawa memiliki makna simbolis. Misalnya: a. Jika yang dikhawatirkan adalah kekeringan, onde-onde yang berisi air melambangkan harapan akan turunnya hujan; b. Jika yang dikhawatirkan adalah gempa bumi, onde-onde melambangkan harapan agar bumi tetap kokoh dan tidak berguncang. Selain itu, makanan yang dibawa juga menjadi bentuk sedekah dan kebersamaan antarwarga. Masyarakat meyakini bahwa dengan bersedekah dan berdoa bersama, Allah Swt. akan menjauhkan mereka dari marabahaya. Doa yang dibaca dalam pelaksanaan Tolak Bala biasanya adalah pembacaan Barzanji yang dilaksanakan di masjid secara bersama-sama. Demikianlah cerita tentang tradisi Tolak Bala di Desa Lombong Timur. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua. "Selesai!" Anonim

admin Baca
PAMULANNA NISANGA SUKU MANDAR (ASAL MULA SUKU/ETNIS MANDAR)
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

PAMULANNA NISANGA SUKU MANDAR (ASAL MULA SUKU/ETNIS MANDAR)

Diang andi maissang inai mappariang suku Mandar. Tapi, diang marruppa kata Mandar wattu kejadian Allaluang Watu di Luwu, apa perjanjian di lalang Assingawuttuang di Luwu. Di lalang perjanjian iyamo napauangi sipa Mandar. Arti Mandar iyamo magassing (kuat). Iyanna diang sungai di Mandar sangana Sungai Mandar di Balanipa. Iyamo disanga Sungai Mandar. Kata Mandar berasal dari kata mandarra. Diang to napauangi asal katana dari bahasa Arab """" (nadzar). To Makassar napauangi To Menndre, to Kaili napauangi Tomene. Iya ri"o beda loga, tapi pokokna tetap Mandar. Mengenai batasna Mandar, di zaman di"e, tau maelo napasamai Mandar anna Provinsi Sulawesi Barat. Batasna Sulawesi Barat di Paku lambi Suremana. Di seblah barat diang Desa Pasoka anna Pulau Salissingang sikareppe Kalimantan. Tapi setonganna, sebelum diang Provinsi Sulawesi Barat, batas adat Mandar iyamo: a. Di selatan lambi Makalaraeng (Binanga Karaeng); dan b. Di utara lambi Lalombi. Jadi tania Paku lambi Suremana batas Mandar, tapi Binanga Karaeng lambi Lalombi. Diibandingang batas Sulbar di"e, ita to Mandar pa"dai kira-kira 15 km di selatan anna 30 km di utara dari wilayah adat Mandar. Inai disanga to Mandar? Diang paunna: a. To Mandar iyamo tau mottong di Mandar; b. To Mandar iyamo tau dippeanangi di Mandar, kindo anna ammana to Mandar; dan c. Diang pole paunna, innai mandundu uwai Mandar, Mandar mi tu. Iyamo artina, tau pole anna pura mottong di Mandar, mala mi disanga to Mandar. Iyamo tu asal katana Mandar. "Purami Dolo"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Asal mula disebut Suku Mandar tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menciptakan atau menyebut nama tersebut. Namun, kata Mandar ditemukan dalam peristiwa yang dikenal dengan istilah Allaluang Batu di Luwu, yaitu sebuah perjanjian dalam persekutuan yang disebut Assingawuttuang di Luwu. Dalam perjanjian itu disebutkan tentang sifat mandar. Arti kata mandar adalah kuat. Oleh karena itu, terdapat sebuah sungai di wilayah Mandar yang dinamakan Sungai Mandar, yang berada di Kampung Balanipa. Nama sungai tersebut menunjukkan bahwa sejak dahulu kata Mandar memang sudah dikenal. Secara etimologis, kata Mandar disebut berasal dari kata mandarra. Ada pula yang mengaitkannya dengan kata dalam bahasa Arab """" (nadzar). Dalam penyebutan di berbagai daerah, orang Makassar menyebutnya To Menndre, dan orang Kaili menyebutnya Tomene. Perbedaan itu hanyalah dialek, tetapi semuanya merujuk pada Mandar. Mengenai batas wilayah Mandar, masyarakat sekarang sering menyamakan Mandar dengan Provinsi Sulawesi Barat. Batas wilayah Provinsi Sulawesi Barat saat ini dari Paku hingga Suremana. Di bagian barat terdapat Desa Pasoka dan Pulau Salissingan yang dekat dengan Kalimantan. Namun, sebelum terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat, batas wilayah Mandar secara tradisional adalah: a. Di bagian selatan sampai Makalaraeng (atau Binanga Karaeng); b. Di bagian utara sampai Lalombi. Jadi, secara historis, batas Mandar bukan dari Paku sampai Suremana, melainkan dari Binanga Karaeng sampai Lalombi. Jika dibandingkan dengan batas Provinsi Sulawesi Barat sekarang, masyarakat Mandar dianggap kehilangan sekitar 15 km di bagian selatan dan sekitar 30 km di bagian utara dari wilayah adat Mandar. Lalu, siapa yang disebut orang Mandar? Ada beberapa pandangan: a. Orang Mandar adalah mereka yang tinggal di wilayah Mandar; b. Orang Mandar adalah mereka yang lahir di Mandar dari ayah dan ibu orang Mandar; dan c. Ada pula ungkapan yang mengatakan bahwa siapa saja yang minum air Mandar dapat disebut orang Mandar. Artinya, siapa pun pendatang yang telah menetap dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar dapat pula disebut sebagai orang Mandar. Demikianlah asal mula penyebutan Mandar. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Nurmahdani

admin Baca
TRADISI MATTANANG (MENANAM)
Desa Pussui, Kec. Luyo, Kab. Polewali Mandar

TRADISI MATTANANG (MENANAM)

Nah, diolo"mai caritana rada lucu. Tomawuweng di Mandar rajin tongan ma"jama, indangi diragukan masia"na. Tapi diolo"na, cara-carana ma"jama andang dipikir panjang kanggo perkembangan selanjutnya. Najama-jama ri uma biasa pahe anna bille. Kopi, kaoce (kemiri), langsat, anna sajabana andangga marakke" diolo"; pokokna pahe anna bille anu utama. Pahe iyamo pokokna tura"-tura"na, siola bille, bue, anna sayur-sayuran biasa. Mua mane mattipo" mattura", biasanna dipauangngi sandona (dukun) supaya mapia hasilna, mau pahe mau bille. Mua mimbuha"mi pahena, diang to dipauangngi"dipande dolo"anna napasediangi andena. Andena mapia tongan: diang tallo, bau-baunna mapia, sayur-sayuran, pokokna enak. Apa mua mapia andena, mapia tomi paissingna pahena. Mua pahena mahae"mi (mulai berisi), nadokkangmi; mua billena massappi", nabassei anna naikat. Tappana dipanen, billena nabulle lao kappung anna nalollangi dolo (dijemur). Andang diang dipauangngi "mawe"i" apa masannangmi tau mua maissi pahena siola billena. Pahe mua mahihi"mi, tandana mala nadokkang. Biasanna tau mapparappung lao padokkang, apa panenna sabattang allo. Buana pahena nalappohangmi, natuyu", napunguh. Tappana puha nadokkang, nalloi dolo, mua purami nalloi anna malambu", mala mattandai allo maacara. Maacarana disanga peca" bahu"acara namaande beras baru. Dipasediangi barras, pahepulu" (beras ketan) untuk massokkol, siola manu" sitatallu manu" londong. Apa di uma diang tongan manu", pahena, anna billena. Jari ummande siola maacara ri kappung. Hasilna lewa tongan, biasa lambi" tallu lumbung Kaiyyang. Tapi lucunna to diolo", mua puha panen, diomi dolo ummande mappinyamang-nyamangngi hasilna. Mua mahae"mi stok, barumi mellamba mappimalai pangumaang baru. Iyamo tu"u tradisi to diolo" ri Mandar"dipauangngi pattiriolong. Indangi mala tan dipogau, apa iyamo asal-usulna ri adat pertanian. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala, ada kebiasaan yang terasa lucu jika diceritakan kembali. Orang-orang tua di Mandar sangat rajin bekerja dan tidak diragukan lagi semangat kerjanya. Namun, pada masa itu mereka belum terlalu memikirkan perencanaan untuk perkembangan jangka panjang. Mereka bekerja di kebun dengan menanam padi dan jagung sebagai tanaman utama. Tanaman seperti kopi, kemiri, dan langsat belum banyak dibudidayakan. Fokus utama mereka hanyalah padi dan jagung. Padi merupakan tanaman pokok, disusul jagung, kacang-kacangan, dan beberapa jenis sayuran. Ketika mulai menanam, biasanya mereka memanggil dukun atau sandro untuk mendoakan agar hasil panen baik, baik untuk padi maupun jagung. Ketika padi mulai berbuah atau berisi, mereka mengadakan ritual "memberi makan" padi terlebih dahulu. Makanan yang disiapkan sangat lezat, seperti telur, ikan, dan sayur-sayuran. Mereka percaya bahwa jika makanan yang dipersembahkan baik, maka isi padi juga akan baik dan bernas. Setelah padi mulai menguning dan siap panen, padi dipotong (disabit), sedangkan jagung diikat dan dikumpulkan. Jagung yang telah dipanen biasanya dijemur terlebih dahulu sebelum dibawa ke kampung. Tidak ada rasa lelah, karena mereka merasa sangat bahagia melihat hasil panen yang melimpah. Ketika padi menguning, itu menjadi tanda bahwa padi siap dipanen. Biasanya panen dilakukan bersama-sama oleh banyak orang karena masa panennya bersamaan. Setelah dipanen, padi diikat, dikeringkan, lalu ditumbuk. Jika hasilnya sudah banyak dan terkumpul, mereka menentukan hari baik untuk mengadakan acara makan bersama sebagai wujud syukur atas hasil panen baru. Acara itu dikenal sebagai makan "peca" bahu" atau syukuran beras baru. Mereka menyiapkan beras, beras ketan untuk dibuat sokkol, serta tiga ekor ayam jantan untuk disembelih. Karena hasil panen melimpah, kadang-kadang mencapai tiga lumbung besar, mereka mengadakan makan bersama di kampung. Menariknya, setelah panen, orang-orang dahulu biasanya menetap di kampung untuk menikmati hasil panen tersebut. Jika persediaan mulai berkurang, barulah mereka kembali membuka lahan baru untuk bercocok tanam. Itulah tradisi bertani orang Mandar dahulu, sebuah kebiasaan turun-temurun yang menjadi bagian dari adat dan tidak dapat ditinggalkan begitu saja karena merupakan warisan leluhur. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Abdullah/Nur Alisa

admin Baca
ASAL MULA HUKUM DI MANDAR
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

ASAL MULA HUKUM DI MANDAR

Diolo" dini ri Mandar, mua diang parakara, tau siola siola diola lao ri mesa buttu disanga Buttu Bala Batu. Diolo"na nisanga Bala Batu apa ururunna batu nasang. Ri di"o tau mambuttui parakara siola cara pasialla. Mua tommuane siparakarang, diola tama dilalangna anna dipasigayyang makke"de badik. Innai mate ri pasigayyang, iyamo disanga menang. Mua"pi tongan salahna tapi ia tarrus mallabu ri pasigayyang, tetap disanga menang. Tapi biasanna, si duanna mate apa siri"na andiang mau massala" mundur. Mua towaine siparakarang, limanna dipatama ri pamuttu disanga re"de, uwai malandep (mendidih) di lalangna. Si duanna masumpa" patama limanna. Innai mendolo mambeso limanna, iyamo disanga kalah. Tapi biasanna, apa siri", andiang mau mambeso limanna, lambi si duanna mate. Mara"dia maung, "Andiang tori kararanna manjari mara"dia, apa tau nasang mate mua" cara di"e tarrus dipogau." Apa sabanna, siala-siala poko"na, siasal, nasang diola lao ri pasigayyang. Jari Puang Sallo (pambicara Kaiyyang) maung, "Macoami mua adat di"e diwindo"i. Damo tarrus dipake", apa cappu tau mate." Masarakat napikir, anna mara"dia maung lao mappetule" ri banua tau laing, peita caranna mambuttui parakara. Lao ri Makassar, ri Karajaan Gowa, anna di"o napelajari caranna mambuttui parakara siola sarana adatna. Tappana pole ri Mandar, napake"mi cara di"o. Diang appe" rupa ulu bicara ri Mandar, iyamo: Tutu Mesagala Wali-wali, Palolo Wali-wali, Sa"bi Wali-wali, anna Oro Wali-wali. Iyamo di"o appe" cara mambuttui sara", peita innai tongan anna innai salah. Tappana di"o, andiangmo tori adat pasigayyang ri Buttu Bala Batu. Hukum ri karajaanmi dipake", anna Mandar maoroi ri sara" anna adat anu lebih adil. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala di Mandar, apabila ada suatu perkara atau perselisihan, orang-orang akan membawanya ke sebuah gunung yang disebut Gunung Bala Batu. Dahulu gunung itu dinamakan Bala Batu karena seluruh sekelilingnya dipagari oleh batu. Di tempat itulah perkara diputuskan dengan cara berkelahi. Apabila yang berselisih adalah laki-laki, mereka dimasukkan ke dalam tempat itu dan dipertarungkan menggunakan badik (keris). Siapa yang mati dalam perkelahian tersebut dianggap sebagai pihak yang kalah, dan yang tetap hidup dinyatakan sebagai pemenang, meskipun sebenarnya ia berada di pihak yang salah. Namun, sering kali keduanya sama-sama tewas karena rasa malu dan pantang menyerah. Jika yang berselisih adalah perempuan, tangan mereka dimasukkan ke dalam wajan berisi air mendidih. Keduanya harus menahan tangan mereka di dalam air tersebut. Siapa yang lebih dahulu mengangkat tangannya dinyatakan kalah. Akan tetapi, karena rasa malu dan harga diri, sering kali keduanya tidak mau mengangkat tangan sehingga berakhir dengan kematian. Melihat hal itu, raja berkata, "Tidak ada gunanya menjadi raja jika rakyat terus-menerus mati karena cara seperti ini." Sebab, setiap ada perselisihan, selalu diselesaikan dengan pertarungan yang berujung maut. Puang Sallo, selaku pembicara besar kerajaan, mengusulkan agar adat tersebut dihentikan karena hanya akan menghabiskan rakyat. Raja pun memerintahkan agar pergi mempelajari cara penyelesaian perkara di negeri lain. Utusan kemudian pergi ke Makassar, tepatnya ke Kerajaan Gowa, untuk mempelajari bagaimana cara mereka memutuskan perkara. Setelah kembali ke Mandar, diterapkanlah sistem penyelesaian perkara yang baru. Di Mandar dikenal empat bentuk ulu bicara, yaitu: Tutu Mesagala Wali-wali, Palolo Wali-wali, Sa"bi Wali-wali, dan Oro Wali-wali. Keempat cara inilah yang digunakan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan hukum dan adat. Sejak saat itu, adat perkelahian di Gunung Bala Batu tidak lagi digunakan, dan masyarakat Mandar mulai memakai sistem hukum kerajaan yang lebih adil dan teratur. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Musayana

admin Baca
TAU MNJARI TABARO (ORANG MENJADI TABARO)
Desa Bonde, Kec. Campalagian, Kab. Polewali Mandar

TAU MNJARI TABARO (ORANG MENJADI TABARO)

Diang mesa wattu, diang mesa to pumbaine. Saban pole muanena ma"jama, andanggi dio boyanna pumbaine. Muanena lapar pole ma"jama, tapi andena andanggi disiapang. Pirang allomi lambi", jari macaimi muanena. Awalna andanggi dipogau, tapi tappana tallu bongi boyanna lo"bang terus, andena andanggi nayappanggi. Jari na"alangmi muanena balo"-balo" (papan) mappake" pumbaine. Meindongmi pumbaine, napangngalangi muanena. Meindongmi tarrus, jari nalambi" towanggi. Naua pumbaine, "Mua meindong ya, andang mala tongan kupellei." Maitami lemba-lembang (uwae), jari napattinroi di uwae. Polemi muanena, napake"de pumbaine, tapi andang mala mekke"de. Naua muanena, "Inggae sau, mala sumanggi anaqmu." Naua pumbaine, "Andang mala, iyau naoroi dio." Meitami muanena naong dipulokko"na, mass"mi membuake naong di lalangna. Tappana tarrusmi dio di lemba-lembang, iyamo tu"u penjarianna Tabaro. Jari mua diang Tabaro, peitamo uwainna. Uwae tu"u iyamo asal penjarianna. Mua andang namakanyang, ciumo Tabaro tu"u; andang bau busuk, tapi membau" sappa anaq-ana".Iyamo tu"u napeillongang Tabaro. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada suatu waktu, ada seorang perempuan. Setiap kali suaminya pulang bekerja, istrinya tidak berada di rumah. Suaminya pulang dalam keadaan lapar, tetapi makanan tidak pernah disiapkan. Kejadian itu berlangsung selama beberapa hari hingga akhirnya suaminya marah. Awalnya ia hanya diam, tetapi setelah tiga malam rumah selalu kosong dan makanan tidak diperhatikan, ia pun mengambil papan untuk memukul istrinya. Istrinya lalu melarikan diri, dan suaminya mengejarnya. Perempuan itu terus berlari hingga merasa kelelahan. Ia berkata dalam hati bahwa walaupun ia terus berlari, ia tetap akan tertangkap. Ia kemudian melihat sebuah sungai dan duduk di tepinya. Tak lama kemudian suaminya tiba dan mencoba membangunkan serta menariknya berdiri, tetapi tidak berhasil. Suaminya berkata, "Ayo pulang, nanti anakmu menangis." Perempuan itu menjawab bahwa ia akan tetap tinggal di tempat itu. Suaminya melihat bagian bawah tubuh istrinya mulai berakar ke tanah. Tubuhnya menyatu dengan alam dan menetap di sungai tersebut. Dari situlah asal-usul Tabaro. Konon, jika melihat Tabaro, perhatikanlah airnya. Air itulah yang menjadi tanda asal kejadiannya. Jika tidak percaya, ciumlah Tabaro itu"airnya tidak berbau busuk, melainkan memiliki bau khas seperti bau anak kecil. Itulah sebabnya cerita ini dikenal sebagai asal-usul Tabaro. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Yahya HRB/Miftahul Ahmad

admin Baca
KINDO??? TOMENJARI LUYUNG (IBU YANG JADI IKAN DUYUNG)
Desa Bonde, Kec. Campalagian, Kab. Polewali Mandar

KINDO??? TOMENJARI LUYUNG (IBU YANG JADI IKAN DUYUNG)

E ri"e, diang sitti" towaine sanganna Indo" anu menjari luyung. Indo" e tosibaro siola muanena, sibaro anna sialla. Muanena melappis petannung ri bainena (alat pappabuat sarung). Lassu"mi sau ri sasi", apa"na meana keccu"moe turie. Indo" e maindong ri sasi" tallumbongi. Ana"na anu keccu" digendong kakanna, lao ri sasi" anna mapissang, "Indo", pasusuang tori kandi"u, kasi massae mi bonggi sumanggi." Jari polemi indo" e measore ri pottana sasi". Napasusumi ana"na ri sasi". Tappana ganna pao tallumbongi, indo" e maung, "Damo mu lao mai ri sasi", apa"na namessisi"mi roangku." Tapi kakanna pole lao ri sasi". Indo" e measore pole ri pottana, anna maung, "Damo mubawanggang mai, apa"na namessisi"mi tu"u roangku." Iyamo tu"u indo" e menjari luyung. Luyung biasanna maoroi ri lawanggang, andiang lao ri sasi" karau. Mua diang pole tau ri kapal, iya natuppanggang anna najuju, jari tattai ri lawanggang sau tenggelam. Mua diang luyung mate anna mulesai limai tu"u garemenna, apa"na indo" e di lalangna. Iyamo tu"u napeillongang mua indo" menjari luyung apa" tongangi caritana. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada suatu waktu, ada seorang perempuan (ibu) yang kemudian menjadi luyung (duyung). Ia bertengkar dengan suaminya hingga terjadi perkelahian. Suaminya memukulnya menggunakan petannung (alat pembuat sarung). Karena sedih dan terluka, ia pun pergi ke laut dalam keadaan hamil kecil. Ia menetap di laut selama tiga malam. Anak bungsunya yang masih kecil digendong oleh kakaknya pergi ke laut untuk memanggil ibunya. Kakaknya berkata, "Ibu, susuilah adikku. Kasihan, sudah lama ia menangis." Ibunya pun datang mendekat ke tepi laut dan menyusui anaknya di sana. Setelah genap tiga malam, sang ibu berkata, "Jangan lagi datang ke laut, karena tubuhku sudah mulai bersisik." Namun kakaknya tetap datang ke laut. Ibunya kembali mendekat dan berkata, "Jangan membawanya ke sini lagi, karena tubuhku sudah bersisik." Sejak saat itu, sang ibu benar-benar berubah menjadi luyung (duyung). Luyung biasanya tinggal di sekitar lawanggang (penanda laut dalam) dan tidak pergi ke laut lepas. Jika ada kapal yang datang, ia kadang mendorong kapal itu hingga tenggelam. Konon, jika ada luyung yang mati dan diperiksa, ia memiliki lima jari seperti manusia, karena diyakini bahwa di dalamnya terdapat jiwa sang ibu tersebut. Itulah sebabnya orang-orang mengatakan bahwa luyung berasal dari seorang ibu yang berubah menjadi duyung. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Yahya HRB/Miftahul Ahmad

admin Baca
MARA'DIA/RAJA
Desa Bonde, Kec. Campalagian, Kab. Polewali Mandar

MARA'DIA/RAJA

Mula-mulanna, diang sitti" Mara"dia. Iyamo carita to dolo-tolo anu uwissang. Mara"dia iyanu mammula mai di Maasar, anna ada to manus lao silappei timbo-timbo di sasi". Mappulo wongi lao ri sasi", tapi andiang mate. Nade" lumut-lumutang, tapi tetap salama". To ri sasi" andangi mate, jari to diolo sangga"i iya raja". Apa"na mappulo wongi di sasi" tapi andangi mate. Iyamo ri"o dipakennai Mara"dia, apa"na diang tanda-tandana to luar biasa. Pole di Maasar, iya lao ri Campalagian anna ri Tinambung. Di Tinambung, diang tau sanganna Puang Monda". Iyamo to dolo sangga"i Mara"dia ri Tinambung. Keluargana sangi" malluluare", anna ri sasi" sanganna pitu ba"bana binanga lambi" ri Sendana Mamuju. Diolo, pitu Mara"dia sangga"i ri Mandar. Andiang boyang penda"dua, apa"na nasang keluarga raja. Mara"dia ri Maasar, Mara"dia ri Tinambung, Mara"dia ri Campalagian, anna mara"dia lianna, nasang sangi" massisombalang. To naung di timbo-timbo sanganna Saberi Gading. Iyamo to messawe ri sasi" diolo. Diang to mauang matindo Saberi Gading ri sasi", tapi iya tetap salama". Apa"na makkaalla Allah Ta"ala, iya diang kaajaibanna. Lambi" di darat, tama ri boyang anna lao ri wuttu. Diolo, mara"dia sangga"i to malolo anna to makkaalla. Wattu diolo, mara"dia sangga"i to mamimpin lembang anu sa"diolo sanganna mara"dia. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada mulanya, ada seorang Mara"dia (raja). Itulah cerita orang-orang zaman dahulu yang saya ketahui. Awalnya, di wilayah Makassar ada seseorang yang hanyut dan terlipat di antara bambu-bambu di laut. Ia terombang-ambing selama puluhan malam di lautan, tetapi tidak meninggal dunia. Tubuhnya sampai berlumut, namun ia tetap selamat. Orang yang hanyut di laut itu tidak meninggal. Karena telah puluhan malam berada di laut namun tetap hidup, masyarakat menganggapnya sebagai seorang raja. Sejak saat itu, ia disebut Mara"dia karena dianggap memiliki tanda-tanda keistimewaan. Dari Maasar, ia kemudian menuju Campalagian dan Tinambung. Di Tinambung terdapat tokoh bernama Puang Monda", yang pada masa lalu dikenal sebagai Mara"dia di wilayah tersebut. Keluarganya menyebar luas, dan wilayah itu dikenal memiliki tujuh muara sungai hingga ke Sendana, Mamuju. Dahulu, dikenal tujuh Mara"dia di Mandar. Tidak ada dua rumah yang terpisah, karena semuanya masih satu keluarga kerajaan. Ada Mara"dia di Makassar, Tinambung, Campalagian, dan wilayah lainnya, yang semuanya saling terhubung dalam satu garis keturunan. Orang yang terombang-ambing di antara bambu itu disebut Saberi Gading. Dialah yang dahulu hanyut di laut. Ada yang mengatakan ia tertidur di laut, tetapi tetap selamat. Karena kehendak Allah Swt. ia memiliki keajaiban sehingga tidak meninggal. Setelah sampai di darat, ia kembali ke rumah dan naik ke pegunungan. Dahulu, Mara"dia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan dihormati. Pada masa lalu itulah pemimpin wilayah disebut Mara"dia. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Yahya HRB/Kurniawan

admin Baca
CALU??? AMMANA WEWANG
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

CALU??? AMMANA WEWANG

Umulai carita tentang Calu ammana Wewang. Iya to sanganna Calu ammana Wewang, Mara"dia Matoa di Balanipa, anna Mara"dia malolo di Alu. Ammana Wewang dipaungani sebagai pejuang revolusi, apa"na sebelum proklamasi kemerdekaan, iya memang sudah berjuang. Ammana Wewang narakkei Belanda. Iya to ka"bali, indani nande kowi anna peluru. Iya naung masserang di Banggae, narampasi senjata Belanda sebayang 87 pucuk ingganna peluruna, anna dibawa pulang. Belanda sering rugi karena perbuatanna Mara"dia. Belanda narencanai nasaka anna napatei Mara"dia, apa"na indani mala dipatei apa ka"bali. Belanda maita carana anna mala disaka, jari napesangi tau to maissang kelemahanna Ammana Wewang. Dianmo mapissanni mua melo musaka Ammana Wewang, patengangi die carana. Belanda maita tau to kareppu"na Mara"dia jadi mata-mata. Napesangi mua mala musaka Mara"dia, iya naubeng doi. Tau to"o maung, "Iyyo, meloa." Tappana matindo Mara"dia, iya napissang Belanda. Belanda lao nasaka Ammana Wewang, nasipi tarring alawena (bambu) sebagai tanda kelemahanna to ka"bali. Iyamo kelemahanna. Jari tisaka mi Mara"dia, dibawa naung di Banggae anna ditahan. Belanda maung indani mala ditahan di Banggae. Lebih baik dibawa dai Makassar. Dolo dibawa dai Tomadio, apa"na mua disini, temanna mala ma"jalloe (memberontak). Jari napalaianmi dai Makassar. Tappana di Makassar, nabawa bomi liwang Jakarta untuk diadili. Iya diasingkan di Pulau Belitung salama 36 tahun saena. Wattunna lassu, malaimi mai ma"lopi anna tandda" di Ba"babulo. Pole di"o, malaimi le"mai di Balanipa anna mamboyang di Limboro. Indan lama pole proklamasi kemerdekaan, matemi Mara"dia. Dilamung mi di samping masigi Limboro. Apa"na marakkei seiyya mua kuburna namanusangi wai, jari napalenggu"mi dai di Buttu Tandu"dur. Sampai di"o kuburna masi di Buttu Tandu"dur. Pole battunna Ammana Wewang dari Belitung, di paelonganmi lagu pole Puang Bassi, judulna "Nasaua Dialangan". "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kisah ini bercerita tentang Calu Ammana Wewang. Ia dikenal sebagai Mara"dia Matoa (raja tua) di Balanipa dan seorang Mara"dia yang gagah di Alu. Calu Ammana Wewang disebut sebagai pejuang revolusi karena sebelum proklamasi kemerdekaan, beliau sudah terlebih dahulu berjuang. Calu Ammana Wewang sangat ditakuti oleh Belanda. Beliau sangat berani dan kebal terhadap parang maupun peluru. Ia turun ke Banggae dan merampas 87 pucuk senjata milik Belanda beserta seluruh pelurunya, lalu membawanya pulang. Belanda sering mengalami kerugian akibat tindakan sang Mara"dia. Belanda kemudian merencanakan untuk menangkap dan membunuh Mara"dia. Namun, ia tidak dapat dibunuh karena kebal. Belanda pun mencari cara agar dapat menangkapnya dengan mencari orang yang mengetahui kelemahan Calu Ammana Wewang. Seseorang memberitahukan bahwa jika ingin menangkap Calu Ammana Wewang, "Ada caranya." Belanda kemudian memilih orang terdekat Mara"dia untuk dijadikan mata-mata. Ia dijanjikan hadiah uang jika berhasil menangkapnya. Orang tersebut menyanggupi. Saat Mara"dia sedang tidur, orang itu memberi tahu Belanda. Belanda datang untuk menangkap Calu Ammana Wewang. Ia dijepit dengan bambu sebagai tanda kelemahannya (kelemahan orang kebal). Akhirnya Mara"dia berhasil ditangkap dan dibawa ke Banggae untuk ditahan. Belanda mengatakan bahwa ia tidak dapat ditahan di Banggae. Lebih baik dibawa ke Makassar. Ia sempat dibawa ke Tomadio terlebih dahulu. Belanda khawatir jika tetap di sana, teman-temannya akan memberontak. Kemudian ia dipindahkan ke Makassar. Setelah sampai di Makassar, ia kembali dibawa ke Jakarta untuk diadili. Ia dijatuhi hukuman pengasingan ke Pulau Belitung selama 36 tahun. Setelah bebas, ia pulang menggunakan perahu dan mendarat di Ba"babulo. Dari sana, ia kembali ke Balanipa dan membangun rumah di Limboro. Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan, Mara"dia wafat. Ia dimakamkan di samping Masjid Limboro. Namun, karena warga khawatir makamnya terbawa air sungai yang meluap, makam tersebut dipindahkan ke Gunung Tandu"dur. Hingga kini, makamnya masih berada di Gunung Tandu"dur. Sepulangnya Calu Ammana Wewang dari Belitung, diciptakanlah sebuah lagu oleh Puang Bassi berjudul "Nasaua Dialangan". "Selesai!" H. Ahmad Asdy/Intan Nur Hidayah

admin Baca
MARA???DIA DI BULO (RAJA DI BULO)
Desa Ratte, Kec. Tutar, Kab. Polewali Mandar

MARA???DIA DI BULO (RAJA DI BULO)

Di"o caritana, wattunna tau dipemmalai baunna di lembang di Bulo. Mara"dia di Bulo solai pa"puangnganna lao memmalai. Tappana pole mara"dia, uwaio matimmi anna issinna dipemmalai pole jolo. Macai sanna" mara"dia apa dipemmalai issinna andiang kehadiranna, padahal iya mi naungngangi mua natiangi pai anna dipemmalai. Nakumpulmi issinna masyarakat, mara"dia ma"uang macai. Di bongi jam sappulo dua, malaimi lao di Bulo-bulo. Ponggawa di Bulo-bulo mottongi di Tapparang tallu bulan sappulo bonginna, manguma diaya. Wattunna diaya manguma, naita liwa di Bulo anna ruapai alamatna. Tappana naita alamatna, ma"uangmi melenggu duapa (melenggu = ingin pindah). Andiang setuju tau mua naita liwa pole, jari macaimi. Tappana pura ummande anna meakkemi, malaimi lao pole di umanna di wuttu, mottong diaya. Luluarena mara"dia di Bulo ma"uang, "Ma"apa napaole bumo"? Naua, "Polea apa meloi siola tau." Mara"dia ma"uang pole, "Nasiola tongan bandi tau"? Naua, "Iyo." Jari polemi duanna lao di wuttu manguma, anna mottong diaya. Iyamo caritana Mara"dia di Bulo. "Pura!" Terjemahan Bahasa Mandar Pada suatu waktu, masyarakat hendak menangkap ikan di sungai Bulo. Mara"dia (raja) Bulo bersama para pemangku adat juga pergi untuk menangkap ikan. Namun, ketika sang raja tiba, air sungai telah surut dan ikan-ikan sudah lebih dahulu ditangkap tanpa menunggunya. Mara"dia pun sangat marah karena penangkapan ikan dilakukan tanpa kehadirannya, padahal sebelumnya telah disepakati bahwa penangkapan dilakukan setelah ia datang. Masyarakat kemudian berkumpul, dan kemarahan raja semakin memuncak. Pada sekitar pukul dua belas malam, ia memutuskan untuk pergi menuju Bulo-bulo. Seorang ponggawa (panglima) dari Bulo-bulo sempat menetap di Tapparang selama tiga bulan sepuluh hari untuk berkebun. Ketika sedang berkebun, ia masih melihat dan mengingat kampung Bulo beserta alamatnya. Ia pun berniat untuk pindah kembali. Namun, tidak semua orang setuju dengan keinginannya yang terus memandang dan mengingat kampung lamanya, sehingga timbul kemarahan. Setelah selesai makan dan beristirahat, mereka kembali berangkat menuju kebun di pegunungan dan menetap di sana. Seorang kerabat Mara"dia di Bulo ingin ikut serta. Mara"dia bertanya, "Mengapa kamu datang lagi"? Ia menjawab, "Saya datang karena ingin ikut bersamamu." Raja kembali memastikan, "Apakah kamu sungguh-sungguh ingin ikut"? Ia menjawab, "Ya." Akhirnya, mereka bersama-sama pergi ke gunung untuk berkebun dan menetap di sana. Demikianlah kisah Mara"dia di Bulo. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Kamaluddin/Gitawati

admin Baca
I KARAKE??? LETTE??? (SI KAKI PINCANG)
Lingk. Tinggas-tinggas, Kel. Tinambung, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

I KARAKE??? LETTE??? (SI KAKI PINCANG)

Di"o di sanga I Karake Lette". Sebenarna, jolo diangmo sangana, iya to disanga karna lettena urudiang (pincang). Di Mandar, diang 41 tomakaka, anna mesa diantaranna disanga Tomakaka di Loppo. Karna monge" lettena, mua millamba sanna" mapparisi, jari tau magallari iya Karake Lette" (karake = rusak, lette" = kaki). Diang pole tau to Takalar, tau barani, meloi na"ala Balanipa. Andiang tau ma"ewa"i. Mara"dia ma"uang, "Innai di"e ma"ulle ma"ewai"? Tau ma"uang, "Diang I Karake Lette"." Jari napasiallama I Karake Lette". Millambami I Karake Lette" pole di Loppo lao Balanipa. Tiga bongi tiga allo iya millamba karna monge" lettena. Tappana sita mi siola to barani, tau to Takalar ma"uang, "Mara"dia andang sala, apa ma"pasiallama tau cacat ma"ewai yau? Tau sehat to"e kuallangi, apalagi di"e." I Karake Lette" ma"uang, "Iyamo, tapi si"kasa-kasa"mo. Yau mambawa tallu lemo. Mua utimbeo anna mu"alami, yau malai. Tapi mua iko timbe mai anna yau malai na"alami, iko malai." Tau to Takalar massetuju. Tappana I Karake Lette" natoro lemo, bisa na"alami anna napoleang pole. Mua tau to Takalar natimbe, I Karake Lette" towoi na"alami pole. Jari tau to Takalar malai, apa napattuppui janjinna. Mara"dia ma"uang, "Me"apa muinginkan"? I Karake Lette" ma"uang, "Indang"a diang. Yau mara"dia di Loppo." Mara"dia ma"uang pole, "Harus diang bengangku." Jari I Karake Lette" ma"uang, "Benganami kebun." Subuh-subuh iya lao di buttu anna ma"illong, "Bangunmo tau! Lao mambue", lao ma"jama!" Tappana allo massimbara, iya maita" sangga"na suara"na. Tau Beu"asa nairrangi, tau Batu-Batu nairrangi. Iyamo jadi wilayahna. Jari Batu-Batu tama di wilayah Balanipa. Masanna, diang pole carita. I Karake Lette" mappasalanganna anna mesti dihukum. Tapi iya ma"uang, "Indang"a mu hukum yau. Yau malai pole." Tappana iya malai, di kampung di"o diang rengge (perselisihan). Jari digallari kampung di"o Renggeang di Tinambung. Iyamo caritana I Karake Lette". "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dialah yang dikenal dengan nama Si Karake Lette". Pada awalnya, nama itu belum ada. Ia disebut demikian karena kakinya pincang. Di Mandar dahulu terdapat 41 tomakaka (pemimpin adat), dan salah satunya disebut Tomakaka di Loppo. Karena jalannya pincang dan tampak tidak sempurna, masyarakat menjulukinya Karake Lette", yang berarti kaki rusak atau pincang. Suatu ketika datang seorang pemberani dari Takalar yang ingin merebut wilayah Balanipa. Tidak ada seorang pun yang berani melawannya. Mara"dia (raja) kemudian bertanya, "Siapa yang mampu menghadapi orang ini"? Masyarakat menjawab bahwa ada satu orang, yaitu Si Karake Lette". Maka ia pun dipanggil untuk menghadapi sang pemberani. Si Karake Lette" berjalan dari Loppo menuju Balanipa. Karena kakinya pincang, ia menempuh perjalanan selama tiga hari tiga malam. Ketika bertemu, orang dari Takalar itu berkata, "Raja ini sungguh keliru, mengapa memberiku lawan orang yang cacat? Orang sehat saja bisa kukalahkan, apalagi dia." Si Karake Lette" kemudian berkata, "Baiklah, kita tidak perlu berkelahi. Kita adu kepandaian saja. Saya membawa tiga buah jeruk. Jika saya lempar dan kamu dapat menangkapnya, saya akan pergi. Tetapi jika kamu yang melempar dan saya bisa menangkapnya, maka kamu yang harus pergi." Tantangan itu diterima. Ketika Si Karake Lette" melempar jeruk, lawannya tidak mampu menangkapnya dengan baik. Sebaliknya, saat jeruk dilempar kepadanya, Si Karake Lette" dapat menangkapnya dengan mudah. Akhirnya, orang dari Takalar itu kalah dan menepati janjinya untuk pergi. Mara"dia kemudian bertanya, "Apa yang kamu inginkan sebagai balasan"? Si Karake Lette" menjawab bahwa ia tidak menginginkan jabatan karena ia sendiri sudah menjadi mara"dia di Loppo. Namun, raja tetap ingin memberinya sesuatu. Maka Si Karake Lette" meminta wilayah kebun. Pada waktu subuh, ia pergi ke gunung dan berteriak lantang, "Wahai masyarakat, bangunlah! Pergilah bekerja dan mencari nafkah!" Ketika matahari terbit, ia menelusuri sejauh mana suaranya terdengar. Ternyata orang-orang di Beuasa dan Batu-Batu mendengarnya. Wilayah yang mendengar suaranya itulah yang menjadi daerah kekuasaannya. Batu-Batu pun kemudian masuk dalam wilayah Balanipa. Beberapa waktu kemudian, masih ada kisah lanjutan. Si Karake Lette" melakukan suatu kesalahan dan hendak dihukum. Namun, ia memilih meninggalkan jabatannya dan pergi dari wilayah itu. Setelah kepergiannya, terjadi perselisihan di kampung tersebut. Dalam bahasa Mandar, perselisihan disebut rengge. Karena itulah kampung tersebut kemudian dinamakan Renggeang, yang terletak di Tinambung. Demikianlah kisah Si Karake Lette". "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Ahmad Asdy/Fitrayani

admin Baca
ASSALNA PAMBUSUANG
Desa Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar

ASSALNA PAMBUSUANG

Mua iya di Pambusuang di buku-buku sejarah, diolo mai maidi dini bagian dari perangkat kerajaan, apa sanganna bissu atau pa"bissuang. Tapi, nua bahwa Pambusuang diolo di e engenanna apa sanganna pa pambusoang, yaitu to pandai besi. Jadi, kemungkinan yang lebih cocok iyya di o pambusoang daripada pa"bissuang. Apalagi mua dikaitkan dengan desa yang berbatasan dengan Pambusuang, diang isanga Sabang Subik. Kata subik itu bagian dari kobi (parang). Nyambung lagi mua dihubungkan dengan passokkorang sebagai penghasil besi. Jadi, cerita-cerita seperti itu ubaca dio tentang Pambusuang. Selain itu, di Pambusuang diang isanga Desa Bala. Di Desa Bala itu diang dua dusun, yaitu Dusun Makula anna Dusun Tallo. Disangai Makula karena di situ di biring bonde diang dio uwai loppa (air panas). Terus disangai Tallo karena di o palippis, di pantai itu, sering mettallo panyyu (penyu bertelur). Jadi, iyya di o uissang cerita-cerita tentang toponimi nama tempat di kampung. "Purami!" Terjemahan Bahasa Indonesia Nama Pambusuang dalam beberapa buku sejarah memiliki beberapa versi asal-usul. Ada yang mengatakan bahwa dahulu wilayah ini merupakan bagian dari perangkat kerajaan yang disebut bissu atau pa"bissuang. Namun, ada juga yang lebih cenderung pada pendapat yang menyatakan bahwa nama Pambusuang berasal dari istilah pa pambusoang, yaitu tempat pandai besi. Jadi, stilah pambusoang lebih tepat dibandingkan. Hal ini semakin kuat jika dikaitkan dengan desa yang berbatasan dengan Pambusuang, yaitu Sabang Subik. Kata subik merupakan bagian dari kobi/kowi (parang). Keterkaitan ini semakin jelas jika dihubungkan dengan istilah Passokkorang, yang merujuk pada penghasil besi. Kisah-kisah ini saya peroleh dari berbagai bacaan mengenai sejarah Pambusuang. Selain itu, di wilayah Pambusuang terdapat Desa Bala. Di desa tersebut terdapat dua dusun, yaitu Dusun Makula dan Dusun Tallo. Dusun Makula dinamakan demikian karena di wilayah tersebut terdapat sumber air panas. Sementara itu, Dusun Tallo dinamai demikian karena penyu sering bertelur di pantai yang berada di dusun tersebut. Itulah cerita-cerita yang diketahui mengenai toponimi nama kampung/Desa Pambusuang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Muh. Azhar Al Ayyub

admin Baca

Menampilkan halaman 3 dari total 10 halaman